Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Surat Dari Orang Tua Aneh Tionggoan


"Ke mana semua penghuninya? Apakah mereka telah pergi dan mengganti markasnya?" tanya Pengemis Tongkat Sakti lebih jauh lagi.


"Tidak. Mereka justru telah mati!" Ketua Bu menjawab dengan penuh tekanan. Seakan-akan dia sedang berusaha meyakinkan lawan bicaranya.


"Mati? Mengapa mereka bisa mati?"


"Menurut dugaan, ada seseorang yang datang lebih dulu sebelum anggota kita,"


Pengemis Tongkat Sakti langsung melamun. Dia tidak berbicara lebih lanjut.


Semua yang ada saling diam dengan pikirannya masing-masing. Entah siapa orang yang telah datang lebih dulu ke Rawa Iblis, mereka tidak tahu.


Hanya saja, mereka setuju bahwa orang tersebut pasti bukan manusia sembarangan!


Sementara itu, tanpa terasa hari telah berganti lagi. Mentari pagi baru saja muncul di langit sebelah barat. Cuaca pagi ini sangat cerah. Suara burung-burung yang berkicau merdu, terasa memberikan ketenangan bagi siapa pun yang mendengarnya.


Di sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk bersantai, terlihat ada Dewa Arak Tanpa Bayangan, Pengemis Tongkat Sakti dan Ketua Bu yang sedang minum teh sambil menikmati hidangan ringan.


Ketiganya berbincang-bincang hangat terkait pengalaman masing-masing dalam dunia persilatan.


Pada saat seperti itu, tiba-tiba ada seorang anggota yang datang dan memberikan laporan kepada Ketua Bu.


"Ketua, Tuan Muda dan Nona Muda telah sadar dari pingsannya," ucap anggota Partai Pengemis penuh sopan santun.


"Benarkah? Bawa mereka kemari," Pengemis Tongkat Sakti menjawab lebih dulu sebelum Ketua Bu bicara.


Sementara itu, setelah mendengar perintah barusan, dengan segera anggota Partai Pengemis tersebut langsung masuk ke dalam. Lima helaan nafas kemudian, dia telah keluar kembali sambil membawa dua orang pendekar muda.


"Anak Fei, Nona Yin, bagaimana kondisi kalian?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan mendahului yahh lainnya.


"Aku merasa sudah baikan, Tuan Kiang. Tenagaku juga hampir pulih," jawab Zhang Fei ketika sudah duduk di atas kursi yang tersedia.


"Aku pun sama, Tuan," jawab Yin Yin singkat. Ia langsung duduk di sisi kakeknya, Pengemis Tongkat Sakti.


"Syukurlah kalau begitu. Aku merasa lega apabila kalian sudah sembuh,"


Yang lain mengangguk pertanda merasakan hal serupa. Setelah beberapa saat kemudian, terdengar Pengemis Tongkat Sakti bicara lagi.


"Anak Yin, mengapa kau bisa sampai mengalami hal ini? Coba ceritakan dengan jelas. Aku benar-benar penasaran,"


"Baiklah, Kek. Aku akan menceritakannya dengan singkat," kata Yin Yin.


Ia mengambil nafas panjang. Setelah itu baru mulai bercerita tentang bagaimana dirinya bisa bertarung dengan Pendekar Pedang Perpisahan.


Rupanya permasalahan di antara mereka timbul karena secara tiba-tiba datuk sesat itu muncul dari balik pepohonan. Tanpa sepatah kata pun, dia langsung menyerang Yin Yin dan Yu Yuan yang kebetulan pada saat itu tidak sengaja berjalan bersama.


"Tunggu dulu, mengapa dia bisa menyerangmu secara tiba-tiba? Apakah sebelumnya kau tidak punya masalah dengan Pendekar Pedang Perpisahan?" tanya Pengemis Tongkat Sakti sambil menatap serius ke arah cucunya.


"Sama sekali tidak, Kek. Bagaimana mungkin aku bisa punya masalah dengannya, sedangkan bertemu saja baru hari itu,"


"Aihh ... sungguh ganjil sekali,"


"Sebenarnya alasan kenapa Pendekar Pedang Perpisahan menyerang Nona Yin dan Nona Yuan secara tiba-tiba, tak lain adalah untuk memancingku keluar," kata Zhang Fei tiba-tiba berbicara serius.


Dia tidak boleh diam saja. Apalagi masalah ini harus dijelaskan dengan rinci. Maka dari itu, tidak menunggu orang lain bicara, Zhang Fei telah melanjutkan lagi ucapannya.


"Pendekar Pedang Perpisahan sebenarnya mempunyai dendam kesumat dengan mendiang Ayahku. Menurut apa yang dia katakan, Ayah pernah membunuh murid kesayangannya. Saat itu sebenarnya dia ingin mencari Ayah dan membalaskan dendamnya. Siapa sangka, Ayahku malah sudah tiada. Sebagai gantinya, ia datang mencariku untuk menuntaskan masalah di masa lalu tersebut,"


"Selain karena hal tersebut, alasan lain kenapa Pendekar Pedang Perpisahan mencariku adalah karena dia ingin tahu sampai di mana kemampuan ilmu pedang yang aku miliki. Karena selama ini, dia telah banyak mendengar tentang sepak terjangku,"


Zhang Fei menghela nafas berat. Wajahnya langsung menggambarkan ekspresi kebingungan. "Sekarang aku baru sadar, ternyata menjadi seorang pendekar itu bukan pekerjaan yang mudah,"


Menjadi pendekar memang tidak mudah. Karena semakin tinggi kemampuannya, maka akan semakin banyak pula orang-orang yang ingin mengujinya.


Ketika semua orang sedang mencerna ucapan Zhang Fei, tiba-tiba dia bangkit dan berdiri di hadapan mereka.


"Terkait kejadian ini, aku mohon maaf kepada kalian semua. Terutama sekali terhadap Nona Yin. Karena secara tidak langsung, apa yang telah menimpamu sebenarnya gara-gara aku," ia berkata sambil membungkukkan badan memberikan hormat.


"Anak Fei, jangan berkata seperti itu. Apa yang telah terjadi, tidak ada yang patut disalahkan. Semuanya memang sudah berjalan seperti seharusnya," ujar Pengemis Tongkat Sakti dengan nada ramah.


Orang tua itu berhenti sebentar. Setelah meneguk secawan teh hangat, dia kembali melanjutkan bicaranya.


"Kalau aku boleh tahu, di mana kau bertarung dengan Pendekar Pedang Perpisahan?"


"Di hutan Rawa Iblis,"


"Jadi, kau telah pergi ke sana?"


"Benar, Tuan. Aku pergi ke sana untuk menyelematkan Nona Yin,"


"Hemm ... coba ceritakan,"


Zhang Fei mengangguk. Dia langsung menceritakan semuanya dengan singkat. Mulai dari mencari informasi terkait keberadaan Yin Yin, bahkan sampai ia bertempur di bangunan tua yang terdapat di sekitar Rawa Iblis.


"Jadi, semua orang itu dihabisi oleh dirimu?"


"Benar, Tuan,"


"Aih, pantas saja," ucap Pengemis Tongkat Sakti. "Sekarang, apakah kau tahu di mana Pendekar Pedang Perpisahan berada?"


"Soal ini aku tidak tahu. Yang pasti, Pendekar Pedang Perpisahan sudah berjanji bahwa suatu hari nanti, dia akan kembali mencariku dan melanjutkan lagi duel yang belum tuntas ini,"


Obrolan di antara mereka terus berlangsung. Orang-orang gagah itu mulai membahas lebih jauh terkait keadaan dunia persilatan yang semakin kacau balau.


Sampai ketika mentari pagi mulai meninggi, tiba-tiba ada sebuah benda yang melesat dengan kecepatan kilat.


Wutt!!! Crapp!!!


Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangkat dua jari tangan. Benda tersebut langsung tertangkap dengan tepat olehnya.


Rupanya benda itu adalah sebatang anak panah. Di tengah-tengah batangnya terdapat surat yang ditulis di atas kulit menjangan.


Dewa Arak Tanpa Bayangan segera membuka surat tersebut dan langsung membacanya.


"Tiga hari lagi kita berkumpul di perbatasan sebelah Timur."


"Orang Tua Aneh Tionggoan."


Selesai membaca isi surat, ia segera melipatnya lagi dan dimasukkan ke dalam saku baju.


"Apa isi surat itu?" tanya Pengemis Tongkat Sakti merasa penasaran.


"Orang Tua Aneh Tionggoan menyuruh berkumpul di daerah perbatasan sebelah Timur,"


"Kau akan berangkat?"


"Tentu saja. Karena aku merasa ada hal penting dibalik perintah ini,"


"Apakah aku harus ikut bersamamu?"


"Aku rasa tidak perlu. Lebih baik kau membantu kami mencari informasi tentang pergerakan musuh, baik itu musuh dari negeri lain, maupun musuh dari negeri kita sendiri,"


"Baiklah, aku mengerti," kata Pengemis Tongkat Sakti sambil menganggukkan kepala.


"Anak Fei, tiga hari lagi kondisimu sudah pulih sepenuhnya, bukan?"


"Aku rasa begitu, Tuan Kiang," jawab Zhang Fei.


"Bagus. Kalau begitu, nanti kau ikut denganku saja,"


"Baik, Tuan. Aku siap,"