
Kalau saja yang diserang itu adalah tiga orang tua yang datang bersama dengan dirinya, niscaya mereka akan langsung kewalahan. Apalagi serangan orang asing tersebut sangat mematikan. Dia tidak mengenal belas kasihan.
Setiap jurusnya mengandung perbawa yang amat menekan. Hawa pedang yang sanggup dikeluarkan juga terasa begitu kental.
Kalau dibandingkan, mungkin orang asing itu setara dengan pendekar pilih tanding.
Untunglah yang diserang olehnya adalah Zhang Fei. Murid dari Lima Malaikat Putih yang dulunya terkenal sebagai gembong iblis tanpa ampun.
Kemampuan gabungan mereka saja dulunya bisa membuat Datuk Dunia Persilatan segan. Maka dari itu, wajar apabila muridnya yang masih muda tersebut sudah mempunyai kemampuan tinggi.
Meskipun belum ada kepastian Zhang Fei bisa unggul dari lawan, namun setidaknya dia mampu mempertahankan diri untuk beberapa waktu.
Benturan antar pedang dari kedua pihak yang terlibat mulai terjadi. Pedang Raja Dewa beberapa kali berbenturan dengan pedang lawan.
Setiap kali terjadi benturan, keduanya merasakan tangan mereka kesemutan. Si orang tua asing itu sendiri terkejut. Dia tidak menyangka kalau lawan mudanya mempunyai kemampuan setinggi itu.
'Pantas saja anak muda ini bisa membunuh dua anggota Bayangan Hitam,' batinnya sambil terus melancarkan serangan.
Sementara itu, Zhang Fei pun mulai berlaku serius. Ia memusatkan pikirannya terhadap pertarungan dijalani saat ini.
Karena situasinya yang tidak memungkinkan lagi, pada akhirnya dia memutuskan untuk mengeluarkan jurus pertama dari Kitab Pedang Dewa.
"Membayangi Gerakan Dewa!"
Wushh!!!
Gerakannya berubah. Pedang itu berputar dengan sangat cepat dan membentuk gulungan sinar putih keperakan yang menyilaukan mata.
Si orang tua yang sudah sadar akan kemampuan lawan, akhirnya mau tidak mau harus mengeluarkan pula jurus pedang pamungkas miliknya.
Pertarungan sengit langsung terjadi. Keduanya tampak saling serang dan bertahan satu sama lain.
Di tengah-tengah jalannya pertempuran, Zhang Fei mendadak mendengar seruan tertahan yang berasal dari sisinya.
Ketika dia melirik dengan ekor mata, ternyata tiga orang tua yang datang bersamanya juga mengalami nasib yang serupa.
Bahkan kali ini, Duan Dao dan Mo Bian pun sudah bersatu dalam satu barisan. Mereka menyerang wanita tua yang baru datang tadi.
Sedangkan anggota Bayangan Hitam yang tadi menjadi lawannya, saat ini sudah berdiri di pinggir arena dengan seluruh tubuh mengalami luka.
Wanita tua yang menyerang Duan Dao dan Mo Bian itu tampaknya juga mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Terbukti sekarang, tongkat kayu hitam bergagang tengkorak miliknya mampu meladeni tongkat besi Duan Dao dan juga Golok Bulan Sabit milik Mo Bian.
Di samping itu, si wanita tua sepertinya juga mempunyai kemampuan dalam hal ilmu sihir. Buktinya saja setiap kali dia melakukan serangan, kedua lawannya tampak sedikit terkesima.
Sehingga serangan beruntun yang dia berikan banyak yang mengenai sasaran dengan tepat.
Di sisinya, Lien Hua ternyata juga mengalami hal yang serupa. Sekarang ia sedang menghadapi kakek tua dengan senjata tombak bermata dua.
Kakek tua itu memiliki wajah yang seram. Wajahnya penuh dengan luka bacokan senjata tajam. Ia pun mengenakan pakaian warna putih kemerahan.
Kalau ditelisik lebih jauh, sepertinya warna merah itu dihasilkan dari darah manusia. Entah darah dirinya, atau mungkin juga darah para korbannya.
Diserang dengan jurus tombak yang sangat cepat, tentu saja membuat Lien Hua kewalahan. Apalagi sebelumnya dia sudah mengeluarkan banyak tenaga karena bertarung dengan empat anggota Bayangan Hitam.
Tentunya hal itu membuat ia mengalami kerugian yang sangat besar.
Semua yang dialami oleh mereka bertiga berada dalam pengawasan Zhang Fei.
Anak muda itu merasa bersalah apabila dia tidak bisa memberikan bantuan kepadanya.
Berpikir sampai di situ, Zhang Fei segera bertekad untuk mengeluarkan jurus pedang yang berikutnya.
"Empat Tangan Gerakan Pedang!"
Jurus ketiga dari Kitab Pedang Dewa sudah digelar. Ini adalah kali pertama dia mengeluarkan jurus tersebut. Dengan pengerahan tenaga yang tinggi, maka hasilnya tidak perlu diragukan lagi.
Di arena itu seolah-olah ada empat bayangan tangan yang menggerakkan pedang secara bersamaan.
Si orang tua kaget setengah mati. Dia sedikit kewalahan. Posisinya langsung berbalik. Yang tadinya berada di atas angin, sekarang jadi berada di bawah angin!
Bayangan pedang yang diciptakan oleh Zhang Fei semakin lama semakin bertambah banyak. Hawa pedang yang ia keluarkan juga mampu menekan mental lawan.
Trangg!!! Bukk!!!
Sebuah benturan pedang yang kesekian kalinya langsung terjadi. Benturan barusan terdengar sangat keras. Disusul kemudian dengan pukulan yang diarahkan dengan telak ke arah dada.
Orang tua itu terlempar ke belakang sejauh lima langkah. Ia merasa dadanya sesak hingga kesulitan untuk bernafas.
Melihat ada kesempatan emas, Zhang Fei langsung melesat secepat angin. Ia segera menurunkan uluran tangan kepada Lien Hua dan lainnya.
Dengan jurus yang sama, anak muda itu mulai mencecar pihak musuh. Sebelum Zhang Fei melibatkan diri, pertarungan tersebut terbagi menjadi dua bagian. Namun setelah dia ikut terlibat di dalamnya, pertarungan pun langsung menjadi satu.
"Situasi mulai diluar kendali kita, kalian cepat pergi dari sini sebelum terlambat!" katanya berseru kepada yang lain.
"Tuan Muda, apa maksudmu?" tanya Lien Hua di tengah jalannya pertarungan.
"Kalian pergi dari sini!" tegasnya.
"Bagaimana dengan kau sendiri?" tanya Mo Bian ikut bicara.
"Aku akan keluar belakangan,"
"Anak muda, kau pikir dirimu siapa?" Duan Dao tampaknya tidak setuju dengan ucapan Zhang Fei. "Mana bisa kami pergi dari sini, sedangkan kau tidak ikut pergi?"
"Seka5 bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Cepat lakukan perintahku. Dalam hal ini, aku adalah pemimpin kalian!"
Zhang Fei langsung melancarkan jurusnya. Dua orang tua itu tersentak mundur beberapa langkah. Tidak mau membiarkan lawan bebas, ia terus mengejarnya sambil menyerang tanpa berhenti.
"Cepat! Jangan banyak berpikir. Kalian masih punya tanggungjawab besar,"
"Tapi ..."
"Aku bisa menghadapi mereka bertiga," ujar Zhang Fei meyakinkan.
Tiga orang tua itu berdiri mematung. Untuk beberapa waktu, tidak ada yang bicara di antara mereka.
Hingga pada akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh suara Lien Hua.
"Dia benar, dalam hal ini, dirinya adalah pemimpin kita. Karena itu, kita harus menuruti ucapannya,"
"Nenek tua, apa maksudmu? Bagaimana mungkin kita bisa pergi dan meninggalkan anak muda itu sendirian?"
Mo Bian juga tidak setuju. Sebagai pendekar aliran putih, tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan kebenaran.
"Kenapa masih berdiri?"
Di tengah pertarungan yang sudah sengit itu, Zhang Fei ternyata masih bisa mengawasi keadaan di sekitarnya.
Karena merasa kesal, ia segera melancarkan serangan jarak jauh ke arah ketiganya. Serangan itu berupa pukulan tenaga dalam yang mengandung hembusan angin besar.
Wushh!!!
Tak ayal lagi, karena posisi mereka sedang tidak siap, maka pukulan barusan berhasil melemparkan Lien Hua dan yang lain cukup jauh.
"Pergi!" teriak Zhang Fei untuk yang kesekian kalinya.