Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tekad Kuat Para Pendekar


Sebenarnya, di belahan bumi mana pun, peperangan pasti akan tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Kekaisaran Song saat ini.


Mereka yang mempunyai ambisi, pasti akan mengerahkan segenap tenaga dan kekuatan demi mewujudkan ambisinya tersebut.


Para pemangku penguasa tidak akan pernah berhenti. Mereka akan terus berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar cita-cita tertingginya itu.


Masalah berapa banyak biaya yang dikeluarkan, ataupun berapa banyak korban yang ditimbulkan, mereka masa bodoh. Orang-orang itu tidak pernah memikirkan hal-hal tersebut.


Siapa pun yang menjadi korban, mereka tidak akan peduli sama sekali. Bahkan dalam hal ini, memangsa teman sendiri itu sudah menjadi rahasia umum. Siapa pun pasti tahu akan hal tersebut.


Para pemangku penguasa cenderung tidak pernah memikirkan bagaimana nasib rakyatnya. Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya memperluas wilayah kekuasaan, ataupun memikirkan bagaimana cara untuk menjadi penguasa satu-satunya.


Hal-hal seperti ini pasti akan terus berlanjut. Mulai dari masa lalu, sampai masa yang akan datang.


Hanya saja, mungkin kejadiannya akan sedikit berbeda. Kalau di zaman ini masih mengandalkan perang secara langsung, di masa yang akan datang nanti, mungkin akan mengandalkan perang secara tidak langsung.


Perang secara halus. Perang secara sembunyi-sembunyi. Namun itu adalah merupakan perang paling kejam dan mematikan sepanjang sejarah peradaban umat manusia!


Suasana di ruang pertemuan kembali hening. Masing-masing tokoh yang ada di sana, saat ini sedang memikirkan hal yang sama.


"Tepat sekali, Tuan Wu. Dan justru hal inilah yang aku takutkan sejak dulu. Aku takut, nantinya malah rakyat yang menjadi korban. Padahal sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa. Karena peperangan ini, mereka akan kehilangan kebahagiaan hidupnya. Bukan tidak mungkin juga bahwa mereka akan kehilangan nyawanya,"


"Aku heran, mengapa para penguasa itu begitu serakah? Benarkah manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas?"


Zhang Fei berkata dengan nada tegas. Para tokoh yang ada di sana belum berani menjawab. Mereka masih diam seribu bahasa.


"Apalagi yang sebenarnya mereka cari? Kebahagiaan dan kepuasan macam apa lagi yang kurang? Kalau ingin menjadi penguasa, menurutku caranya tidak seperti ini. Jika ingin mensejahterakan rakyat, menurutku salah besar. Karena gara-gara peperangan ini, rakyat bukannya sejahtera. Mereka malah dibuat sengsara,"


"Aku yakin, saat ini, rakyat di Empat Kekaisaran sedang mengalami nasib yang serupa. Kalau sudah seperti ini, siapa yang pantas untuk disalahkan? Apakah manusianya yang tidak pernah puas? Ataukah para Dewa yang telah menciptakan manusia itu sendiri?"


Zhang Fei masih berkata dengan nada tegas. Amarah dalam tubuhnya bergejolak seperti lahar di dalam perut gunung berapi.


Ia benar-benar marah. Marah terhadap para penguasa! Marah kepada manusia-manusia yang serakah itu!


Zhang Fei menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Dia melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali. Tujuannya adalah supaya hati dan pikirannya tenang.


Sampai beberapa waktu lamanya, keadaan masih hening. Seolah-olah di ruangan itu tidak ada siapa-siapa lagi kecuali hanya dia sendiri.


Zhang Fei menatap para tokoh secara bergiliran. Tapi dia pun tidak berkata apa-apa lagi.


Lewat beberapa menit kemudian, terdengar Dewa Arak Tanpa Bayangan menghembuskan nafas panjang.


Ia minum arak sebanyak lima kali. Kemudian baru bicara. "Aku tahu, anak Fei. Aku tahu apa yang kau maksudkan barusan. Aku pun mengerti betul bagauma isi hati dan perasaanmu saat ini," katanya dengan nada lembut.


Dewa Arak Tanpa Bayangan menoleh sekilas ke arah Zhang Fei. Setelah memastikan bahwa dia mendengarkan ucapannya, orang tua itu kembali melanjutkan.


"Tapi kalau kita terus berbicara dan membahas hal-hal seperti itu, sampai kapan pun tidak akan pernah selesai. Menurutku, untuk saat ini, sebagai manusia yang masih mempunyai hati, lebih baik kita berjuang dan melakukan apa yang dapat kita lakukan,"


"Kita harus bisa menunjukkan dan membuktikan kepada para rakyat, bahwa di Kekaisaran Song ini masih ada orang yang mempunyai perasaan. Masih ada manusia yang bisa memanusiakan manusia,"


"Benar, Ketua Fei. Saat ini, kita tidak perlu memikirkan para penguasa dan manusia-manusia serakah itu lagi. Saat ini ... kita harus bisa membuktikan dan mengabdikan diri kepada rakyat. Supaya mereka berpikir bahwa adanya para pendekar itu tidak hanya bisa membuat kekacauan. Tapi kita pun bisa menciptakan perdamaian," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.


Yang lainnya segera menganggukkan kepala. Mereka pun merasa setuju akan hal tersebut.


"Benar,"


"Ya, kita harus bisa melakukan hal itu,"


"Mulai sekarang, tanamkan di hati masing-masing bahwa kita bisa mengubah keadaan ini menjadi jauh lebih baik lagi,"


"Ehmm ... aku setuju. Aku harap, kalian akan terus ada di sampingku sampai persoalan rumit ini benar-benar selesai," kata Zhang Fei sambil menatap mereka secara bergantian.


Para Datuk Dunia Persilatan saling mengangguk. Walaupun tidak ada yang berbicara lagi, tapi sekarang, hati dan perasaan mereka sudah menyatu satu sama lain!


"Nona Mei ..." Zhang Fei melirik ke arahnya.


Yao Mei juga segera melirik, tapi dia tidak berkata apa-apa.


"Aku harap, kau pun selalu menemaniku. Sebagai generasi muda, kita harus bisa membawa perubahan,"


"Baik! Aku bersedia," jawab Yao Mei dengan mantap.


Pada saat itu, sebenarnya ia merasa sedikit kecewa. Yao Mei sangat berharap bahwa Zhang Fei akan berkata lebih lanjut.


Sayang sekali, Ketua Dunia Persilatan itu tidak mengatakan apa-apa lagi.


"Mari kita bersulang!"


Arak kembali dituangkan. Mereka segera mencari bahan candaan demi mencairkan suasana yang sejak tadi terasa sangat tegang.


Pembahasan tersebut berakhir tepat setelah matahari tenggelam di balik bukit. Selanjutnya, masing-masing dari mereka segera kembali ke kamar untuk melangsungkan istirahat.


Karena sudah merasa kelelahan, maka para tokoh tersebut memilih untuk tidur lebih awal.


Pagi harinya, setelah semua orang bangun dan selesai sarapan pagi, Zhang Fei segera kembali ke ruang kerjanya.


Dia langsung mengurus pekerjaan yang belum sempat diselesaikan oleh Dewi Rambut Putih. Sedangkan para tokoh yang lain, mereka meminta izin untuk kembali terjun ke lapangan dan membantu perjuangan para pendekar.


Lembaran catatan, informasi dan dokumen-dokumen penting lainnya sudah menumpuk di atas meja. Zhang Fei menyelesaikan semuanya secara perlahan.


Kalau lelah, ia memilih untuk beristirahat barang sekejap. Zhang Fei tidak mau memaksakan diri. Dia tetap bekerja semampunya saja.


Jika ada suatu persoalan yang tidak bisa diselesaikan olehnya, maka Zhang Fei akan segera bertanya kepada orang yang lebih mengerti. Seperti bertanya kepada A Cu, ataupun kepada yang lainnya.


Dari pagi sampai sore, ia terus berada di ruang kerjanya. Zhang Fei baru keluar setelah langit mulai berwarna kemerahan.


Ketika ia keluar dan pergi ke ruang belakang yang biasa digunakan untuk bersantai, ternyata di sana sudah ada para tokoh yang biasa bersamanya.