
Sayang sekali, kejadian yang sama untuk ketiga kalinya, terulang kembali. Tepat sebelum hantaman telapak tangan itu mengenai dada Zhang Fei, ia sudah berpindah tempat.
Entah bagaimana caranya, tapi kini anak muda itu telah berada di tengah halaman. Tepat di tengah-tengah belasan orang berseragam warna-warni.
"Kenapa kalian diam saja? Serang bocah keparat itu!" katanya memberikan perintah.
Mendengar seruan yang keras tersebut, belasan orang itu secara serempak langsung mencabut senjatanya masing-masing. Belasan batang golok sudah diacungkan ke tengah udara. Detik berikutnya, belasan bayangan manusia tampak melesat ke arah Zhang Fei.
Bacokan dan tusukan golok datang dari segala arah mata angin. Gerakan orang-orang itu terbilang cepat. Sehingga bisa dipastikan bahwa kemampuan mereka cukup lumayan.
Zhang Fei tersenyum dingin. Sembari menunggu serangan, ia lebih dulu menghabiskan sisa arak di dalam guci. Cara meminumnya masih santai. Ia tidak tergesa-gesa.
Walaupun bahaya sudah menunggu di depan mata, tapi terkait minum arak, ia tetap akan melakukannya dengan tenang. Meskipun Malaikat Maut sudah berada di depannya, ia akan tetap bersikap seperti itu.
Karena baginya, arak itu harus dinikmati. Walau apapun yang terjadi!
Prakk!!!
Guci arak yang sudah kosong itu tiba-tiba pecah berantakan. Bersamaan dengan kejadian tersebut, satu kepala manusia juga ikut pecah. Jeroan kepala berserakan, darah segar menyembur ke segala arah.
Ia turun tangan tepat pada waktunya!
Selesai membunuh satu orang lawan, Zhang Fei segera melanjutkan usahanya. Ia mulai menangkis semua golok yang ingin membunuhnya.
Benturan antara tulang dan besi terdengar keras. Meskipun semua golok itu tajam, tapi karena Zhang Fei sudah lebih dulu menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya, maka ia tidak terluka.
Tubuhnya masih utuh. Kulitnya pun tidak robek.
Yang terjadi justru sebaliknya, para penyerang yang menjadi korban, merasakan tangan kanannya ngilu. Sehingga untuk beberapa saat mereka tidak mampu melanjutkan usahanya.
Memanfaatkan kesempatan itu, Zhang Fei tiba-tiba berteriak dengan keras. Kakinya menjejak tanah, ia memasang kuda-kuda. Detik berikutnya, anak muda tersebut langsung mengeluarkan jurus tangan kosong yang sangat ampuh.
"Meraih Rembulan di Langit Barat!"
Wutt!!!
Jurus kedua dari tiga rangkaian Jurus Pukulan Maut sudah ia gelar. Begitu dirinya bersikap serius, belasan batang golok langsung melayang di tengah udara. Ada banyak golok yang menancap di batang pohon. Tidak sedikit pula golok yang kutung menjadi dua bagian.
Setelah berhasil melemparkan senjata lawan, dia segera melanjutkan serangannya lagi. Belasan pukulan beruntun dilepaskan dengan tenaga cukup besar. Belum lagi hantaman telapak tangan yang mampu mendatangkan maut.
Ia terus bergerak dengan lincah dan cekatan. Zhang Fei melompat ke sana kemari sambil tetap melancarkan serangan. Deru angin tajam terus berhembus tiada henti. Teriakan nyaring menggema di tengah udara hampa.
Begitu pertarungannya sudah mencapai sepuluh jurus, lebih dari setengah penyerang tadi sudah ambruk di atas tanah. Sebagian dari mereka mengalami luka parah. Sebagiannya lagi langsung tewas seketika.
Sepak terjang anak muda itu benar-benar menakutkan. Bahkan tiga tokoh tua yang tadi bicara dengannya pun tidak pernah menyangka akan hal ini.
Mereka saling pandang untuk beberapa saat, seolah-olah sedang merundingkan sesuatu.
Detik berikutnya, tiba-tiba Zhang Fei merasa ada segulung angin dingin yang sedang menuju ke arahnya. Belum hilang gulungan angin itu, di tengah udara sudah terdengar lagi suara menggelegar.
Tarr!!! Tarr!!!
Cambuk sepanjang dua depa telah dilepaskan. Suaranya sangat menusuk telinga.
Dua orang berpakaian serba hijau tadi turun tangan secara serempak. Gerakan mereka cepat dan tangkas. Serangannya juga ganas.
Cambuk dan golok sudah melayang ke arahnya. Zhang Fei dibuat kaget, kerja sama kedua orang itu sangat sempurna.
Untuk beberapa saat, dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya menghindar. Kakinya menutul tanah, ia melompat ke atas dan berjumpalikan di tengah udara untuk menghindari sabetan golok yang mengarah ke pahanya.
Belum lagi tubuhnya menginjak tanah, cambuk panjang yang memiliki duri tajam di ujungnya itu sudah dilepaskan kembali. Senjata tersebut mengincar batok kepala Zhang Fei.
Wutt!!!
Pendekar muda itu mengubah gerakannya. Dengan memanfaatkan tenaga dorongan yang menciptakan segulung angin, tiba-tiba tubuhnya berputar ke belakang dengan cepat.
Si Pengelana Tua yang sejak tadi berdiri, sekarang sudah ikut terlibat dalam pertarungan. Tubuhnya meluncur bagaikan burung elang, kedua lengannya melancarkan pukulan jarak jauh yang mendatangkan deru angin panas.
Wutt!!!
Dua dari sepuluh pukulan jarak jauh itu mengenai tubuh Zhang Fei. Dia melayang cukup kencang ke depan sana.
Namun karena dirinya sudah terlatih dalam setiap kondisi, maka dengan cepat Zhang Fei bisa menguasai tubuhnya kembali.
Beberapa kejap berikutnya, ia mendarat di atas tanah dengan mulus.
"Bocah ini benar-benar hebat," Pengelana Tua sambil memandang Zhang Fei dari atas sampai bawah.
"Belalang Hijau Bersaudara, keluarkan kemampuan kalian yang sebenarnya. Walaupun usia musuh kita masih muda, tapi kemampuannya tidak bisa dipandang rendah," lanjutnya sambil melirik kepada dua orang di sisinya.
"Sepertinya kita memang harus berlaku serius. Aku sendiri terkejut setelah mengetahui kehebatannya," ujar Belakang Hijau Bersaudara yang bersenjata golok.
"Dia memang hebat. Tapi jangan harap bisa mengalahkan kami dua bersaudara," sahut saudaranya sambil menggertak gigi.
Sementara itu, sepanjang berhentinya pertarungan, Zhang Fei juga tidak tinggal diam. Ia mengawasi ketiga orang itu dan menentukan rencana selanjutnya.
Menurut pandangan mata anak muda itu, yang paling lemah di antara mereka adalah dia yang mengenakan cambuk. Walaupun senjatanya berbahaya, tapi senjata itu hanya akan berguna apabila ia bertempur memakai jarak jauh.
Andai saja dia menyerang dari jarak yang sangat dekat, sudah pasti cambuk itu tidak ada gunanya sama sekali.
'Berarti dia yang harus aku incar lebih dulu,' batin Zhang Fei berkata.
Waktu terus berjalan, matahari semakin tenggelam. Sebentar lagi malam akan menjelang datang, suasana di sekitar sana pun mulai gelap.
Hawa panas karena sengatan matahari sudah sirna. Digantikan dengan hawa pembunuh yang dikeluarkan oleh para tokoh sesat tersebut.
"Dua Belalang Merobohkan Gunung ..."
Dua orang saudara itu berseru keras. Kemudian keduanya melompat dan menerjang ke depan. Bacokan golok datang dari sisi sebelah kanan. Cambuk yang panjang berputar-putar dengan sangat cepat.
Serangan mereka dilakukan dengan pengerahan tenaga penuh, sehingga hasilnya tidak perlu diragukan lagi.
Tidak mau tertinggal, si Pengelana Tua juga turut melakukan gerakan. Kedua tangannya didorong ke depan, dari balik ujung bajunya yang longgar tiba-tiba melesat puluhan titik hitam.
Senjata rahasia!
Rupanya orang tua itu merupakan pendekar yang ahli memainkan senjata rahasia.
Zhang Fei cukup terkejut setelah mengetahui hal tersebut. Untuk sesaat dia kehilangan konsentrasinya. Untunglah walaupun demikian dia masih bisa menghindari serangan itu.
Karena situasinya sudah tidak memungkinkan, akhirnya secara terpaksa dia pun mengeluarkan Pedang Raja Dewa!
Sringg!!!
Cahaya putih keperakan langsung menyapu area sekitar. Di tempat itu menjadi terang untuk sesaat. Sebelum ketiga musuhnya bergerak lebih jauh, Zhang Fei sudah lebih dulu bertindak.
Wutt!!!
Pedang Raja Dewa bergerak cepat membentuk lingkaran. Dentingan nyaring langsung menggema tiada hentinya. Puluhan senjata rahasia yang dilemparkan oleh si Pengelana Tua, satu-persatu mulai berjatuhan di atas tanah.
###
Oh, iya. Buat kalian semua, jangan lupa baca novel baru saya ya ... judulnya Pendekar Sembilan Pedang. Novel ini bergenre Xianxia.
Kalau boleh, bantu promosikan juga ya, hehehe ...
Terimakasih untuk kalian yang selalu membaca sampai detik ini ...