
Keempat orang yang terdapat di ruang penerima tamu itu kemudian minum teh hangat secara bersama-sama. Tidak lupa juga, mereka mencicipi hidangan yang tersedia di atas meja kecil.
Biksu Lo Jit dan Biksu Lo Han mulai berbicara mengenai banyak hal. Pembicaraan mereka bisa dibilang tidak terlalu serius. Karena keduanya hanya bercerita tentang hal-hal yang berhubungan dengan Kuil Seribu Dewa.
Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan mendengarkan secara seksama. Sesekali mereka juga mengajukan pertanyaan untuk membuat suasana lebih cair lagi.
Akan tetapi, meskipun di sana sudah berlangsung pembicaraan, tapi dalam hati, Zhang Fei tahu bahwa kedua orang biksu itu masih sedikit menaruh curiga kepadanya.
Hal tersebut bisa dilihat dari tatapan mata mereka yang sesekali tampak sangat menyelidik.
"Biksu Jit, untuk saat ini, berapa jumlah murid di Kuil Seribu Dewa ini?" tanya Zhang Fei memastikan.
"Entahlah. Tapi, kemungkinan besar mencapai angka dua ribuan lebih, Ketua Fei. Ini sudah terhitung dengan murid-murid yang tersebar di seluruh wilayah Kekaisaran," jawab Biksu Lo Jit sedikit merasa bangga.
"Wah, banyak sekali. Persis seperti Partai Pengemis,"
"Benar, Ketua Fei. Dengan Partai Pengemis, mungkin perbedaannya tidak terlalu banyak,"
Zhang Fei menganggukkan kepala. Dia kembali menuangkan teh ke dalam cawan dan meminumnya sampai habis.
Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, tiba-tiba Zhang Fei merasa adanya wibawa yang menekan ruangan. Begitu menatap ke arah pintu masuk, tidak lama kemudian pintu itu langsung terbuka lebar.
Seorang pria tua yang usianya sudah sangat lanjut terlihat sedang berjalan dengan langkah yang cukup lamban. Zhang Fei memperhatikan pria tua tersebut. Dan dia cukup terkejut ketika melihat dengan cara bagaimana dia berjalan.
Langkahnya boleh lamban. Tapi, setiap langkah itu justru terlihat begitu ringan. Kalau dilihat sekilas, malah pria tua itu seolah-olah tidak menapak ke lantai.
Hal ini sudah cukup untuk menunjukkan sampai di mana kau kemampuan ilmu meringankan tubuhnya.
"Hebat sekali. Ilmu meringankan tubuhnya sudah sangat sempurna,' batin Zhang Fei sambil memandangnya.
Sementara itu, Biksu Lo Jit dan Biksu Lo Han langsung segera berdiri setelah melihat kemunculan orang tua tersebut. Mereka berdua kemudian membungkukkan badan memberikan hormat.
Melihat hal tersebut, dua orang tamunya juga sama. Bagaimanapun juga, mereka harus tetap menghormati tuan rumah.
Biksu tua itu mengangguk sambil tersenyum. Dia melirik ke arah Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan.
"Ketua, beliau ini adalah Ketua Dunia Persilatan dan Pendekar Pedang Perpisahan. Mereka datang karena ingin bertemu denganmu," ucap Biksu Lo Jit setelah dia duduk di sana.
"Oh ... jadi ini adalah Ketua Dunia Persilatan yang baru?" ia memandang ke arah Zhang Fei lalu memandangnya dari atas sampai bawah.
"Benar, Ketua. Inilah orangnya,"
"Hebat ... hebat sekali. Masih muda, tapi sudah bisa menduduki posisi tertinggi dalam dunia persilatan," katanya memuji dengan suara berat.
"Tidak berani, tidak berani. Ini semua hanya kebetulan saja, Tuan," kata Zhang Fei sambil memberikan isyarat dengan jari tangan.
Biksu tua itu tidak bicara lagi. Dia hanya menganggukkan kepala. Ia kemudian menyuruh Biksu Lo Jit dan Biksu Lo Han supaya keluar dari dalam ruangan pertemuan tersebut.
Awalnya mereka berdua terlihat ragu dan engga. Tapi karena si Ketua memaksa, mau tak mau mereka harus menurutinya.
Setelah keadaan di sana sepi, barulah biksu tua itu bicara lagi.
"Maafkan semua anak muridku, Ketua Fei, Tuan Wu. Terkadang mereka memang seperti itu. Mereka belum bisa menggunakan batinnya secara sempurna. Jadi, wajar kalau apa yang terjadi, selalu dilihat dengan mata telanjang," katanya bicara dengan lemah lembut.
"Tidak perlu berlebihan, Biksu Hung. Kami juga mewajarkan hal tersebut," kata Pendekar Pedang Perpisahan mewakili.
"Ngomong-ngomong, adakah sesuatu yang bisa kami bantu?" tanya Biksu Hung lebih lanjut.
"Tidak ada. Justru kedatangan kami kemari karena ingin menyumbangkan tenaga terkait sesuatu yang akan terjadi nanti,"
"Oh, jadi, Tuan Wu juga sudah tahu akan hal itu?"
"Ya, aku sudah tahu. Karena salah satu petinggi dari orang-orang yang akan kemari, telah bicara langsung kepadaku,"
"Ah ..." Biksu Hung terperanjat sedikit. Ia memandang ke arah Pendekar Pedang Perpisahan dengan tatapan penuh makna.
Karena tidak mau terjadi kesalahpahaman untuk yang kedua kali, maka dengan cepat Zhang Fei angkat bicara.
Dia menceritakan semua yang telah terjadi terhadap Pendekar Pedang Perpisahan. Mulai dari perubahan sikapnya, sampai pada niat dan tujuannya untuk saat ini.
Biksu Bian Ji Hung memandang Qiao Feng sepanjang dua bercerita. Seakan-akan dirinya juga sedang memperhatikan keseriusan dalam ucapannya.
Sementara di satu sisi, datuk sesat itu sendiri tidak memberikan komentar apapun saat Zhang Fei menceritakan dirinya.
Setelah beberapa waktu kemudian, Biksu Hung bicara lagi.
"Aih, syukurlah. Aku benar-benar senang mendengarnya. Buddha Maha Pengasih. Amithaba," Biksu Hung berkata dengan lemah lembut.
Baginya, kabar yang disampaikan oleh Zhang Fei ini sangat menggembirakan. Dia juga mempunyai anggapan yang sama dengan dirinya.
Yaitu kekuatan Kekaisaran Song bisa bertambah karena masuknya Pendekar Pedang Perpisahan ke pihak mereka.
"Biksu yang agung, Tuan Wu, sebenarnya apa yang akan terjadi di Kuil Seribu Dewa ini?" tanya Zhang Fei sambil memandang mereka secara bergantian.
Sejak awal dia belum tahu apa-apa tentang hal ini. Zhang Fei sangat penasaran. Karena itulah dia memberanikan diri untuk bertanya secara langsung.
"Begini, Ketua Fei," Pendekar Pedang Perpisahan menjawab dengan cepat. "Dalam waktu dua hari ke depan, setidaknya akan ada serangan yang berasal dari anggota Partai Panji Hitam. Mereka yang datang kemari kira-kira berjumlah sekitar lima puluh orang. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, namun orang-orang yang akan datang kemari, hampir semuanya adalah pendekar kelas atas,"
"Oh, benarkah begitu, Tuan Wu?" tanya Zhang Fei masih belum percaya.
"Benar, Ketua Fei," katanya mengangguk. "Empat puluh orang merupakan pendekar kelas satu. Sepuluh di antaranya setara dengan pendekar pilih tanding,"
"Ah ..." Zhang Fei mendesah perlahan. Dia tidak menyangka, ternyata partai sesat itu bahkan berani menyerang Kuil Seribu Dewa. "Mereka benar-benar mempunyai nyali besar,"
"Tentu saja. Karena di belakang mereka ada seseorang yang telah siap untuk melindunginya,"
"Oh, siapa dia?"
"Untuk sekarang, maaf aku belum bisa memberitahumu. Tapi suatu saat nanti, aku yakin semuanya akan terbuka,"
"Oh, baiklah. Aku mengerti,"
Zhang Fei mengangguk. Dia tidak pernah memaksakan kehendak orang lain.
"Tapi kalau boleh tahu, kenapa mereka sampai menyerang kemari?"
"Itu karena aku menolak tawaran mereka untuk menggabungkan diri ke dalam aliansi yang akan dibentuk olehnya," jawab Biksu Hung mendahului Pendekar Pedang Perpisahan.
"Hemm ... rupanya manusia-manusia laknat itu masih belum mau bertobat," Zhang Fei menggenggam kedua tangannya dengan erat. Dia selalu merasa panas kalau mendengar nama partai sesat itu.