
Sebuah pukulan jarak dekat yang mengandung tenaga dalam hebat tiba-tiba dilepaskan oleh salah satu dari kelima orang itu.
Pukulan tersebut mengarah tepat ke punggung pemimpin dari tujuh orang tadi. Dengan jarak yang begitu dekat, niscaya pukulan itu tidak akan mampu ditahan ataupun dihindari lagi.
Terlebih karena serangan itu dilancarkan tanpa pernah diduga sebelumnya.
Namun dalam waktu yang bersamaan, Zhang Fei pun seketika mengangkat tangan kiri dan menahan pukulan tersebut dengan tangan terbuka.
Gerakan itu pun dilakukan secara refleks.
Plak!!!
Pukulan tadi menghantam telapak tangan Zhang Fei dengan telak. Ia langsung merasa seluruh bagian lengannya tergetar dan mati rasa untuk beberapa saat.
Dari kejadian ini, ia bisa menilai bahwa orang tersebut mempunyai kemampuan yang cukup lumayan.
Diam-diam Zhang Fei segera menyalurkan hawa murni untuk menghilangkan efek tersebut. Setelah berhasil, dia segera mendorong tangan orang itu menggunakan tenaga dalamnya.
Orang yang dimaksud tampak terkejut. Dia seperti tidak percaya bahwa tubuhnya mampu di dorong hanya menggunakan hentakan tangan saja.
Setelah kejadian itu, keadaan di semakin terasa menegangkan lagi. Dewa Arak Tanpa Bayangan menatap si pelaku dengan pandangan dalam.
"Kalian benar-benar mencari mati!" katanya dengan nada sedingin es.
Orang tua itu berniat untuk memberikan pelajaran. Namun sebelum ia berhasil melakukannya, Yao Mei telah berkata lebih dulu.
"Biar aku saja yang memberikan mereka pelajaran, Tuan Kiang,"
"Baiklah, Nona Mei," jawabnya sambil mengangguk.
Setelah mendapat persetujuan, Yao Mei segera berjalan tiga langkah ke depan. Zhang Fei langsung ke pinggir. Begitu juga dengan tujuh orang yang berasal dari Kekaisaran Qin itu.
Kini mereka semua sudah tidak sabar ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Yao Mei.
"Sebelum aku turun tangan, ada baiknya supaya kalian memberitahu nama atau berasal dari mana," katanya dengan dingin.
"Memangnya kenapa? Apakah kau takut, gadis ******?" tanya salah seorang sambil membentak.
"Cih! Jangan sebut aku anak dari si Cakar Maut kalau harus takut kepada manusia rendahan seperti kalian ini," jawab Yao Mei sambil tersenyum sinis.
Mendengar nama Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu disebut, semua orang yang ada di sana seketika terkejut. Terlebih lagi lima orang yang akan dia hadapi itu.
Mereka tampak kaget. Seperti tidak percaya sepenuhnya terhadap ucapan Yao Mei barusan.
"Omong kosong! Lihat ini!"
Pria tua yang tadi memukul, kini sudah kembali turun tangan. Dia melancarkan pukulan beruntun ke arah Yao Mei dengan tenaga yang lebih besar dari sebelumnya.
Gadis itu sudah siap dengan hal-hal semacam ini. Karenanya sebelum semua pukulan tersebut mengenai tubuh, Yao Mei telah menghilang dari pandangan mata.
Sesaat kemudian, tiba-tiba dia muncul dari atas dan sudah siap melayangkan pukulan yang langsung mengarah ke ubun-ubun kepala.
Orang itu tersentak. Buru-buru dia menarik tubuhnya ke belakang sejauh dua langkah. Bersamaan dengan itu, empat orang rekannya ikut membantu.
Mereka langsung turun tangan secara serempak. Empat batang golok telah dicabut keluar. Mereka juga menyerang dari sisi yang berbeda.
Karena serangan yang datang itu cukup berbahaya, maka terpaksa Yao Mei harus menarik kembali pukulannya. Dia bersalto di tengah udara sebanyak tiga kali. Gadis cantik itu mendarat di tempat semula.
Satu tarikan nafas kemudian, dia langsung mencabut salah satu pedang yang disimpan di punggungnya.
Sringg!!!
Pedang dicabut keluar. Cahaya putih keperakan segera menyilaukan mata untuk beberapa saat. Tanpa menunda waktu lebih lama lagi, Yao Mei pun segera menerjang ke depan.
Suara nyaring karena benturan antar senjata tidak bisa dielakkan lagi. Percikan bunga api seketika memenuhi tempat sekitar.
Yao Mei langsung bertindak serius. Pedang di tangannya bergerak begitu cepat mengikuti irama permainan lawan.
Setelah bertarung beberapa jurus, ia baru sadar, ternyata keempat lawnanya itu bukanlah pendekar yang sulit untuk dihadapi.
Menurut perkiraan, setidaknya mereka hanya merupakan pendekar kelas dua. Kemampuan bertarungnya tidak begitu tinggi. Penguasaan jurusnya juga belum sempurna.
Bagi Yao Mei, tentu saja mereka bukanlah apa-apa.
Wushh!!!
Dia bergerak lebih cepat. Yao Mei segera mengirimkan serangkaian tebasan dan tusukan pedang dengan bantuan salah satu jurus kelas atas.
Baru beberapa saat dia menyerang, posisi keempat orang itu langsung terpojok. Mereka tidak dapat berbuat lebih jauh kecuali terus berada di posisi bertahan.
Trangg!! Trangg!!!
Empat batang golok tahu-tahu telah patah menjadi dua bagian. Pada saat yang bersamaan, sebenarnya Yao Mei bisa saja membunuh mereka. Hanya saja dia tidak melakukan hal itu.
Yao Mei lebih memilih untuk memukul dan melumpuhkan mereka saja. Dengan tujuan supaya pihaknya bisa mendapat informasi lebih banyak dari keempat orang tersebut.
Empat tubuh manusia terlempar ke atas. Mereka jatuh bergulingan sampai seluruh pakaiannya dipenuhi oleh debu kuning.
Pertarungan itu selesai dalam waktu kurang dari lima belas jurus.
Pada detik selanjutnya, Yao Mei segera melanjutkan lagi dengan menyerang ke arah orang yang diduga sebagai pemimpin.
Pedangnya berkelebat dengan cepat. Serangan itu terhitung ganas dan sulit ditangkis. Tetapi ternyata, orang yang dia serang mempunyai kemampuan lumayan tinggi, sehingga dia bisa menghindari sambaran pedang Yao Mei cukup mudah.
Berikutnya, orang itu tidak mau tinggal diam. Dia langsung mencabut golok di pinggangnya dan membalas serangan Yao Mei.
Jurus golok yang ganas dan keji langsung digelar. Goloknya berkelebat dan mengincar seluruh tubuh Yao Mei.
Pertarungan cukup sengit segera terjadi di tempat itu. Kedua orang yang terlibat mulai saling serang dengan mengandalkan jurusnya masing-masing.
Karena tidak mau membuang waktu dengan percuma, maka Yao Mei pun memutuskan untuk segera mengakhirinya.
Gadis cantik itu berteriak lantang. Dia langsung mengubah jurusnya. Pedang itu berubah menjadi sekelebat bayangan yang tidak pernah berhenti.
Lawannya tidak bisa mempertahankan posisi lagi. Sekitar sepuluh jurus kemudian, suara robekan kain segera terdengar. Perutnya telah berhasil digores oleh ujung pedang milik Yao Mei.
Walaupun luka yang tercipta tidak begitu dalam, namun hal itu saja sudah cukup untuk membuatnya mengaku kalah.
Orang itu langsung jatuh berlutut. Ia memegangi perutnya yang mulai mengeluarkan darah segar.
Begitu kepalanya terangkat sedikit, ia terlihat kaget. Ternyata di sana ada ujung pedang yang sudah siap untuk menembus lehernya.
"Sekali lagi kau bergerak, aku pastikan ujung pedang ini akan menembus lehermu," ucap Yao Mei memberikan ancaman.
Diancam seperti itu, tentu saja orang tersebut tidak berani melakukan gerakan lagi. Ia langsung diam dan mematung detik itu juga.
Yao Mei segera menoleh ke belakang. Zhang Fei seperti sudah mengerti apa maksudnya. Ia pun langsung memberi perintah kepada orang-orang dari Kekaisaran Qin itu.
"Tolong bantu urus kelima orang ini,"
"Baik, Ketua Fei. Masalah mereka, serahkan saja kepada kami. Kami siap menanganinya semaksimal mungkin,"
"Baiklah. Maaf kalau aku telah merepotkan kalian,"