Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Sekelompok Orang-orang Persilatan


Zhang Fei membungkuk memberikan hormat kepada orang tua itu. Ia kemudian menyarungkan kembali Pedang Raja Dewa.


"Aku juga benar-benar senang bisa berduel denganmu, Tuan Hong. Terimakasih karena kau tidak menurunkan tangan kejam kepadaku,"


Ia membungkukkan badan untuk yang kedua kalinya. Meskipun dirinya bisa menahan imbang, tapi dalam hati, sebenarnya Zhang Fei tahu betul bahwa si Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong tidak mengeluarkan segenap kemampuannya.


Ia menyadari akan hal tersebut. Sebab kalau sejak awal orang tua itu mengeluarkan seluruh kekuatannya, mungkin saat ini ia sudah tidak bernafas.


Mungkin sekarang Zhang Fei telah berubah menjadi mayat!


Menurut anggapannya, dalam duel tadi, setidaknya Kiam Hong hanya mengeluarkan delapan atau sembilan bagian tenaga dalam saja.


"Hahaha ... jangan sungkan, anak muda. Suatu hari nanti, kita bisa melakukan duel ini lagi. Jika saat itu sudah tiba, aku harap kemampuanmu telah meningkat jauh lebih pesat dari sekarang,"


"Semoga saja demikian, Tuan Hong,"


"Harus demikian. Bahkan kalau perlu, kita harus berduel sampai ada yang tewas. Kalau aku sampai tewas di tanganmu, aku rasa hal itu bukan sesuatu yang buruk,"


"Baik, Tuan Hong,"


Zhang Fei hanya tersenyum. Dia tidak mau bicara lebih jauh lagi.


Mereka kembali beristirahat bersama sambil banyak menceritakan hal-hal dalam dunia persilatan.


Tadinya, Zhang Fei ingin pergi saat itu juga. Tetapi Kiam Hong tidak mengizinkannya. Mengingat perjalanan turun gunung dari Lembah Selaksa Bunga itu tidaklah mudah.


Setidaknya dia harus melewati jalanan curam dan hutan belantara yang dipenuhi oleh binatang buas.


Maka dari itulah orang tua tersebut menyarankan agar dia kembali besok pagi.


Karena dipaksa untuk menginap, ditambah lagi apa yang diucapkannya memang benar, maka mau tidak mau, Zhang Fei harus menuruti ucapannya.


Begitu pagi hari tiba, setelah mereka selesai melangsungkan sarapan, Zhang Fei segera pamit undur diri. Tidak lupa juga dia menanyakan jalan pulang yang lebih cepat dari hari kemarin.


"Kau jalan saja ke arah Utara. Ikuti terus jalan itu, nanti kau akan keluar tepat di pinggir sungai. Setelah itu kau bisa menaiki perahu agar langsung tiba di Kota Luoyang," ujar Kiam Hong kepadanya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu,"


Zhang Fei menghormat. Setelahnya dia langsung menuruni jalanan yang telah ditunjukkan oleh Rajawali Lembah Selaksa Bunga.


Sedangkan orang tua itu sendiri, ia terus memandangi kepergian Zhang Fei bersama dengan muridnya, Li Bing.


"Li Bing, menurutmu, bagaimana kemampuan anak itu?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.


"Kemampuannya sangat hebat. Aku sendiri tidak yakin bisa mengalahkannya," jawab Li Bing dengan nada gambar.


"Ya, saat ini dia memang masih berada di atasmu. Tapi apabila kau rajin berlatih, aku yakin kau bisa menyamainya,"


Li Bing tidak bicara lagi. Dia memang terkenal dengan sifatnya yang pendiam dan jarang sekali bicara.


Gadis itu hanya akan bicara apabila ia merasa perlu untuk membuka suara. Apabila tidak perlu, maka apapun yang terjadi, jangan harap kau bisa membuka mulutnya.


"Dia tampan, kau cantik. Aku rasa, kalian berdua akan sangat cocok," gumam Kiam Hong setelah bayangan Zhang Fei lenyap dari pandangan mata.


Wajah Li Bing langsung bersemu merah ketika mendengar ucapan gurunya. Sebenarnya dia ingin bicara, tapi pada akhirnya, ia toh tetap diam seribu bahasa.


###


Tanpa terasa, siang hari sudah tiba. Saat ini Zhang Fei sedang naik perahu. Ia akan menyeberangi sungai yang besar itu. Sebenarnya tubuh pemuda tersebut terasa lelah. Namun karena ingin mempersingkat waktu, ia memilih untuk terus melanjutkan perjalanan tanpa beristirahat lebih dulu.


Zhang Fei tiba di seberang sungai ketika senja telah tiba. Sinar matahari sore menyapa alam mayapada.


Ia berjalan di tengah keramaian kota. Rencananya, selain mengunjungi Partai Gunung Pedang, Zhang Fei juga ingin pergi ke bekas markas Organisasi Bulan Tengkorak. Dia ingin berziarah ke makam kelima gurunya.


Tetapi sebelum itu, dia mencari dulu rumah makan dan penginapan untuk malam ini. Besok hari, ia berniat untuk memulai semua rencananya.


Rumah makan yang ia pilih adalah yang terbaik. Ia sengaja memilihnya karena selain untuk makan, dia pun ingin mencari informasi.


Bukankah di tempat ramai, informasi yang bisa didapat juga bakal lebih banyak lagi?


Dia berjalan masuk ke dalam rumah makan. Kebetulan, suasana pada saat itu sedang ramai. Semua pengunjung dari berbagai kalangan telah memenuhi hampir semua meja yang ada.


Zhang Fei duduk di sebuah kursi belakang. Di kanan kirinya, ada sekelompok orang-orang persilatan. Dia mengetahui hal tersebut dari pakaian yang mereka kenakan.


"Pelayan, pesan nasi daging bebek dan dua guci arak," ujarnya kepada pelayan restoran.


"Baik, Tuan Muda,"


Seorang pelayan muda menjawab. Ia kemudian pergi ke belakang untuk menyiapkan makanannya.


Sementara itu, dua kelompok orang-orang persilatan yang ada di kanan kirinya tampak sesekali memandangi mulai dari atas sampai bawah.


"Kau kenal siapa pemuda itu?" tanya salah seorang yang berada di sisi kiri.


"Aku tidak tahu," jawab rekannya.


"Kalau dilihat dari dandanan, sepertinya dia adalah orang-orang persilatan seperti kita,"


"Benar. Dia memang pendekar muda. Memangnya, kenapa?"


"Kau lihat pedang yang ia bawa itu?"


"Ya, aku melihatnya,"


"Itu adalah sebilah pedang pusaka yang memiliki harga tinggi. Bagaimana kalau kita mengambilnya?"


"Hemm, ide yang bagus. Tapi, bagaiamana kalau pemuda itu mempunyai kemampuan?"


"Setinggi-tingginya kemampuan pendekar muda seperti dia, pasti tidak akan sanggup apabila diserang secara serempak,"


"Ah, benar juga. Baiklah, setuju,"


Orang-orang persilatan tersebut terus berbicara bersama rekannya. Walaupun perkataan mereka tidak keras, tapi Zhang Fei justru bisa mendengarnya.


Maka dari itu, dengan sengaja dia segera menaruh Pedang Raja Dewa di atas meja.


Melihat barang incarannya di taruh, tentu saja mata orang-orang tadi langsung berbinar terang. Salah seorang dari mereka segera menghampiri Zhang Fei.


"Adik kecil, kau makan sendirian?" tanya orang bertubuh tinggi sedang.


"Benar, Kakak. Aku makan sendiri," jawabnya seraya tersenyum.


"Oh, bagaimana kalau kau bergabung bersama kami?"


"Hemm, boleh juga,"


Ia bangkit berdiri. Kemudian berjalan ke arah meja di mana orang-orang tadi berada.


"Kau suka minum arak?" tanya rekannya lagi.


"Tentu saja. Arak apapun aku doyan,"


"Hahaha, bagus," orang itu segera menuangkan arak ke dalam cawan. Dia mengajak Zhang Fei untuk bersulang. Setelah habis tiga cawan, rekannya yang lain segara bicara lagi.


"Adik kecil, pedangmu sepertinya bagus. Boleh aku melihatnya?"


"Ah, silahkan, Kakak," Zhang Fei sengaja memberikan Pedang Raja Dewa kepada orang tersebut.


Beberapa pasang mata segera terbelalak ketika mereka melihat betapa indahnya ukiran yang terdapat di sarung pedang. Mereka lebih senang lagi setelah mengetahui bahwa pedang itu juga sangat tajam.