Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kewalahan Menghadapi Para Pendekar Muda


Semakin lama di biarkan, amarah Raja Pedang Langit semakin memuncak lagi. Dia menilai bahwa pemuda yang menjabat sebagai Ketua Dunia Persilatan itu benar-benar sombong.


Selama ini, rasanya dia belum pernah bertemu dengan pemuda yang sombongnya seperti Ketua Dunia Persilatan tersebut.


"Mulutmu besar juga. Jangan mentang-mentang kau menjabat sebagai Ketua Dunia Persilatan, sehingga berani bicara sembarangan didepanku," katanya sambil tersenyum dingin. "Marilah kita mulai, biar aku beritahu bagaimana tingginya langit dan tebalnya bumi!"


Wushh!!!


Dia langsung melesat. Tubuhnya meluncur deras persis seperti burung elang yang akan menyambar mangsanya.


Dalam waktu satu kedipan mata, tahu-tahu dia sudah tiba di hadapan Zhang Fei.


Si Raja Pedang Langit segera melancarkan pukulan beruntun yang mengincar beberapa titik penting. Setiap pukulan itu mengandung tenaga besar dan tidak bisa dipandang sebelah mata.


Zhang Fei tersenyum sinis. Melihat lawan sudah memberikan serangan, dengan cepat dia pun langsung menangkisnya.


Adu pukulan segera terjadi. Suara beradunya jurus-jurus tangan kosong langsung terdengar jelas di telinga.


Baru saja pertarungan itu dimulai, ketegangan dan kengeriannya langsung bisa dirasakan.


Ketua Partai Pengemis Hitam itu terus menyerang Zhang Fei. Dia tidak pernah berhenti dalam usahanya tersebut. Bahkan semakin lama, maka semakin hebat pula serangan yang diberikan olehnya.


Orang tua itu menerjang. Di tengah udara dia langsung menyiapkan satu buah pukulan yang mengarah ke batok kepala.


Zhang Fei sudah menyadari akan serangan tersebut. Ketika kepalan tangan lawan hampir menyentuh kepalanya, dengan cepat dia menggeserkan kedua kaki ke sebelah kanan.


Bukk!!!


Tanah yang kering dan berdebu itu langsung bergetar ketika pukulan si Raja Pedang Langit menghantamnya. Kepulan debu kuning seketika mengepul tinggi.


Retakan akibat pukulan juga bisa dilihat cukup jelas.


Zhang Fei sedikit terkejut. Dia tidak menyangka bahwa kekuatan lawan ternyata sehebat itu.


'Hebat. Tenaganya benar-benar kuat. Aku tidak boleh gegabah menghadapinya,' batin Zhang Fei sambil menggelengkan kepalanya.


Sementara itu, setelah mengetahui pukulannya kembali menemui kegagalan, buru-buru si Raja Pedang Langit melompat kembali. Setelah itu dia langsung menggempur Zhang Fei untuk yang kesekian kalinya.


Pukulan dan tendangan datang silih berganti. Setiap serangan itu selalu mengandung tenaga yang besar.


Kalau lawannya adalah pendekar kelas rendah, niscaya sudah sejak tadi dia akan tewas.


Untung saja yang menjadi lawannya adalah Zhang Fei. Sehingga dia bisa bertahan sampai sejauh ini.


Pertarungan di antara mereka terus berlanjut. Adu pukulan dan tendangan terus mewarnai pertarungan. Saat mencapai jurus kedua puluh lima, tiba-tiba Zhang Fei melakukan gerakan tak terduga.


Dia menahan pukulan yang datang dengan telapak tangannya. Setelah itu, Ketua Dunia Persilatan segera melancarkan jurus tangan kosong yang tidak bisa dipandang rendah.


"Telapak Buddha Maha Agung!"


Wutt!!!


Blamm!!!


Si Raja Pedang Langit langsung terlempar sampai menubruk pintu utama kuil. Pintu itu pun seketika hancur berkeping-keping.


Serangan barusan benar-benar dahsyat. Datangnya juga sangat cepat, sehingga lawannya tidak mampu melihat dengan jelas.


Tokoh sesat itu berusaha bangkit berdiri sambil memegangi dada. Setelahnya ia segera menyalurkan hawa murni untuk menghilangkan rasa sakit yang ditimbulkan.


"Anak muda ini benar-benar luar biasa. Aku tidak boleh memandang rendah setiap serangannya," gumam si Raja Pedang Langit sambil menatap Zhang Fei.


Sementara di sisi lain, pertarungan Yao Mei, Yin Yin dan para anggota Partai Pengemis yang dibawa juga terlihat masih berlangsung.


Pertempuran mereka mulai mencapai akhir. Para anggota pilihan itu berhasil mengimbangi para petinggi dari Partai Pengemis Hitam. Walaupun kemampuan mereka terbilang tinggi, tetapi semua itu bisa dikalahkan oleh kerjasama yang sempurna.


Berbagai macam jurus yang sulit ditebak ke mana arahnya sudah mereka keluarkan. Kerja sama mereka pun tampak semakin sempurna.


Para petinggi Partai Pengemis Hitam sedikit kewalahan. Tubuh mereka sudah menjadi bulan-bulanan. Bahkan di beberapa bagian tubuh, ada luka-luka yang bisa dilihat cukup jelas.


Wushh!!!


Ketika pertempuran berlangsung sengit, mendadak dua bayangan manusia berkelebat di tengah udara.


Prakk!!! Prakk!!!


Detik berikutnya, dua buah tongkat bambu hijau tahu-tahu sudah menghantam kepala dua orang petinggi Partai Pengemis Hitam.


Keduanya langsung ambruk ke tanah. Kepala mereka mengeluarkan darah segar.


Dalam waktu kurang dari empat puluh jurus, dua orang petinggi sudah berhasil dibunuh.


Hampir bersamaan dengan kejadian tersebut, satu orang petinggi lainnya juga sedang dikeroyok oleh beberapa anggota Partai Pengemis.


Mereka menyerang dari dua sisi berbeda. Setelah berusaha cukup lama, akhirnya usaha itu pun berhasil membuahkan hasil.


Satu orang petinggi kembali menemui ajalnya!


Sedangkan di sisi yang lain, di sana masih ada Yao Mei dan Yin Yin yang juga sedang bertarung melawan si Wakil Ketua.


Pria berusia enam puluhan tahun itu dipaksa berada di posisi bertahan. Sejak pertarungannya dimulai, ia tidak bisa banyak bergerak. Tidak hanya itu saja, bahkan dirinya juga tidak sanggup memberikan serangan balasan yang berarti.


Menurut tokoh sesat itu, dua orang gadis cantik yang menjadi lawannya mempunyai kemampuan yang tidak berbeda jauh dari dia sendiri.


Hal inilah yang membuatnya kesulitan untuk mengakhiri pertempuran.


Andai kata dia sudah menggempur salah satu dari keduanya, pasti akan ada bantuan yang datang secara tiba-tiba.


Hasilnya, semua perjuangan yang dia lakukan selalu berakhir sia-sia.


"Keparat! Dua gadis itu benar-benar merepotkan. Aku rasa, ilmu silat yang mereka miliki sudah mencapai tahap sempurna," gumamnya ketika pertempuran itu berhenti beberapa saat.


Nafas tokoh tua itu tampak memburu. Sepertinya pertarungan melawan Yao Mei dan Yin Yin itu benar-benar menguras tenaga. Hal itu bisa dilihat juga dari banyaknya keringat yang telah membasahi seluruh tubuhnya.


Ia mengusut peluh yang keluar. Setelah nafasnya teratur dan tenaganya pulih, pertarungan pun segera dimulai lagi.


Dia segera mengeluarkan sebatang golok yang sangat tajam dari balik punggungnya. Batang golok yang tajam itu segera berkilau setelah tertimpa sinar matahari.


Wushh!!!


Ia menerjang ke depan. Golok miliknya sudah siap untuk menebas kepala dua orang gadis cantik tersebut.


Pada saat itu, Yao Mei pun sudah siap mencabut pedang dan memperlihatkan kemampuan aslinya. Namun sebelum niat itu terwujud, tiba-tiba Yin Yin berkata kepadanya.


"Tahan, Nona Mei! Biar aku saja yang menghadapi tua bangka ini," ucapnya sambil menoleh.


"Apakah kau yakin, Ketua Yin?" tanya Yao Mei sambil mengerutkan kening.


"Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya," ia tersenyum hangat kepadanya.


"Baiklah. Silahkan, kalau begitu,"


Yin Yin mengangguk. Dia kemudian berjalan tiga langkah ke depan. Tongkat kemala yang dipegang di tangan kanannya diketukkan ke atas tanah.


Suara nyaring segera terdengar. Ia memandangi lawan yang menerjang ke arahnya dengan tenang.


"Kemarilah! Aku akan memperlihatkan bagaimana hebatnya rangkaian Jurus Tongkat Pemukul Anjing!" kata Yin Yin dengan suara nyaring.