
Tebasan pedang semakin dilancarkan lebih cepat. Belum lagi tusukan pedang yang datang dari posisi tidak diduga. Tidak hanya itu saja, bahkan bersamaan dengan serangan tersebut, Zhang Fei juga menyerang dengan tangan kiri dan kedua kakinya.
Pertarungan semakin sengit. Raja Pedang Rembulan beberapa kali meringis menahan sakit. Rupanya kemampuan pendekar muda yang dia hadapi sekarang sungguh jauh dari bayangannya semula.
Awalnya dia berpikir bahwa Zhang Fei hanya hebat dalam ilmu meringankan tubuh saja sehingga ia bisa bergerak dengan cepat. Siapa sangka, setelah lama bertarung, kini ia baru tahu bahwa pada dasarnya anak muda itu memang hebat dalam segala hal.
Trangg!!!
Benturan keras tiba-tiba terdengar. Percikan api yang tercipta lebih banyak daripada semua benturan sebelumnya.
"Bocah, aku akui kau memang hebat. Tapi untuk membunuhku, rasanya kau belum mampu," katanya dengan nada dingin.
"Mampu atau tidak mampu, aku akan tetap melakukannya!" jawab Zhang Fei sambil menatap tajam ke arahnya.
Raja Pedang Rembulan tidak menjawab. Dia segera mempersiapkan jurus yang selanjutnya. Begitu persiapan selesai, ia langsung bergerak.
Wutt!!!
Pedangnya siap memberikan tusukan. Gerakan tubuhnya sangat cepat. Dalam waktu satu kedipan mata saja, ia sudah berada di hadapan Zhang Fei.
Anak muda itu sudah siap untuk menangkis tusukan tersebut. Tapi ternyata itu hanya serangan tipuan. Sebab tepat ketika pedangnya diarahkan ke posisi yang sesuai, tiba-tiba senjata lawan berubah arah.
Pedang itu langsung melayangkan tebasan yang tepat mengincar leher!
Wushh!!!
Zhang Fei terkejut setengah mati. Ia segera mundur untuk menyelamatkan diri. Tebasan barusan gagal mengenai sasaran. Tapi serangan berikutnya cukup membuahkan hasil.
Srett!!!
Perut anak muda itu seketika mengeluarkan darah. Tebasan pedang susulan barusan ternyata berhasil merobeknya.
Zhang Fei meringis. Rasa perih yang teramat sangat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Buru-buru dirinya menitik beberapa jalan darah supaya lukanya tidak semakin parah.
"Bagaimana? Rasanya nikmat, bukan?" tanya Raja Pedang Rembulan sambil tersenyum dingin.
Zhang Fei tidak menggubrisnya. Ia segera menyerang balik. Masih dengan jurus yang sama, dia menguatkan tekad untuk mengakhiri pertarungannya tersebut.
Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Adu pedang mulai terjadi lagi. Kali ini cukup banyak dan berlangsung lama, sebab kedua belah pihak yang terlibat tidak ada yang mau mengalah.
Kurang lebih selama sepuluh jurus mereka terus bertempur sengit. Dan tepat para jurus kedua belas, tiba-tiba terdengar suara merintih menahan sakit.
Raja Pedang Rembulan melompat mundur ke belakang. Beberapa luka akibat sayatan dan tusukan pedang yang tercipta tampak semakin banyak di tubuhnya.
"Bagaimana? Rasanya lebih nikmat, bukan?" tanya Zhang Fei sambil memberikan ejekan.
Tokoh sesat itu menggertak gigi. Dia ingin menyerang, tapi sebelum itu, sebuah hawa sesat tiba-tiba terasa dengan sangat jelas sekali.
Tidak lama kemudian, sekelebat bayangan manusia muncul secara dadakan. Bayangan itu langsung menuju ke arena pertarungan Yao Mei.
Bersamaan dengan kejadian tersebut, si Cambuk Pisau ingin melancarkan jurus pamungkasnya. Dia ingin langsung membunuh Yao Mei!
Sayangnya hal itu tidak bisa terwujud. Karena tepat sebelum cambuknya mengenai tubuh gadis cantik yang menjadi lawannya, tiba-tiba sebuah tangan yang besar dan kekar sudah menggenggam ujung cambuk dengan kuat sekali.
Entah sejak kapan, tapi tahu-tahu di arena pertarungan itu sudah bertambah satu orang tua.
Usainya sudah lanjut. Tampangnya seram dengan jubah semerah darah. Saat ini, tokoh tua tersebut sedang memandang ke arah Cambuk Pisau dengan tatapan menusuk.
"Ayah ..." kata Yao Mei secara tiba-tiba begitu ia menyadari siapa orang tua itu.
Orang tua yang dipanggil ayah tidak menjawab. Dia hanya melirik sekilas ke arahnya.
"Tu-tuan Yao Shi ..." gumamnya lirih dengan suara bergetar.
Orang tua berjubah merah yang bukan lain si Cakar Maut Yao Shi tersenyum dingin. "Kau telah melakukan kesalahan besar," ucapnya hambar.
"Apa ... apa maksud Tuan?"
"Kau tahu, siapa gadis yang akan kau bunuh itu?"
"Dia ... dia,"
"Dia adalah anakku,"
Degg!!!
Mendengar jawaban itu, si Cambuk Pisau semakin lemas. Dia seolah-olah telah jatuh ke dalam jurang tanpa dasar.
Sungguh, ia tidak tahu kalau gadis itu ternyata adalah anak si Cakar Maut Yao Shi. Sang Datuk Dunia Persilatan dari aliran sesat.
"Tu-tuan ... maafkan aku, maafkan aku. Aku ... aku tidak tahu kalau ..."
Wutt!!!
Tidak memberikan kesempatan bagi si Cambuk Pisau untuk menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Yao Shi menghentakkan cambuk tersebut. Pemiliknya langsung melompat ke depannya dengan paksa.
Tanpa dapat dicegah lagi, tangan kanan datuk sesat tersebut seketika langsung mencekiknya. Tubuh si Cambuk Pisau terangkat sampai satu jengkal di atas tanah.
Tangan itu semakin kuat mencekiknya. Lidah si Cambuk Pisau terjulur keluar. Kedua bola matanya melotot besar.
Beberapa saat kemudian, jari-jari tangan tersebut telah masuk ke dalam batang lehernya. Pada saat itu juga, si Cambuk Pisau langsung menemui ajalnya.
Setelah dia tewas, si Cakar Maut Yao Shi langsung melemparkan jasadnya begitu saja.
"Anak Mei, kau tidak papa?" tanyanya penuh kasih sayang.
"Tidak, Ayah. Untung Ayah datang tepat waktu," kata gadis itu sambil menghampiri dan memeluk ayahnya.
"Siapa mereka?" tanya si Cakar Maut sambil melirik ke arah dua medan pertarungan yang saat ini telah mencapai puncaknya.
"Nanti saja ceritanya, Ayah. Sekarang lebih baik kita saksikan dulu pertarungan mereka,"
Yao Shi tidak menjawab. Tapi dia pun tidak menolaknya. Ayah dan anak itu lalu berdiri di pinggir arena sambil menonton pertempuran.
Dua pertarungan yang terjadi sekarang hampir mencapai titik akhir. Walaupun masing-masing dari mereka masih terlihat seimbang, tapi jelas bahwa pihak yang mengalami kerugian cukup banyak, adalah pihak musuh.
Setelah tadi berhasil melukai Pendekar Tangan Dewa, posisi Dewa Arak Tanpa Bayangan semakin berada di atas angin. Dia jadi lebih sering menggempur lawannya dengan pukulan-pukulan atau jurus tangan kosong lainnya yang sangat mematikan.
Sedangkan di satu sisi, Zhang Fei juga berhasil mempertahankan posisinya. Dia tidak lagi didesak terus-menerus oleh Raja Pedang Rembulan. Justru secara perlahan, anak muda itu mulai bisa mengikuti irama permainan lawannya tersebut.
Malah beberapa jurus berikutnya, Zhang Fei kembali berhasil menciptakan luka di tubuh lawan. Pedang Raja Dewa mampu menusuk tulang rusuknya cukup dalam. Suara mengeluh tertahan terdengar.
Tokoh sesat itu kemudian melompat mundur ke belakang sambil memegangi luka yang baru saja tercipta.
Bersamaan dengan itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan juga berhasil melemparkan tubuh lawannya ke belakang. Hampir saja Pendekar Tangan Dewa jatuh tersungkur. Untunglah ia bisa dengan cepat mengembalikan posisinya. Sehingga dirinya masih selamat.
'Kalau aku terus melanjutkan pertarungan ini, rasanya percuma saja. Tua bangka itu benar-benar hebat,' batinnya berkata sambil memandangi lawan.
Pendekar Tangan Dewa sadar akan posisinya sekarang. Ia pun tahu, kalau terus dilanjutkan juga belum tentu dirinya bisa menang. Apalagi dengan luka yang telah dideritanya saat ini.
Maka dari itu, ia memilih untuk mengeluarkan jurus terakhir saja.
"Kita harus melarikan diri," katanya kepada Raja Pedang Rembulan lewat pikiran.