Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertarungan di Atas Perahu


Tukang perahu itu mendehem perlahan. Dia memandang Zhang Fei dengan tatapan yang lebih tajam.


"Kau sudah tidak sayang nyawamu?"


"Tentu saja aku menyayangi nyawaku," jawabnya dengan cepat.


Setiap orang yang bernyawa, pasti akan menyayangi nyawanya sendiri. Buktinya saja, kalau sedang sakit, pasti akan segera mencari obatnya.


Siapa pun orangnya, pasti akan seperti itu. Hanya manusia bodoh saja yang tidak menyayangi nyawanya sendiri!


"Bagus, kalau kau sayang terhadap nyawamu, serahkan semua barang berharga yang ada padamu," kata si tukang perahu lebih jauh lagi.


"Aku tidak punya barang berharga apapun juga,"


"Hahaha ..." dia kemudian tertawa sangat lantang. Tubuhnya bahkan sampai naik turun karena saking lantangnya suara tawa itu. "Kau pikir aku ini bodoh, sehingga bisa dengan mudah dibohongi begitu saja?"


"Hemm ..."


Zhang Fei menatap tajam. Tatapan yang menakutkan. Tatapan mata yang mampu membuat bulu kuduk berdiri!


"Lalu, apakah kalian berpikir bahwa aku ini bodoh dan tidak tahu apa-apa?" tanya Zhang Fei dengan suara dalam.


"Kalau tidak bodoh, mana mungkin dirimu bisa percaya begitu saja dengan ucapanku?"


Tukang perahu itu tertawa. Sepuluh orang rekannya juga ikut tertawa lantang.


Semua orang tertawa. Kecuali hanya Zhang Fei!


Setelah suara tawa orang-orang tersebut berhenti, dia kembali bicara.


"Itu karena aku sengaja ..." jawabnya singkat. Dia tidak memberikan waktu bicara bagi si tukang perahu, beberapa kejap kemudian, dirinya segera melanjutkan. "Kau tahu, bahwa sebenarnya aku sudah tahu rencana kalian ini sejak awal?"


Ucapan Zhang Fei terdengar sangat meyakinkan. Dalam setiap patah kata itu, seolah-olah ada satu kekuatan yang memaksa orang-orang tersebut untuk percaya.


Sebelas orang itu kemudian saling pandang satu sama lain. Mereka seperti kebingungan.


"Apa maksudmu?" tanya si tukang perahu setelah diam cukup lama.


"Apakah ucapanku kurang jelas?"


"Hemm, memangnya, sejak kapan kau tahu semua ini?" tanyanya dengan rasa penasaran yang besar.


"Sudah aku katakan, sejak awal aku sudah tahu. Saat di rumah makan itu, aku tahu kalian telah mengincarku. Bahkan kalian diam-diam juga mengikuti aku dari belakang. Sehingga pada saat aku tiba di Sungai Ciliang, kau langsung datang menghampiri dan menawarkan aku untuk naik perahu ini," kata Zhang Fei dengan nada tegas.


Sebelas orang itu semakin kaget. Mereka tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah kenyataan. Bukan khayalan.


Memang benar, sebenarnya ketika ia berada di rumah makan kemarin, Zhang Fei tahu bahwa ia selalu diperhatikan oleh sekelompok orang.


Meskipun dia tidak mengenal siapa mereka, tapi dirinya tahu bahwa orang-orang itu mempunyai niat buruk terhadapnya.


Namun karena ingin membuat "kejutan", maka Zhang Fei pun mencoba untuk mengikuti rencananya.


Dia ingin tahu lebih jauh lagi terkait apa yang akan dilakukan oleh orang-orang tersebut.


Dan ternyata dugaan hatinya memang tidak salah. Orang-orang yang memperhatikannya kemarin, tak lain adalah perampok!


Suasana di perahu itu menjadi hening. Masing-masing pihak menutup mulutnya. Hanya tatapan mata saja yang selalu bergerak-gerak memperhatikan ke sana kemari.


"Kau tahu, bahwa dirimu sudah melakukan satu kesalahan?" tanya Zhang Fei beberapa saat kemudian.


"Kesalahan apa?" tanya si tukang perahu sedikit penasaran.


"Kau telah salah memilih mangsa!" tegasnya.


Si tukang perahu diam sebentar sambil memandang wajah anak muda itu. Sebenarnya dia sendiri merasa tubuhnya sedikit gemetar.


Walaupun belum melakukan gerakan, tapi ia sudah bisa merasakan wibawa hebat yang keluar dari tubuhnya calon mangsanya tersebut.


"Hahaha ... omong kosong. Hajar bocah ini sampai mampus!"


Ia memberikan perintah kepada sepuluh orang anak buahnya yang sejak tadi sudah siap turun tangan.


Begitu perintah didengar, sepuluh orang bersenjata golok itu langsung menerjang ke arah Zhang Fei dengan cepat.


Bayangan manusia melompat secara bersamaan. Tusukan dan bacokan golok telah diberikan eh sepuluh orang tersebut.


Zhang Fei tersenyum dingin. Walaupun musuh sudah menyerang, tapi ia belum juga bertindak. Barulah ketika sepuluh batang golok itu hampir mengenai tubuhnya, anak muda itu tiba-tiba menghentakkan kaki ke lantai perahu.


Wushh!!!


Tubuhnya langsung terlempar ke atas. Semua serangan musuh hanya mengenai tempat kosong!


Sebelum semua orang sadar dengan keadaan, mendadak Zhang Fei membalikkan posisi tubuhnya. Kepala di bawah, kaki di atas!


Wutt!!! Blamm!!!


Seluruh bagian perahu bergoyang kencang. Hal itu terjadi karena hentakkan telapak tangannya yang menghantam dengan keras.


Sepuluh orang itu tidak bisa menyeimbangkan dirinya. Mereka terlempar ke udara tanpa bisa menguasai dirinya.


Bersamaan dengan itu, Zhang Fei pun langsung memberikan serangan balasan. Kedua tangannya bergerak secepat kilat. Pukulan dan hantaman telapak tangan, dilayangkan secara serempak.


Suara berat terdengar. Disusul dengan keluhan rasa sakit.


Sepuluh orang itu langsung jatuh terkapar di atas lantai perahu. Untunglah mereka tidak mengalami luka parah. Sehingga orang-orang tersebut masih bisa bangkit berdiri.


Setelah mengumpulkan tenaga, untuk yang kedua kalinya mereka menyerang bersaman. Tapi kali ini, yang menyerang bukan orang sepuluh orang itu saja.


Si tukang perahu yang sejak tadi menonton jalannya pertarungan pun, sekarang mulai ikut terlibat di dalamnya.


Wushh!!! Wutt!!!


Ia melesat. Sebatang golok sedikit melengkung tahu-tahu sudah digenggam di tangan kanannya.


Gerakan si tukang perahu itu cukup cepat. Tentu saja, sebab dia adalah pemimpin dari perampok tersebut!


Zhang Fei dikepung dengan sebelas serangan yang datang dari setiap penjuru.


Walaupun pihak musuh menggunakan senjata, tapi ia tidak mau mencabut Pedang Raja Dewa yang terdapat di punggungnya.


Pedang pusaka itu hanya boleh dikeluarkan apabila dirinya sedang menghadapi lawan tangguh!


Sedangkan sebelas orang tersebut, bagi Zhang Yu, mereka tidak ada apa-apa.


Wutt!!! Blamm!!!


Mereka kembali terlempar ke belakang. Bahkan empat orang di antaranya terlempar sampai ke sungai. Mereka tercebur di sungai yang dalam tersebut.


Pertarungan itu berlangsung dengan singkat!


Zhang Fei berjalan mendekat kepada si tukang perahu. Ia mengangkat tubuh orang itu dan membuatnya berdiri kembali.


"Antarkan aku sampai ke seberang sungai ini. Kalau tidak, jangan salahan aku apabila umurmu hanya sampai di sini," katanya menirukan ucapan si tukang perahu.


"Ba-baik. Baik, Tuan Muda," jawab tukang perahu itu sambil merasa takut setengah mati.


Dengan hati-hati, dia segera mengemudikan perahu itu lagi.


Zhang Fei sendiri langsung duduk di tempat sebelumnya. Ia kembali menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh alam. Anak muda itu bersikap seolah-olah di sana tidak pernah terjadi apa-apa.


Padahal yang sebenarnya, justru baru beberapa detik silam, perahu itu telah menjadi arena pertarungan yang singkat namun mengesankan.


Sementara itu, entah bagaimana nasib anak buah si tukang perahu yang tersebut ke sungai tersebut. Yang jelas, mereka sudah tidak terlihat muncul lagi ke permukaan.