Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Telapak Amarah Dewa


Dua orang itu mulai melakukan kerja sama yang hebat. Gerakan mereka saling melengkapi satu sama lain. Zhang Fei bisa menilai keduanya, setidaknya kemampuan mereka hampir mencapai tingkatan pilih tanding.


Tetapi, keduanya juga masih mempunyai kekurangan yang malah mengurangi kemampuan sebenarnya.


Menurutnya, mereka kurang berlaku tenang. Keduanya lebih mengedepankan nafsu, daripada pikirannya.


Padahal dalam sebuah pertarungan sengit seperti yang sedang dijalani sekarang, ketenangan merupakan salah satu kunci untuk meraih kemenangan. Sehebat apapun dirimu, sebanyak apapun pengalamanmu, semua itu bisa menjadi tak ada gunanya apabila kau tidak tenang.


Karena pada dasarnya, ketenangan itu bisa membuka sekaligus juga sanggup menutupi semuanya.


Awal mereka melakukan kerja sama, Zhang Fei memang terlihat semakin terdesak. Tetapi beberapa jurus kemudian, dengan cukup mudah pendekar muda itu membalikkan keadaan.


Pedang Raja Dewa tiba-tiba mengeluarkan cahaya perak yang menyilaukan mata. Detik berikutnya, ia segera menyerang si pria tua. Serangannya cepat dan tepat.


Bagaimanapun lawan menangkis atau menghindar, Zhang Fei tetap mampu mengatasinya.


Orang tua itu mulai panik. Keringat dingin mengucur membasahi seluruh tubuh. Ia kebingungan sendiri.


Sebenarnya dia bisa saja mengalahkan atau bahkan melukai Zhang Fei. Sebab ia memiliki pengalaman bertarung lebih banyak daripada lawan mudanya.


Sayang sekali, si pria tua itu telah melakukan suatu kesalahan. Kesalahannya memang kecil. Tapi justru yang kecil itu terkadang malah mendatangkan malapetaka.


Wutt!!! Krakk!!!


Di tengah usahanya dalam menghadapi tebasan atau tusukan pedang, mendadak terlihat ada cahaya kilat yang berkelebat.


Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang mendatangkan perasaan kaget setengah mati. Tongkat kayu hitam bercabang dua yang selalu menemaninya, tahu-tahu telah patah menjadi dua bagian.


Masih dalam keterkejutan, pria tua itu kembali melihat sambaran kilat yang melesat cepat ke arahnya.


Slebb!!!


Ia merasakan ada sesuatu yang memasuki tenggorokannya. Sesuatu itu sangat dingin. Dingin seperti es di Kutub Utara!


Rasa dingin itu awalnya hanya terasa di tenggorokan. Kemudian menjalar ke seluruh tubuh. Sesaat berikutnya, rasa dingin tadi segera berubah menjadi getir.


Ia memelototkan kedua bola matanya. Begitu memandang ke bawah, ternyata pedang lawan sudah menusuk tenggorokan dengan telak!


"Ka-kau ..."


Pria tua itu tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Karena ketika Zhang Fei mencabut Pedang Raja Dewa, dia telah ambruk ke tanah. Darah segar pun segara menggenangi orang tua bernasib malang itu.


Kejadian tersebut berlangsung singkat. Malah orang bercadar di sisinya juga seperti tidak percaya.


Ia baru sadar dari lamunan ketika melihat ambruknya tubuh orang tua itu.


"Keparat! Kau selalu saja mengganggu!"


Orang di dibalik cadar bicara. Suaranya halus namun tajam. Bola matanya hitam bening tapi menusuk.


Zhang Fei tercekat. Ia mematung seketika.


Suara itu! Tatapan mata itu!


Benarkah orang dibalik cara tersebut, adalah gadis yang telah membuat dirinya mengalami suatu perasaan aneh untuk pertama kali?


Ia tidak tahu pasti. Dia hanya tahu sebatang pedang lemas telah tiba di depan matanya.


Trangg!!!


Percikan api membumbung tinggi. Dua batang pedang berbenturan. Dua pasang mata saling tatap satu sama lain.


Beberapa kejap kemudian, keduanya segera melompat ke belakang. Mereka menarik serangannya secara bersamaan.


"Kau ..."


"Kau ..."


Dua orang itu berkata serempak. Menyadari akan hal tersebut, mereka pun langsung diam seribu bahasa.


Sementara di satu sisi lain, si orang tua yang seingat Zhang Fei bernama Kai Luo dan berjuluk Orang Tua Aneh Tionggoan itu, kini masih bertempur melawan tiga musuhnya.


Dia memberikan serangan beruntun yang tidak berujung dengan menggunakan kedua tangannya.


Tiga orang lawan yang ia hadapi, tidak mampu berbuat banyak. Semua senjata yang mereka genggam pun tidak sanggup memberikan hasil memuaskan.


Yang terjadi justru malah sebaliknya. Orang Tua Aneh Tionggoan Kai Luo mulai berada di atas angin. Kibasan tangan yang mampu mendatangkan deru angin kencang, mulai dirasakan oleh ketiga lawannya.


Gerak-gerik orang tua itu seperti lambat. Tapi sebenarnya sangat cepat.


Zhang Fei yang memperhatikannya pun merasa kagum. Sebab dia bisa menilai bahwa kemampuannya sudah sangat tinggi.


'Dia pasti tokoh kelas atas yang jarang menemukan tandingan,' batinnya berkata.


Wutt!!! Wutt!!!


Di tengah arena, Orang Tua Aneh Tionggoan Kai Luo semakin gencar melancarkan serangan. Sekitar sepuluh jurus kemudian, usahanya membuahkan hasil.


Dua orang lawannya terlihat terbang melayang mundur dengan cepat tanpa bisa mengendalikan diri. Mereka terlempar setelah terkena totokan jari yang dengan telak mengenai titik berbahaya di tubuhnya.


Brukk!!!


Suara berat terdengar. Dua orang itu menubruk sebatang pohon sampai bergetar.


Sedangkan satu orang sisanya, ia tidak terlempar sampai menabrak pohon. Namun dirinya mengalami nasib yang lebih parah.


Tepat di dadanya, terlihat ada bekas telapak tangan yang sedikit melesak ke dalam. Bekas telapak tangan itu sangat jelas. Malah dada yang menjadi sasarannya, tampak sedikit gosong.


Dia memandang Orang Tua Aneh Tionggoan Kai Luo dengan tatapan mata tidak percaya.


"Telapak Amarah Dewa ..." ujarnya dengan susah payah.


Detik berikutnya, darah kehitaman segera memenuhi mulut dan meleleh keluar.


Orang tersebut langsung jatuh telungkup dengan kondisi tidak bernyawa!


Pertarungan di hutan itu telah selesai. Kai Luo membersihkan telapak tanganhya yang sedikit kotor oleh debu.


Zhang Fei berniat untuk menghampirinya. Siapa sangka, tiba-tiba dia merasa ada segulung angin dahsyat yang mendorongnya dari belakang.


Angin itu selain cepat juga mempunyai hawa panas. Tak dapat dipungkiri lagi, ia langsung terdorong ke depan dengan sangat cepat.


Untunglah di depan sana, Orang Tua Aneh Tionggoan Kai Luo segera menahan tubuhnya sehingga Zhang Fei tidak sampai tersungkur.


Bukk!!!


Telapak tangan orang tua itu menyentuh dada. Seketika tubuh Zhang Fei pun langsung berhenti.


Sementara di tempat dia sebelumnya, sekarang tahu-tahu sudah ada satu sosok lain yang hadir.


Orang itu adalah pria tua. Usianya hampir sebaya dengan Kai Lio. Ia mengenakan jubah merah darah. Wajahnya sangar, terutama sekali tatapan matanya.


Rambutnya sudah memutih, seperti juga kumis tipisnya.


Dia berdiri dengan gagah di sisi orang bercadar hijau muda.


"Anak Mei, kau terluka?" tanyanya dengan lembut.


"Tidak, Ayah. Aku baik-baik saja," jawabnya sambil tersenyum manis. "Tapi ... mereka telah tewas," ia melanjutkan ucapannya sambil melirik para korban yang tercipta akibat pertarungan barusan.


"Mereka memang sudah seharusnya mampus," katanya dengan dingin.


Sementara itu, Zhang Fei lagi-lagi mengalami perasaan tidak karuan ketika mendengar sebutan nama tadi.


Apakah gadis itu Yao Mei?


'Ah, benar. Itu pasti dia. Sebab aku mengenal sekali gerakannya tadi,' batin Zhang Fei berkata.


"Tua bangka Kai, kenapa kau menyerang anakku?" tanya pria berjubah merah itu.


Suaranya menjadi berubah. Berubah dingin melebihi es.


"Yang memulai semua ini bukan aku. Melainkan anakmu dan rekan-rekannya," jawab Kai Luo dengan tenang.


Di sisinya, Zhang Fei juga mengalami perubahan. Tapi bukan di suaranya. Bukan pula di sikapnya.


Melainkan perubahan itu terjadi di wajahnya!


Ayah? Anakku? Benarkah dia tidak salah dengar?