
Ketua Dunia Persilatan terus memperhatikan pertarungan itu dengan serius. Bukan hanya dia saja, bahkan para tokoh yang lain pun saat ini sedang melakukan hal serupa.
Mereka seolah-olah terbuai oleh setiap jurus dan gerakan yang diperagakan oleh Yao Mei.
Ilmu pedang yang didapatkan dari Ratu Pedang Kembar Kesunyian itu, rupanya mengandalkan kecepatan.
Setiap serangan yang datang selalu mempunyai tipuan. Sehingga orang yang menjadi targetnya tidak akan bisa membaca ke mana arahnya dengan mudah.
Selain daripada itu, gerakan Yao Mei juga terlihat begitu lentur. Dia tidak terlihat sedang bermain pedang. Melainkan terlihat seperti halnya seorang penari.
Kedua tangannya direntangkan sedemikian rupa. Kadang-kadang kedua tangan itu berputar cepat, kadang pula lambat.
Ketua Partai Iblis Sesat yang saat itu menjadi lawannya dibuat kerepotan sendiri. Sampai sejauh ini, rasanya mereka telah bertarung selama kurang lebih empat puluh lima jurus.
Namun sampai sekarang, belum terlihat adanya tanda-tanda bahwa pertarungan itu akan segera selesai. Tokoh sesat tersebut merasa kesal sendiri. Sudah hampir semua jurus tombak andalannya telah ia keluarkan.
Tapi tidak ada satu pun dari jurus itu yang mampu membuat Yao Mei kerepotan.
Gadis cantik tersebut seolah-olah tahu ke mana arah serangan dan kapan dia melakukan penyerangan. Sehingga, semua usaha yang dilakukannya selalu menemui kegagalan.
"Nona Mei, ayo! Kau pasti bisa!" Zhang Fei berteriak dengan suara cukup keras.
Yao Mei tentu bisa mendengar teriakan tersebut. Karenanya, tanpa sadar mulutnya mengulum senyum.
Senyuman kebahagiaan!
Wutt!!!
Yao Mei menambah kecepatannya. Serangan yang datang semakin hebat lagi. Dua batang pedang menyambar-nyambar seperti kilat di tengah hujan.
Dua batang tombak pusaka milik Ketua Partai Iblis tidak mampu menangkis kedua pedang tersebut.
Srett!!!
Kedua tangan Yao Mei bergerak secara bersamaan. Dia menebaskan dua batang pedang kembarnya secara menyilang.
Sedetik kemudian, di dada tokoh sesat itu sudah terlihat ada bekas tebasan pedang yang cukup dalam. Darah segar seketika keluar dengan jumlah banyak.
Sepasang matanya melotot ke arah Yao Mei. Seakan-akan dia tidak menyangka bahwa ujung pedang itu, akhirnya bisa mengenai sasaran dengan tepat!
Clangg!!!
Dua batang tombak jatuh ke atas tanah. Sesaat kemudian, pemiliknya langsung jatuh dalam keadaan berlutut.
Ia seperti ingin menyampaikan kata-kata terakhir. Sayangnya, hal tersebut tidak bisa terwujud. Katana sebelum ucapan keluar dari mulut, nyawanya telah melayang lebih dulu.
"Hebat, Nona Mei. Kau benar-benar hebat!" kata Zhang Fei berseru girang.
Dia langsung berlari dan mendekat ke arahnya. Tanpa disadari, Zhang Fei segera memegang pergelangan tangan Yao Mei.
"Tanganmu ..." Yao Mei tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya.
Wajah gadis cantik itu langsung memerah. Merah katana malu!
"Eh ... maaf, Nona Mei. Maaf," ucap Zhang Fei yang juga merasa malu. Seketika itu juga, dia langsung melepaskan dan menarik tangannya.
Di belakang sana, Lima Datuk Dunia Persilatan segera berjalan menghampiri tepat setelah pertarungan itu selesai.
"Hahaha ... sepertinya ilmu khusus yang aku ajarkan kepada Ketua Fei sudah mulai sempurna," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tertawa lantang.
Yang lain ikut tertawa. Sedangkan Zhang Fei dan Yao Mei, saat ini sedang menundukkan kepalanya.
"Apakah semua pertarungan sudah selesai?" tanya Zhang Fei setelah beberapa saat kemudian. Ia sengaja bertanya seperti itu supaya topik pembahasannya berubah.
"Ya, semua pertarungan sudah selesai. Kita berhasil meraih kemenangan," jawab Pendekar Pedang Perpisahan dengan cepat.
Zhang Fei mengangguk. Dia kemudian membalikkan tubuh dan memanggil Tio Goan.
"Ada perintah apa, Ketua Fei?" tanyanya penuh hormat.
"Kau dan anggota Organisasi Pedang Cahaya yang lain, pergilah ke markas Partai Iblis Sesat. Ajak juga beberapa prajurit Kekaisaran," kata Zhang Fei memberikan perintah.
Dia tidak perlu menjelaskan apa saja yang harus dilakukannya ketika sampai di sana. Sebab Zhang Fei tahu, bahwa Tio Goan pasti sudah mengerti apa maksudnya.
Yang lain pun tidak banyak bertanya. Karena pada dasarnya, para tokoh itu sendiri sudah memahami bagiamana jalan pemikiran Zhang Fei.
"Baik, Ketua. Sekarang juga, kami akan berangkat,"
"Bagus. Pergilah, kalau sudah selesai, segera kembali lagi ke dalam barisan,"
"Baik, aku mengerti,"
Tio Goan membungkukkan badan. Setelah selesai memberi hormat, ia segera pergi dari sana dengan mengajak anggota Organisasi Pedang Cahaya dan sebagian prajurit Kekaisaran.
Sedangkan Zhang Fei dan yang lainnya, mereka segera pergi ke warung arak di mana Yao Shi berada.
Begitu tiba di sana, ternyata datuk aliran sesat itu sedang menikmati satu guci arak berukuran besar, lengkap dengan daging segar.
Ketika melihat kedatangan Zhang Fei berserta para tokoh yang lain, Yao Shi segera menaruh guci araknya di atas meja. Ia pun memanggil pelayan dan kembali memesan arak serta daging segar dengan jumlah cukup banyak.
"Selamat atas kemenangan yang telah kalian raih," katanya dengan nada kaku.
"Terimakasih, Tuan Shi," jawab Zhang Fei mewakili yang lain. "Tapi Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak ikut bergabung bersama kami?"
"Aku hanya tidak ingin terlibat saja," ucapnya seperti tidak perduli.
"Apa alasannya?"
"Tidak ada alasan,"
"Benarkah? Bukankah sesuatu apapun itu, pasti mempunyai alasan?"
"Ya, mungkin begitu. Tapi bagiku, sedikit berbeda. Kalau aku menolak sesuatu, maka aku tidak memerlukan suatu alasan apapun,"
"Hemm ..." Zhang Fei mendengus perlahan. Dia sebenarnya merasa tidak senang dengan jawaban yang diberikan oleh Yao Shi. Tetapi karena tidak ingin menciptakan masalah baru, maka dirinya memilih untuk mengalah saja.
Sementara itu, para Datuk Dunia Persilatan yang ada di sana, saat ini sedang menatap ke ara Yao Shi. Tatapan mata mereka cukup tajam dan menyelidik.
Si Cakar Maut Yao Shi sendiri tahu kalau dia ditatap sedemikian rupa. Hanya saja, ia bersikap acuh tak acuh. Seolah-olah dirinya tidak perduli dengan hal tersebut.
Pada awalnya, Yao Shi memang tidak menghiraukan tatapan mereka. Tetapi lama kelamaan, ia merasa cukup risih juga.
"Mengapa kalian memandangku seperti itu?" tanyanya dengan nada hambar.
"Yao Shi, masalah yang sekarang kita hadapi ini bukan menyangkut urusan pribadi. Hal ini menyangkut Kekaisaran Song, tanah air kita sendiri. Benarkah kau tidak mau ikut berjuang? Ataukah ... kau malah ingin membantu pihak musuh?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan masih dengan tatapan yang sama.
Si Cakar Maut seketika tertawa cukup keras setelah mendengar pertanyaan tersebut. Setelah menarik nafas, dia segera menjawab.
"Aku tahu, aku tahu sekali. Tapi kalau aku tidak minat untuk ikut campur, bagaimana? Lagi pula, aku juga tidak bergabung dengan pihak musuh mana pun. Intinya, aku tidak ingin terlibat dalam hal-hal yang berhubungan dengan politik," katanya menjelaskan secara singkat.
"Jadi, kau tetap tidak ingin membantu perjuangan kami?"