Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Perasaan Aneh


Dua orang pendekar muda itu terlibat dalam adu pedang untuk beberapa waktu lamanya. Yao Mei terus menyerang Zhang Fei tanpa memberikan ampun.


Ia bahkan sudah mengeluarkan jurus pedang yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Bayangan pedang tampak seperti gulungan angin topan yang sanggup menyapu apa saja.


Suara desiran angin tajam terdengar keras. Dedaunan kering yang rontok di atas tanah, berputar-putar lalu terbang ke angkasa.


Zhang Fei tidak mau kalah. Ia pun langsung mengeluarkan lima bagian tenaga dalamnya. Pertarungan berlangsung imbang.


Sampai belasan jurus lamanya, kedua orang pendekar muda itu terus terlibat dalam adu jurus pedang. Yao Mei bergerak dengan lincah dan cepat seperti burung rajawali.


Setiap serangan yang ia keluarkan sangat mematikan. Setiap saat bisa mencabut nyawa manusia tanpa harus mengambil nafas.


Sementara Zhang Fei, ia bergerak dengan tenang dan luwas. Mungkin karena kedua hal itulah ia mampu mempertahankan dirinya sampai sekarang.


Sebenarnya untuk melukai gadis cantik itu, baginya cukup mudah. Apalagi dengan kemampuannya yang sekarang.


Akan tetapi, sungguh Zhang Fei merasa tidak tega untuk menurunkan tangan kejam terhadapnya. Entah kenapa, ia merasa sayang apabila kulit yang putih dan mulus itu harus tergores oleh ujung pedangnya.


Jangankan melukai apalagi membunuh, bahkan untuk menjatuhkan sehelai rambut pun, ia merasa tidak berani.


Padahal, dia sendiri sadar bahwa gadis cantik itu sebenarnya ada niat untuk membunuh.


Kenapa dia jadi begini? Kenapa ia jadi menaruh belas kasihan terhadap musuh? Apakah itu artinya ....


Ah, ia tidak berani memikirkan hal-hal itu lebih jauh lagi.


Tanpa terasa, pertarungan mereka sudah berlangsung sebanyak empat puluh jurus. Sampai saat ini, belum satu pun serangan Yao Mei yang berhasil mengenai sasaran.


Ia menjadi marah sekaligus penasaran. Kenapa jurus pedangnya yang terkenal ganas itu, tidak mampu memberikan hasil memuaskan? Apakah hal itu diakibatkan karena perasaannya sedang berkecamuk? Ataukah memang karena lawannya mempunyai ilmu tinggi?


Yao Mei tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa saat ini pikiran dan batinnya sedang bertentangan.


Di satu sisi, dia mempunyai kewajiban untuk membunuh pemuda itu, sebab dirinya telah membuat kekacauan. Tapi di sisi lain, dia juga merasa takut apabila jurus pedangnya benar-benar mampu membunuh pemuda itu.


Begitulah, kedua pendekar muda yang sedang bertarung tersebut, masing-masing sedang merasakan sesuatu yang hampir sama.


Karenanya, pertarungan mereka terus berlangsung sampai delapan puluh jurus.


Dan tepat pada waktu itu, tiba-tiba Zhang Fei mendapatkan kesempatan emas untuk mengambil langkah mundur.


Tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung melompat sejauh tujuh langkah ke belakang.


"Nona Mei, tidak ada gunanya kita bertarung seperti ini. Walaupun kau adalah Pemimpin Kampung Hitam, tapi aku tidak ada menaruh permusuhan kepadamu, apalagi ada niat untuk membunuhmu. Sama sekali tidak ada," katanya bicara jujur.


Zhang Fei berhenti sebentar. Mengawasi wajah dibalik cadar itu.


Setelah mengambil nafas, ia kembali melanjutkan ucapannya.


"Maka dari itu, aku minta maaf apabila telah menyinggung perasaanmu. Sekarang aku akan pamit undur diri. Apabila suatu hari bertemu lagi, aku harap kita tidak berada dalam kondisi seperti ini,"


Setelah selesai berkata seperti itu, tanpa menunggu jawaban, Zhang Fei langsung membalikkan tubuh dan melesat cepat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Wushh!!!


Dalam satu kedipan mata, ia telah lenyap ditelan oleh kegelapan malam.


Setelah kepergiannya, suasana di Kampung Hitam kembali sepi sunyi.


Yao Mei masih berdiri di tempat semula. Ia merasa sedikit sedih saat pemuda tadi pergi begitu saja.


Pikirannya kacau. Hatinya kosong. Seolah-olah ada sesuatu yang telah menghilang dari jiwanya.


'Kenapa aku tidak bisa melupakan pemuda itu?' batinnya bertanya-tanya.


Karena tidak mau terus memikirkan hal yang bermacam-macam, pada akhirnya gadis itu memilih untuk segera pergi dari sana.


Satu kali kakinya menjejak tanah, ia telah berada jauh dari posisi semula.


###


Matahari yang panas dan terik sudah menyapa bumi. Sekarang baru siang hari, Zhang Fei masih tetap berlari dengan memanfaatkan ilmu meringankan tubuh.


Saat ini, pendekar muda itu sudah berada jauh dari Kampung Hitam. Malah dia sendiri tidak tahu berada di mana.


Yang jelas, ia terus berlari tanpa mengenal kata berhenti.


Beberapa waktu kemudian, setelah dirinya menemukan sebuah kota, ia langsung memperlambat langkahnya. Dari berlari, kini jadi berjalan.


Zhang Fei berjalan di tengah-tengah kota. Ia mencari rumah makan. Begitu melihatnya, tanpa berlama-lama lagi, ia langsung menuju ke sana.


Suasana dalam rumah makan sangat ramai. Apalagi sekarang adalah jam untuk makan siang.


Zhang Fei masuk ke dalam, ia duduk di kursi bagian belakang. Seperti biasa, ia memesan arak dan juga nasi.


Setelah arak diberikan oleh seorang pelayan, dengan cepat pemuda itu membuka tutup dan menenggaknya cukup banyak.


Ia baru berhenti menenggak arak setelah sudah hampir habis setengahnya. Para saat demikian, Zhang Fei pun sebenarnya sedang memikirkan rencana selanjutnya.


Satu tugas dari kakeknya sudah berhasil dilaksanakan. Tinggal tersisa satu tugas lagi, yaitu pergi ke Lembah Selaksa Bunga. Tapi di satu sisi, dia pun mempunyai persoalan pribadi dengan sebuah partai aliran putih.


Yaitu Partai Gunung Pedang. Khususnya dengan Wakil Ketua mereka. Si Pendekar Pedang Emas Gan Li.


Bagaimanapun juga, dia tidak pernah melupakan kejadian di hutan tersebut. Di mana kelima gurunya harus terbunuh oleh petinggi Organisasi Bulan Tengkorak.


Dan sedikit banyaknya, kematian mereka itu disebabkan oleh manusia bernama Gan Li!


"Aku harus menuntut balas kepada tua bangka itu. Kalau tidak, arwah kelima guruku tidak akan tenang di alam sana," gumamnya perlahan.


Kemarahannya sedikit terpancing keluar. Tanpa sadar, Zhang Fei telah mengeluarkan nafsu membunuh yang cukup pekat sehingga orang-orang di sisinya merasa bergidik.


Begitu menyadari situasi, dengan cepat pula ia menarik nafsu membunuh itu.


Sekitar sepuluh menit kemudian, seorang pelayan terlihat berjalan ke mejanya sambil membawa menu makanan.


Begitu pesanan sudah berada di atas meja, setelah pelayan tadi kembali ke belakang, dengan cepat ia langsung menyantapnya.


Cara makan pemuda itu sangat lahap. Entah karena dia lapar, atau memang doyan dengan menu yang dipesannya.


Kurang dari lima menit saja, menu makanan yang ia pesan, sudah habis masuk ke perut.


Karena tidak mau terlalu banyak membuang waktu, maka pada saat itu juga Zhang Fei langsung bangkit berdiri dan berjalan ke kasir untuk membayar biayanya.


Sekarang, perutnya sudah kenyang. Tenaganya juga kembali terisi. Itu artinya, Zhang Fei tinggal melanjutkan perjalanannya lagi.


Ia mulai berjalan kembali sambil Mencari-cari tentang nama kota yang sekarang disinggahi itu.


Sayangnya, setelah sekian waktu berusaha mencari, pemuda itu tidak bisa juga menemukan papan nama, terkait apakah nama kota tersebut.


Yang ia temukan berikutnya justru bukan papan nama kota, melainkan puluhan ekor kuda yang berlari kencang dari ujung jalan di depan sana. Setiap kuda itu ditunggangi oleh pria bertubuh tinggi kekar dengan pakaian seragam. Seperti halnya seragam prajurit.


Prajurit? Apakah puluhan penunggang kuda itu, benar-benar prajurit Kekaisaran?


###


Maaf ya belum bisa crazy up, soalnya saya ada rencana untuk membuat novel baru lagi, hehehe ..