Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Bayangan Hitam III


Pertarungan di halaman itu berjalan semakin seru lagi. Kedua belah pihak yang terlibat sudah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki olehnya masing-masing.


Lien Hua sudah menerjang empat orang lawan dengan jurus khas dari Perguruan Teratai Putih.


Jurus Bunga Teratai Berguguran!


Itu adalah jurus terakhir dari rangkaian ilmu pedang yang dia ciptakan. Jurus pedang itu mengandalkan kelenturan dan kecepatan si pemilik jurus. Semakin tinggi kemampuan yang dimiliki olehnya, maka semakin hebat juga hasil dari setiap serangannya.


Jurus itu memang sangat berbahaya. Sayangnya, dalam hal ini Lien Hua masih kalah dalam segi tenaga dalam dan tenaga sakti. Kalau saja ia hanya menghadapi dua orang, niscaya dirinya sudah bisa berada di atas angin sejak awal jalannya pertarungan.


Sayangnya, dia harus menghadapi empat orang. Gabungan dari empat orang itu tentu saja sudah cukup untuk mengungguli kemampuannya sendiri.


Kelebetan tubuh manusia terus terlihat. Bayangan golok dan pedang sudah menyatu dalam satu lingkaran. Walaupun keadaan sekarang masih tampak seimbang, tapi bagi yang tahu, Lien Hua justru sudah mulai kewalahan.


Kalau posisinya terus seperti itu, niscaya dalam waktu yang tidak lama lagi, dia akan berada di bawah angin.


Jika sudah demikian, jangankan untuk menang, bahkan untuk mempertahankan diri pun rasanya sudah sangat sulit.


Duan Dao yang berada di dekatnya juga sedang bertempur sengit. Tongkat besi yang dia gunakan beberapa kali dibenturkan dengan senjata lawan.


Hal itu menimbulkan percikan api yang tidak pernah hilang. Keadaan orang tua tersebut lebih menguntungkan dibandingkan dengan Lien Hua.


Duan Dao bisa menyeimbangi gerak serangan setiap lawannya. Apalagi dengan tongkat besi yang ia genggam. Beberapa keuntungan bisa dia ambil dalam hal ini.


Dia terus menyerang tanpa mengenal kata berhenti. Tongkat besi itu seolah-olah adalah Malaikat Maut yang akan mencabut nyawa.


Sodokan dan hantaman tongkat selalu mengincar ke titik penting. Dua orang lawannya mulai kewalahan. Bahkan tidak jarang juga serangan Duan Dao bisa mengenai sasaran dengan telak.


Keluhan rasa sakit terdengar keluar dari mulut lawan. Tapi ia tidak pernah memberikan ampun.


Lain lagi denga Mo Bian. Sejak awal pertarungannya, dia bahkan sudah bisa menguasai jalannya pertempuran. Golok Bulan Sabit yang ia genggam tampaknya memberikan banyak keuntungan.


Kedua orang lawannya tidak bisa membaca ke mana arah serangan yang dia berikan. Itu terjadi karena bentuk goloknya yang berbeda. Sehingga membuat jurusnya berbeda pula.


Benturan antar benda keras terus terdengar. Dari awal sampai sekarang, Mo Bian terus mencecar kedua orang lawannya tanpa kenal kata lelah.


Sabetan golok terus berdatangan silih berganti. Deru angin kencang yang membawa hawa golok bisa dirasakan dengan jelas.


Setelah berjalan dua puluhan jurus, tubuh dua orang lawannya sudah mulai dipenuhi oleh luka sabetan golok.


Darah segar mulai meleleh keluar dari dalam tubuh. Tenaga mereka juga sudah terkuras banyak akibat berusaha mempertahankan diri semaksimal mungkin.


Kalau terus seperti itu, mungkin dalam waktu beberapa jurus ke depan, Mo Bian pasti sudah bisa membunuh kedua lawannya.


Sementara itu, Zhang Fei juga tidak mau ketinggalan. Dia pun sudah mulai beraksi dengan pedang pusaka andalannya.


Untuk melawan dua anggota Bayangan Hitam, rasanya ia tidak perlu mengeluarkan jurus-jurus dari Kitab Pedang Dewa.


Cukup menggunakan beberapa jurus sederhana saja, rasanya itu pun sudah lebih dari cukup.


Apalagi dia memang telah mempunyai dasar yang kokoh. Setiap gerakan yang dia lakukan sangat matang. Setiap pedangnya bergerak juga selalu membawa ancaman bahaya yang tidak ringan.


Dua orang yang menjadi lawannya saja dibuat keheranan. Mereka tidak mengerti, kenapa di zaman ini, ada pendekar muda yang sudah mempunyai kemampuan begitu tinggi?


Trangg!!!


Ketika pertarungan sedang berlangsung sangat seru, mendadak bunyi nyaring terdengar. Sebatang golok yang dipegang oleh lawannya terlepas dari genggaman. Golok itu kemudian terpental cukup jauh dan jatuh di atas rumput.


Tidak berhenti sampai di situ saja, Zhang Fei segera melanjutkan kembali usahanya.


Srett!!!


Begitu tubuhnya ambruk ke tanah, ia langsung tewas!


Rekannya yang menyaksikan kejadian itu dibuat murka. Amarahnya langsung naik ke ubun-ubun kepala. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung berteriak nyaring sambil menerjang ke depan.


Jurus golok kembali digelar. Dengan pengerahan tenaga yang maksimal, ditambah lagi dengan amarah yang memuncak, tentu saja hasilnya juga luar biasa.


Kelebetan sinar kehitaman itu tidak bisa dilihat dengan jelas. Goloknya benar-benar cepat. Juga berbahaya.


Sayang sekali, dari serangan yang dahsyat tersebut, tercipta banyak celah yang tanpa dia sadari.


Hal itu terjadi karena dia hanya berpikir untuk menyerang. Tanpa berpikir bagaimana caranya bertahan.


Yang ada di pikirannya saat itu hanya bagaimana cara membunuh lawan. Sedangkan ia tidak pernah berpikir bagaimana jadinya kalau ia yang dibunuh lawan.


Maka dari itu, meskipun diserang dengan jurus-jurus golok yang hebat, tapi posisi Zhang Fei masih tetap sama seperti sebelumnya.


Dia tidak tampak kewalahan. Tidak juga terjerat dalam jurus lawan.


Yang benar adalah dia sedang mempermainkan lawan!


Mencapai jurus kedua puluh tiga, anak muda itu bertekad untuk mengakhiri pertarungan. Dengan sebuah lompatan ringan, ia mulai membalikkan keadaan.


Pedang Raja Dewa bergerak bagaikan seekor ular naga yang mengamuk. Tebasan dilancarkan. Dilanjutkan lagi dengan tusukan yang sangat cepat.


Slebb!!!


Pertandingan langsung berhenti. Sebab Pedang Raja Dewa, saat ini sudah menusuk tepat di tenggorokan lawannya!


Tidak ada perkataan yang keluar dari mulut orang itu. Ia hanya mampu mengeluarkan suara seperti hewan disembelih.


Ketika pedang dicabut dari tenggorokan miliknya, orang itu pun langsung ambruk ke atas tanah.


Dia tewas menyusul rekannya!


Satu pertarungan telah berakhir. Kemenangan diraih oleh anak muda bernama Zhang Fei, yang baru saja terjun ke dalam dunia persilatan.


Sebenarnya, saat itu dia ingin memberikan bantuan kepada yang lain. Terutama sekali kepada Lien Hua.


Sayang sekali niat tersebut harus gagal. Sebab secara tiba-tiba, beberapa bayangan manusia berkelebat dari balik kegelapan.


Jumlah bayangan itu tiga orang. Begitu tiba di arena pertarungan, mereka langsung ikut melibatkan diri di dalamnya.


Wushh!!!


Sebatang pedang tahu-tahu sudah melesat menuju ke arah Zhang Fei. Untunglah anak muda itu bisa mengambil tindakan dengan cepat, sehingga dia bisa selamat dari serangan barusan.


Zhang Fei kemudian melayang mundur ke belakang.


"Siapa kau?" tanyanya sambil memandangi orang yang telah menyerang.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang harus kau tahu adalah hidupmu cukup sampai di sini,"


Wutt!!!


Orang tua itu langsung bergerak lagi dengan pedangnya. Serangan yang datang tidak main-main. Kecepatannya juga sulit diikuti mata.


Serangkaian jurus pedang segera diberikan. Dia mencecar seluruh tubuh Zhang Fei tanpa kata ampun.