
Zhang Fei memandang ke depan sana. Setelah ia mengamati keadaan di sekitar, ternyata saat ini dirinya sedang berada di sebuah dataran yang cukup tinggi.
Ia baru menyadari hal tersebut setelah melihat bahwa cukup jauh di depan sana, ada sebuah kampung kecil. Rumahnya tidak banyak. Tapi rumah itu berderet dengan rapi di kanan dan kiri.
Kalau dihitung, jumlahnya mungkin hanya sekitar tiga puluhan rumah saja.
Rumah yang sangat sederhana. Bahkan di setiap rumah, hanya dipasang satu atau dua buah obor saja.
Keadaan kampung itu sepi. Tapi meskipun begitu, Zhang Fei tahu bahwa di setiap rumah yang ada, pasti terdapat penghuninya.
"Apakah ini adalah Kampung Hitam yang dimaksud oleh pedagang tua tadi?" tanya anak muda itu kepada diri sendiri.
Dia masih termenung memandangi kampung yang menyimpan keseraman tersebut. Berbagai macam prasangka mulai bermunculan di benaknya.
Karena sudah cukup lama dia berdiam dan bertanya-tanya, namun tidak pernah menemukan jawba, maka pada akhirnya anak muda itu pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi.
Bedanya, kali ini kuda itu tidak berlari. Melainkan hanya berjalan secara perlahan.
Dia mulai menuruni jalanan yang berkelok. Awal memasuki jalan berjelok itu, di kanan kiri terdapat banyak obor. Tapi semakin dalam dia memasukinya, maka semakin sedikit pula obor tersebut.
Malah lebih dari itu, semakin jauh ke depan, obor yang dilihat tadi, sudah tidak nampak lagi.
Jalan yang berkelok-kelok, semak belukar yang menghiasi sepanjang jalan, semua itu menambah keseraman dan kengerian.
Apalagi, saat ini keadaan sudah berubah total. Tidak ada lagi penerangan, kecuali hanya dari rembulan yang menggantung di atas langit saja.
Di tengah-tengah jalan, Zhang Fei tiba-tiba merasa sedikit ragu. Dia bingung antara berhenti dan kembali, atau terus dan melanjutkan langkahnya.
Kuda kembali berhenti untuk sesaat. Ia berpikir keras.
"Ah, biarlah aku teruskan saja," katanya berusaha memantapkan tekad.
Zhang Fei berpikir daripada dia harus kembali, maka dirinya memilih untuk melanjutkannya saja. Apalagi, jarak untuk kembali malah lebih jauh lagi.
Beberapa saat kemudian, tanpa terasa ia sudah tiba di pintu gerbang kampung yang sepi.
Di gerbang itu tidak ada orang yang berjaga. Gapuranya sudah bobrok. Malah tiang-tiangnya juga sudah dipenuhi oleh lumut hijau.
Zhang Fei semakin merasa curiga. Tapi karena dia sudah mengambil keputusan, maka dirinya terus berjalan masuk tanpa memikirkan banyak hal lagi.
Karena keputusan seorang pria adalah penentuan!
Dia mulai melewati perkampungan. Ternyata bentuk rumah di kampung itu, semuanya sama. Satu model.
Semakin jauh ia melangkah, mendadak dirinya mengerutkan kening. Sebab dia melihat di depan sana ada sebuah warung.
Tentunya adalah warung arak!
Mengetahui hal itu, dia langsung menuju ke sana dengan segera.
Begitu tiba di depan warung arak, Zhang Fei melompat turun dari atas punggung kuda. Kuda itu sendiri di simpan di bawah sebuah pohon yang terdapat rumput hijau.
Ia berjalan masuk ke warung arak. Keadaan di sana sepi. Hanya ada satu dua orang pengunjung saja.
"Paman, pesan arak satu guci," kata Zhang Fei setelah mendapatkan tempat duduk.
Tanpa memberikan jawaban, pemilik warung arak yang berusia tua itu, segera berjalan ke arahnya dengan membawa satu guci arak keras.
Brakk!!!
Dia menyimpan arak di atas meja dengan cukup keras. Zhang Fei sendiri sampai dibuat kaget. Tapi karena dirinya belum mengerti apa-apa, maka ia tidak banyak bicara.
Dengan segera anak muda itu membuka segel arak. Ia menenggaknya beberapa kali.
Baru saja berniat menenggak arak untuk yang kesekian, tiba-tiba salah satu dari pengunjung itu berjalan ke arah mejanya.
"Hei kawan, kau punya uang?" tanya orang itu yang merupakan pria berusia empat puluh tahun.
"Ada, Paman. Untuk apa?" tanya Zhang Fei dengan sopan.
"Pesan arak lima guci lagi. Antarkan ke mejaku," katanya dengan cepat.
Ia pun langsung kembali ke sana. Bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Zhang Fei.
Beberapa waktu telah lewat. Orang tadi tiba-tiba menghampiri lagi si pemilik warung.
"Pesan lima guci arak lagi. Biayanya nanti akan diberikan oleh kawan baru ini," katanya sambil menunjuk ke arah Zhang Fei.
"Paman, maaf. Apa maksudmu? Kau yang minum arak, tapi kenapa aku yang disuruh bayar?" tanyanya dengan cepat.
Sudah cukup dia bersabar. Menurutnya, melakukan pria itu sudah berlebihan. Dia sudah tidak menahan diri lagi.
Bagaimana mungkin, murid dari Lima Malaikat Putih akan diam saja apabila ada orang yang kurang ajar terhadapnya?
"Eh, bukankah kau tadi punya uang?" tanya pria itu sambil membalikkan tubuh.
"Tapi bukan berarti untuk mentraktirmu minum arak,"
Kalau hanya satu atau dua guci, mungkin Zhang Fei sendiri masih bisa menahan sabar. Tapi ini, arak yang dipesan olah pria itu sudah sangat banyak. Bahkan hampir sepuluh arak.
Memang benar dia masih sanggup membayar semuanya. Tapi bukan berarti pria itu boleh berlaku seenak hati. Apalagi mereka tidak saling kenal.
Kalau kau berada di posisi Zhang Fei, bukankah kau juga akan mengambil tindakan yang sama?
"Lalu, apakah kau tidak mau membayarnya?"
"Siapa yang mau membayar sebanyak itu? Lagi pula, tidak ada kewajiban bagiku membayarnya," dia menjawab dengan suara keras. Sehingga semua orang yang ada di dalam warung arak bisa mendengarnya.
Pria itu langsung terlihat emosi. Ia berjalan ke arah Zhang Fei.
Brakk!!!
Meja di depannya langsung pecah berkeping-keping. Arak dalam guci terlempar ke atas.
Sepertinya orang itu sedang menunjukkan bahwa ia mempunyai kemampuan dalam hal ilmu silat.
Tidak mau kalah darinya, Zhang Fei segera bangkit berdiri. Ia menusuk guci arak yang sedang melayang itu dengan jari telunjuknya.
Akibatnya cukup hebat. Tepat dibagian bawahnya, guci arak tersebut langsung bocor.
"Hemm ... bocah yang ingin mampus,"
Wutt!!!
Dia langsung melayangkan pukulannya dengan keras. Dada Zhang Fei menjadi incaran.
Bukk!!!
Pukulan barusan mengenai sasaran dengan telak. Tapi yang mengalami rasa sakit bukanlah dirinya. Melainkan pria itu sendiri!
Ia merasakan kepalan tangannya sakit. Seolah-olah baru saja dia memukul batu yang sangat keras.
"Rupanya kau ingin menjadi jagoan?"
Dia mengumpulkan lagi tenaganya. Kali ini, ia tidak mau main-main.
Pukulan beruntun langsung dilancarkan dengan segera. Setiap pukulan mengandung tenaga besar.
Dalam waktu singkat, di warung arak itu sudah terjadi satu pertarungan sengit yang melibatkan anak muda dan orang tua.
Beberapa jurus mulai berjalan. Semua serangan pria itu tidak ada lagi yang mengenai sasaran.
Melihat kenyataan tersebut, rekannya yang duduk di belakang sana, tiba-tiba bangkit dari p8o8sis duduk dan langsung melayang ke depan.
Ia mulai ikut campur dalam pertarungan itu!
"Berani kurang ajar di sini, harus siap menerima akibatnya!" kata orang itu sambil melancarkan serangan yang lebih hebat.