Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kembali Melanjutkan Perjalanan


Hujan deras yang sejak tadi membasahi seluruh muka bumi, kini sudah mulai reda. Awan hitam yang sempat menggulung dan menutupi seluruh alam mayapada, sekarang sudah terlihat berarak ke sebelah barat karena terbawa hembusan angin.


Pertarungan Zhang Fei melawan si Golok Pembelah Gunung akhirnya telah selesai. Ketua Dunia Persilatan berhasil membunuh tokoh sesat dari negeri Lhasa itu dengan cara menebas kepalanya.


Kepala si Golok Pembelah Gunung jatuh tidak jauh dari tubuhnya sendiri. Darah segar yang menggenang telah bercampur dengan lumpur dan air hujan.


Bau amis sempat tercium. Untunglah bau tak sedap itu segera digantikan dengan harumnya bunga-bunga yang mekar.


Setelah menyarungkan kembali Pedang Raja Dewa, Zhang Fei segera berjalan ke tempat di mana Yao Mei dan Yin Yin berada.


"Sejak kapan kalian kemari?" tanyanya begitu tiba di hadapan mereka.


"Belum lama ini," jawab Yao Mei yang pada saat itu memasang ekspresi bingung. Ia menoleh ke tempat sekitar. Beberapa pohon cukup besar terlihat tumbang. Bekas-bekas pertarungan sengit pun dapat disaksikan dengan jelas.


"Zhang Fei, apakah kau sudah menyelesaikan pertarunganmu?" tanyanya memastikan.


"Sudah. Tapi, aku hanya berhasil membunuh satu orang saja,"


"Memangnya lawanmu ada berapa orang?" tanya Yin Yin ikut berbicara.


"Seharusnya ada tiga. Tapi sepertinya, dua orang yang lain telah melarikan diri,"


Zhang Fei sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut, bahkan sejak masih bertarung, dia sudah menyadarinya. Tetapi dia memutuskan untuk membiarkan mereka lari. Sedangkan dia sendiri tetep fokus menghadapi si Golok Pembelah Gunung.


Di samping alasan tersebut, dia juga sengaja supaya masalahnya tidak bertambah repot. Karena setelah menyadari bagaimana kemampuan Tiga Iblis Bawah Tanah yang sebenarnya, Zhang Fei menjadi tidak yakin dia bisa mengalahkan mereka sekaligus.


Kalau pada saat itu Yao Mei dan Yin Yin sudah ada di sana, mungkin ceritanya akan lain. Sayang sekali, kedua gadis itu datang sedikit terlambat.


"Lalu, mengapa kau membiarkan mereka lari begitu saja?" tanya Yao Mei ingin tahu apa alasannya.


"Karena aku tidak yakin bisa menghadapi mereka,"


"Eh? Kau tidak yakin?"


Kedua gadis cantik itu saling pandang. Mereka seperti tidak menyangka bahwa jawaban tersebut akan keluar dari mulut Zhang Fei.


Di antara keduanya, yang paling kaget adalah Yao Mei. Sebab selama mengembara bersama, rasanya baru kali ini saja dia mendengar Zhang Fei bicara seperti itu.


"Benar, aku tidak yakin. Ilmu mereka benar-benar tinggi. Menurutku, ketiganya hampir setara dengan Datuk Dunia Persilatan," jawbanya dengan jujur.


"Hemm ... kalau boleh tahu, siapa orang-orang itu sebenarnya?" tanya Yin Yin lebih lanjut.


"Mereka menamakan dirinya sebagai Tiga Iblis Bawah Tanah. Di samping itu, masing-masing juga mempunyai julukan tersendiri. Pertama adalah si Golok Pembelah Gunung, orang itulah yang berhasil aku bunuh. Kedua adalah Pendekar Bambu Kembar, dan ketiga Pendekar Jubah Darah,"


"Aku merasa asing dengan julukan itu," kata Yao Mei sambil menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja, Yao Mei. Karena ketiganya memang bukan berasal dari sini. Mereka berasal dari Lhasa, datang kemari karena sengaja untuk mencariku,"


"Apakah kau mempunyai masalah dengan Tiga Iblis Bawah Tanah itu?"


"Tentu saja tidak,"


"Lalu, mengapa mereka jauh-jauh datang kemari hanya untuk mencarimu?"


Yin Yin merasa heran. Kalau tidak ada masalah apapun, lantas mengala ketiganya mencari Zhang Fei?


Padahal kalau menurut peta pada saat itu, jarak ke negeri Lhasa tidaklah dekat. Setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk sampai ke sana.


"Mereka mencariku karena aku telah membunuh Dewa Sesat Tiada Tanding. Asal kalian tahu saja, Tiga Iblis Bawah Tanah merupakan sahabat lama dari Ketua Partai Panji Hitam itu,"


Zhang Fei hanya mengangguk. Dia tidak berbicara lagi.


"Tapi kalau dua orang lainnya berhasil melarikan diri, menurutku, suatu saat nanti mereka akan datang lagi kemari," Yao Mei berkata lebih jauh lagi.


Dia sangat yakin akan ucapannya. Apalagi mengingat bahwa salah satu dari Tiga Iblis Bawah Tanah berhasil dibunuh oleh Zhang Fei.


"Ya, benar itu. Aku pun sependapat dengan Kakak Mei," sambung Yin Yin merasa setuju.


Zhang Fei mengangguk-angguk setelah mendengar ucapan dua gadis cantik itu. Sebenarnya, dia sendiri juga sudah mempunyai pendapat yang sama. Namun dirinya belum sempat menyampaikan secara langsung.


"Menurut dugaanku, bahkan kedatangan mereka nanti tidak hanya dua orang saja. Pasti akan ada tokoh-tokoh lain yang ikut serta di belakangnya,"


"Ya, tepat sekali,"


"Tapi, sudahlah," ucap Zhang Fei mengakhiri pembicaraan. "Kita tidak perlu terlalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Sekarang, lebih baik kita segera kembali ke Gedung Ketua Dunia Persilatan dan memikirkan sesuatu yang sudah pasti,"


"Aku ikut apa katamu saja,"


"Ya, aku juga,"


Zhang Fei tersenyum hangat. Dia segera berjalan kembali ke tempat di mana mereka menyimpan kudanya masing-masing.


Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Zhang Fei teringat akan sesuatu. Ia pun segera bertanya, "Ngomong-ngomong, mengapa kalian bisa bangun dari tidur? Bukankah sebelumnya, Tiga Iblis Bawah Tanah telah menotok urat tidur kalian?"


Dia yakin, dengan kemampuan ketiganya yang sudah mencapai taraf tinggi, rasanya bukan suatu perkara mudah untuk bisa lepas dari totokan mereka.


Menurut Zhng Fei, rasanya terlalu mustahil kalau Yao Mei dan Yin Yin bisa lepas begitu saja.


"Entahlah, kami sendiri tidak tahu pasti," jawab Yao Mei mewakili. "Cuma pada saat itu, aku seperti mendengar bisikan lembut yang menyuruh untuk bangun. Suaranya benar-benar mirip seperti 'guruku',"


"Apakah maksudmu, Ratu Pedang Kembar Kesunyian?"


"Benar," katanya membenarkan.


"Lalu ketika membuka mata, kau benar-benar melihatnya?"


"Tidak. Walaupun sudah berusaha mencari, aku tetap tidak berhasil menemukan siapa pun di sekitar sana,"


"Ah ... sayang sekali," Zhang Fei mengeluh tertahan.


Mereka tidak banyak bicara lagi. Kebetulan pada saat itu, ketiganya sudah tiba di istal muda. Masing-masing segera naik ke atas punggung kuda.


Setelahnya pata tokoh dunia persilatan angkatan muda itu segera melanjutkan perjalannya kembali.


Derap langkah kaki kuda kembali terdengar. Bekas-bekas tapak kaki kuda itu terlihat jelas di atas tanah yang sudah bercampur dengan air hujan.


Mereka melarikan kuda dengan cepat. Setelah terjadinya peristiwa di hutan tersebut, perjalanan pulang ke Gedung Ketua Dunia Persilatan itu tidak mendapat halangan apapun lagi.


Karenanya, dalam waktu empat hari ke depan, mereka telah berhasil tiba di sana tepat ketika mentari pagi baru saja memunculkan dirinya di ufuk sebelah timur.


Suasana di Gedung Ketua Dunia Persilatan masih sama seperti biasanya. Para pendekar aliansi sudah siap untuk menjalankan tugasnya di medan perang.


Para Datuk Dunia Persilatan juga telah bangun dari tidurnya masing-masing.


Kedatangan Zhang Fei dan kedua gadis cantik itu segera disambut oleh orang-orang yang masih berada di Gedung Ketua Dunia Persilatan.