Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Berlatih di Dalam Goa


Mereka kembali bersulang arak. Lima orang tersebut terus minum tanpa berhenti. Sehingga dalam waktu singkat saja, mereka sudah menghabiskan cukup banyak guci arak.


Untunglah takaran minum orang-orang tersebut bisa dibilang besar. Sehingga sampai saat ini belum ada yang benar-benar mabuk.


"Anak Fei, kita mulai bicara," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan memimpin yang lain.


"Baik, Tuan Kiang," jawab Zhang Fei dengan cepat.


Kelima orang tersebut segera mengubah posisi duduknya. Mereka mulai bersikap lebih serius lagi.


"Laporan yang aku terima selama tiga hari ini, kebanyakan datang dari tempat-tempat terpencil. Menurut laporan tersebut, di sana ada cukup banyak kejadian-kejadian yang penuh dengan teka-teki. Sekarang, yang menjadi korbannya adalah rakyat kecil,"


"Apakah tidak ada laporan dari partai atau kelompok-kelompok tertentu, anak Fei?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Aku rasa tidak ada, Tuan Kai. Mungkin para pendekar dunia persilatan mulai meras lelah," jawab Zhang Fei sambil tertawa.


"Jangan dulu bicara seperti itu," kata Dewi Rambut Putih ikut nimbrung. "Aku yakin, pihak musuh saat ini sedang mempersiapkan kekuatan yang sesungguhnya. Dapat dikatakan, keadaan sekarang mirip dengan bom waktu. Suatu saat nanti, bom tersebut pasti akan meledak jauh lebih besar dari yang sebelumnya,"


"Benar. Jadi, kita harus tetap waspada dengan keadaan semacam ini," sahut Pendekar Tombak Angin.


Zhang Fei menganggukkan kepala beberapa kali. Dia sendiri sudah tahu akan hal ini, tadi dirinya hanya bercanda saja.


"Anak Fei, menurutku kau harus mempersiapkan diri lebih jauh lagi," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menatap serius ke arah dirinya.


"Maksudmu, Tuan Kiang?"


"Seperti yang pernah kami katakan, di sini ada banyak kitab yang menerangkan ilmu-ilmu silat dari berbagai aliran. Nah, kau harus bisa mempelajari ilmu-ilmu itu sebanyak mungkin selama dua tahun ke depan,"


"Mengapa harus dua tahun?"


"Karena firasatku mengatakan bahwa puncak era kekacauan ini akan terjadi dua tahun lagi,"


Ruangan itu langsung hening. Walaupu ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan belum tentu benar dan terbukti, tapi yang lainnya sudah percaya akan hal tersebut.


Apalagi kalau melihat kembali keadaan seperti sekarang ini.


"Apa yang dikatakannya benar, anak Fei. Sebagai Ketua Dunia Persilatan, sudah sepantasnya kau mempunyai banyak ilmu. Baik itu ilmu tangan kosong, ataupun ilmu senjata dan ilmu-ilmu lainnya," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Tapi, apakah waktu dua tahun cukup untuk melakukan semua persiapan itu?" tanya Zhang Fei kepada mereka.


"Aku rasa cukup," jawab Dewi Rambut Putih. "Apalagi kecerdasan yang kau miliki jauh di atas rata-rata,"


"Baiklah. Aku akan mencobanya," ucap Zhang Fei merasa yakin.


"Bagus. Jangan pernah kau mengecewakan kepercayaan kami ini," kata Pendekar Tombak Angin.


"Baik, Tuan. Aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk semuanya. Tetapi, bagaiamana dengan tugasku ini? Siapa yang akan mengurusnya?"


Zhang Fei kebingungan akan hal ini. Sebab dia tidak boleh membagi pikirannya. Latihan apapun, mempelajari ilmu bagaimanapun, fokus itu adalah salah satu modal yang paling utama.


Kalau nanti dia harus tetap membagi pikiran dengan tugas-tugasnya sebagai Ketua Dunia Persilatan, maka berlatih pun rasanya akan percuma.


"Untuk hal ini kau tenang saja, anak Fei. Kami akan selalu ada di sampingmu. Jadi selama dua tahun ke depan, sedikit banyaknya kami akan mengambil alih tugas dan kewajibanmu,"


"Aku tidak enak kalau harus selalu merepotkan kalian," keluhnya.


"Siapa yang merasa repot? Kami melakukan semua ini dengan ikhlas. Kau jangan terlalu banyak berpikir. Lakukanlah apa yang kami katakan, karena semua itu demi kebaikanmu. Demi kebaikan kita bersama juga," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan serius.


"Baiklah, Tuan Kiang. Kalau begitu, aku siap untuk melakukannya,"


"Besok," jawabnya tegas. "Besok hari, aku siap untuk memulai latihannya,"


"Baik,"


Obrolan di antara mereka terus berlangsung sampai kentongan pertama terdengar. Setelah itu, pata tokoh tersebut kembali ke kamarnya masing-masing.


Begitu tiba di kamar, Zhang Fei langsung naik ke atas pembaringan dan tidur dengan nyenyak.


###


Keesokan harinya, setelah menyelesaikan semua kegiatan di pagi hari, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan langsung pergi ke perpustakaan.


Dua orang penjaga Perpustakaan Gedung Ketua Dunia langsung membungkuk hormat melihat kedatangan mereka.


"Anak Fei, pergilah dan cari kitab-kitab pusaka yang ingin kau pelajari," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan setelah berada di dalam.


"Baik, Tuan Kiang,"


Zhang Fei langsung berjalan lebih dalam. Dia segera mencari berbagai kitab pusaka yang ingin dipelajari olehnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, dia sudah kembali ke tempat semula.


Di tangan Zhang Fei sekarang setidaknya sudah ada lima macam kitab pusaka yang usianya sudah sangat tua sekali.


Kitab-kitab itu telah usang. Jilidnya saja sudah robek, tapi justru itulah alasan mengapa Zhang Fei mengambil dan berniat untuk mempelajarinya.


"Kau sudah memilihnya?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Ya, sudah,"


"Baik. Sekarang mari ikut kami,"


Empat Datuk Dunia Persilatan membawa Zhang Fei ke halaman belakang Gedung Ketua Dunia Persilatan. Di sana ada hutan kecil, mereka terus berjalan dan baru berhenti setelah menemukan sebuah goa yang ukurannya cukup besar.


Dilihat dari keadaan luar, goa tersebut sepertinya sudah sangat tua. Di setiap titiknya telah banyak ditumbuhi oleh lumut warna hijau tua yang licin.


"Inilah tempat yang cocok untuk berlatih, anak Fei," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menekan sebuah tombol rahasia yang berfungsi untuk membuka pintu batu.


"Sepertinya tempat ini sangat cocok. Nyaman dan menenangkan,"


"Tentu saja. Asal kau tahu, sejak dahulu kala, setiap Ketua Dunia Persilatan pasti akan berlatih di dalam goa ini. Kau tidak perlu memikirkan berbagai macam hal lagi. Karena di setiap titik hutan ini ada banyak pendekar kelas satu dan pendekar pilih tanding yang selalu menjaga setiap waktu,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan mulai menerangkan tentang hal-hal terkait lainnya kepada Zhang Fei.


"Setiap tiga hari sekali, seorang pelayan juga akan datang kemari sambil membawa makanan dan keperluan lain,"


Zhang Fei mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali. Dia cukup puas dengan goa tersebut. Apalagi dia merasakan juga bahwa di energi di sana masih sangat alami sekali.


"Baiklah. Aku juga sudah merasa cocok dengan tempat ini. Mulai besok, aku pasti akan langsung berlatih,"


"Bagus. Kalau begitu, sekarang juga kami kembali dan akan menjalankan tugas-tugasmu di Gedung Ketua Dunia Persilatan,"


Empat tokoh itu langsung pergi dari goa tersebut. Tidak lupa juga, Dewa Arak Tanpa Bayangan menutup kembali pintu batu tadi.


Meksipun keadaan menjadi tertutup, namun Zhang Fei tidak akan kehabisan udara. Sebab goa itu memang sudah dirancang khusus sebagai tempat berlatih.


Setelah semua orang pergi, dia lebih dulu membersihkan keadaan di dalamnya. Baik itu membersihkan debu, menyingkirkan batu-batu dan lain sebagainya.