Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Hutan Barat


"Ceritanya nanti saja kalau ada waktu, anak Fei. Sekarang kita cari dulu harta di dalam markas Kelompok Bunga Merah," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Baiklah, mari kita masuk ke dalam,"


Dua orang itu segera berjalan masuk. Kuda peliharaan mereka di simpan di depan halaman.


Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di sana. Ternyata ruangan di markas Kelompok Bunga Merah terbilang luas. Di sana pun dipenuhi oleh lukisan dan benda-benda berharga yang jumlahnya tidak sedikit.


Orang Tua Aneh Tionggoan menjadi penunjuk. Sebagai orang yang berpengalaman, tentu saja dirinya tahu lebih banyak hal daripada Zhang Fei.


Sekarang, dua tokoh dunia persilatan itu sedang mencari harta yang berhasil dikumpulkan oleh Kelompok Bunga Merah.


Satu-persatu dari semua ruangan mulai digeledah. Mulai dari ruangan yang kecil, sampai ke ruangan besar.


Semua tempat sudah didatangi. Tapi sampai sekarang, mereka belum juga menemukan sesuatu yang diinginkannya.


Saat ini, Zhang Fei dan Orang Tua Aneh Tionggoan sedang berada di sebuah ruangan besar dan mewah. Tidak perlu diragukan lagi, itu pasti ruangan pribadi si Mata Serigala.


"Semua ruangan sudah kita periksa. Tapi sampai saat ini, kita belum juga menemukan harta itu. Tuan Kai, menurutmu, di mana si Mata Serigala menyimpan harta rampasannya? Apakah dia tidak menyimpan harta itu di sini?" tanya Zhang Fei.


Dia sudah bingung harus mencari ke mana lagi. Sebab semua usahanya tidak juga membuahkan hasil.


Orang Tua Aneh Tionggoan tidak menjawab pertanyaan itu. Dia malah celingukan ke seluruh ruangan. Seolah-olah dirinya sedang mencari sesuatu.


"Anak Fei, minggir," katanya secara tiba-tiba.


Zhang Fei yang pada saat itu berdiri di tengah-tengah ruangan, seketika langsung menyingkir setelah mendengarnya.


Sementara itu, Orang Tua Aneh Tionggoan langsung berjalan ke tengah-tengah ruangan. Ia menengadah ke atas, memandangi lampu yang dipasang di atas langit-langit.


Tiba-tiba dia menjulurkan tangan dan memutar lampu tersebut. Seketika ruangan itu bergemuruh. Seolah-olah ada sesuatu yang keluar dari dasar bumi.


Tidak lama kemudian, mendadak dinding ruangan bergetar. Setelah itu tiba-tiba muncul pintu.


Ruang rahasia!


"Ternyata dia cukup pintar juga," ucap orang tua itu memuji.


"Apakah hartanya ada di dalam sana, Tuan Kai?"


"Tentu saja. Kau bisa melihatnya sendiri,"


"Baik,"


Zhang Fei langsung berjalan masuk ke ruangan rahasia itu. Setelah melangkah beberapa jarak, dia mendapati lagi kotak yang berukuran cukup besar.


"Kotak itu sepertinya tempat di mana semua harta berada," gumamnya.


Ia segera menghampirinya dan langsung membuka. Begitu kotak terbuka, ternyata benar, di dalamnya terdapat banyak harta. Mulai dari kepingan perak, sampai kepingan emas.


Tanpa banyak bicara, Zhang Fei segera mencari kain yang berukuran lebar. Setelah menemukannya, dia langsung mengambil semua harta itu dan dimasukkan ke dalamnya.


Tida lupa juga, dirinya menyisihkan sedikit untuk bekal di perjalanan dan biaya hidupnya.


"Tuan Kai, ayo kita pergi," ujarnya setelah membungkus semua harta itu.


"Tunggu dulu, anak Fei,"


"Ada apa lagi, Tuan?" tanyanya sambil menghentikan langkah.


"Lihat ini,"


Orang Tua Aneh Tionggoan memberikan selembar kertas kepada Zhang Fei. Begitu dia melihatnya, ternyata secarik kertas itu berisi sebuah surat.


Tulisan yang terdapat pada selembar kertas hanya itu saja. Di sana tidak dicantumkan siapa si pengirim surat.


"Surat apa ini?" tanya Zhang Fei sambil memandang Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya di kediaman Hartawan Ouw itu ada sesuatu,"


"Apakah kita akan menyelidikinya?"


"Harus. Siapa tahu semua ini ada sangkut pautnya dengan apa yang sedang terjadi di negeri kita,"


"Hemm, benar juga. Baiklah, aku setuju,"


Dua orang itu kemudian segera keluar dari sana. Zhang Fei dan Kai Luo tidak memikirkan bagaimana nasib mayat si Mata Serigala. Mereka membiarkannya begitu saja.


Bukan tanpa alasan keduanya melakukan hal itu. Melainkan karena mereka sudah tahu, sebentar lagi pasti akan ada orang yang akan mengurusi mayatnya.


Setelah keluar dari markas Kelompok Bunga Merah, Zhang Fei dan Kai Luo segera pergi ke beberapa desa kecil, tidak lupa juga mereka mengunjungi kuil-kuil sederhana dan menghampiri para pedagang kecil yang terdapat di sekitar sana.


Semua harta yang tadi didapatkan di markas Kelompok Bunga Merah, sudah habis mereka bagikan kepada yang membutuhkan.


"Kita cari penginapan sambil menunggu tiga hari kemudian," ujar orang tua itu.


Zhang Fei setuju. Mereka lalu mencari penginapan sederhana yang berdekatan dengan Hutan Barat kota tersebut.


Selama menunggu waktu pertemuan tiba, keduanya juga masih melakukan beberapa hal. Seperti mencari informasi terkait dunia persilatan, ataupun membantu mereka yang membutuhkan.


Tiga hari kemudian, setelah sore hari menjelang tiba, dua orang itu lalu pergi ke Hutan Barat dengan menaiki kudanya masing-masing. Jarak ke Hutan Barat dari penginapan sebelumnya tidak terlalu jauh. Maka dari itu hanya sebentar saja, mereka telah tiba di tempat tujuan.


Hutan Barat adalah merupakan hutan belantara yang tidak berujung pangkal. Hutan itu terletak di ujung kota, setiap hari, pasti ada saja warga yang keluar masuk ke sana.


Tujuan para warga itu bukan lain adalah mencari kayu bakar, ataupun mencari binatang buruan untuk dimakan.


Suasana sore hari pada saat itu sangat menenangkan. Suara burung-burung penghuni hutan sudah berkicau tiada henti.


Angin sepoi-sepoi mengibarkan pakaian dan membelai tubuh dengan mesra. Hawa dingin menyejukkan seketika dirasakan oleh seluruh tubuh.


Pancaran sinar matahari sore yang kemerahan, membuat pemandangan di sekitar sana menjadi lebih indah.


"Tuan, di mana sahabatmu itu?" tanya Zhang Fei tanpa turun dari kudanya.


"Sebentar lagi dia akan segera datang," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan dengan santai.


Baru saja dia selesai bicara, tiba-tiba dari sebelah kiri sana, sudah terlihat ada seorang tua yang sedang berjalan ke arah mereka.


Walaupun jaraknya masih lumayan jauh, tapi mereka sudah bisa melihatnya.


Orang tua itu mengenakan baju compang-camping. Rambutnya yang sudah memutih sedikit awut-awutan. Seluruh tubuhnya juga sudah dipenuhi oleh debu-debu jalanan.


Di tangan kanannya ada sepotong daging ayam. Sedangkan di tangan kirinya ada guci arak. Tidak hanya itu, bahkan ia pun masih membawa satu guci arak lainnya.


Guci arak yang satu ini ia simpan di pinggang. Ukurannya sedikit lebih besar. Warnanya kuning keemasan. Sekilas pandang, guci arak tersebut sangat mirip dengan barang antik.


Saat itu, Zhang Fei belum tahu bahwa orang tua tersebut adalah sahabat dari Orang Tua Aneh Tionggoan. Sehingga tidak heran apabila dia tidak terlalu memperhatikannya.


"Dia sudah datang," katanya tiba-tiba.


"Mana, Tuan?" tanyanya sambil memandang ke sana-sini, dia sedang mencari-cari orang yang dimaksud.


"Di sini tidak ada orang lain lagi, kecuali dia yang sedang berjalan, anak Fei,"


"Jadi, pengemis itukah sahabatmu?"