
Orang Tua Aneh Tionggoan tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Sekali lagi tubuhnya meluncur ke depan dengan deras. Ia datang membawa sebuah serangan.
Serangan maut! Serangan terakhir yang pastinya tidak bisa dihindarkan lagi oleh Yang Yu.
Blamm!!!
Suara berat terdengar. Untuk kedua kalinya, Tang Yu terlempar jauh sampai sepuluh langkah. Kali ini dia tidak muntah darah.
Sebab sebelum hal tersebut terjadi, nyawanya telah melayang lebih dulu.
Pertarungan kedua tokoh itu tidak berjalan terlalu lama. Paling-paling hanya sekitar tiga puluhan jurus.
Hanya saja, dalam waktu tiga puluh jurus tersebut, mereka berdua telah mengeluarkan seluruh kemampuannya. Sehingga akibat yang dihasilkan pun tidak perlu diragukan lagi.
Para prajurit Kekaisaran yang mengetahui bahwa Orang Tua Aneh Tionggoan telah memenangkan pertarungan, seketika bersorak gembira.
Mereka senang karena tokoh tua itu bisa membunuh lawannya.
Sementara di sisi lain, ada lagi Pendekar Pedang Perpisahan yang juga sedang bertarung melawan seorang ahli pedang dari Kekaisaran Zhou.
Di negeri asalnya, ahli pedang itu mendapat julukan Pendekar Pedang Setitik Embun. Diberi nama seperti itu karena di tengah-tengah gagang pedangnya ada bekas tetesan embun yang sedikit melesak ke dalam sehingga terlihat cukup jelas.
Nama dan ciri khasnya memang sedikit mirip dengan Pedang Tetesan Darah yang merupakan pedang kutukan. Hanya saja, kisah dari masing-masing pedang pusaka itu pasti mempunyai perbedaan yang sangat kentara.
Saat ini, pertarungan mereka berdua sudah mencapai jurus ketiga puluh. Sebentar lagi, pertarungan tersebut pasti akan segera berakhir.
Namun sampai sekarang, siapa pun pasti tidak akan bisa menilai terkait siapakah yang bakal keluar sebagai pemenang. Sebab kedua ahli pedang yang terlibat itu masih saling serang satu sama lain.
Pertarungan berjalan seimbang. Pendekar Pedang Perpisahan telah mengeluarkan jurus-jurus pamungkas miliknya. Begitu juga dengan Pendekar Pedang Setitik Embun sendiri.
Adu pedang terus berlangsung. Keduanya masih mencari kelemahan dari musuhnya masing-masing.
Ketika seorang ahli atau tokoh kelas atas bertarung, biasanya mereka tidak memerlukan waktu yang lama. Sebab hanya dengan mengetahui titik kelemahan saja, hal tersebut bisa menentukan segalanya.
Cuma memang proses pencarian titik lemah tersebut tidak bisa berlangsung sebentar. Oleh sebab itulah pertarungan tokoh kelas atas selalu memerlukan puluhan jurus banyaknya.
"Hiat!!!"
Pendekar Pedang Perpisahan tiba-tiba membentak nyaring. Tubuhnya meluncur ke depan sana. Tusukan pedang itu dengan tepat mengenai jantung Pendekar Pedang Setitik Embun.
Slebb!!!
Tokoh sesat dari Kekaisaran Zhou itu memelototkan bola matanya. Dia tampak sangat terkejut. Sebab pada dasarnya, ia memang tidak bisa melihat gerakan Pendekar Pedang Perpisahan.
"Ka-kau ..."
"Kenapa? Kau terkejut?" Pendekar Pedang Perpisahan mengangkat kedua alis matanya. "Kau memang lebih gesit dariku. Tapi kalau membahas kecepatan, aku rasa kau masih berada di bawahku," katanya melanjutkan dengan nada dingin.
Dia segera mencabut pedangnya dari jantung lawan. Setelah pedang itu tersebut, datuk sesat tersebut segera membalikkan tubuh dan berlalu pergi dari sana.
Ia tidak perlu lagi melihat lawannya. Karena bagaimanapun juga, dapat dipastikan bahwa Pendekar Pedang Setitik Embun telah tewas mengenaskan.
Brukk!!!
Baru saja Pendekar Pedang Perpisahan berjalan sejauh lima langkah, tiba-tiba dirinya telah mendengar suara berat. Suara jatuhnya tubuh manusia ke atas tanah!
Sementara itu di sisi lain, di sana ada juga Dewa Arak Tanpa Bayangan yang saat ini sedang berhadapan dengan seorang tokoh tua yang usianya tidak berbeda jauh dari dia sendiri.
Kalau dilihat dari ciri-cirinya, sepertinya orang tua itu juga merupakan tokoh kelas atas yang mempunyai kedudukan tinggi.
"Ku akui, kemampuanmu memang hebat," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan pujian kepadanya.
"Oh, kau juga mengenalku?"
"Tentu saja. Memangnya, siapa yang tidak mengenal datuk nomor satu dalam dunia persilatan Kekaisaran Song? Aku rasa, semua orang juga mengetahui akan hal tersebut," kata orang tersebut sambil terus tertawa.
"Hemm ... ngomong-ngomong, kau ini siapa?" tanyanya lebih lanjut.
"Namaku Ting Wang,"
"Ting Wang?" Dewa Arak Tanpa Bayangan berpikir sebentar. Dia merasa pernah mendengar nama itu.
Tapi di mana? Dan siapa pula orang yang dimaksudkan tersebut?
Datuk Dunia Persilatan itu terdiam cukup lama. Ting Wang pun tidak berkata apapun lagi. Ia hanya menatap pria tua di depannya dan menunggu ia berbicara.
"Ah, aku tahu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba berseru cukup lantang. "Bukankah kau ini, dijuluki si Pendekar Cebol? Salah satu Datuk Dunia Persilatan dari Kekaisaran Zhou, bukan?"
"Hahaha ..." suara tawa lantang terdengar kembali. "Ternyata kau juga mengenalku,"
"Aku hanya pernah mendengar namamu disebut orang," jawab orang tua itu dengan hambar.
"Hemm ..."
Ting Wang si Pendekar Cebol langsung mendengus dingin. Sepertinya dia kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Wushh!!!
Tiba-tiba dia melakukan sebuah gerakan. Kedua tangannya diayunkan ke depan. Segulung tenaga sakti meluncur dengan deras ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Belum lagi tenaga sakti itu tiba, dari belakangnya kembali terlibat ada dua batang belati yang ikut melesat secepat kilat menyambar bumi.
Trangg!!! Trangg!!!
Suara nyaring terdengar. Bunga api memercik ke tengah udara.
Kedua macam serangan tersebut berhasil dihalau oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan. Pertama dengan tenaga sakti, dan kedua dengan Guci Arak Murni yang selalu dia bawa setiap waktu.
Pendekar Cebol tidak menyangka bahwa serangannya bisa dihalau cukup mudah. Padahal waktu itu ia telah mengeluarkan segenap tenaga dan kemampuan yang dimilikinya.
Siapa sangka, usaha itu malah sia-sia dan memberikan hasil yang mengecewakan!
"Walaupun kau seorang Datuk Dunia Persilatan, tapi bukan suatu hal yang mudah untuk membunuh Dewa Arak Tanpa Bayangan!" katanya dengan nada dalam.
Wutt!!!
"Amarah Dewa Arak!"
Ia berteriak nyaring. Tubuhnya melesat bagaikan kilat. Hanya dalam satu kedipan mata, ia telah tiba di hadapan lawannya. Serangan beruntun dilancarkan saat itu juga.
Pendekar Cebol langsung kelabakan. Dia tidak bisa menangkis semua serangan yang datang ke arahnya. Alhasil di beberapa bagian tubuh sudah tercipta luka pukulan dan tendangan yang mengandung tenaga keras.
Pertarungan puncak terjadi pada saat itu. Dewa Arak Tanpa Bayangan terus mencecar tanpa henti. Pendekar Cebol tetap berusaha mempertahankan dirinya.
Namun sayang sekali, semua usaha itu kembali sia-sia belaka. Sekitar sepuluh menit kemudian, serangan terakhir datang dan mengenai ulu hatinya dengan telak.
Pendekar Cebol mengeluarkan suara dalam. Suara patahnya tukang di bagian dada juga terdengar cukup keras.
Darah segar menyembur dari mulut dan membasahi pakaiannya. Sesaat kemudian, ia langsung ambruk ke tanah.
Dewa Arak Tanpa Bayangan menarik kembali telapak tangannya. Setelah itu dia langsung pergi dari sana dan mencari orang-orang yang membutuhkan bantuannya.