Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Peperangan III


Belasan jurus sudah mereka lewati. Semakin lama bertarung, gerakan si Mata Golok pun semakin cepat dan dahsyat. Setiap bacokan goloknya semakin bertenaga. Kalau saja satu serangan tersebut mengenai tubuh Zhang Fei, niscaya luka serius akan langsung tercipta karenanya.


Sayangnya, dari banyaknya serangan yang dia berikan, tidak ada satu pun yang berhasil melukai Zhang Fei. Jangankan memberikan luka, bahkan menyentuh ujung bajunya pun si Mata Golok tidak sanggup lagi.


Dia menggertak gigi. Tangannya yang menggenggam gagang golok tampak semakin kencang. Urat-urat telah merongkol keluar. Keringat dingin pun telah membasahi seluruh tubuhnya.


Semua jurus golok yang selama ini menjadi ilmu andalannya telah dikeluarkan. Tapi semua itu masih belum bisa membunuh Zhang Fei.


Wushh!!!


Ketika ia sedang menggempur tanpa henti, tiba-tiba Zhang Fei berkelebat dengan cepat. Pedang Raja Dewa menangkis goloknya. Benturan keras terdengar. Golok tersebut langsung retak pada saat itu juga.


Setelahnya, Zhang Fei kembali mengirimkan serangan lainnya. Pedang Raja Dewa berkelebat secepat angin. Sesaat kemudian, tahu-tahu senjata pusaka itu sudah menembus jantungnya dengan telak.


"Jangan pernah menganggap remeh para pendekar Tionggoan!" katanya dengan nada dingin.


Pedang Raja Dewa langsung dicabut dari tubuhnya. Seketika si Mata Golok ambruk ke tanah.


Zhang Fei memandangi tubuhnya dengan tatapan sinis. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, terlihat para prajurit musuh saat ini sedang bertarung sengit melawan prajurit Kekaisarannya.


Wushh!!!


Tiba-tiba dia melesat ke depan. Pedang Raja Dewa ditebaskan beberapa kali. Korban jiwa langsung tercipta. Para prajurit yang berada di dekatnya langsung tewas hampir secara bersamaan.


Meskipun mereka menggunakan senjata lengkap, tapi prajurit itu bukan lawan yang tepat bagi Zhang Fei. Karenanya tidak heran apabila hanya satu kali serangan saja mereka langsung berubah menjadi mayat.


Sepak terjang Zhang Fei menjadi sorotan banyak orang. Mereka yang menyaksikannya ada yang merasa kagum, kesal, sekaligus penasaran.


Sementara di tempat lain, Empat Datuk Dunia Persilatan juga sedang melakukan hal yang sama dengannya. Mereka pun membantai siapa saja yang berada di dekatnya.


Dengan kemampuannya yang sudah sangat tinggi, tentu saja menghabisi para prajurit tersebut bukanlah suatu hal yang sulit.


Tanpa terasa pertempuran itu sudah berjalan hampir setengah hari lamanya. Jumlah prajurit yang tersisa dari kedua belah pihak paling banyak hanya sekitar lima ratusan orang saja.


Keadaan di medan peperangan mulai berjalan semakin seru. Prajurit di bawah pimpinan Jenderal Guan dan dua orang Jenderal lainnya telah menunjukkan taring.


Mereka benar-benar bisa mengatasi setiap orang musuhnya. Mayat-mayat prajurit semakin bergelimpangan. Kematian mereka beragam. Ada yang tewas karena dibacok oleh golok, ditebas oleh pedang, ditusuk menggunakan tombak, bahkan ada pula yang tewas dengan anak panah masih tertancap di tubuhnya.


Saat di medan peperangan, semua pemandangan itu menjadi hal yang sangat lumrah. Darah segar yang berceceran di tanah dan mayat yang diinjak-injak pun bukan lagi menjadi sesuatu yang menjijikan.


Masing-masing prajurit terus berjuang membela tanah airnya masing-masing.


Di sudut sebelah kanan, seorang Jenderal dari Kekaisaran Song tampak sedang bertarung sengit melawan dua orang tokoh tua dunia persilatan.


Keduanya saat ini sedang menyerang Jenderal tersebut secara bersamaan. Serangan mereka benar-benar dahsyat. Apalagi dua tokoh tersebut mempunyai kemampuan yang tidak rendah.


Pertarungan di antara tiga orang itu sudah mencapai puncaknya. Sang Jenderal tampak berusaha mati-matian mempertahankan selembar nyawanya.


Dari arah kanannya ada sebatang kaitan yang mengarah ke arah kepala. Kalau kaitan tersebut sampai mengenai sasaran, niscaya nyawanya tidak akan tertolong lagi.


Sedangkan dari arah sebelah kiri, ada lagi tongkat bermata golok yang ditebaskan dengan cepat dan mengincar ke arah pinggang. Dengan pengerahan tenaga penuh, rasanya tongkat golok itu akan langsung memisahkan tubuh bagian atas dan bawah apabila benar-benar mengenai incarannya.


Serangan mana yang harus dia tangkis lebih dulu? Apakah kaitan itu? Ataukah tongkat golok yang besar dan berat tersebut?


Wutt!!! Trangg!!!


Dia mengambil tindakan cepat. Pedang di tangannya menangkis kaitan lawan. Tapi sayangnya, kaitan tersebut malah menempel dengan senjatanya sendiri.


Dua senjata yang bertemu tidak bisa dipisahkan lagi. Seolah-olah itu adalah besi persani yang saling menempel satu sama lainnya.


Perasaan Sang Jenderal pada saat itu sudah tidak karuan. Hatinya terasa tenggelam ke dalam samudera. Sebab pada waktu yang bersamaan, tongkat bermata golok sudah tiba di sisinya.


Srett!!!


Senjata itu akhirnya mengenai sasaran. Untunglah tidak sampai benar-benar memisahkan tubuhnya. Sebab secara tiba-tiba, ada sebatang pedang yang telah menahan gerakannya.


Trangg!!! Wushh!!!


Si pemilik pedang mementalkan senjata tersebut. Tongkat bermata golok terpental kembali ke arah asalnya.


"Jenderal ..." Dewi Rambut Putih Giok Ling berteriak keras. Buru-buru dia menahan tubuh Sang Jenderal yang hampir jatuh ke atas tanah.


Rupanya orang yang menangkis tongkat bermata golok adalah Datuk Dunia Persilatan itu. Jadi wajar saja kalau tokoh sesat tadi merasakan tangannya tergetar ketika senjatanya berbenturan.


Sementara itu, saat ini Sang Jenderal sudah berada dalam pangkuan Dewi Rambut Putih. Kondisinya ketika itu benar-benar parah. Wajahnya pucat pasi. Peluh sebesar biji kacang juga telah memenuhi wajah yang pucat itu.


"Nyonya Ling, aku ... aku sudah tidak kuat lagi," ia langsung batuk darah. Untuk bicara pun rasanya sangat sulit sekali. Setelah sisa tenaganya kembali terkumpul, dia kembali melanjutkan lagi. "Aku ... aku menyerahkan perjuangan ini kepada kalian,"


Kepalanya langsung terkulai seketika. Dia tewas di pangkuan Dewi Rambut Putih Giok Ling!


"Keparat! Kalian harus menemaninya pergi ke alam baka,"


Dewi Rambut Putih Giok Ling bangkit berdiri setelah ia menaruh tubuh Jenderal tersebut dengan penuh hormat. Sepasang matanya yang tajam dan jeli, saat ini sedang menatap ke arah dua orang tokoh dunia persilatan di depannya tanpa berkedip sekali pun.


"Hiatt!!!"


Wutt!!!


Pedang lemas itu seketika bergerak. Serangkaian jurus pedang tingkat tinggi langsung dia gelar pada saat itu juga.


Dua orang tokoh yang menjadi lawannya tersentak. Buru-buru mereka melompat mundur beberapa langkah untuk mencari aman.


"Gila, hawa pedangnya saja sudah setajam ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ketajaman pedang itu sendiri," kata salah satu dari mereka yang menggunakan tongkat bermata golok.


"Aku rasa wanita ini bukan orang sembarangan. Kita harus tetap berhati-hati dan jangan sampai bertindak gegabah," sahut rekannya.


Dalam waktu yang bersamaan tersebut, Dewi Rambut Putih juga tidak mau melepaskan dua orang musuhnya. Ketika melihat mereka melompat mundur, dengan segera dia pun langsung mengikutinya.


Ke mana pun mereka menghindar, Dewi Rambut Putih Giok Ling pasti akan tetap mengejarnya!


Dia sudah bertekad tidak akan pernah melepaskan mereka!