
Begitu mendapat bantuan dari Orang Tua Aneh Tionggoan, posisi Zhang Fei dan Pengemis Tongkat Sakti yang sebelumnya sudah unggul, tentu saja sekarang menjadi lebih unggul lagi.
Mereka bertiga sudah mengeluarkan jurus-jurus hebatnya masing-masing. Kelebatan bayangan telapak tangan, bayangan pedang dan bayangan tongkat, seolah-olah telah bersatu menjadi kesatuan yang tidak bisa dihancurkan oleh apapun juga.
Jurus pamungkas dua tokoh angkatan tua itu sungguh dahsyat. Zhang Fei sendiri dibuat kagum dengannya.
Tapi, sampai sekarang dia sendiri malah tidak mau mengeluarkan jurus terakhir dari Kitab Pedang Dewa.
Alasannya karena Zhang Fei belum mau menunjukkan kemampuan sebenarnya. Dia tidak mau dipandang terlalu tinggi oleh orang lain, apalagi kakeknya telah berpesan agar dia tidak menggunakan beberapa jurus bagian terakhir kalau tidak benar-benar terpaksa.
"Aku tidak menyangka, ternyata para pendekar yang katanya beraliran putih, beraninya hanya main keroyokan saja," ujar Dewa Tiga Senjata di tengah-tengah terpaan tiga jurus dahsyat yang terus menggulung dirinya.
"Hehehe ... apakah kau takut? Atau memang sudah merasa tidak sanggup melawan kami bertiga?" Orang Tua Aneh Tionggoan berkata sambil tersenyum mengejek.
Bersamaan dengan itu, dia telah melepaskan telapak tangan kanannya ke depan. Untunglah Dewa Tiga Senjata segera bertindak cepat, sehingga telapak tangan itu tidak mengenai dadanya. Melainkan mengenai telapak tangan ia sendiri.
Plakk!!!
Benturan terjadi. Ia terdorong mundur tiga langkah ke belakang. Sedangkan Orang Tua Aneh Tionggoan hanya terdorong setengah langkah.
Melihat ada kesempatan baik, Zhang Fei dan Pengemis Tongkat Sakti berniat untuk mengakhiri pertarungan dengan cara membunuh Dewa Tiga Senjata.
Hanya saja sebelum mereka mengambil tindakan lebih jauh, tiba-tiba Orang Tua Aneh Tionggoan berkata.
"Tahan!" katanya sambil memberikan isyarat dengan tangan kanannya.
"Ada apa?" tanya Ketua Partai Pengemis sambil melirik ke arahnya.
"Aku ingin minum arak. Kau harus menemani aku minum,"
"Tentu saja. Setelah pertarungan ini selesai, aku pasti akan menemanimu minum sampai mabuk kepayahan,"
"Tidak bisa. Aku ingin minum sekarang juga," katanya mulai bersikeras.
"Orang aneh, apakah kau serius?" tanya sahabatnya itu sambil mengerutkan kening.
"Kau pikir aku sedang bercanda, pengemis tua?"
"Tunggu dulu, lalu bagaimana dengan orang ini?" tanyanya sambil melirik kepada Dewa Tiga Senjata.
"Ada anak muda ini yang akan mengurusnya," jawabnya dengan santai.
"Apa maksudmu, Tuan? Aku ..."
"Jangan banyak bicara," katanya memotong ucapan Zhang Fei.
Ia kembali melirik ke arah Pengemis Tongkat Sakti. Kemudian melanjutkan ucapannya. "Mari kita minum sekarang juga,"
Karena takut sahabatnya menolak, dengan cepat dia langsung menarik tangannya dan pergi dari sana.
Sekarang, yang masih ada di halaman tersebut hanya Zhang Fei seorang. Ia berhadapan dengan Dewa Tiga Senjata yang saat ini sudah mulai pulih.
"Bocah keparat! Jangan lari. Sekarang hanya ada kita berdua," ucapnya sambil menahan rasa kesal. "Biarkan mereka minum arak sambil menyaksikan kematianmu," lanjutnya bicara.
Zhang Fei tidak segera menjawab. Beberapa kali dirinya menoleh ke arah dua tokoh tua itu dan kepada orang-orang yang berdiri di sisi arena.
Dia kesal kepada Orang Tua Aneh Tionggoan. Ternyata ia benar-benar orang yang aneh.
Anak muda itu terus menggerutu dalam hatinya. Tapi dengan cepat dirinya kembali sadar akan posisinya sekarang.
"Hehehe ... untuk apa lari? Aku sama sekali tidak takut kepadamu," kata Zhang Fei sambil tersenyum dingin.
"Bagus. Kalau begitu, persiapkan dirimu sebelum pergi ke alam baka,"
Dewa Tiga Senjata segera menyalurkan hawa murni dan tenaga sakti. Setelah persiapan awal selesai, ia langsung menatap anak muda itu dengan tajam.
"Anak Fei, perlihatkan kemampuanmu yang sebenarnya. Jangan pernah membuatku malu. Kalau sampai kau kalah, aku jamin kau tidak akan bisa hidup lebih lama lagi," ujar Orang Tua Aneh Tionggoan bicara lewat pikirannya.
"Tapi ... Tuan,"
"Jangan banyak bicara lagi. Fokuslah kepada pertarunganmu,"
Wutt!!! Wushh!!!
Si Dewa Tiga Senjata sudah menyerang. Pedang dan golok telah siap ******* tubuh Zhang Fei.
Walaupun dirinya sudah mengalami luka yang cukup parah di beberapa bagian tubuhnya, tapi semua itu belum cukup untuk membunuhnya. Ia adalah tokoh sesat kelas atas, daya tahan tubuhnya berada di atas rata-rata.
Begitu juga dengan kemampuannya. Karena itulah, kalau hanya menghadapi anak muda seperti Zhang Fei, ia yakin masih bisa mengatasinya dengan mudah.
Sementara itu, dua senjata tajam tersebut sudah membayangi lawan. Ia menyerang dengan sengit. Setiap tebasan pedang dan bacokan golok, mengandung tenaga besar.
Zhang Fei belum membalas serangan. Ia hanya menghindar sebisa mungkin. Tapi semakin lama, ia justru makin merasa terdesak.
Ternyata kemampuan Dewa Tiga Senjata benar-benar hebat. Lebih hebat dari dugaan sebelumnya.
Buktinya saja saat ini ia masih bisa menyerang ganas seperti harimau. Padahal tubuhnya saja sudah mengalami luka.
Kalau terluka saja sudah sehebat ini, lalu apa jadinya apabila ia menyerang dengan keadaan tubuh prima?
Wushh!!! Wushh!!!
Ia melompat ke sana kemari. Menarik tubuh atau terkadang membenturkan Pedang Raja Dewa.
'Aku tidak bisa terus bertahan. Kalau begini caranya, terpaksa aku harus mengeluarkan jurus itu,' batinnya berkata.
Trangg!!!
Benturan nyaring tiba-tiba terdengar. Percikan bunga api mewarnai jalannya pertarungan tersebut.
"Murka Pedang Dewa!"
Wutt!!! Wushh!!!
Jurus terakhir dari Kitab Pedang Dewa akhirnya digelar keluar!
Ini adalah kali pertama ia menggunakannya saat melawan musuh.
Setelah jurus itu keluar, hawa pedang yang teramat pekat langsung memenuhi arena pertarungan. Hawa pembunuh yang tidak bisa dilukiskan dengan kata, sudah mengelilingi area itu.
Zhang Fei terlihat bagaikan seorang Dewa yang sedang mengamuk. Serangan pedangnya tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Yang nampak hanya kilatan cahaya putih keperakan.
Beberapa kali benturan nyaring terdengar, dua senjata lawannya tahu-tahu telah kutung menjadi beberapa bagian.
Wajah Dewa Tiga Senjata langsung pucat pasi. Keringat dingin telah membasahi tubuh, bahkan sampai telapak kakinya.
Sungguh, dia tidak pernah menyangka akan hal ini. Ternyata kemampuan anak muda itu sangat mengerikan.
Wutt!!! Slebb!!!
"Keukhh ..."
Suara seperti hewan disembelih terdengar. Pedang Raja Dewa tahu-tahu sudah menusuk tenggorokan Ketua Partai Tujuh Warna dengan telak!
Pedang pusaka itu masuk hampir setengahnya.
"Sekarang kau tahu kan, siapa yang pergi ke alam baka?"
Zhang Fei kemudian mencabut pedangnya. Tepat setelah pedang tercabut, Dewa Tiga Senjata langsung tewas tanpa mengeluarkan suara.
Rangkaian kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat. Orang-orang yang menyaksikan di pinggir arena pun tidak bisa mengikutinya dengan jelas.
Para saat itu, Zhang Fei seolah-olah lenyap dari pandangan mata. Mereka hanya melihat bayangan kebiruan yang terus bergerak ke sana kemari secepat kilat.
Suasana di sana langsung hening. Belum ada satu orang pun yang berbicara.
Zhang Fei masih berdiri di tempatnya. Pedang Raja Dewa belum disarunukan lagi. Senjata itu masih terlihat mengucurkan darah segar!
###
Novel yang satu lagi nanti dulu ya, masih agak repot di kehidupan nyata, hehe. Tapi untuk novel ini, pasti saya up setiap hari.
Terimakasih para pembaca ...