Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertempuran di Partai Gunung Pedang


Hanya dalam satu kedipan mata saja, si Pedang Angin Puyuh Gouw Ming telah berada di luar ruangan. Gerakan orang tua itu benar-benar cepat laksana kilat.


Begitu dirinya sudah ada di luar, dengan cepat pula dia langsung mengeluarkan sebatang pedang yang tersoren di punggungnya.


Wutt!!!


Ia langsung melancarkan serangan pertama. Sebuah tebasan datang dari sisi sebelah kanan.


Pada waktu itu, di dalam ruangan juga masih ada tiga orang serba hitam. Begitu menyadari adanya ancaman, dengan sigap mereka melakukan persiapan.


Ketika pedang di tangan Gouw Ming hampir mengenai sasaran, tiba-tiba dua golok tajam muncul dari kanan dan kiri.


Dua batang golok itu langsung menghadang seranganya.


Trangg!!!


Benturan nyaring seketika terjadi. Dua orang itu merasakan tangannya kesemutan. Sedangkan Gouw Ming sendiri, ia tidak merasakan apapun juga. Hanya saja, sekarang ia telah menarik kembali serangannya.


Sementara itu, kini di belakang si Pedang Angin Puyuh juga sudah ada lima orang. Tiga orang murid terbaik, satu orang murid kepercayaan dia pribadi, dan satu orang lagi, adalah Zhang Fei.


Sekarang mereka masih berdiri dalam diam. Kelimanya menatap ke arah orang-orang serba hitam tersebut.


"Walaupun memakai cadar, aku tetap mengetahui bahwa kau adalah si tua bangka Gan," ujar orang tua itu mengawali bicara.


"Hahaha ... apakah kau seyakin itu!"


"Ya, tentu saja,"


"Kau yakin ucapanmu tidak salah?"


"Sangat yakin," tegasnya sambil menatap tajam ke arah lawan bicara.


Keadaan di sana tiba-tiba menjadi hening. Baik Gouw Ming maupun orang yang diduga Gan Li, kini keduanya sedang saling tatap satu sama lain.


Percikan api tak kasat mata terjadi di antara mereka.


"Ketua, untuk membuktikan siapakah sebenarnya manusia rendahan ini, lebih baik kita buka paksa saja cadarnya," ucap seorang murid Partai Gunung Pedang tiba-tiba.


Gouw Ming langsung menoleh sebentar setelah mendengar ucapan barusan. Walaupun mulutnya masih terbungkam, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa hatinya juga merasa setuju dengan ucapan itu.


"Berikan kepalamu!"


Ia berteriak dengan keras. Sesaat kemudian tubuhnya sudah melesat ke depan. Pedang pusaka yang ia genggam sejak awal, mulai bergerak-gerak lagi dengan ganas.


Pancaran cahaya putih segera menyebar ke seluruh ruangan. Cahaya pedang itu ibarat meteor di tengah malam. Walaupun hanya tampak sekilas, tapi mendatangkan kesan mendalam.


Orang yang akan diserang juga sedikit terkejut. Tapi sebelum dirinya bergerak, dua orang anak buah yang ada di sisinya, sudah mengambil tindakan lebih dulu.


Mereka menggerakkan goloknya secara bersamaan. Benturan nyaring terjadi lagi, tapi kali ini tidak berhenti. Si Pedang Angin Puyuh Gouw Ming segera melanjutkan dengan serangan susulan.


Pedangnya menebas dan menusuk. Tangan kirinya tidak diam saja. Ia juga melepaskan serangan menggunakan tangan kosong.


"Ketua, serahkan mereka kepada kami,"


Dua orang murid terbaik Partai Gunung Pedang berteriak. Pada saat itu, keduanya juga sudah siap menyambut golok lawan.


"Baik. Bunuh saja mereka," jawab Gouw Ming dengan cepat pula.


Setelah itu, dia pun langsung mendesak ke depan. Persis ke hadapan orang yang diduga si Pendekar Pedang Emas Gan Li.


Jurus pedang khas Partai Gunung Pedang segera digelar dengan sempurna. Hawa pedang langsung terasa dengan pekat. Seolah-olah seluruh ruangan itu sudah sesak oleh hawa pedang yang ia ciptakan.


Satu kali tangannya bergerak, sebatang pedang yang mengeluarkan secercah sinar kehijauan sudah ada di tangan kanannya.


Pertarungan di antara keduanya pun tidak bisa dihindarkan lagi. Kedua batang pedang pusaka bertemu di tengah udara. Percikan api yang tercipta semakin tampak banyak berterbangan di tengah udara.


Sebagai Ketua Partai besar, tentu saja kemampuan orang tua itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi, ia memang sudah memiliki kemampuan tinggi sejak dulu.


Meskipun usianya sudah lanjut, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa gerakannya masih cepat. Justru semakin bertambahnya umur, maka semakin bertambah pula kesempurnaan ilmu pedangnya.


Orang yang menjadi lawannya saat itu sedikit kaget setelah menyaksikan kehebatannya. Namun karena dia sendiri bukan manusia biasa, maka tentu saja ia tidak bisa dengan mudah dikalahkan.


Dua tokoh kelas atas tersebut kemudian bertarung dengan sengit.


Deru angin tajam terasa semakin perih menyayat kulit. Ketika pertempuran sedang berjalan sengit, tiba-tiba terdengar suara teriakan lain yang muncul dari arah jendela.


Tidak lama setelah itu segera terlihat dua sosok bayangan yang meluncur dengan cepat.


Dua bayangan itu bukan lain adalah anak buah si orang serba hitam!


"Guru, serahkan mereka kepadaku,"


Murid kepercayaan si Pedang Angin Puyuh Gouw Ming tiba-tiba melompat ke tengah udara. Dia tidak bisa tinggal diam lagi setelah menyaksikan gurunya turun tangan.


Dengan cepat pula dia langsung mencabut pedangnya. Orang itu menyambut datangnya lawan dengan gagah berani.


Ternyata yang turun tangan bukan hanya dia saja. Malah satu orang murid yang tersisa, kini juga sudah menceburkan dirinya dalam medan pertarungan.


Kini semua murid yang tersisa dari Partai Gunung Pedang sudah mempunyai pertarungannya masing-masing.


Yang sejak tadi diam hanyalah Zhang Fei seorang.


Anak muda itu masih tampak berdiri dengan santai di tempatnya semula. Awalnya dia percaya bahwa orang yang datang tadi adalah si Pendekar Pedang Emas Gan Li.


Tetapi setelah bertemu muka dengannya, ia justru menjadi ragu.


Seingatnya, orang tua bermarga Gan itu tidak mempunyai bentuk tubuh seperti ini. Lagi pula, dia masih ingat bahwa kemampuannya sudah terbilang tinggi.


Walaupun orang yang sekarang bertarung dengan Gouw Ming bukan tokoh rendahan, tapi jelas, kemampuan Wakil Ketua Partai Gunung Pedang itu justru cukup jauh lebih tinggi dari dirinya.


Lagi pula, senjata Wakil Ketua Partai Gunung Pedang itu mengeluarkan cahaya kuning keemasan. Bukan kehijauan seperti yang ia lihat sekarang.


Teringat akan hal itu, mendadak Zhang Fei mempunyai pikiran lain.


Dia yakin, orang itu bukan Pendekar Pedang Emas Gan Li. Itu pasti orang lain yang sengaja menyamar menjadi dirinya.


Di satu sisi, ia juga mempunyai dugaan bahwa kedatangan orang-orang itu bukan secara tidak sengaja. Setidaknya, dibalik kejadian yang sedang berlangsung sekarang, pasti masih ada sesuatu lainnya lagi.


Tiba-tiba sepasang telinganya mendengar sebuah suara halus yang berasal dari luar. Dia pun mendadak merasakan adanya kehadiran manusia lain.


Wushh!!!


Tanpa berkata apa-apa, Zhang Fei segara menjejakkan kakinya ke lantai. Ia meluncur dengan deras di antara kilatan cahaya pedang yang sedang membara itu.


Hanya satu helaan nafas, pemuda tersebut telah berada di ruangan depan. Di sana, di ruangan yang besar itu, saat ini setidaknya ada dua puluh orang yang sudah berdiri membentuk lingkaran.


Melihat kenyataan tersebut, sepertinya orang-orang itu memang sudah tahu bahwa dirinya akan datang. Sehingga mereka seakan-akan telah melakukan penyambutan.


Begitu Zhang Fei tiba di depannya, tanpa perlu diperintah, dua puluh orang serba hitam tersebut segera mengeroyok dirinya dengan senjata yang sudah digenggam erat.