Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Semuanya Telah Setuju


Tidak lama setelah pertarungan itu selesai, beberapa orang petugas segera masuk ke dalam arena. Mereka kemudian membawa tiga orang jasad tokoh dunia persilatan sekaligus membereskan bekas-bekas pertarungan tersebut.


Zhang Fei sudah kembali berada di tempatnya semula. Ia sedang beristirahat beberapa saat sambil minum arak yang telah disuguhkan.


Suasana di sana saat ini mulai sepi kembali. Semua pendekar yang hadir tidak ada lagi yang berani banyak bicara. Kebanyakan dari mereka sudah tahu setinggi apa kemampuan Ketua Dunia Persilatan sekarang.


Masing-masing dari mereka juga menyadari bahwa kabar yang beredar luas itu ternyata bukan omong kosong.


Ketua Dunia Persilatan yang saat ini benar-benar seorang Dewa Pedang. Dewa Pedang yang jarang menemukan tandingan! Khususnya dalam jajaran generasi muda!


Sementara itu, setelah rasa lelah dan tenaganya pulih, Zhang Fei segera bangkit berdiri. Ia berjalan ke depan dan berhenti di tengah-tengah mimbar.


"Saudara sekalian, mohon maaf atas kegaduhan yang baru saja terjadi. Awalnya aku tidak ada niat untuk membunuh mereka bertiga. Namun karena mereka sendiri yang pertama kali ingin membunuhku, maka terpaksa dengan berat hati, aku harus membunuhnya. Aku harap, kalian bisa melihat kejadian tadi dengan jelas supaya tidak terjadi kesalahpahaman lagi," kata Zhang Fei dengan suara lantang.


Para pendekar yang berada di bawahnya menganggukkan kepala. Mereka merasa setuju dengan ucapan tersebut.


Memang benar, meskipun tidak semua, tapi ada cukup banyak pendekar yang bisa menyaksikan bahwa Pendekar Kipas Terbang bersama dua orang wanita tua itu berniat untuk membunuh Ketua Dunia Persilatan.


Maka dari itulah, wajah apabila Zhang Fei menurunkan tangan kejam. Sebab selain untuk menjaga diri, tindakan itu pun dilakukan supaya tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan lainnya.


"Sekarang, apakah di antara kalian masih ada yang ingin bertarung denganku? Kalau ada, silahkan naik sekarang juga. Peraturannya masih sama seperti tadi," Zhang Fei kembali berkata kepada para pendekar.


Namun saat ini, tidak ada satu pun dari mereka yang berani angkat bicara. Orang-orang itu tetap diam seribu bahasa.


"Aku hitung sampai sepuluh, kalau masih tidak ada yang memberi jawaban, maka aku akan menganggap bahwa kalian sudah setuju,"


Zhang Fei memandang berkeliling. Kemudian dia segera mulai menghitung.


"Satu ..."


Hitungan telah dimulai. Ia menghitung cukup santai sembari melihat-lihat ke sekelilingnya. Namun sampai hitungan kesepuluh pun, tetap saja tidak ada yang berani membuka suara ataupun naik ke atas mimbar.


"Baiklah. Karena tetap tidak ada yang naik ke atas mimbar ini, maka seperti yang aku katakan sebelumnya, Tuan-tuan sekalian kuanggap setuju,"


"Sekarang, apakah kalian sudah bersiap untuk ikut tergabung dalam aliansi?" tanya Zhang Fei lebih lanjut.


"Ya, kami bersiap, Ketua," jawab para pendekar itu secara serempak.


"Siap untuk berjuang sampai ke titik darah penghabisan?"


"Siap ..."


"Siapa untuk mengorbankan segalanya?"


"Siap ..."


"Bagus. Aku benar-benar senang mendengar hal ini," kata Zhang Fei sambil tersenyum puas. "Dengan adanya bantuan dari kalian semua, aku yakin kita bisa mengusir musuh-musuh yang ingin menguasai Kekaisaran Song ini,"


Zhang Fei membalikkan tubuh. Dia berjalan menghampiri seorang petugas yang berdiri di pojok mimbar.


"Nanti buatlah data semua pendekar yang akan ikut dalam aliansi. Ajak dua atau tiga orang lagi supaya pekerjaannya bisa selesai lebih cepat," katanya dengan serius.


"Baik, Ketua. Aku mengerti," petugas itu membungkuk hormat. Dia segera turun dari mimbar dan mengajak dua orang lain untuk segera melakukan pendataan.


Para petugas kemudian menyuruh semua pendekar untuk berbaris sempurna. Mereka akan di data secara rinci supaya nantinya bisa dijadikan laporan kepada Kaisar.


Orang-orang itu langsung menurut. Mereka berbaris seperti layaknya para warga yang sedang menunggu antrian sembako.


"Ketua Fei, kita serahkan urusan ini kepada yang lain. Lebih baik, kita pergi ke ruang pertemuan untuk membicarakan hal-hal lainnya," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Hemm, baiklah, Tuan Kiang. Aku setuju," jawab Zhang Fei sambil mengangguk.


Keenam orang tokoh dunia persilatan itu kemudian turun dari atas mimbar. Mereka lalu masuk ke dalam ruang pertemuan yang biasa dijadikan tempat untuk membicarakan sesuatu.


Orang-orang itu segera mengambil tempat duduknya masing-masing. Sebelum berbicara lebih lanjut, mereka lebih dulu berpesta arak sebagai ungkapan rasa syukur karena acara pembentuk aliansi itu sudah berlangsung cukup lancar.


"Aku sangat senang rencana ini bisa terwujudkan," kata Pendekar Tombak Angin bicara lebih dulu.


"Benar, aku juga demikian," sahut Dewi Rambu Putih.


"Semoga saja, ke depannya tidak ada lagi gangguan yang akan menghambat perjalanan kita," ucap Zhang Fei sambil menghembuskan nafas panjang.


Ia sudah merasa lelah. Bukan hanya fisik, bahkan hati dan pikirannya juga lelah.


"Kau tenang saja, anak Fei. Hambatan sudah berhasil kita singkirkan. Aku rasa, mereka harus berpikir puluhan kali sebelum memasukkan mata-mata lagi," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Mereka yang dimaksud olehnya tentu saja adalah musuh besar Kekaisaran Song. Perduli siapa musuh besar itu, yang jelas, mereka harus mendapat ganjaran yang setimpal apabila berani mencari masalah lagi.


"Menurutku, mereka adalah orang-orang yang sudah direkrut oleh Kekaisaran lain," Pendekar Pedang Perpisahan tiba-tiba memberikan pendapatnya.


"Benar, aku juga setuju," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Aku benar-benar menyayangkan hal ini. Ternyata masih ada cukup banyak orang yang bisa dibeli harga dirinya," Zhang Fei mendesah perlahan sambil menggelengkan kepalanya.


Keadaan seketika hening. Meskipun tidak ada orang yang bicara lagi, namun pikiran mereka hampir mirip satu sama lain.


"Ketua Fei, ngomong-ngomong, jurus apa yang tadi kau gunakan untuk mengalahkan Pendekar Kipas Terbang berserta lainnya?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan setelah beberapa saat kemudian.


Ditanya demikian, tentu saja Zhang Fei tidak bisa menjawab. Karena sejujurnya, dia sendiri belum mengerti betul apa yang telah terjadi dengannya.


Untuk beberapa saat, Zhang Fei sempat termenung. Dia sedang mengingat sekaligus memikirkan kejadian yang telah ia alami tadi.


"Tuan Wu, soal ini, sebenarnya aku sendiri tidak bisa menjawabnya secara jelas. Namun yang pasti, hal itu terjadi setelah aku memahami pesan-pesan penting yang dulu pernah disampaikan oleh Kakek Liong ketika aku sedang berguru kepadanya," kata Zhang Fei berusaha menjelaskannya secara singkat.


"Apakah pesan-pesan itu berhubungan dengan pedang?"


"Ya, pesan-pesan itu berhubungan dengan ilmu pedang. Salah satunya adalah cara bagaimana menjadi seorang Dewa Pedang," jawab Zhang Fei dengan jujur.


"Hemm ... pantas saja di usia muda Ketua sudah memiliki ilmu pedang yang sangat luar biasa,"


"Jangan terlalu memujiku, Tuan Wu," ujarnya seraya tertawa ringan. "Ilmu pedangku masih jauh darimu,"


"Dulu mungkin jauh, tapi sekarang sudah sebaliknya. Justru Ketua lah yang mempunyai ilmu pedang berada di atasku. Dan aku rasa, Ketua bukan hanya melampaui ilmu pedangku, melainkan juga ilmu pedang Dewi Rambut Putih,"