Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Sebuah Catatan Tua


"Hemm ... aku rasa keputusanmu itu ada baiknya, Nyonya Ling. Aku setuju," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan menjawab pertama kali.


"Ya, aku juga demikian," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Aku rasa, saat ini semuanya masih bisa dikembalikan. Aku pun setuju," tukas Pendekar Tombak Angin menyatakan pula persetujuannya.


"Lalu, bagaiamana denganmu sendiri, anak Fei?" tanya Dewi Rambut Putih kepada Zhang Fei.


"Sebenarnya aku juga setuju," jawbanya dengan cepat. "Tapi ... sepertinya terpaksa aku harus merepotkan kalian lagi,"


"Sudahlah. Tidak perlu bicara ngawur. Kita masih orang sendiri. Apa yang akan dilakukan juga demi kepentingan bersama. Mengapa pula harus ada bahasa-bahasa seperti itu?"


Dewi Rambut Putih menatap Zhang Fei. Dalam hal ini, dia melakukannya dengan sukarela. Lagi pula, dia pun paham akan keadaan.


"Baiklah kalau begitu. Sekali lagi, terimakasih, Nyonya Ling,"


Zhang Fei bangkit berdiri, dia kemudian membungkukkan badan ke arahnya.


"Lalu, kapan kita akan mulai bergerak?" tanya Pendekar Tombak Angin.


"Tiga hari kemudian. Sebelum saatnya tiba, kita harus lebih dulu mempersiapkan diri dan semuanya. Kita tidak boleh mengulang kesalahan di masa lalu," tegas Zhang Fei.


"Baik. Kami mengerti," jawab Empat Datuk Dunia Persilatan.


Mereka lalu mulai membahas persiapan dan rencana yang akan dilakukan nanti. Selama dua hari, Zhang Fei terus mencari informasi terbaru tentang kondisi dunia persilatan.


Setelah informasi yang diterima dirasa cukup, dengan segera dia menyusun dan menyempurnakan kembali rencana yang telah dibicarakan sebelumnya.


Saat itu tepat tengah malam. Mereka baru saja selesai menyusun rencana yang telah dibentuk oleh Zhang Fei.


Nantinya, Dewa Arak Tanpa Bayangan disuruh untuk mengembara ke sebelah Timur, Orang Tua Aneh Tionggoan ke sebelah Utara, Pendekar Tombak Angin ke sebelah Barat, dan Zhang Fei sendiri akan mengembara ke sebelah barat.


Tentu saja, dalam pengembaraannya nanti, dia pun akan mencari jejak dari Yao Mei.


"Sebenarnya aku juga punya sesuatu yang ingin ditunjukkan kepada kalian," kata Zhang Fei secara tiba-tiba.


Dia kemudian merogoh saku baju dan mengambil sesuatu yang dimaksud olehnya.


"Surat apa ini, Ketua Fei?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Ini bukan surat, Tuan Kiang. Lebih tepatnya, ini adalah sebuah catatan tua,"


"Catatan tua?"


Empat Datuk Dunia Persilatan segera melihat catatan tersebut. Mereka merasa penasaran dengannya.


"Benar," kata Zhang Fei mengangguk. "Menurut perkiraanku, setidaknya catatan tua ini sudah berumur puluhan tahun. Dan yang telah menulisnya pasti adakah tokoh besar di masa lalu,"


Alasan kenapa Zhang Fei bisa memperkirakan demikian adalah karena dia melihat dari huruf-huruf yang tertulis di dalamnya sudah mulai kabur. Kain yang menjadi alas tulisan itu juga mulai robek dimakan rayap.


Keempat tokoh angkatan tua kemudian membaca isi dari surat tersebut.


"Seseorang, baru akan disebut sebagai Dewa Pedang setelah dia bisa memindahkan pedangnya, yang tadinya berada di tangan, menjadi berada di hati. Yang tadinya terpisah, menjadi bersatu,"


"Aku masih bingung dengan makna dari tulisan ini," kata Zhang Fei setelah beberapa saat kemudian. "Apakah tulisan ini ... masih ada sangkut pautnya dengan pesan-pesan dari Kakek Guru Zhang Liong?"


"Ah, kemungkinan besar begitu, anak Fei," kata Orang Tua Aneh Tionggoan berseru. "Karena menurutku, hanya orang-orang yang telah mencapai tahap tertinggi dalam ilmu pedang saja yang bisa mengatakan seperti ini. Sedangkan di masa lalu, orang yang bisa mencapai tahapan itu bisa dihitung dengan sebelah jari tangan. Leluhurmu adalah salah satu di antaranya,"


Walaupun tulisan itu singkat, tapi sebenarnya makna yang terkandung justru sangat dalam. Sebab hal itu menyangkut segalanya. Bisa dibilang, catatan tua tersebut merupakan kunci untuk membuka pintu-pintu lain yang masih digembok.


"Ucapan Tuan Kai itu bisa jadi benar, anak Fei. Aku sendiri tidak bisa memahaminya secara menyeluruh. Tapi menurutku, catatan tua ini memang ada sangkut pautnya dengan pesan-pesan Kakekmu," ujar Dewi Rambut Putih ikut menyampaikan pendapat.


"Hahh ..." Zhang Fei mengeluh tertahan. "Ternyata jika ingin menjadi Dewa Pedang itu bukan suatu hal yang mudah,"


"Jangan khawatir, anak Fei. Kami percaya kau akan mampu mencapainya," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan semangat.


"Terimakasih, Tuan Kiang,"


Zhang Fei tersenyum ke arahnya. Dia kemudian mengantongi kembali catatan tua itu.


Obrolan serius telah selesai. Mereka melanjutkannya dengan pesta arak. Tujuannya adalah untuk menenangkan pikiran. Orang-orang itu berpesta arak sampai kentongan ketiga dibunyikan di kejauhan sana.


###


Mentari pagi sudah berada di titik yang cukup tinggi. Zhang Fei dan Tiga Datuk Dunia Persilatan sudah pergi dari gedung. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, mereka pergi menuju ke arah yang sudah ditentukan.


Di jalanan berdebu sana, terlihat ada Zhang Fei yang sedang melangkah dengan tenang dan santai. Dia tampak tidak buru-buru, setiap langkahnya seperti sangat menghayati.


"Setelah sekian lama menutup diri, akhirnya aku bisa mengembara kembali," guammnya sambil tersenyum kegirangan. Dia lalu menghirup nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. "Ah ... segar sekali udara pagi ini,"


Zhang Fei terlihat begitu gembira. Seperti halnya seorang anak kecil yang tidak boleh bermain, lalu secara tiba-tiba diberi kebebasan oleh kedua orang tuanya.


Sejak dilatih menjadi seorang pendekar, Zhang Fei memang tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Baginya, langit adalah atap rumah, tanah merupakan pembaringan, dan empat penjuru adalah dindingnya.


Di mana pun dan kapan pun, baginya sama saja. Yang terpenting dia bisa hidup dengan bebas tanpa adanya ikatan apapun juga.


Menurut Zhang Liong, jika ingin menjadi seorang pendekar, maka modal utamanya adalah harus senang berpetualang.


Untunglah dia sudah memiliki modal ini sejak kecil. Bahkan bisa dibilang, hal tersebut sudah menjadi bagian warisan dari leluhurnya.


Karenanya tidak heran kalau dia bisa cepat membaur di setiap tempat yang disinggahi.


"Ah, aku lupa," tiba-tiba dia berseru seperti orang kaget. "Dengan statusku yang sekarang, seharusnya aku tidak boleh tampil terlalu terbuka. Setidaknya, aku harus menyamar dulu supaya tidak sembarang orang bisa tahu,"


Zhang Fei menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia merasa hal ini sangat masuk akal dan patut dicoba.


"Baiklah. Sekarang, aku harus membeli dulu alat-alat yang diperlukan,"


Wushh!!!


Zhang Fei langsung mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya. Dia melesat menjadi jejak bayangan yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Hanya dalam waktu singkat saja dirinya telah berada jauh dari tempat semula.


Tujuan Zhang Fei sekarang adalah menuju ke pusat kota. Di sana, nantinya dia akan pergi mencari alat-alat yang dibutuhkan untuk melakukan penyamaran.


Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya dia mulai bisa melihat perkotaan yang ramai. Dengan segera Zhang Fei memperlambat langkah supaya tidak membuat banyak orang curiga.