
Tiga hari sudah berlalu kembali.
Sekarang suasana masih pagi, puluhan anak murid Perguruan Teratai Putih sedang berlatih di halaman depan. Beberapa orang murid senior terlihat sedang melatih murid-murid juniornya.
Mentari bersinar cerah dengan sinar warna kuning terang. Suara burung di hutan terdengar. Beberapa ekor burung juga terlihat bertengger di atas atap perguruan atau di dahan-dahan pohon yang terdapat di sekitarnya.
Di ruang belakang, di sana terlihat ada lima orang. Mereka adalah Zhang Fei, Lien Hua, dan juga tiga sahabatnya.
Tiga orang tua yang mempunyai niat untuk membunuh Hartawan Wang telah hadir di situ. Sesuai perkataan Lien Hua beberapa hari lalu, ia akan mendatangkan tiga orang sahabatnya dalam waktu tiga hari.
Hebatnya, sahabat yang dijanjikan tersebut bahkan datang sebelum tiga hari.
Mereka tiba di Perguruan Teratai Putih malam tadi dengan menunggangi kuda jempolannya masing-masing.
Saat ini, orang-orang tersebut sedang menikmati teh hangat dan beberapa hidangan ringan lainnya.
Keadaan di ruang belakang sangat menyejukkan. Di depan sana adalah hutan lebat, di pinggirnya terdapat taman bunga yang cantik dan enak dipandang.
Zhang Fei sendiri merasa jiwanya tenang. Hatinya sejuk, dan pikirannya jernih. Apalagi setiap saat ia bisa mendengar suara kicau burung yang merdu.
"Tuan Muda Zhao, perkenalkan, ini adala tiga sahabat yang aku maksudkan," kata Lien Hua mulai memperkenalkannya.
Zhang Fei menganggukkan kepala sambil tersenyum. Lien Hua segera melanjutkan kembali bicaranya.
"Yang paling kiri itu bernama Mo Bian, yang tengah Tung Pek, dan ini adalah Duan Dao," lanjutnya.
Tiga orang tua yang diperkenalkan diri segera berdiri. Mereka kemudian memberikan hormatnya kepada Zhang Fei.
Anak muda itu sendiri segera ikut melakukan hal yang sama. Dia bangkit dan langsung membalas hormat ketiganya.
"Namaku Zhang Fei, senang bisa bertemu dengan Paman sekalian. Maafkan aku kalau telah membuat repot," katanya sambil tersenyum.
"Ah, Tuan Muda Zhang tidak perlu sungkan," jawab Mo Bian seraya tertawa.
Setelah bercengkrama sebentar, mereka segera duduk kembali. Perbincangan dilanjutkan dengan hal-hal yang ringan dulu. Hal itu bertujuan untuk sekedar mengakrabkan diri di antara semua pihak.
Ketika hari mulai siang, obrolan di antara orang-orang persilatan itu mulai beranjak ke hal-hal yang lebih serius. Yaitu membicarakan tentang Hartawan Wang.
"Aku benar-benar benci kepada tua bangka itu. Kalau saja aku mempunyai banyak anak buah, mungkin sudah sejak dulu dia mampus," ujar Duan Dao berkata dengan ekspresi wajah serius.
Tampaknya ia benar-benar kesal kepada Hartawan To. Entah karena alasan apa pastinya. Yang jelas, tidak ada kebohongan dalam setiap ucapannya.
"Aku juga. Apalagi, beberapa kaki tangan dia, dulu pernah mempunyai masalah denganku," sahut Mo Bian.
"Aku masih ingat kejadian lalu, di mana saat itu tiga orang pengawal pribadinya tiba-tiba memukulku karena disangka aku mencari masalah dengan si tua bangka Wang," Tung Pek tidak mau kalah dengan kedua rekannya.
Orang tua itu juga segera menceritakan alasan kenapa dia amat benci terhadap Hartawan Wang.
"Memangnya, saat itu apa yang Paman Tung lakukan?" tanya Zhang Fei lebih lanjut.
"Saat itu aku sedang makan di restoran. Tiba-tiba rombongan dia masuk ke dalam. Karena penasaran, aku pun segera melihat ke arahnya. Siapa sangka, pengawal pribadinya malah berjalan ke arahku dan langsung memukulku dengan alasan karena aku sudah berlaku tidak sopan," ujarnya menjelaskan.
"Itu sih terlalu berlebihan," kata Zhang Fei cepat menimpali ucapannya.
"Karena itulah aku benar-benar muak kepadanya,"
Pemuda itu menganggukkan kepala beberapa kali. Dari cerita tiga orang tua tersebut, ia semakin yakin bahwa apa yang dikatakan oleh Lien Hua tentang Hartawan Wang memang benar adanya.
"Paman, perlu kalian tahu, alasan kenapa aku mengundang kemari, justru adalah untuk membicarakan sebuah rencana," kata anak muda itu memecahkan keheningan.
"Rencana apa, saudara kecil?" tanya Mo Bian sambil mengerutkan keningnya.
"Rencana untuk menghabisi nyawa Hartawan Wang," jawab Zhang Fei dengan perlahan.
Ia mengucapkan setiap kata dengan penuh penekanan. Seolah-olah anak muda itu ingin semua orang yang ada di sana mendengarnya dengan jelas.
Di sisi lain, tiga orang tua tersebut, bahkan Lien Hua sendiri, tampak langsung terkejut ketika mendengar ucapan Zhang Fei barusan.
Mereka tidak menyangka bahwa anak muda di hadapannya mempunyai sebuah rencana yang gila.
"Saudara kecil, apakah kau serius dengan ucapanmu?" tanya Mo Bian lebih lanjut.
Ia berpikir bahwa pemuda di hadapannya itu sedang bercanda. Bagaimanapun juga, ia masih muda. Bahkan mungkin masih hijau dalam dunia persilatan.
"Paman, apakah aku terlihat sedang bercanda?"
Zhang Fei berusaha meyakinkan orang tua itu. Sorot matanya tiba-tiba berubah tajam. Seolah-olah ada kilat di dalamnya.
"Tapi, untuk membunuh tua bangka itu bukan perkara mudah. Lagi pula, dengan kekuatan yang terbatas ini, rasanya kita tidak dapat melakukan apa-apa,"
Duan Dao ikut bicara. Di satu sisi dia mendukung rencana Zhang Fei. Tapi di sisi lain, dia pun sadar dengan keadaan sekarang.
Pihaknya tidak memiliki kekuatan yang cukup. Berbeda dengan Hartawan Wang yang mempunyai segalanya.
"Tidak mudah bukan berarti mustahil. Kalau kita mau berusaha, aku yakin masih ada jalan keluarnya,"
"Hemm ..." Lien Hua mendehem perlahan. Dia mempunyai pikiran yang sama dengan Duan Dao barusan. "Tuan Muda, memangnya rencana apa yang akan kau jalankan?" tanyanya lebih jauh.
Dia ingin tahu rencana Zhang Fei. Tujuannya supaya ia bisa mempertimbangkan semuanya dengan baik.
"Apakah Nyonya Lien punya peta tentang kediaman Hartawan Wang?"
"Tidak punya," katanya sambil menggelengkan kepala. "Tapi aku rasa, aku tahu setiap sudutnya,"
"Kau bisa menggambarkannya kepadamu?"
Wanita tua itu mengangguk setuju. Dia segera masuk ke dalam dan membuatkan peta kediaman Hartawan Wang sebisanya.
Setelah selesai, dia segera kembali dan memberikan peta sederhana itu kepada Zhang Fei.
Anak muda tersebut menerimanya. Ia langsung mengamati peta yang diberikan oleh Lien Hua.
"Dari peta ini, ada beberapa hal yang menjadi keuntungan kita," ujarnya mulai bicara. "Kalau dilihat dari peta, di sini ada satu titik yang agak longgar dan kurang penjagaan. Kita bisa masuk ke dalam lewat sini, kemudian bergerak lagi menuju ke ruangan selanjutnya,"
Empat orang tua yang ada di sana langsung melihat ke titik yang dimaksudkan oleh Zhang Fei. Dan mereka pun segera setuju setelah mengetahuinya.
"Titik itu memang kurang penjagaan. Hanya saja, penjaga-penjaga dari sudut lain sering memeriksanya setiap waktu. Jadi walaupun longgar, tetap masih dalam pengawasan ketat," kata Lien Hua menjelaskan lebih lanjut terkait titik yang dimaksud oleh Zhang Fei.
"Itu bisa kita atasi. Tinggal kita tunggu saja waktu mereka lengah. Kalau pun ada penjaga yang mengetahui, kita segera bereskan saja,"
"Setuju. Aku setuju," Tung Pek langsung berkata dengan gembira.