Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kedatangan Yao Mei Il


"Aku tidak sedang membual. Kalau kau tidak percaya, sekarang juga aku akan membuktikannya,"


Tokoh sesat itu seperti tidak terima dengan ucapan yang disampaikan oleh Yao Mei. Kedua tangan yang menggenggam tombak langsung mengepal lebih kencang.


Urat-urat warna hijau segera terlihat. Otot tangannya juga merongkol keluar.


"Dua Tombak Naga Sakti!"


Wushh!!!


Ia berteriak dengan kencang. Setelah itu, tubuhnya langsung meluncur ke depan sana. Dua batang tombak kembali bergerak dalam kecepatan tinggi.


Dalam waktu yang bersamaan, Zhang Fei dan Yao Mei juga sudah siap untuk memberikan perlawanan.


"Kita harus tetap hati-hati, Nona Mei. Sebab dia bukan lawan yang mudah dikalahkan," kata Zhang Fei memberi peringatan kepadanya.


"Tenang saja. Kita pasti bisa menang darinya," jawab gadis cantik itu penuh percaya diri.


Wushh!!!


Mereka segera melakukan hal yang sama. Tiga pendekar kelas atas bertemu di tengah jalan. Adu jurus tingkat tinggi langsung terjadi. Zhang Fei dan Yao Mei menyerang secara serempak.


Tiga batang pedang menyambar datang. Tokoh sesat itu tersenyum dingin. Dengan mengandalkan salah satu jurus pamungkas yang sudah dikuasai secara sempurna, ia tidak perlu takut lagi akan ancaman tersebut.


Wutt!!! Wutt!!!


Tiga batang pedang datang secara bergantian. Serangan mereka juga berbeda. Tujuannya pun tidak sama.


Namun hebatnya, tokoh sesat angkatan tua itu masih bisa bergerak. Dia berhasil membebaskan diri dari dua macam jurus dahsyat tersebut.


Selanjutnya, pertandingan hidup dan mati kembali terjadi di halaman luas tersebut. Kedua orang pendekar muda itu berusaha untuk membunuh Ketua Partai Iblis Sesat secepat mungkin.


Dalam hal ini, Zhang Fei tidak ingin bermain-main lagi. Dia harus berlaku serius. Apalagi, ia punya dendam tersendiri dengan pihak partai sesat itu.


Sementara di tempat lain, Lima Datuk Dunia Persilatan saat ini sudah berhasil menyelesaikan pertarungannya masing-masing.


Akhir dari pertarungan para tokoh itu hampir secara bersamaan. Jalannya pertarungan itu sendiri tidak terlalu memakan banyak waktu.


Apalagi, masing-masing dari mereka memang sudah berlaku serius sejak pertarungan dimulai.


Sehingga tidak heran kalau waktunya lebih sebentar dari yang seharusnya.


Di halaman depan tersebut, saat ini sudah ada puluhan tubuh manusia tanpa nyawa. Darah segar yang tadi mengalir, sekarang mulai mengering.


Bau amis yang sempat tercium jelas pun, saat ini mulai lenyap karena ikut terbawa hembusan angin.


Lima Datuk Dunia Persilatan sudah berkumpul kembali. Mereka sedang memperhatikan pertarungan Zhang Fei dan Yao Mei yang melawan Ketua Partai Iblis Sesat.


"Jangan ada yang turun tangan. Kita cukup mengawasi mereka dari sini. Aku ingin melihat, bagaimana kemampuan Nona Mei yang sekarang," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada semua Datuk Dunia Persilatan.


Seperti yang diketahui sebelumnya, beberapa hari lalu, si Cakar Maut Yao Shi sudah berjanji akan menyalurkan sebagian tenaga dalam dan hawa murninya kepada Yao Mei.


Sebagai datuk sesat yang menduduki urutan pertama, harusnya kemampuan dia sangatlah tinggi.


Artinya, kemampuan Yao Mei yang sekarang setidaknya juga harus meningkat cukup pesat.


Maka dari itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan sengaja berbicara seperti barusan supaya dia bisa mengetahui keadaan yang sebenarnya.


"Baik, Tuan Kiang. Kami juga ingin melihat kemajuannya," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan mewakili yang lain.


Di arena pertarungan, setelah melewati tiga puluh lima jurus, akhirnya Ketua Partai Iblis Sesat itu mulai kewalahan juga. Beberapa kali dia mencoba keluar dari serbuan serangan Zhang Fei dan Yao Mei, namun sayangnya usaha itu tidak membuahkan hasil.


Ia tetap gagal dalam usahanya. Di sebelah kiri, ada Yao Mei. Di sebelah kanan, ada Zhang Fei.


Wushh!!!


Zhang Fei meluncur. Dia datang dengan sejumlah jurus pedang yang siap mengakhiri hidup Ketua Partai Iblis Sesat, namun sebelum dia benar-benar melancarkan jurusnya, tiba-tiba saja ada suara orang lain yang terdengar di dalam pikirannya.


"Jangan terlalu serius, anak Fei. Kau cukup menyerang sewajarnya saja. Aku ingin melihat kemampuan Nona Mei yang sekarang,"


Zhang Fei sedikit terkejut. Buru-buru dia menarik kembali tubuhnya. Ia mencoba mengingat sebentar terkait ucapan barusan.


'Hemm ... sepertinya itu suara Tuan Kiang. Baiklah, kalau begitu, aku akan menurutinya saja,' batin Zhang Fei.


Setelah mengetahui siapa orang yang berbicara tadi, seketika Zhang Fei langsung berdiri mematung.


Yao Mei terlihat kaget, ia pun melompat mundur dan mendarat tepat di sisinya.


"Ada apa? Mengapa kau tidak jadi melancarkan serangan?" tanyanya penasaran.


"Sepertinya ... sepertinya aku mengalami luka dalam, Nona Mei," Zhang Fei menjawab seperti orang yang sesak nafas. Dia pun batuk sebanyak tiga kali. "Dadaku terasa sesak," katanya melanjutkan.


"Ah ... kenapa kau bisa terluka? Apakah luka itu serius?" tanyanya sedikit khawatir.


"Aku tidak tahu, Nona Mei. Tapi tenanglah, luka ini tidak terlalu serius. Hanya saja, aku tidak bisa membantumu lebih jauh lagi,"


Yao Mei sempat melamun. Tapi satu tarikan nafas berikutnya, dia langsung mengangguk. "Baiklah. Tidak masalah. Serahkan saja tua bangka itu kepadaku,"


Selesai berkata, ia langsung menerjang ke depan. Pada saat yang bersamaan, kebetulan pihak lawan juga telah berada di tengah jalan.


"Amukan Dewi Pedang!"


Wutt!!!


Pedang kembar di tangan Yao Mei tiba-tiba lenyap. Seolah kedua senjata itu benar-benar menghilang dari pandangan mata.


Tokoh sesat itu sendiri langsung dibuat terkejut. Akibatnya, gerakan dan jurus yang sudah dia lakukan berhenti untuk sekejap.


Hanya sekejap! Tapi yang sekejap itu, sudah lebih daripada cukup.


Wutt!!!


Yao Mei sudah tiba di depan matanya. Dia mengirimkan tebasan pedang dari kanan dan kiri. Yang terlihat dari serangan itu hanya kilatan cahaya putih keperakan saja.


Gadis cantik tersebut terus menyerang. Serangannya mematikan. Kedua kakinya ikut melancarkan tendangan.


Beberapa jurus dia menggempur tanpa berhenti. Yao Mei kemudian melompat cukup tinggi, setelah itu dia mengirimkan tusukan dari tengah udara.


Ketua Partai Iblis Sesat semakin terpojok oleh serangan yang tidak berhenti itu. Tetapi karena dia bukan tokoh kelas rendah, maka dirinya tetap bisa bergerak walaupun situasinya sudah tidak mungkinkan.


Wushh!!!


Dia mundur dua langkah. Tusukan pedang Yao Mei gagal mengenai sasaran. Pedang itu menancap di atas tanah. Namun dengan cepat dicabut kembali.


Setelah berada dalam posisi siap, dia kembali menerjang ke depan sana.


Trangg!!! Trangg!!!


Benturan nyaring terdengar lagi. Kedua orang pendekar kelas atas itu bertarung sengit selama beberapa waktu.


Para tokoh yang lain tetap menyaksikan di pinggir arena. Zhang Fei tampak sangat serius. Seolah-olah dirinya tidak berani berkedip karena takut kehilangan momen terbaik.


"Gerakan Nona Mei benar-benar cepat. Jurusnya juga bertambah dahsyat. Ternyata bantuan yang diberikan oleh Tuan Shi tidak sia-sia," gumam Zhang Fei merasa kagum.