Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Terjun ke Jurang


Tokoh sesat itu kini menyerang Yao Mei. Dengan kedua tangannya yang sangat luar biasa, dia sudah mengirimkan pukulan beruntun yang mengandung tenaga hebat.


Deru angin kencang yang berputar-putar terus menerpa tubuh Yao Mei. Gadis itu terkesiap, sebab dia tidak menyangka dirinya akan diserang secara tiba-tiba.


Dengan gerakan cepat, ia langsung melompat mundur ke belakang untuk menyelamatkan dirinya.


Pendekar Tangan Dewa tidak mau melepaskan mangsanya begitu saja. Ia terus menyerang ke mana pun Yao Mei menghindar.


Sementara di satu sisi lain, Zhang Fei yang melihat kejadian tersebut, dengan cepat langsung menuju ke sana. Begitu tiba di antara mereka, dia langsung menggelar Pukulan Tanah Merah. Dengan pengerahan delapan bagian tenaga dalam, maka hasil yang didapat pun cukup lumayan.


"Main anak-anak jangan kau perlihatkan di depanku," teriak Pendekar Tangan Dewa sambil mengibaskan tangan kiri yang dia gunakan untuk menghalau serangan Zhang Fei.


Blarr!!!


Adu jurus terjadi. Benturan keras yang menciptakan angin kejut langsung menerbangkan segala yang ada di sekitar.


Zhang Fei terdorong mundur tiga langkah ke belakang. Besarnya dorongan dari benturan barusan ternyata tidak bisa dipandang sebelah mata.


Sedangkan di satu sisi, akibat benturan barusan Pendekar Tangan Dewa juga dibuat sedikit tergetar. Dia tidak mengira, rupanya anak muda itu mempunyai kemampuan yang lumayan hebat.


Namun karena dia adalah tokoh sesat yang bahkan menurut Dewa Arak Tanpa Bayangan hampir setara dengannya, maka tentu saja benturan barusan bukanlah suatu hal yang berarti.


Buktinya saja tepat setelah terjadi benturan, dia kembali meneruskan serangannya yang sempet terhenti.


Yao Mei kembali dicecar dengan jurus-jurus tingkat tinggi miliknya. Walaupun Pendekar Tangan Dewa sudah mengetahui bahwa gadis itu adalah anak dari salah satu tokoh ternama dunia persilatan Tionggoan, tetapi ia tidak perduli.


Asalkan bisa membunuhnya sebagai pelampiasan karena gadis itu telah 'merebut' dua kotak hitam yang berisi benda pusaka, rasanya mati pun tidak menjadi soal.


Lagi pula, toh ayahnya tidak ada di sini. Jadi, apa lagi yang harus dia takutkan?


Gempuran serangan yang dia berikan tampak semakin hebat. Setelah sekian jurus menyerang tanpa henti, kedua tangan itu tiba-tiba saja berubah warnanya menjadi merah membara.


Perlu diketahui, saat ini, Pendekar Tangan Dewa telah mengeluarkan salah satu jurus pamungkasnya yang diberi nama Sepasang Tangan Dari Neraka.


Jurus tersebut mengandalkan tenaga keras dan panas. Maka dari itu, tidak heran kalau saat ini di sekitarnya terasa panas seperti sedang berada di tengah-tengah kebakaran.


Diserang terus-menerus oleh tokoh kelas atas, makin lama posisi Yao Mei semakin tidak menguntungkan. Ia telah kehabisan langkah. Kini dirinya tidak bisa lagi menghindar, sebab jurus yang digelar lawan semakin rapat sehingga menutupi semua jalan keluarnya.


Karena sadar akan situasi, mau tidak mau dia harus melayaninya dengan kemampuan yang dimiliki.


Bersamaan dengan itu, Zhang Fei pun terlihat tidak mau kalah. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sempurna, tiba-tiba saja dia melesat ke depan sambil mengeluarkan jurus Telapak Dewa Maut!


Kedua telapak tangannya didorong ke depan. Segulung angin kencang bercampur ledakan keras seketika terdengar.


Pendekar Tangan Dewa menyadari akan adanya ancaman dari arah belakang. Buru-buru dia menengok ke sana, lalu dengan cepat menangkisnya pula.


Benturan yang lebih hebat kembali terjadi. Namun kali ini, para tokoh yang terlibat tersebut tidak berhenti sampai di situ saja.


Zhang Fei kembali melancarkan serangan. Walaupun dia tahu dirinya belum bisa menandingi Pendekar Tangan Dewa, tapi ia akan terus berusaha untuk melawannya.


Dalam hati, dia sudah bertekad. Masalah menang atau kalah, itu urusan nanti. Yang terpenting untuk saat ini adalah dirinya harus bisa menyelamatkan Yao Mei dari ambang kematian.


Ribuan bayangan telapak tangan terus berkelebat di tengah udara. Zhang Fei sengaja mempercepat gerakannya. Hal itu bertujuan untuk membuat lawan kebingungan.


Namun kenyataan berkata lain. Rupanya Pendekar Tangan Dewa mempunyai cara ampuh untuk mengatasi serangan tersebut.


Meskipun hanya dengan tangan kanannya saja, tapi itu saja sudah lebih daripada cukup.


Dua pendekar muda tersebut bahu-membahu dalam menghadapi Pendekar Tangan Dewa. Sekilas pertarungan itu tampak berlangsung sengit dan seimbang.


Padahal kalau diperhatikan lebih lanjut, semakin lama bertarung, posisi Zhang Fei dan Yao Mei justru malah makin terdesak.


Apalagi tanpa mereka sadari, arena pertarungannya secara perlahan mulai bergeser sampai ke ujung.


"Nona Mei, jangan terus mundur. Di belakangmu ada jurang yang sangat dalam," kata Zhang Fei memperingatinya.


Yao Mei seketika menoleh ke belakang. Ternyata apa yang dikatakan oleh Zhang Fei barusan memang benar. Di belakangnya saat ini sudah ada jurang yang berujung pangkal.


Dengan semua tenaga dan kekuatan yang tersisa, saat ini ia sedang mencoba untuk menjauhi jurang tersebut.


Bersamaan dengan itu, Pendekar Tangan Dewa tiba-tiba saja tersenyum menyeringai. Dia tahu, ini adalah salah satu kesempatan yang terbaik untuk membinasakan gadis cantik itu.


Karenanya dia tidak mau membuang dengan percuma!


"Haaa!" tiba-tiba dirinya membentak nyaring. Tenaga yang dia salurkan dalam serangannya bertambah hebat.


Posisi dua pendekar muda semakin genting. Zhang Fei tidak bisa lagi mendekati tokoh sesat itu. Yao Mei juga tidak dapat menghindari gempuran pukulannya.


Seluruh tubuh gadis itu menjadi sasaran telak. Rasa sakit mulai dia rasakan dengan jelas.


Bukk!!!


Pukulan Pendekar Tangan Dewa yang terakhir itu mengenai perutnya. Tubuh Yao Mei langsung mencelat ke belakang. Ia persis seperti layang-layang yang putus benangnya.


Tanpa bisa dicegah lagi, Yao Mei seketika terjun ke ke dalam jurang gelap yang tidak berujung pangkal itu.


Wushh!!!


Tubuhnya merosot dengan sangat cepat ke bawah sana.


"Zhang Fei!"


Ia berteriak kencang beberapa kali. Sayangnya suara Yao Mei semakin mengecil hingga pada akhirnya tidak bisa didengar lagi.


Di atas sana, Pendekar Tangan Dewa langsung tertawa terbahak-bahak. Usahanya untuk membunuh gadis itu ternyata tidak sia-sia.


"Hahaha ... akhirnya kau mampus juga, gadis ******!" ujarnya dengan suara yang menyeramkan.


Pada saat itu, Zhang Fei sedang berada dalam keadaan berlutut. Serangan terkahir Pendekar Tangan Dewa rupanya berhasil meruntuhkan benteng pertahanannya.


Darah dalam tubuhnya terasa bergejolak. Malah setetes darah segar juga telah menetes keluar dari mulutnya.


Begitu mengetahui Yao Mei telah terjun ke dalam jurang sana, tidak bisa dibayangkan lagi betapa hancurnya perasaan Zhang Fei saat itu. Ia sedih, dia juga sangat marah kepada tokoh tua di depannya.


Untuk beberapa saat, dia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Kekasihmu sudah mampus. Sekarang sudah tiba giliranmu yang pergi ke alam baka, bocah keparat!" kata Pendekar Tangan Dewa dengan nada dingin.