Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Undangan Dari Kaisar


"Kau terlalu memandang rendah kemampuanmu sendiri, Zhang Fei," ujarnya dengan ekspresi serius. "Justru yang seharusnya memang seperti itu. Kami ini sudah tua. Terhadap segala macam masalah yang berlangsung saat ini, sebenarnya kami tidak ingin ikut campur lagi,"


"Kami para angkatan tua ingin menikmati hari-hari terakhir hidup di dunia dengan penuh kedamaian dan ketenangan. Tapi sayangnya, semua hal itu masih belum juga bisa dilakukan,"


"Keadaan memaksa kami untuk terus terlibat. Sehingga mau tak mau, kami harus tetap ikut campur,"


Yan Wu Sun terlihat sangat serius. Sepertinya apa yang dia katakan itu bukan hanya omong kosong. Zhang Fei dan Ou Yang Shen sendiri mengerti maksudnya.


Karena itulah setelah mendengar ucapan barusan, mereka berdua langsung diam dan menundukkan kepalanya.


Dua orang itu seketika bergelut dengan pikirannya masing-masing.


Yan Wu Sun memandangnya secara bergantian. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh mereka saat ini. Namun dirinya memilih untuk tetap diam.


Sementara itu, setelah beberapa saat berpikir, tiba-tiba Zhang Fei mengangkat wajahnya dan langsung bicara.


"Tuan Sun benar. Seharusnya kami para angkatan muda lah yang mengurusi semua masalah dalam dunia persilatan. Para angkatan tua sudah terlalu banyak mengorbankan waktu. Sepantasnya saat ini, kalian bisa menjalani hidupnya dengan tenang,"


Zhang Fei bicara dengan nada dalam. Apa yang dia ucapkan, adalah hasil dari renungan yang dia lakukan barusan.


"Tetapi apa boleh buat, kami yang muda belum mempunyai kemampuan seperti kalian. Jadi, terpaksa kami harus tetap merepotkan para angkatan tua,"


Semakin berbicara jauh, semakin terdengar pula penyesalan dalam nada bicaranya.


Ou Yang Shen yang duduk di sisi Zhang Fei tidak berkata apa-apa. Lagi pula, apa yang ingin dia ungkapkan, sudah diutarakan lebih dulu oleh pendekar muda itu.


"Benar-benar pendekar muda yang sangat istimewa," kata Yan Wu Sun setelah mendengar ucapan Zhang Fei.


Dia benar-benar kagum terhadap pendekar muda yang ada di depannya itu. Dari nada bicara dan dari kemampuannya, ia sudah bisa menebak bahwa suatu saat nanti, Zhang Fei pasti akan menjelma menjadi sosok yang sangat luar biasa.


Sementara itu, dalam diamnya dia pun seperti teringat akan sesuatu. Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan kepada Zhang Fei.


"Ngomong-ngomong, apakah pedang yang kau bawa itu, adalah Pedang Raja Dewa?" tanyanya sambil menatap gagang pedang.


"Benar, Tuan Sun," jawab Zhang Fei membenarkan.


"Ah ..." ia berseru tertahan. "Kalau boleh tahu, apa hubunganmu dengan Keluarga Zhang yang terkenal dalam dunia persilatan?"


"Ini ..."


"Katakan saja. Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya. Hanya itu, tidak lebih,"


"Sebenarnya ... aku adalah anak dari si Pedang Kilat,"


"Aih, pantas saja kau sangat luar biasa. Ternyata dirimu adalah anak tunggal dari Tuan Zhang,"


Yan Wu Sun terlihat sangat kaget bercampur kagum. Sebagai tokoh angkatan tua, tentu saja dia pun mengetahui siapa itu si Pedang Kilat.


Walaupun tidak bertanya lebih lanjut, tapi dirinya sudah bisa meraba jauh bagaimana latar belakang Zhang Fei.


"Anak yang hebat pasti mempunyai seorang Ayah yang juga luar biasa," katanya memuji.


Sementara Ou Yang Shen, dia pun terlihat terkejut. Sebab pada dasarnya, ia juga mengenal siapa itu si Pedang Kilat.


Sekarang, setelah mengetahui bagaimana latar belakang pendekar muda yang duduk di sisinya itu, rasa kagumnya seketika menjadi bertambah.


Percakapan di antara mereka terus berlangsung. Ketiganya berhenti bicara hanya ketika melangsungkan makan saja.


Zhang Fei merasa tidak enak. Apalagi setelah makin jauh bicara, ia terus-menerus disanjung oleh guru dan murid itu. Terutama sekali oleh Yan Wu Sun.


Sayangnya, Zhang Fei sendiri bukan orang yang senang disanjung seperti itu. Walaupun apa yang diucapkan adalah kenyataan, tapi tetap saja ada rasa tidak enak dalam benaknya.


Maka dari itu, ketika obrolan terhenti, tiba-tiba dia bangkit dari duduknya dan langsung pamit undur diri.


"Tuan Sun, Paman Shen, bukannya mengurangi segala hormat atau apapun itu, tapi maafkan karena sekarang aku harus pergi. Sebab masih banyak hal-hal yang harus segera aku kerjakan" kata Zhang Fei berbicara kepada keduanya.


"Eh, mengapa kau harus cepat-cepat pergi, Fei?" tanya Ou Yang Shen dengan cepat.


"Aku ingin mencari pengalaman lagi, Paman Shen,"


"Aih, baiklah. Semoga di hari nanti kita bisa bertemu lagi,"


Tepat setelah Ou Yang Shen menyelesaikan bicaranya, Yan Wu Sun segera menyambung kembali.


"Apakah kau tidak bisa tinggal lebih lama lagi? Setidaknya sampai semua masalah ini selesai," ujarnya dengan nada dalam.


"Maaf, Tuan Sun, aku harus pergi sekarang juga," kata Zhang Fei tetap bersikeras. "Terkait masalah di sini, maaf kalau aku harus merepotkanmu lagi. Tapi aku percaya, Tuan Sun akan melakukan yang terbaik,"


"Aih, kalau kau tetap bersikeras, aku tidak bisa memaksa lagi,"


Mereka bertiga sempat memberikan hormatnya masing-masing. Setelah selesai, Zhang Fei langsung pergi lebih dulu.


Yan Wu Sun dan Ou Yang Shen memandangi kepergiannya dari tempat duduk mereka. Guru dan murid itu sama-sama kagum terhadap pendekar muda tersebut.


"Kau lihat saja, dalam waktu kurang dari lima tahun, dia pasti bisa mencapai puncak kejayaannya," ucap petinggi Partai Gurun Pasir itu dengan penuh keyakinan.


"Ya, aku percaya. Karena aku juga beranggapan demikian, guru," sahut Ou Yang Shen.


Sementara itu, tanpa terasa waktu sudah masuk sore hari. Sejak kepergiannya dari rumah makan, Zhang Fei tidak pernah berhenti. Dia terus berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh miliknya.


Ketika dia sedang berada di sebuah jalan setapak di tengah hutan, tiba-tiba saja ada sekelebat bayangan yang melesat dan langsung berhenti tepat di hadapannya.


"Siapa kau?" tanya Zhang Fei dengan cepat.


"Ini aku, anak Fei," bayangan yang mengenakan pakaian lusuh dan berpenampilan seperti pengemis itu langsung membalikkan tubuhnya.


"Aih, ternyata Tuan Kiang," katanya sambil menghela nafas lega.


Zhang Fei langsung membungkukkan badan. Setelah selesai dia kembali bertanya. "Kalau aku boleh tahu, mengapa Tuan Kiang menghadang langkahku?" tanyanya penasaran.


"Aku sengaja menghentikanmu karena ada sesuatu yang harus dibicarakan," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan sangat serius.


"Sesuatu apa, Tuan Kiang?"


Rasa penasaran dalam benak Zhang Fei menjadi bertambah. Apalagi setelah ia menyaksikan keseriusan di wajah orang tua itu.


"Kaisar memberikan undangan khusus untukmu," katanya menjawab cepat. "Ah, tidak. Maksudku kita,"


"Eh?" Zhang Fei mengerutkan keningnya. "Mengapa Kaisar mengundang kita?"


"Entahlah. Tapi dari surat yang aku terima, beliau secara khusus mengundang Empat Datuk Dunia Persilatan dan juga dirimu untuk datang ke Istana Kekaisaran,"


"Kapan Kaisar menyuruh kita ke sana?"


"Secepatnya,"


Zhang Fei langsung berdiri mematung. Dia merasa heran bercampur senang mendengar kabar tersebut.