
Orang tersebut mengenakan pakaian serba hitam. Cara berjalannya mirip dengan orang lain. Begitu juga bentuk dan ciri-ciri tubuhnya.
Yang membedakan dia dengan orang lain hanya satu, yaitu terletak di bola matanya.
Bola mata itu berwarna keabu-abuan. Tatapannya kosong dan tidak berperasaan.
Dalam dunia persilatan, siapa lagi yang memiliki bola mata seperti itu, kecuali Pendekar Pedang Perpisahan?
Orang yang sedang dimaksudkan memang dia adanya. Ternyata Datuk Dunia Persilatan aliran sesat tersebut benar-benar menepati janjinya!
Beberapa waktu kemudian, dia sudah tiba di depan pintu gerbang. Dua orang penjaga yang melihat kedatangannya tidak memberikan reaksi. Mereka hanya berdiri di tempat masing-masing sambil terus memandang ke arahnya.
Pendekar Pedang Perpisahan sendiri tidak bicara. Dia terus berjalan lewat di depannya begitu saja. Seolah-olah di sana tidak ada penjaga gerbang tersebut.
Orang tua itu terus melanjutkan langkah kakinya. Begitu tiba di halaman depan, dia langsung berhenti dan memandang ke arah pintu masuk utama.
Sementara itu, pad waktu yang bersamaan, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan juga sudah keluar dari ruang pertemuan. Ketika Orang Tua Aneh Tionggoan berkata seperti tadi, tidak lama kemudian mereka langsung beranjak dari sana.
Saat tiba di pintu masuk, orang tua itu kembali bicara.
"Dia sudah menunggumu di halaman depan, Ketua Fei," ujarnya dengan serius.
"Ya, aku juga bisa merasakan kehadirannya," jawab Zhang Fei sambil mengangguk.
Dua orang penjaga pintu utama segera membukakan pintu. Begitu terbuka, ternyata benar, di halaman depan sudah ada seseorang yang berdiri seperti patung.
Zhang Fei tersenyum. Entah senyuman apa yang dia berikan. Hanya saja, hampir tidak ada orang yang melihat senyuman tersebut.
"Rupanya kau benar-benar datang menepati janji," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan begitu mereka tiba di depannya.
"Aku bukan orang yang suka ingkar janji," jawab Pendekar Pedang Perpisahan dengan hambar.
"Ya, kami tahu itu,"
Semua orang di dunia persilatan pun tahu bagaimana sifatnya. Walaupun dia berasal dari aliran sesat, tapi setidaknya Pendekar Pedang Perpisahan bukanlah orang yang suka mengingkari janji. Apalagi kalau janji itu diucapkan oleh dia sendiri.
"Kami juga sudah menyampaikan pesanmu kepada Ketua Fei. Bahkan sekarang dia telah hadir di sini,"
"Ya, sejak awal aku tahu,"
"Sekarang, aku serahkan semuanya kepada kalian berdua,"
Empat Datuk Dunia Persilatan langsung mundur tiga langkah ke belakang. Mereka berdiri di pinggir sambil memandangi dua pendekar pedang di hadapannya.
"Ketua Fei, kita bertemu lagi," ucap Pendekar Pedang Perpisahan dengan datar.
"Aku juga tidak menyangka kita akan berjumpa dalam waktu yang cukup singkat," tukas Zhang Fei sambil tertawa ringan. "Lebih tidak menyangka lagi, ternyata Tuan juga menghormatiku,"
Baginya, sebutan Ketua Fei adalah sebuah kehormatan yang tak ternilai harganya. Siapa pun yang menyebutnya dengan sebutan itu, bisa dikatakan bahwa orang tersebut sudah menghormatinya.
Tidak disangka, bahkan sekelas datuk sesat seperti Pendekar Pedang Perpisahan pun menyebutnya dengan sebutan sama.
"Kau saja boleh menghormatiku, mengapa aku tidak boleh?"
"Hahaha ... Tuan Wu benar. Aku merasa senang atas hal ini,"
"Sayangnya, kedatanganku kemari bukan untuk memberikan sebuah kehormatan. Apalagi bersenang-senang denganmu," Pendekar Pedang Perpisahan menarik muka sambil berkata sengit kepadanya.
"Ya, aku sudah tahu hal tersebut. Bukankah kedatangan Tuan Wu kemari, adalah karena ingin menagih hutang sekaligus janji kita pada hari itu?"
"Benar,"
"Baiklah. Aku sudah siap untuk membayarnya,"
Segulung angin berhembus cukup kencang. Rambut dan pakaian enam tokoh dunia persilatan yang ada di sana berkibar karenanya.
Pendekar Pedang Perpisahan menatap Zhang Fei dengan sangat tajam. Dulu, apabila ditatap seperti itu, maka Zhang Fei akan merasakan ketakutan yang sulit dijelaskan.
Yang ada malah dia membalas tatapan tajam yang diberikan olehnya.
"Cabut pedangmu!" kata datuk sesat tersebut tidak berbasa-basi lagi.
"Pedangku akan tercabut ketika pedangmu hampir menyentuhku,"
"Baiklah. Lihat serangan!"
Tanpa banyak membuang waktu lagi, Pendekar Pedang Perpisahan langsung mencabut senjatanya yang selalu di simpan di punggung.
Sringg!!!
Suara nyaring terdengar memekakkan telinga. Cahaya putih keperakan seketika datang menggulung ke arah Zhang Fei.
Rangkaian kejadian itu berlangsung sangat singkat. Para pendekar kelas bawah pasti tidak akan sanggup menyaksikannya dengan jelas.
Trangg!!!
Sebelum pedang pembawa maut itu mengenai tenggorokan Zhang Fei, tahu-tahu Pedang Raja Dewa sudah keluar dari sarung dan langsung menahan serangan lawan.
Dua batang senjata pusaka saling menempel satu sama lain. Wajah mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat.
Percikan bunga api segera membumbung tinggi. Tatapan mata mereka juga beradu dan mengeluarkan percikan yang tak terlihat.
Empat Datuk Dunia Persilatan yang menyaksikan duel tersebut menahan nafasnya dalam-dalam. Seolah-olah mereka tidak ingin ketinggalan momen yang begitu langka ini.
Wushh!!!
Pendekar Pedang Perpisahan menarik diri ke belakang. Begitu pedangnya terlepas, dia segera melanjutkan dengan tebasan yang mengarah ke leher.
Zhang Fei menarik kepalanya. Ujung pedang lawan lewat beberapa inci di depannya.
Tidak berhenti di situ saja, datuk sesat itu kembali melancarkan serangan yang cepat dan berbahaya.
Dua orang pendekar pedang kelas atas sudah mulai bertempur dengan jurusnya masing-masing. Benturan nyaring mulai terdengar tanpa berhenti.
Zhang Fei melompat tinggi. Di tengah udara dia berjumpalikan demi menghindari serangan beruntun yang diberikan oleh lawannya.
Gerakan kedua orang yang terlibat itu benar-benar cepat. Mereka seolah-olah berubah menjadi jejak bayangan yang tidak bisa disentuh seidkit pun.
Trangg!!! Trangg!!!
Benturan keras terjadi. Keduanya segera terdorong mundur ke belakang sejauh empat langkah.
Dalam hatinya, diam-diam Pendekar Pedang Perpisahan merasa terkejut dengan kemajuan Zhang Fei. Dia tidak percaya bahwa dalam waktu singkat saja, ternyata anak muda itu mampu mengalami peningkatan yang sangat pesat.
'Anak ini benar-benar istimewa. Aku rasa, dia memang cocok menjadi Ketua Dunia Persilatan,' batinnya berkata.
Dia tidak bisa memungkiri hal tersebut. Mau tidak mau, dirinya harus mengakui kebenaran itu.
"Murka Pedang Dewa!"
Tiba-tiba Zhang Fei berteriak nyaring. Jurus terakhir sekaligus menjadi jurus pamungkas yang selama ini dia andalkan, sudah digelar dengan tenaga sembilan bagian.
Cahaya putih keperakan yang menyilaukan mata langsung bergerak dengan bebas di tengah udara. Cahaya pedang itu bagaikan hujan yang tidak ada habisnya.
Pendekar Pedang Perpisahan yang pada saat itu sedang melamun, tentu sangat terkejut akan hal tersebut.
Untunglah dia bukan pendekar kelas rendah. Sehingga ia masih bisa mengendalikan diri sekaligus menyelamatkan nyawanya dari amukan jurus lawan.
Saat ini, datuk aliran sesat itu sedang bergerak-gerak ke sana kemari. Dia mencoba menghindari setiap sambaran pedang yang menuju ke arahnya.
Sesekali, Pendekar Pedang Perpisahan pun membenturkan pedangnya dengan Pedang Raja Dewa.