
"Oh? Informasi apa itu?" tanya Zhang Fei sambil memandang Pendekar Pedang Perpisahan.
"Beberapa hari lalu, aku telah bertemu dengan seorang Jenderal yang berasal dari Kekaisaran Zhou,"
"Tunggu dulu, jadi, orang-orang dari sana sudah berani lagi masuk ke tanah air kita?"
"Ya, bahkan saat ini dia datang dengan sejumlah pasukan dan puluhan orang pendekar dari dunia persilatannya,"
Pendekar Pedang Perpisahan berkata dengan nada serius. Setiap patah kata yang dia ucapkan juga begitu dalam dan penuh dengan tekanan.
Zhang Fei sampai terkejut. Dia masih ragu dengan ucapan itu. Namun melihat dari raut wajah, rasanya datuk sesat tersebut tidak datang bercanda.
"Tuan Wu, apakah kau yakin bahwa orang itu adalah salah satu Jenderal dari Kekaisaran Zhou?" tanyanya lebih lanjut lagi.
"Ya, sangat yakin," jawabnya sambil mengangguk. "Jangan lupa, dulu aku sempat bekerja sama dengan mereka. Aku rasa, kau sendiri masih ingat dengan kejadian di hutan Rawa Iblis,"
"Ah, benar juga," Zhang Fei berseru tertahan.
Sekarang dia ingat, dulu ketika menyelamatkan Yin Yin, Zhang Fei memang sempat bertemu dengan Pendekar Pedang Perpisahan yang pada saat itu bekerja sama dengan orang-orang dari Kekaisaran Zhou.
Ketua Dunia Persilatan tersebut menganggukkan kepala beberapa kali. "Jadi, mereka masih tidak tahu kalau sekarang kau telah berubah?"
"Kecuali dirimu, rasanya tidak ada orang lain yang mengetahui akan hal ini,"
"Hemm .. pantas saja Jenderal itu mengatakan sesuatu kepadamu,"
Ternyata pihak Kekaisaran Zhou menyangka bahwa Pendekar Pedang Perpisahan masih bekerja untuk mereka. Padahal yang sebenarnya, adalah sebaliknya.
Bagi Zhang Fei, ini merupakan keuntungan. Secara tidak langsung, nantinya dia bisa mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi lewat perantara Datuk Dunia Persilatan aliran sesat tersebut.
"Baiklah, apa yang dikatakan oleh Jenderal tersebut?" tanya Zhang Fei kembali ke inti persoalan.
Orang tua itu mengambil nafas. Beberapa saat kemudian, dia mulai bicara. "Dia mengatakan bahwa dalam waktu lima belas hari, semua pasukannya akan tiba di perbatasan sebelah barat. Setelah berada di sana, dia akan membagi pasukan tersebut menjadi beberapa kelompok yang nantinya akan disebarkan ke berbagai penjuru. Tujuannya adalah untuk mengacaukan tanah air kita,"
"Dengan serangan dari segala arah yang datang secara bersamaan itu, aku rasa siapa pun akan merasa kerepotan. Apalagi puluhan pendekar yang dia bawa, semuanya adalah tokoh-tokoh kelas atas,"
"Jadi, apakah serangan ini, adalah serangan yang terakhir dari Kekaisaran Zhou?"
"Ya, aku rasa begitu. Mengingat ini adalah usaha mereka yang ketiga kalinya,"
Zhang Fei mengangguk setuju. Dia langsung terdiam sambil berpikir keras.
Kalau benar informasi tersebut, tentu sangat berbahaya apabila pihaknya tidak mengadakan persiapan. Untunglah ada Pendekar Pedang Perpisahan yang membawa kabar penting ini.
Sehingga Zhang Fei bisa menentukan langkah yang lebih pasti.
"Kalau begitu, aku rasa Kelompok Bintang Langit juga salah satu orang-orang mereka yang sengaja dikirim lebih dulu untuk mencari masalah dan menambah kekuatan tambahan," ucap Zhang Fei menganalisa peristiwa yang telah terjadi.
"Ya, kemungkinan besar seperti itu, Ketua Fei," ujarnya mengangguk setuju.
Dua orang tokoh persilatan itu kemudian termenung untuk beberapa waktu. Masing-masing dari mereka saat ini sedang memandangi barang-barang yang ditemukan sebelumnya.
"Tuan Wu, menurutmu, ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya Zhang Fei setelah beberapa saat kemudian.
"Mengapa kau bertanya kepadaku, Ketua Fei? Justru yang harus menentukan ke mana tujuan berikutnya adalah dirimu, bukan aku,"
"Ah, sudah. Lupakan soal itu," katanya sambil mengibaskan tangan. "Katakan saja, ke mana baiknya?"
"Hemm ..." Pendekar Pedang Perpisahan berpikir sesaat. Kemudian dia menjawab, "Baik. Jika demikian, mari kita pergi ke Gunung Thai San,"
"Tentu saja bukan, Ketua Fei," ia menjawab sambil tertawa. "Maksudku, kita akan pergi ke Kuil Seribu Dewa,"
"Oh, mengapa kita harus menuju ke sana?"
"Karena di sana juga akan terjadi sesuatu,"
"Baiklah. Mari kita berangkat sekarang juga,"
Pendekar Pedang Perpisahan mengangguk. Mereka berdua lalu bangkit berdiri. Barang-barang temuan sebelumnya dibuang ke semak belukar supaya tidak ditemukan oleh orang lain.
Setelah selesai, keduanya langsung mengerahkan ilmu meringankan tubunya.
Wushh!!! Wushh!!!
Mereka meluncur deras bagaikan sebatang anak panah yang dilepaskan dari tali busur. Tiga tarikan nafas saja, keduanya telah berada di tempat yang cukup jauh dari semula.
Menurut perkiraan, jarak dari tempat tadi ke Gunung Thai San, setidaknya membutuhkan waktu sekitar tujuh hari. Itu pun kalau tidak ada halangan di perjalanan.
Kalau ada, tentu saja waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama lagi.
###
Selama menuju ke sana, dua tokoh rimba hijau itu tidak pernah berhenti kecuali untuk melakukan kebutuhan pokok. Dua hari perjalanan, semuanya berjalan normal.
Tapi pada saat ketiga harinya, mereka mendapat sedikit gangguan. Untunglah gangguan itu bisa diatasi dengan mudah. Sehingga mereka bisa melanjutkan lagi perjalanannya.
###
Tujuh hari sudah berlalu lagi. Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan saat ini telah tiba di perbatasan Koya Shandong.
Kota Shandong adalah merupakan kota besar yang jaraknya berdekatan dengan Gunung Thai San. Di sana, berdiri juga beberapa partai persilatan.
Walaupun ada cukup banyak, tapi selama ini kehidupan di kota tersebut terhitung makmur.
Kehidupan rakyatnya juga aman tenteram. Mereka bisa hidup bahagia dengan mengandalkan hasil sawah ladang. Ada pula masyarakatnya yang memilih menjadi pedagang, mengingat karena Kota Shandong juga termasuk ke dalam jajaran kota wisata.
Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan tiba di sana ketika hari sudah masuk sore. Setelah selesai menjalani pemeriksaan oleh para penjaga, keduanya segera berjalan masuk ke dalam kota.
Sebenarnya pemandangan di Kota Shandong itu sangat indah. Apalagi perbatasan kota tersebut berdekatan pula dengan sebuah bukit.
Zhang Fei adalah salah satu orang yang menyukai keindahan alam. Dia sangat senang apabila menyaksikan matahari senja.
Sayangnya, untuk saat ini dia tidak bisa menikmati pemandangan alam tersebut. Waktu sedang tidak berpihak kepadanya.
Jadi, terpaksa untuk saat ini dia harus melewati kesempatan emas tersebut.
"Ketua Fei, kita cari rumah makan saja dulu. Siapa tahu, di sana kita bisa mendapat informasi tambahan," kata Pendekar Pedang Perpisahan di tengah langkahnya.
"Baiklah, Tuan Wu. Aku setuju," jawab Zhang Fei sambil mengangguk.
Dua orang itu meneruskan langkah. Saat matahari sore hampir tenggelam, mereka sudah mulai memasuki perkotaan yang ramai.
Sinar senja kemerahan menyoroti bangunan yang berderet di pinggir jalan. Di atas angkasa sana ada banyak burung-burung berterbangan yang hendak kembali ke sarangnya masing-masing.
Di jalan raya sendiri, ada banyak juga orang-orang yang berlalu-lalang. Suara orang berbicara, menjajakan dagangan, dan meminta-minta sedekah, terdengar terus-menerus saling sahut.
Zhang Fei memperhatikan keadaan di sekitar sana. Hal semacam ini sudah sering dia temui saat singgah di kota-kota besar.