Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kematian si Raja Pedang Langit


Saat itu, dua pendekar wanita tersebut langsung kembali menoleh ke tengah arena pertarungan. Mereka benar-benar terkejut setelah tahu apa yang sedang terjadi.


Ternyata, suara berat itu dihasilkan dari tubuh Zhang Fei yang menubruk dinding kuil dengan keras. Saking kerasnya, sampai-sampai membuat dinding itu retak.


Zhang Fei ambruk ke tanah. Namun satu tarikan nafas kemudian dia sudah kembali berdiri.


Dadanya terasa sakit. Nafasnya terasa sesak. Untuk beberapa saat, tampaknya Zhang Fei kesulitan bernafas.


Tidak hanya itu saja, bahkan di bagian pangkal lengan kiri dan pahanya juga terlihat ada luka tebasan pedang yang cukup dalam. Darah segar mengucur deras dan setetes demi setetes jatuh ke atas tanah.


Untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan, Zhang Fei kemudian menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya.


Dalam waktu singkat, semua rasa sakit itu mulai mereda. Luka tebasan yang terus mengeluarkan darah segar pun sudah tertutup.


Sementara itu, Ketua Partai Pengemis Hitam itu tampak girang ketika melihat jurusnya berhenti memberikan luka di tubuh lawan.


Tetapi sekejap berikutnya, kegirangan itu langsung berubah menjadi kekagetan.


"Tidak kusangka, dia bahkan bisa menutup luka itu dengan sempurna," gumamnya sambil menggelengkan kepala.


Si Raja Pedang Langit jelas merasa heran, sebab tidak biasanya peristiwa seperti itu terjdi.


Biasanya, lawan yang terluka akibat pedang miliknya akan merasakan sakit yang tiada tara. Bahkan perasaan sakit dan mulut lukanya tidak bisa dihilangkan dengan mudah.


Siapa nyana, Zhang Fei justru sebaliknya. Ia bisa menghilangkan rasa sakit dan menutup mulut luka itu begitu saja.


Sungguh, kejadian ini benar-benar membuatnya heran.


Di sisi lain, dalam waktu yang hampir bersamaan, saat itu Yao Mei dan Yin Yin sebenarnya ingin masuk ke arena pertarungan. Masing-masing dari mereka ingin memberikan pertolongan kepada Zhang Fei dan membantunya menghadapi si Raja Pedang Langit.


Namun niat itu segera dibatalkan setelah melihat kondisi Zhang Fei yang langsung kembali seperti sedia kala.


Suasana di halaman kuil masih hening. Orang-orang yang ada di sana belum membuka mulutnya lagi.


Semilir angin dingin berhembus lriis. Debu kuning mengepul tinggi. Pakaian mereka pun berkibar karenanya.


"Kau benar-benar mengecewakan," kata si Raja Pedang Langit kembali berbicara setelah beberapa waktu kemudian.


"Oh? Mengapa kau kecewa padaku?" Zhang Fei mengerutkan kening.


"Baru beberapa saat bertarung, kau sudah terlempar dan mengalami luka yang parah. Apakah hanya sampai di sini saja kemampuan Ketua Dunia Persilatan Kekaisaran Song? Cih! Kalau demikian, rasanya pantas jika tanah air kalian dijajah,"


Orang tua itu semakin berani berbicara lancang. Walaupun nada bicaranya tenang, tapi dibalik itu jelas terkandung ejekan yang bersifat serius.


Amarah Zhang Fei langsung terpancing. Sorot matanya bertambah tajam.


Dia tersenyum dingin. Kemudian segera berkata, "Tua bangka, jangan senang dulu. Ini semua baru permulaan. Aku bahkan belum benar-benar serius dan mengeluarkan seluruh kemampuanku,"


Zhang Fei berjalan beberapa langkah ke depan. Setelah berhenti, dia kembali melanjutkan ucapannya.


"Luka-luka ini belum seberapa. Lagi pula, aku sengaja memberikanmu kesempatan untuk melukaiku. Sebab nanti, kau tidak akan mampu melakukan apa-apa lagi," lanjutnya dengan nada dingin.


"Omong kosong! Terima ini!"


Wutt!!!


Si Raja Pedang Langit kembali menerjang ke depan. Dia sudah siap melancarkan jurusnya yang tadi empat tertunda.


Kilatan cahaya pedang memancar di tengah udara. Hawa pedang yang begitu pekat juga sudah terasa sangat jelas.


Gerakannya saat itu sangat cepat. Yao Mei dan Yin Yin pun tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Wutt!!!


Suatu kejadian diluar dugaan tiba-tiba berlangsung. Tepat ketika pedangnya hampir menyamai tubuh Zhang Fei, mendadak anak muda itu lenyap dari pandangan mata.


Dia telah menghilang dari tempat sebelumnya!


Tokoh sesat itu kaget setengah mati. Dia tidak bisa melihat kapan dan dengan cara bagaimana Zhang Fei menghilang.


"Lihat kemari!"


Suara teriakan tiba-tiba terdengar di atas kepala si Raja Pedang Langit. Begitu dia memandang ke atas, ternyata saat itu Zhang Fei sudah siap melancarkan tebasan pedang ke arahnya.


Berada di posisi yang sangat berbahaya itu, buru-buru dia menarik tubuhnya ke belakang. Tebasan pedang Zhang Fei gagal mengenai target.


Namun sebenarnya, memang itu yang ia maksud. Zhang Fei hanya memancing supaya tokoh sesat tersebut memundurkan dirinya.


Setelah tujuannya tercapai, Ketua Dunia Persilatan langsung memburu ke depan sana. Dia mengeluarkan Jurus Pedang Tak Kasat Mata!


Serangannya secepat kilat. Gerakan tubuhnya tidak bisa dilihat sama sekali.


Benturan antar pedang terjadi untuk beberapa saat. Percikan bunga api terlihat kembali. Tapi semua hal itu hanya terjadi dalam waktu singkat.


Sepuluh jurus kemudian, benturan keras tadi sudah tidak terdengar. Percikan bunga api pun tidak terlihat lagi.


Di sana, Zhang Fei sudah kembali berdiri di tempat semula. Ia menatap ke arah si Raja Pedang Langit dengan tatapan tajam.


Pedang Raja Dewa menjulur ke bawah. Di ujung pedang itu ada darah segar yang terus menetes.


"Kau ... sebenarnya, jurus pedang apa yang kau keluarkan?" tiba-tiba si Raja Pedang Langit bertanya. Suaranya terengah-engah. Dia tampak kesulitan untuk berbicara.


"Jurus Pedang Tak Kasat Mata!" jawab Zhang Fei dengan nada hambar.


Ketika jawaban itu dilontarkan, pedang di tangan tokoh sesat tersebut langsung jatuh ke atas tanah. Disusul kemudian dengan ambruknya tubuh tua renta itu.


Ternyata dia telah tewas! Tewas dengan luka tusukan tepat di tenggorokannya!


Wajahnya telah dipenuhi oleh darah segar. Zhang Fei segera berjalan menghampiri dan membalikkan tubuhnya. Ia kemudian melakukan pemeriksaan untuk mencari sesuatu yang berarti.


Sayangnya, Zhang Fei tidak berhasil menemukan apapun juga.


"Sungguh, tadi itu adalah jurus pedang yang sangat dahsyat," kata Yin Yin yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


Zhang Fei segera bangkit dari posisi jongkok, ia kemudian menoleh sekilas ke arah Yin Yin.


"Ah, kau bisa saja, Yin Yin. Jurusku belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rangkaian Jurus Tongkat Pemukul Anjing milikmu," sahutnya.


"Cih, bagaiamana mungkin kau bisa bicara seperti itu? Padahal sudah jelas-jelas, jurusmu jauh lebih hebat," Yin Yin bicara dengan ekspresi cemberut. Sepertinya dia tidak suka dengan jawaban Zhang Fei.


"Sudah, sudah. Jurus kalian berdua sama-sama hebat. Buktinya saja, kalian bisa mengalahkan musuh yang berada di atas kemampuan sendiri," ucap Yao Mei menengahi keduanya.


Zhang Fei dan Yin Yin langsung mengangguk setuju. Ketiga pendekar muda itu kemudian berjalan menuju ke pintu utama kuil.


"Kita periksa kuil ini. Siapa tahu di dalamnya ada sesuatu yang cukup berarti,"


"Baik, Zhang Fei. Aku setuju,"


"Ya, aku juga,"


Setelah itu, ketiganya langsung masuk ke dalam. Mereka pun segera melakukan pemeriksaan yang lebih lanjut lagi.