Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Jurus Pedang Tak Kasat Mata


Dua batang ranting pohon sebesar ibu jari berbenturan cukup keras. Kalau saja kedua tokoh yang terlibat itu tidak menyalurkan tenaga dalam ke ranting tersebut, sudah tentu saat ini telah patah menjadi beberapa bagian.


Untunglah mereka telah menyalurkan tenaga dalam dengan jumlah cukup banyak. Sehingga kadar kekerasannya pun menjadi bertambah.


Pertarungan masih terus berlanjut. Baik Zhang Fei maupun Pendekar Pedang Perpisahan, keduanya sama-sama menyerang. Yang satu mengandalkan kecepatan dan keganasan jurusnya. Sedangkan yang satu lagi mengandalkan kelincahan.


Ranting pohon di tangan Pendekar Pedang Perpisahan menusuk-nusuk tiada henti. Semua urat syaraf yang mungkin bisa dijangkau, ia incar secara terus-menerus.


Namun Zhang Fei juga tidak bisa tinggal diam. Tentu saja dirinya tak mau menjadi bulan-bulanan jurus lawan. Maka dari itu, ia terus menangkis atau membalasnya dengan jurus yang tak kalah hebat.


Ketika dirasa waktunya sudah tepat, pada saat mendapat kesempatan emas, saat itulah Zhang Fei mengambil tindakan secara tiba-tiba.


Wushh!!!


Ranting pohon itu tiba-tiba lenyap dari pandangan mata. Suara mendengung terdengar lumayan besar. Deru angin tajam yang mampu merobek kulit, segera menerpa ke depan.


Zhang Fei menyerang dengan gerakan kilat. Para Datuk Dunia Persilatan yang menyaksikan pertarungannya berdiri mematung. Di antara mereka tidak ada yang mengedipkan mata. Seolah-olah para tokoh itu takut kehilangan momen yang sudah sejak tadi ditunggu-tunggu.


Tidak hanya itu saja, bahkan mereka pun terlihat menahan nafasnya untuk beberapa saat.


Hal itu terjadi karena orang-orang tersebut tidak menyangka bahwa Zhang Fei mampu bergerak secepat itu.


Sekitar beberapa tarikan nafas kemudian, tiba-tiba semuanya berhenti! Gerakan Zhang Fei berhenti. Pertarungan pun ikut terhenti!


Ketika debu sudah lenyap, semua tokoh yang ada bisa melihat bahwa ujung ranting yang dipegang Ketua Dunia Persilatan, saat ini sudah berada tepat di depan leher Pendekar Pedang Perpisahan.


Jarak antara ujung ranting dan leher itu paling-paling hanya beberapa buku jari saja.


Kalau Zhang Fei meneruskan gerakannya, sudah tentu leher orang tua itu akan berlubang. Nyawanya juga pasti akan melayang.


Untunglah Zhang Fei berhenti tepat pada waktunya!


Kedua belah pihak yang tadi terlibat, sama-sama memberikan hormat. Setelah itu mereka langsung berjalan ke arah tokoh yang lain.


Meskipun pertarungan tersebut hanya berjalan belasan jurus saja, tapi ketegangan dan keseruannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Empat Datuk Dunia Persilatan yang tadi menyaksikannya pun, sampai saat ini masih terlihat belum percaya. Mereka masih berdiri diam seperti patung.


Saking terkesima-nya dengan jurus baru Zhang Fei, sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa pertarungan sekaligus orang yang terlibat sudah berada di sisinya.


"Hei, mengapa kalian diam saja?" tanya Zhang Fei kepada mereka berempat.


Pertanyaan itu rupanya telah menyadarkan mereka. Keempat orang tua tersebut sedikit terkejut. Buru-buru mereka menoleh ke asal suara.


"Ah, tidak, Ketua Fei, tidak," jawab Dewi Rambut Putih menggelengkan kepalanya. "Kami hanya terpukau dengan jurus baru itu,"


"Benar," sahut Pendekar Tombak Angin merasa setuju. "Jurus itu benar-benar cepat dan dahsyat,"


"Sampai-sampai, kami sendiri tidak mampu menyaksikannya dengan jelas," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Anak Fei, apakah benar itu jurus barumu?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan seolah masih merasa ragu.


"Tentu saja, Tuan Kiang. Memangnya, kenapa? Apakah ada yang aneh?"


"Tidak, tidak. Aku hanya kagum saja. Jurus baru ini mengingatkan aku kepada seseorang,"


"Seseorang? Siapa itu?"


"Pendekar Naga Putih Zhang Yi,"


"Tepat sekali, anak Fei," jawabnya membenarkan. "Walaupun gerakan jurusnya berbeda, tapi ada beberapa hal yang sama,"


Semua orang tokoh yang ada di sana langsung menoleh ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan. Mereka tiba-tiba penasaran dengan cerita tersebut.


"Kalau boleh tahu, persamaannya di mana?"


"Kecepatannya hampir sama. Tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Titik yang diincar pun adalah leher, salah satu titik yang paling mematikan. Datang dan pergi, sekaligus ke mana arahnya serangan tidak bisa diduga. Dulu, hanya sedikit orang yang mampu melihat sekaligus selamat dari jurusnya. Dan aku juga yakin, sekarang pun tidak akan jauh berbeda,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan bicara dengan ekspresi wajah serius. Dalam waktu yang bersamaan, dia pun sekaligus membayangkan peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu.


Walaupun kejadian itu sudah terjadi sangat lama, meskipun pada saat itu dia belum tumbuh menjadi dewasa, tapi dirinya masih ingat dengan jelas terkait apa yang baru saja ia terangkan.


Zhang Fei yang mendengarnya saja sampai melongo. Dia tidak pernah menyangka bahwa leluhurnya, ternyata benar-benar hebat.


"Tuan Kiang, benarkah leluhurku sehebat itu?" tanyanya masih kurang yakin.


"Aku rasa, bahkan lebih hebat dari apa yang telah aku jelaskan,"


Ketua Dunia Persilatan langsung termenung. Suasana di sana menjadi hening, sebab tidak ada seorang pun yang berbicara.


Masing-masing dari mereka sedang menatap kegelapan hutan di depan sana.


"Ketua Fei, ngomong-ngomong, apa nama jurus itu?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan sekaligus memecahkan keheningan di halaman belakang tersebut.


Zhang Fei berpikir sebentar. Lewat tiga tarikan nafas, ia baru menjawab.


"Jurus Pedang Tak Kasat Mata. Ya, benar. Aku rasa, nama itu sangat cocok,"


Bukannya Zhang Fei sedang menyombongkan diri dengan jurus barunya tersebut, tapi apa yang dia ucapkan itu, memang merupakan kenyataan yang tidak bisa dibantah.


"Ah, benar. Itu adalah nama yang bagus," seru Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat.


"Ya, aku juga setuju, Ketua Fei. Jurus pedang itu memang terlampau cepat. Rasanya hampir mendekati kata mustahil untuk bisa dilihat dengan jelas. Kalau pun ada yang mampu menyaksikannya, jika orang itu tidak setara, pastilah berada di atas kita ini," Pendekar Pedang Perpisahan juga setuju dengan nama jurus tersebut.


Sebagai ahli pedang, tentu dia bisa menilai lebih jauh daripada orang lain. Dan menurutnya, jurus tersebut memang benar-benar luar biasa sekali.


"Dengan adanya Jurus Pedang Tak Kasar Mata, aku rasa persentasi kemenangan biss bertambah cukup banyak," kata Orang Tua Aneh Tionggoan memberikan pendapatnya.


"Ya, itu benar," sahut Pendekar Tombak Angin.


"Selamat, Ketua Fei. Aku ikut senang atas hal ini," sambung Dewi Rambut Putih.


Keenam orang itu tersenyum girang. Beberapa saat kemudian mereka memutuskan untuk kembali ke dalam Gedung Ketua Dunia.


"Hal ini harus kita rayakan. Kita mesti berpesta arak malam ini juga," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Hahaha ... setuju. Malam ini, kita harus melewatinya dengan perasaan gembira,"


Setelah tiba di ruang pertemuan, Zhang Fei segera memanggil seorang pelayan untuk melayani mereka.


Pelayan itu kemudian pergi ke belakang untuk mengambil nampan berukuran cukup besar yang berisi beberapa guci arak sekaligus daging segar.


Setelah tugasnya selesai, dia pun langsung kembali menjalankan tugas yang lainnya.


"Baiklah, mari kita bersulang," ajak Pendekar Pedang Perpisahan.