
Satu minggu sudah terlewatkan. Dunia persilatan digemparkan dengan kematian beberapa tokoh kelas atas dari angkatan tua. Salah satunya adalah si Pedang Angin Puyuh Gouw Ming.
Berita tentang hancurnya Partai Gunung Pedang juga telah menyebar luas. Hampir semua orang-orang persilatan telah mengetahui tentang hal tersebut.
Akibatnya, banyak tokoh-tokoh yang semakin mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Tetapi justru karena hal itulah, bencana yang sedang melanda Tionggoan semakin menjadi.
###
Saat ini, Zhang Fei sedang berada di sebuah hutan yang berdekatan langsung dengan kota bernama Changsha. Kota tersebut merupakan kota besar, sebab memang berdekatan langsung dengan Kotaraja.
Sebenarnya, jarak antara Kota Luoyang dengan Kota Changsha terbilang jauh. Kalau dilakukan dengan menaiki kuda, setidaknya membutuhkan waktu dua minggu untuk tiba di sana.
Tetapi karena Zhang Fei sedang terburu-buru, akhirnya ia bisa tiba lebih cepat dari yang seharusnya. Namun walaupun sedang dikejar waktu, bukan berarti dia lupa akan kewajiban utamanya.
Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, ia akan berziarah dulu ke makam kelima guru dan bahkan kedua orang tuanya.
Kegiatan itu memakan waktu tiga hari. Dan setelahnya, tanpa membuang waktu lagi, ia langsung pergi melanjutkan perjalanan.
Sekarang, pendekar muda itu sedang berjalan di sebuah jalan setapak yang berdebu. Semak belukar tumbuh di kanan kiri jalan.
Di dalam hutan sana, suara binatang buas terdengar cukup jelas. Tetapi karena sudah terbiasa dengan hal tersebut, akhirnya Zhang Fei tidak memperdulikannya.
Ia tetap berjalan dengan langkah ringan. Kadang-kadang dirinya bersiul nyaring sambil menikmati suasana hutan belantara yang dipenuhi oleh pepohonan itu.
Tiba-tiba dia mendengar sebuah suara pertarungan. Suara itu terdengar sangat jelas.
Wushh!!!
Satu kali kakinya menjejak tanah, Zhang Fei telah berada di sebuah dahan pohon yang cukup tinggi. Begitu memandang ke sebelah depan, ia segera melihat ada sebuah pertempuran yang sedang berlangsung seru.
Pertempuran itu melibatkan setidaknya enam orang.
Tiga orang di antara mereka merupakan tokoh angkatan tua. Semuanya sudah berusia lanjut. Sedangkan dua orang sisanya entah berusia tua atau muda.
Zhang Fei tidak bisa memastikan hal tersebut. Sebab kedua orang itu, sama-sama menggunakan cadar. Yang satu mengenakan pakaian kuning cerah, satu lagi hijau muda.
Kelima orang itu, saat ini sedang mengeroyok seorang pendekar tua yang mengenakan pakaian warna abu-abu. Pakaian itu sudah lusuh. Malah warnanya saja mulai luntur.
Walaupun sebagian musuhnya menggunakan senjata, tapi orang tua tersebut terlihat tidak menggunakan apapun juga. Dia hanya bertarung mengandalkan kedua tangannya.
Di pinggang orang tua itu terdapat sebuah guci arak yang diikat oleh sebuah tali.
Zhang Fei memperhatikan keenam orang itu dengan serius. Terutama sekali si orang tua yang membawa guci arak.
Dia merasa tidak asing dengannya. Pemuda tersebut merasa pernah bertemu dengan orang tua itu.
Tapi bertemu di mana? Siapa pula orang tua itu?
Cukup lama ia termenung memikirkan hal tersebut.
"Ah, aku ingat. Itu adalah orang tua yang dulu menyelamatkan aku dari keroyokan si tua bangka Gan Li," ujarnya sambil berseru tertahan.
Ya, sekarang dia sudah mengingatnya dengan jelas.
Orang tua yang sekarang bertarung itu, pasti adalah dia yang dulu telah menyelamatkan sekaligus merawat Zhang Fei.
Setelah merasa yakin, tiba-tiba pendekar muda itu menjejakkan kaki ke dahan pohon. Kemudian tubuhnya langsung meluncur bagaikan burung rajawali yang akan menyambar mangsa.
"Memalukan! Sudah tua tapi masih main keroyokan," teriaknya ketika masih berada di tengah udara.
Dari lima orang musuh, ia memilih dua orang di antaranya. Yang satu adalah pria tua berusia enam puluh tahun, ia mengenakan senjata tongkat kayu hitam bercabang dua. Sedangkan satu lagi, adalah yang mengenakan pakaian sekaligus cadar hijau muda.
Anak muda itu segera melancarkan pukulan tangan kosong beruntun yang mampu mendatangkan deru angin kencang ke arah mereka.
Tidak sampai di situ saja, Zhang Fei bahkan melanjutkan pula serangannya dengan tendangan yang datang dari berbagai penjuru mata angin.
Di satu sisi, dua orang lawannya tersebut tentu saja kaget ketika ada orang lain yang ikut campur dalam pertarungannya.
Namun karena situasi sudah tidak terkendali, maka pada akhirnya, dua orang itu tidak ada yang bicara. Sebab mereka segera disibukkan oleh serangan Zhang Fei yang seolah-olah tidak berhenti tersebut.
Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!
Tongkat bercabang dua mulai menunjukkan taring. Sodokan dan sapuan datang dari dua sisi yang berbeda. Bersamaan dengan itu, orang bercadar di sisinya juga tidak tinggal diam.
Selendang hijau muda yang panjang itu bergerak-gerak bagaikan ular. Cepatnya bukan main. Malah beberapa kali Zhang Fei hampir terlilit olehnya.
Untunglah dia yang sekarang sudah mengalami banyak kemajuan. Baik itu dalam ilmu silat, maupun dalam hal ilmu meringankan tubuh.
Pertarungan di antara mereka setidaknya sudah berlangsung selama sepuluh jurus. Yang paling gencar menyerangnya adalah si orang tua itu.
Tongkat kayu miliknya seakan-akan ingin menghancurkan batok kepala Zhang Fei. Ia terus melancarkan jurus-jurus tongkat yang sangat ganas dan telengas.
Pendekar muda itu dibuat sedikit kewalahan. Apalagi setelah si pria tua mulai meningkatkan kecepatan dalam setiap gerakannya.
Tidak hanya itu saja, bahkan orang bercadar yang sedang bertempur dengannya, tiba-tiba berteriak nyaring.
Ia melompat ke tengah udara lalu meluncur ke depan dengan cepat. Bersamaan dengan itu, dia juga mencabut sebatang pedang yang berada di punggungnya.
Sringg!!
Sebatang pedang lemas tahu-tahu menyambar dari sisi sebelah kanan. Sasarannya tentu saja adalah leher Zhang Fei.
Ia tercekat. Untung dirinya selalu waspada. Dengan cepat ia menarik tubuhnya ke belakang. Pedang lemas dan tipis itu hanya lewat satu jari dari depan wajahnya.
Tidak bisa dipungkiri, Zhang Fei merasa jantungnya berdebar. Sebab kalau barusan dia terlambat sedikit, sudah tentu Sekarang kepalanya telah menggelinding di atas tanah.
Karena merasa semakin terpojok, maka pada akhirnya dia pun mengambil langkah yang sama.
Pedang Raja Dewa langsung dicabut keluar pada saat itu juga!
Trangg!!!
Suara dentingan nyaring seketika terdengar. Zhang Fei berhasil menahan tongkat bercabang dua yang hampir menusuk tenggorokannya.
"Untuk membunuhku tidaklah mudah. Setidaknya kau harus tenang, jangan gegabah seperti ini," katanya sambil tersenyum dingin.
"Omong kosong! Kau bocah ingsun, berani sekali ikut campur urusan kami," jawab si pria tua dengan kesal.
"Selain minum arak dan menikmati keindahan alam, kesukaanku yang selanjutnya adalah mencampuri urusan orang lain,"
"Tutup mulutmu, bocah!"
Pria tua itu menggeram marah. Begitu tongkatnya berhasil dilepaskan, ia langsung menyalurkan tenaga dalam yang lebih besar.
Gerakan tongkat semakin cepat dan tangkas. Dia yakin, dengan kekuatan sebesar itu, lawannya pasti akan lebih kewalahan.
Apalagi dia tidak berusaha sendiri. Melainkan dibantu juga dengan si orang bercadar.