Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Sudah Terlambat


Mimpi pun si Pengelana Tua tidak pernah bahwa senjata rahasia yang selama ini sudah mengangkat namanya, ternyata bisa diruntuhkan oleh seorang pemuda yang masih hijau.


Padahal selama ini, dalam dunia persilatan jarang ada orang yang bisa menangkis puluhan jarum hitam kecil itu. Kalaupun ada, pasti tidak banyak jumlahnya.


Lagi pula, mereka yang mampu, tidak akan bisa menangkis semua senjata rahasianya. Setidaknya akan ada satu atau dua senjata yang bakal menembus tubuh.


Sungguh tidak disangka, ternyata pendekar muda itu mampu menangkis semua senjata rahasia yang dia lemparkan tadi.


Satu pun tidak ada yang menembus tubuhnya!


Untuk beberapa saat, si Pengelana Tua hanya bisa berdiri terbengong. Tiada hentinya ia memandang ke arah Zhang Fei dan puluhan jarum yang berjatuhan itu.


Melihat kenyataan tersebut, dia merasa seakan sedang bermimpi.


Sayangnya, semua itu bukan mimpi! Semua itu nyata!


Sementara di sisi lain, begitu sudah berhasil menangkis puluhan senjata rahasia yang dilemparkan oleh Pengelana Tua, Zhang Fei segera menyambut lagi dua serangan lainnya.


Tubuhnya berputar cepat menghindari bacokan golok. Ia bergerak seperti angin, tidak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan.


Sesaat kemudian, pendekar muda itu telah berada persis di depan musuh yang menggunakan cambuk panjang.


Wutt!!!


Pedang Raja Dewa diangkat. Zhang Fei langsung menebas cambuk berduri itu dengan kecepatan kilat.


Tiga kali pedangnya berkelebat, maka cambuk itu pun sudah dibuat menjadi tiga potong. Tidak berhenti sampai di situ saja, ia kembali melanjutkan serangannya dengan mengirimkan tebasan pedang beruntun yang mengarah ke semua titik penting di tubuh manusia.


Serangan tersebut dilakukan dengan waktu dan perhitungan yang sangat tepat. Sehingga tidak bisa dipungkiri lagi, lawan dibuat tak berdaya olehnya.


Srett!!!


Darah segar menyembur ke tengah udara. Tokoh sesat bersenjata cambuk itu mengeluarkan suara seperti hewan disembelih ketika lehernya berhasil digorok oleh Pedang Raja Dewa.


Pada detik berikutnya, ia masih mampu menatap Zhang Fei dengan tatapan tidak percaya. Sesaat kemudian ia langsung ambruk ke atas tanah.


Kejadian barusan berjalan dengan singkat. Sehingga dua musuh sisanya tidak mampu membayangkan betapa cepatnya gerakan anak muda itu.


"Keparat jahanam! Aku akan membalaskan kematian saudaraku,"


Satu dari dua Belalang Hijau Bersaudara berteriak dengan keras. Ia sangat marah dan terpukul melihat saudaranya tewas bersimbah darah.


Bayangan golok yang tajam itu langsung memenuhi angkasa. Hawa golok seakan sudah mengurung arena pertarungan.


Zhang Fei tersenyum dingin. Menghadapi lawan yang sudah dikuasai oleh emosi, ia justru tampil lebih tenang dari biasanya.


Hal itu tak lain karena ia yakin, setiap orang yang sudah dikuasai oleh emosinya, maka orang tersebut pasti tidak bisa mengontrol dirinya. Dalam hal apapun, pasti akan seperti itu.


Apalagi dalam hal pertarungan seperti sekarang. Tentu saja, akibatnya orang itu tidak akan memikirkan hal-hal penting lagi.


Wutt!!! Wutt!!!


Bacokan golok datang bagaikan hujan deras di musim semi. Kilatan cahaya golok seperti sambaran halilintar yang tiada pernah berhenti.


Serangan orang itu benar-benar cepat dan ganas. Sayangnya karena dia sudah dikuasai oleh emosi, maka semua serangan tersebut seolah tiada gunanya.


Sehebat dan secepat apapun dia bergerak, Zhang Fei tetap mampu menghindarinya.


Pendekar muda itu tidak banyak membalas serangan. Dia justru membiarkan musuhnya menyerang sampai puas.


Ketika melihat musuh mulai kelelahan, barulah Zhang Fei mengambil tindakan.


Pertama ia memburu ke depan. Pedang Raja Dewa dijulurkan seolah-olah siap menusuk dadanya. Begitu tiba di dekat musuh, tiba-tiba pedang itu berkelebat berubah gerakannya.


Trangg!!! Trangg!!!


Namun, hal itu hanya berjalan sekejap. Tidak lama.


Sekitar enam jurus kemudian, Pedang Raja Dewa kembali meminta korban.


Ujung pedang pusaka itu dengan telak menembus jantung musuhnya!


Pada saat pedang dicabut, maka orang itu pun langsung ambruk ke tanah dengan kondisi tidak bernyawa.


Selama jalannya pertarungan dua orang itu, si Pengelana Tua masih saja berdiri di tempat tadi. Ia tidak lagi memikirkan orang lain. Dia hanya memikirkan diri sendiri. Terutama kemampuannya.


Kenapa pemuda itu bisa menahan serangannya? Apakah kemampuannya dalam hal melemparkan senjata rahasia, telah mengalami penurunan drastis?


Tapi kalau dipikir lebih lanjut, rasanya hal itu terlalu tidak mungkin. Apalagi belum lama ini, dia berhasil membunuh beberapa orang musuh sekaligus hanya dengan mengandalkan jarum miliknya.


Jadi, mana yang benar? Dia yang terlalu memandang rendah, ataukah pemuda itu yang kelewat hebat?


"Pengelana Tua, apa yang kau pikirkan?" tanya Zhang Fei sambil memandangi wajahnya.


"Aku sedang memikirkan kemampuanku sendiri," jawabnya dengan nada heran.


"Oh?"


"Aku hanya heran, kenapa kau bisa menangkis semua jarum hitam itu? Padahal, tidak banyak pendekar yang mampu menangkisnya. Terlebih pada saat itu situasimu sedang tidak menguntungkan,"


Si Pengelana Tua masih ingat situasi Zhang Fei. Saat itu dirinya sedang menghadapi tiga serangan sekaligus. Semuanya adalah serangan berbahaya yang sanggup mencabut nyawa manusia tanpa berkedip.


Dia sendiri berpikir kalau berada di posisi itu, mungkin dirinya tidak bisa selamat.


Tapi kenapa pemuda itu justru malah sebaliknya?


"Itu karena aku sudah memperhitungkan segalanya. Di satu sisi, semua yang terjadi ini, sebenarnya karena kalian sendiri," jawab Zhang Fei dengan tenang.


"Kenapa bisa begitu?"


"Karena kalian sudah melakukan kesalahan,"


"Kesalahan apa?"


"Kalian terlalu memandang rendah diriku,"


"Tapi itu kan hanya di awal. Setelah melihat bagaimana pertarunganmu sebelumnya, kami bertiga sepakat untuk mengeluarkan semua kemampuan,"


"Memang benar, tapi hal itu sudah terlambat. Sebab ketika kalian memutuskan untuk berlaku serius, saat itu aku sudah memikirkan semuanya. Termasuk mengukur kemampuan, dan bagaimana cara terbaik untuk menghadapi kalian,"


Mendengar penjelasan tersebut, si Pengelana Tua langsung terpaku di tempat. Cukup lama dia menutup mulutnya.


Apa yang dikatakan oleh Zhang Fei sangat masuk akal. Dia sendiri mulai menyadari akan hal tersebut.


"Kau benar. Semuanya memang sudah terlambat,"


Tiba-tiba dia berjalan dengan langkah lunglai ke arah Zhang Fei. Si Pengelana Tua seperti menyesali perbuatannya dan ingin meminta maaf.


Anak muda itu sendiri tidak memberikan reaksi apapun. Ia hanya memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh orang tua tersebut.


"Aku menyesal. Aku benar-benar malu menjadi tokoh angkatan tua yang ternyata bisa dikalahkan oleh generasi muda sepertimu," ucapnya sambil terus berjalan ke arah Zhang Fei.


Jarak antara mereka berdua semakin dekat. Begitu jarak yang tersisa tinggal satu langkah, tiba-tiba si Pengelana Tua melakukan sebuah tindakan yang tidak pernah diduga oleh siapa pun.


Wutt!!!


Untuk kedua kalinya, serbuan senjata rahasia kembali dia lepaskan ke arah Zhang Fei dengan kekuatan penuh.


Meskipun sebagian besar tenaganya sudah hilang, tapi dalam jarak sedekat itu, rasanya mustahil apabila target bisa menyelamatkan dirinya.