Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertempuran Terakhir di Kuil Seribu Dewa III


"Tuan Wu, kau terluka?" tanya Zhang Fei ketika dia melihat perubahan di wajah datuk sesat tersebut.


"Tidak masalah, Ketua Fei. Ini tidak akan berarti apa-apa bagiku," jawabnya dengan tenang dan santai.


Bagi orang lain, luka barusan mungkin sangat berarti. Bukan hal mustahil kalau luka itu akan berbuntut panjang.


Untungnya yang terluka adalah Pendekar Pedang Perpisahan. Sehingga hal-hal buruk semacam itu, rasanya tidak akan pernah terjadi. Apalagi dia mempunyai kelebihan dalam menyembuhkan luka dalam.


"Baiklah, Tuan Wu," Zhang Fei mengangguk. Dia merasa lega setelah mendengar jawaban itu. Lewat beberapa saat kemudian, ia kembali mengajukan pertanyaan.


"Tuan Wu, apakah kau mampu mengalahkannya?"


Kalau yang bertanya seperti itu adalah orang lain, atau kalau tidak, dia masih seperti dulu, mungkin Pendekar Pedang Perpisahan akan langsung marah besar saat mendengarnya.


Tapi untungnya yang bertanya adalah Zhang Fei. Ditambah pula, sekarang dia telah berubah. Jadi, waktu mendengarnya tokoh sesat tersebut tidak memperlihatkan kemarahan.


"Aku rasa mampu. Tapi, rasanya butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya," jawab Pendekar Pedang Perpisahan dengan jujur.


Dia sadar sampai di mana kehebatan lawannya. Ia pun tahu, kemampuannya tidak berbeda jauh dari Raja Telapak Hitam. Walaupun dirinya masih seidkit unggul, tetapi tenaganya sudah jauh berkurang akibat semua pertarungan yang telah dijalani sebelumnya.


Jadi tidak heran kalau dia menjawab seperti itu.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan membantumu," ucap Zhang Fei penuh semangat.


"Ketua Fei, kau sudah teramat lelah. Jangan terlalu memaksaan diri,"


"Tidak, Tuan Wu. Aku tidak lelah. Lagi pula, aku dan Partai Panji Hitam mempunyai dendam kesumat yang teramat dalam," Zhang Fei berkata dengan nada dalam.


Seumur hidup, selama nyawa masih dikandung badan, Zhang Fei tidak akan pernah lupa akan tragedi berdarah yang menimpa keluarganya.


Di masih ingat dengan jelas bagaimana jalannya setiap adegan yang menewaskan keluarga tercintanya tersebut.


Sejak awal, Zhang Fei sudah bersumpah bahwa dia akan membalaskan dendam berdarah tersebut. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa mewujudkannya.


Sekarang, di hadapannya sudah ada Wakil Ketua Partai Panji Hitam, bagaiamana mungkin dia akan diam dan berpangku tangan?


Di sisinya, Pendekar Pedang Perpisahan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Zhang Fei saat ini. Meskipun dia tidak mengetahui sepenuhnya, tapi ia bisa merasakan dengan jelas.


"Baiklah, Ketua Fei. Kali ini, biar aku yang akan memberikan bagian ini kepadamu," jawabnya setelah sekian lama terdiam.


"Hahaha ... itu baru betul, Tuan Wu," kata Zhang Fei sambil tertawa.


Sementara di sisi lain, di sana terlihat Raja Telapak Hitam yang sedang memandang ke arah tiga orang tokoh itu. Ia tidak bisa mendengar obrolan mereka dengan jelas.


Hanya saja dari mimik wajahnya, ia bisa tahu bahwa orang-orang itu ada niat untuk membunuhnya.


"Sampai kapanpun, kalian tetap tidak akan sanggup mengalahkan aku," katanya tiba-tiba bicara lantang.


"Hahaha ... benarkah itu? Aku malah tidak percaya dengan ucapanmu, setan tua," ujar Zhang Fei sambil memberikan senyuman mengejek.


"Bocah yang bermulut besar. Kalau kau tidak percaya, boleh buktikan sekarang juga,"


"Baik. Aku menerima tantangan itu,"


Zhang Fei mengangguk. Dia langsung menyalurkan hawa murni dan tenaga dalamnya dengan jumlah besar. Begitu semua persiapan awal selesai, dengan satu kali lompatan saja ia berhasil tiba di hadapan lawan.


Wutt!!!


Serangkaian serangan telapak tangan datang bagaikan kilat. Raja Telapak Hitam tidak menduga bahwa anak muda itu ternyata mampu menyerang sedemikian cepatnya.


"Kau tidak akan bisa lari dariku!" anak muda itu berteriak. Ia terus memberikan serangan tanpa berhenti.


Raja Telapak Hitam dibuat sedikit kewalahan. Hal itu terjadi karena dia telah kalah satu langkah dari Zhang Fei.


Beberapa jurus Ketua Dunia Persilatan itu menyerang, kondisi Raja Telapak Hitam mulai memburuk. Beberapa bagian tubuhnya hampir menjadi sasaran empuk. Untungnya dia masih bisa bergerak sedikit lebih cepat.


Plakk!!!


Benturan telapak tangan akhirnya terjadi. Kedua tokoh yang terlibat langsung terdorong mundur ke belakang. Perbedaan di antara mereka hanya sedikit, paling-paling cuma satu atau dua langkah saja.


'Hebat. Siapa sebenarnya pendekar muda bertopeng ini? Serangannya benar-benar cepat, hampir saja tubuhku menjadi samsak hidup,' batin Raja Telapak Hitam memuji kehebatan Zhang Fei.


Sebagai tokoh angkatan tua, rasanya dia sudah terlalu sering melewati berbagai macam pertempuran yang melibatkan banyak pendekar. Baik itu pendekar tua, maupun pendekar muda.


Namun rasanya, baru kali ini dia bertemu dengan pendekar muda yang memiliki kemampuan sehebat ini.


Pujian yang dilontarkan oleh batinnya itu bukan pujian kosong. Dia benar-benar memuji kehebatan Zhang Fei.


"Telapak Selaksa Cahaya!"


Wushh!!!


Zhang Fei menerjang ke depan. Laksana telapak tangan seolah-olah tersebar luas di setiap penjuru mata angin. Jurus itu sangat hebat, apalagi dia mendapatkannya dari sebuah kitab pusaka yang usianya sudah tua.


Raja Telapak Hitam tersentak untuk yang kesekian kali. Sekarang, dia tidak mau memandang rendah Zhang Fei. Sebelum anak muda itu tiba di depan wajah, buru-buru dirinya mengambil tindakan cepat.


"Telapak Bayangan Sesat!"


Wushh!!! Plakk!!! Plakk!!!


Adu jurus di antara mereka segera terjadi. Keduanya saling menyerang satu sama lain tanpa memikirkan apapun juga.


Pertarungan tersebut disaksikan oleh para biksu dari Kuil Seribu Dewa yang berdiri di pinggir arena. Pendekar Pedang Perpisahan dan Biksu Bian Ji Hung juga turut menyaksikannya.


Kedua orang tokoh itu menatap lekat-lekat ke arena pertarungan. Diam-diam, mereka memuji kecepatan dan kehebatan serangan yang diberikan oleh Zhang Fei.


Setiap kali dirinya melakukan gerakan, maka gerakan itu tidak akan pernah sia-sia.


"Usianya masih muda, tapi kemampuannya sudah setinggi ini. Hebat, hebat. Hal seperti ini sangat jarang terjadi dalam dunia persilatan," kata Biksu Hung tiba-tiba bergumam sendiri.


"Ya, kan benar Biksu Hung. Kekaisaran Song sangat beruntung bisa memiliki pendekar muda seperti Ketua Fei," sahut Pendekar Pedang Perpisahan.


Biksu Hung menoleh sekejap ke arahnya. Seolah-olah dia tidak menyangka bahwa gumaman barusan bisa didengar olehnya.


"Benar sekali," setelah bisa mengendalikan diri, akhirnya ia pun berkata kembali.


"Aku rasa, lebih baik kau diam dan menjadi penonton saja. Biar orang itu menjadi urusan aku dan Ketua Fei," ucap Pendekar Pedang Perpisahan melanjutkan bicaranya.


"Tapi ..."


"Usiamu sudah sangat tua. Walaupun ilmu yang kau miliki sangat banyak dan tak terukur, tapi jangan lupa, tenagamu sudah banyak berkurang. Kau tidak lagi segagah dulu,"


Perkataan Pendekar Pedang Perpisahan terdengar jelas di telinga Biksu Hung. Dan dia juga membenarkan ucapan tersebut.


Bahkan saat ini, ia pun merasa sangat lelah sekali. Pertarungan sebelumnya telah menguras semau tenaga yang ada di dalam tubuhnya.


"Baiklah. Aku mengerti," katanya kemudian.