
Perempuan di Kuil Seribu Dewa itu terus berlanjut. Saat ini mentari mulai berada di titik yang lebih tinggi lagi. Tidak lama kemudian, tengah hari pasti akan segera tiba.
Namun sampai kini, pertempuran masih belum juga berhenti. Semakin lama, justru malah semakin sengit lagi.
Korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak sudah bertambah banyak. Murid-murid Kuil Seribu Dewa terkapar di atas rumput. Darah segar membasahi tubuhnya.
Mereka tewas dengan berbagai macam luka. Ada yang tewas karena terkena tusukan golok, bacokan golok, sayatan pedang, bahkan ada pula yang tewas karena termakan jurus-jurus pamungkas milik lawan.
Ketika pertempuran sedang berlangsung sengit dan kondisi para murid Kuil Seribu Dewa mulai terpojok, pada saat itulah dari atas dahan pohon, tiba-tiba ada dua buah bayangan yang berkelebat dengan sangat cepat.
Kedua bayangan itu langsung menuju ke tengah medan pertempuran. Begitu sudah berada di sana, masing-masing dari mereka segera mencabut senjatanya.
Dua bayangan yang dimaksud tersebut bukan lain adalah Zhang Fei dan juga Pendekar Pedang Perpisahan!
"Tuan Wu, lakukan tugasmu dengan baik," kata Zhang Fei sebelum memulai lagi pertarungannya.
"Baik, Ketua Fei. Serahkan saja tikus-tikus ini kepadaku," jawabnya dengan nada hambar.
Wushh!!! Wutt!!!
Ia bergerak. Pedang pusaka di tangannya berkelebat memberikan tebasan ke setiap orang yang jaraknya sangat dekat. Dengan serangan yang begitu cepat itu, tentu saja mereka tidak mampu berbuat banyak.
Hanya satu atau dua kali tebasan saja, orang-orang yang dituju langsung terkapar di atas tanah.
Pendekar Pedang Perpisahan tidak berhenti sampai di situ saja. Dia terus bergerak mencari sasaran empuk. Sesekali, dia pun memberikan pertolongan kepada para murid yang membutuhkan.
Di satu sisi, Zhang Fei pun tidak terkecuali. Pedang Raja Dewa yang ia genggam langsung menunjukkan taringnya. Hawa pedang yang teramat pekat menyeruak ke tempat sekitar.
Setiap kali dia bergerak, setidaknya akan ada dua atau tiga orang orang yang menjadi korban keganasan dari pedang pusaka tersebut.
Mereka baru turun tangan, tapi situasi sudah mulai terkendali. Murid-murid Kuil Seribu Dewa yang tadi terdesak dan kehilangan posisi, sekarang mereka sudah mendapatkannya lagi.
Bantuan yang diberikan oleh Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan itu sangat berarti. Mereka ibarat hujan deras yang turun di tengah-tengah gurun pasir.
Kejadian itu disaksikan pula oleh para petinggi kuil. Dan mereka pun ikut senang karenanya.
"Aku yakin, kedua orang tokoh luar biasa itu mampu membawa kemenangan kepada Kuil Seribu Dewa," gumam Biksu Bian Ji Hung melirik sekilas ke arah mereka.
Sementara itu, pada saat Pendekar Pedang Perpisahan sedang menggempur habis-habisan pasukan musuh, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran dua orang tokoh sesat.
Mereka secara mendadak muncul di hadapannya dan menahan langkah kaki. Karena hal tersebut, terpaksa Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu pun menghentikan jurusnya.
"Tidak kusangka, sekarang kau telah menjadi pengkhianat satu aliran," kata salah satu dari mereka.
Orang yang berbicara mempunyai tubuh tinggi dengan kulit sawo matang. Sepasang matanya melotot besar dengan hidung bengkok seperti paruh burung.
Di tangan kanannya, ia sedang memegang rantai bola besi yang dipenuhi oleh duri.
"Siapa yang menjadi pengkhianat itu, Burung Besi?" tanyanya dengan nada dingin.
"Siapa lagi kalau bukan dirimu?" orang yang dipanggil si Burung Besi menarik muka sambil tersenyum sinis.
"Aku bukan pengkhianat,"
"Sudah jelas-jelas kau pengkhianat. Tapi masih berani mengelak juga? Hemm ... apakah seorang Datuk Dunia Persilatan sepertimu, memang tidak pernah mengakui kesalahannya?"
Orang yang satu lagi ikut bicara. Ia mengenakan pakaian abu-abu yang sedikit longgar. Rambut panjangnya diikat oleh kain sutera. Di tangan kanannya terdapat pedang pendek setengah depa dengan warna merah darah.
"Oh, rupanya si Pedang Darah pun ikut hadir dalam peristiwa ini?" Pendekar Pedang Perpisahan melirik ke arahnya sambil berkata hambar.
Dia tentu saja mengenal dua orang itu. Begitu juga dengan mereka sendiri.
"Jangan banyak bicara lagi. Aku paling benci terhadap pengkhianat sepertimu," kata si Pedang Darah dengan nada tinggi.
"Bagus. Memang itu yang aku harapkan," ucap Pendekar Pedang Perpisahan sambil menarik muka. "Tetapi ... aku justru lebih benci terhadap orang-orang yang rela menghancurkan tanah airnya sendiri,"
"Omong kosong macam apa ini?" bentak si Burung Besi.
"Bukankah dulu, kau juga bersedia untuk berjuang fan mewujudkan impian kita?" si Pedang Darah tidak bisa menahan diri. Dia pun berkata dengan nada tinggi.
"Itu dulu. Sekarang beda lagi. Saat ini ... aku justru ingin membabat habis manusia-manusia macam kalian,"
"Hemm ... sepertinya kau telah berubah,"
"Ya, aku memang telah berubah. Dan setiap manusia juga bisa berubah,"
Siapa pun orangnya, suatu saat nanti di pasti akan berubah. Berubah jati dirinya, berubah jalan hidupnya. Semuanya bisa berubah.
Entah itu berubah karena orang lain, karena hal lain, atau juga karena diri sendiri.
Jalan hidup manusia, memangnya siapa yang bisa mengetahuinya?
"Persetan dengan ucapanmu, setan tua!"
Wushh!!!
Si Burung Besi langsung memutarkan rantai bola besi yang dia genggam. Suara mendengung terdengar begitu jelas di telinga. Semakin lama, putaran rantai itu makin bertambah cepat lagi.
Ketika waktunya tiba, dia langsung menyerang Pendekar Pedang Perpisahan.
Wutt!!!
Bola besi yang dipenuhi oleh duri-duri tajam itu melesat cepat bagaikan anak panah. Dengan jarak yang begitu dekat, waktu untuk menghindar tentu sudah tidak ada lagi.
Trangg!!!
Pendekar Pedang Perpisahan tersenyum dingin. Pedang pusakanya berhasil menangkis serangan itu. Bola besi tadi seketika kembali lagi ke pemiliknya.
Sesaat kemudian, secara tiba-tiba si Pedang Darah pun beranjak dari tempatnya berdiri. Dia melancarkan tusukan beruntun secara mendadak.
Namun lagi-lagi, Pendekar Pedang Perpisahan mampu menahan serangan itu dengan mudah.
"Menyerahlah! Aku bukan lawan kalian. Kalian tidak akan sanggup mengalahkanku," katanya dengan nada dingin.
Walaupun mereka berdua adalah pendekar kelas satu yang sudah banyak pengalaman, tapi orang yang sedang dihadapi juga bukan manusia sembarangan.
Jadi, tentu saja Pendekar Pedang Perpisahan bukan lawan yang tepat baginya.
"Kami tidak takut! Terima ini!"
Wungg!!! Wutt!!!
Si Burung Besi kembali menurunkan serangan. Gerakannya begitu lincah dan cepat layaknya seekor burung. Rantai besi itu sebenarnya adalah senjata jarak jauh. Namun setelah berada di tangannya, senjata tersebut justru bisa digunakan sesuka hati.
Baik itu digunakan untuk menyerang dalam jarak jauh maupun dekat, semuanya sama saja. Sama-sama berbahaya, sama-sama mematikan.
Belum lagi selesai serangan itu, si Pedang Darah juga tidak tinggal diam. Dia segera turun tangan dan membantu rekannya.
Pedang setengah depa itu berkilat. Batang pedang berkilau memancarkan cahaya terang ketika terkena tempaan sinar matahari.
Dua macam jurus dan senjata berbeda datang secara bersamaan. Keduanya saling melengkapi satu sama lain.