Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kota Luoyang


Zhang Fei tersenyum dingin. Ia berjalan mendekat ke arah Hartawan Wang lalu mengelilinginya.


"Apa ... apa yang akan kau lakukan?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Aku hanya ingin nyawamu," ucap anak muda itu berusaha menakutinya.


"Jangan ... tolong jangan lakukan itu. Aku masih ingin hidup,"


Hartawan Wang semakin ketakutan. Ia berkata sambil berjalan mundur ke belakang. Wajahnya sudah pucat pasi. Keringat dingin membasahi seluruh pakaiannya.


"Anak Fei, jangan membuang waktu. Masih banyak urusan yang harus kita selesaikan," kata Pek Ma memperingatkan muridnya.


"Baiklah, guru. Aku mengerti,"


Zhang Fei menganggukkan kepala. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung bergerak dengan cepat melancarkan sebuah serangan.


Pedang Raja Dewa tahu-tahu telah bersarang di tenggorokan Hartawan Wang.


Kecepatan anak muda itu sulit dilihat mata. Hartawan Wang sendiri tidak sempat menghindar, apalagi menangkis serangan itu.


Dia hanya bisa melotot besar ke arah Zhang Fei. Dari mulutnya terlihat ada darah segar yang meleleh keluar.


Begitu pedang pusaka itu dicabut, dia langsung ambruk ke atas rumput.


"Guru, sebelum pergi dari sini, aku ingin menjarah dulu harta benda Hartawan Wang," kata Zhang Fei kemudian.


"Tidak bisa,"


"Kenapa tidak bisa?"


"Di sekitar sini masih ada orang yang hidup. Masih terdapat cukup banyak orang-orangnya. Lagi pula, akan ada manusia lain yang datang kemari," ucap Pek Ma menjelaskan.


Zhang Fei berpikir sebentar. Mencoba untuk mencerna ucapan gurunya tersebut.


"Jadi maksud guru, apa yang sudah terjadi di sini, sudah diketahui oleh orang luar?" tanyanya setelah dia mengerti maksud si Telapak Tangan Kematian.


"Benar sekali. Maka dari itu kita harus pergi sekarang juga,"


"Baiklah. Aku mengerti. Mari,"


Guru dan murid itu kemudian melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Baru sekejap saja, keduanya sudah menghilang di balik kegelapan malam.


Mereka meninggalkan puluhan orang yang mengalami luka parah. Belum lagi beberapa orang yang tewas bersimbah darah.


"Guru, sebelum kita pergi, aku ingin singgah dulu di Perguruan Teratai Putih," kata Zhang Fei di tengah-tengah perjalanan.


"Baiklah. Asal jangan terlalu lama,"


"Tidak. Aku hanya ingin memberitahu kepada Nyonya Lien Hua dan yang lain bahwa aku masih hidup,"


Zhang Fei tahu betul, orang tua itu pasti mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Begitu juga dengan tiga sahabat beliau.


Karena alasan tersebut maka dia harus kembali ke sana. Meskipun itu hanya sekedar memberitahu bahwa ia baik-baik saja.


Mereka kemudian mempercepat langkah kakinya. Zhang Fei dan Pek Ma tiba di Perguruan Teratai Putih ketika kentongan kedua dibunyikan di kejauhan sana.


Kedua orang itu tidak masuk lewat pintu depan. Mereka justru masuk lewat pintu belakang yang menghubungkan langsung dengan ruangan tempat di mana Zhang Fei berkumpul.


Wushh!!!


Segulung angin berhembus. Dedaunan berterbangan karena hembusan angin tersebut.


"Siapa di sana?"


Suara Lien Hua langsung terdengar keras.


Ternyata dugaan Zhang Fei sebelumnya benar. Orang tua itu sedang duduk di ruang belakang dan menunggu kedatangannya.


"Ini aku, Zhang Fei," jawabnya sambil melangkah.


Ia terus berjalan mendekat ke ruang belakang. Sedangkan Pek Ma memilih untuk menunggu di balik gelapnya malam.


"Tuan Muda Zhang?" tanyanya seakan tidak percaya bahwa anak muda yang muncul dibalik kegelapan malam itu adalah dirinya.


"Benar, ini aku," katanya mengiyakan.


"Kau ... kau masih hidup?" tanya Mo Bian yang juga ada di sana bersama dua orang rekannya.


Zhang Fei tertawa. Dia tampak baik-baik saja. Seolah-olah dirinya tidak pernah mengalami kejadian apapun juga.


"Aih, syukurlah. Aku merasa senang," ucap Tung Pek yang juga ikut bicara.


Zhang Fei hanya tersenyum. Setelah diam beberapa saat, dia kembali bicara.


"Nyonya Lien dan semuanya, aku izin pamit undur diri,"


"Kau mau pergi ke mana?" tanya Duan Dao dengan cepat.


"Aku ada urusan yang harus segera diselesaikan. Karenanya aku tidak bisa berlama-lama lagi,"


"Aih, baiklah kalau begitu. Semoga suatu saat nanti kita bisa berjumpa kembali,"


"Itu sudah pasti," Zhang Fei tersenyum hangat. "Oh iya, Nyonya Lien, tolong sampaikan salamku kepada Yu Yuan. Bilang kepadanya, aku menunggu dia di dunia persilatan,"


"Baik, aku akan menyampaikannya nanti," tukas Lien Hua.


"Terimakasih. Kalau begitu, sampai jumlah lagi,"


Zhang Fei membungkuk memberikan hormat kepada empat orang tua di hadapannya. Setelah selesai, dia langsung melompat ke tempat yang gelap.


Tempat di mana ada Pek Ma yang sudah menunggu dirinya.


"Benar-benar pemuda yang luar biasa," ujar Lien Hua memuji setelah Zhang Fei pergi.


"Suatu saat nanti, aku yakin dia akan menjadi pendekar nomor satu," kata Mo Bian sambil memandang ke arah menghilangnya Zhang Fei.


Tiga rekannya mengangguk setuju. Mereka tidak ada yang menolak atau keberatan atas ucapan barusan. Sebab orang-orang itu juga mempunyai pikiran yang sama seperti dirinya.


Sementara itu di tempat lain, Zhang Fei dan Pek Ma masih berada di tengah-tengah perjalanan. Selama itu, di antara mereka tidak ada yang bicara.


Mereka terus berkelebat di bawah gelapnya malam.


Guru dan murid tersebut baru berhenti berlari setelah mentari pagi menyapa muka bumi.


Sekarang, ternyata mereka sudah ada di sebuah kota yang cukup besar. Keadaan di sana ramai. Walaupun masih pagi, tapi sudah ada banyak orang-orang yang berlalu-lalang di jalan.


"Guru, kota apa ini?" tanya Zhang Fei kebingungan.


"Ini adalah Kota Luoyang," jawab Pek Ma sambil terus berjalan di tengah kerumunan orang.


"Kenapa kita harus ke sini?" tanyanya lebih jauh.


"Karena di sini akan terjadi banjir darah,"


"Apa maksud guru?"


"Kau tidak mengerti guru bicara apa?"


"Aku mengerti. Tapi ..."


"Kita bicara soal ini nanti saja,"


Pek Ma memilih menyudahi obrolan di antara keduanya.


Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu. Apalagi sekarang dirinya sedang berada di sebuah jalan raya. Di mana di sana ada banyak orang yang mungkin bisa mendengar pembicaraan mereka.


Zhang Fei tidak berkata lagi. Dia pun cukup mengerti kenapa gurunya berkata demikian.


"Mari kita pergi ke sana," ajak Pek Ma kepada muridnya.


Orang tua itu ternyata mengajak Zhang Fei ke sebuah warung makan yang berada di pojok. Lebih tepatnya di dalam sebuah gang kecil.


Dia sengaja mengajak ke warung makan tersebut. Sebab menurutnya, warung makan itu terbilang aman. Baik untuk bicara, maupun untuk mengintai.


"Pesan apa, Tuan?" tanya seorang tua begitu keduanya riba di sana.


"Pesan nasi sayur dan teh hangat," jawab Pek Ma.


"Baiklah. Silahkan tunggu sebentar,"


Pek Ma mengangguk. Ia lalu mengajak Zhang Fei untuk duduk di kursi paling pojok dan belakang.


Waktu mereka masuk, ternyata di dalam warung makan sudah lebih dulu ada pengunjung lain. Jumlahnya sekitar tiga orang. Sepertinya mereka merupakan sahabat dekat. Hal itu terbukti karena ketiganya makan di satu meja yang sama.