Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertama Kali Memasuki Istana Kekaisaran


Kini, tiga tokoh dunia persilatan itu sudah tiba di Istana Kekaisaran. Bahkan saat ini, mereka pun sudah berada di dalam ruang pertemuan yang besar dan megah itu.


Di sana belum ada siapa-siapa kecuali mereka. Ketiganya masih menunggu kedatangan Kaisar Song Kwi Bun. Menurut pelayan yang melaporkan, saat ini Kaisar masih mengurus suatu persoalan. Sebentar lagi, dia pasti akan segera datang.


Zhang Fei, Yao Mei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah duduk di kursi yang disediakan. Di atas meja itu ada banyak hidangan. Arak keras sudah tentu tidak terlewatkan.


Selama menunggu kedatangan Kaisar, setidaknya mereka bertiga sudah menghabiskan sekitar satu guci arak.


Khusus untuk Yao Mei, sejak pertama kali masuk ke wilayah Istana Kekaisaran, gadis cantik itu sudah beberapa kali dibuat terpesona.


Ini adalah pertama kalinya dia ke Istana Kekaisaran. Jadi wajar ketika memasukinya, Yao Mei benar-benar dibuat kagum dengan keindahan dan kemegahan yang disuguhkan.


"Ruangan ini benar-benar megah," katanya berseru girang. "Lukisan-lukisan di dinding itu juga pasti bernilai tinggi,"


Yao Mei terus memandangi berbagai macam lukisan yang dipasang di dinding ruangan. Ia benar-benar takjub, sebab semua lukisan tersebut tampak hidup dan sangat nyata.


Seumur hidup, rasanya baru kali ini saja dia melihat lukisan yang begitu sempurna.


"Setiap lukisan ini adalah hasil karya seniman dan pelukis ternama, Nona Mei. Selain itu, usianya juga sudah sangat lama. Mungkin bisa mencapai belasan, atau bahkan puluhan tahun sekali pun," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan memberitahukan kepadanya.


Gadis cantik itu tersenyum sambil mengangguk. Setelah mendengar penjelasan dari Dewa Arak Tanpa Bayangan, sepasang matanya tiba-tiba bersinar terang. Layaknya bintang timur di saat malam hari.


"Wah, pantas saja. Aku benar-benar bangga bisa melihat hasil karya luar biasa ini secara langsung,"


"Ternyata kau tidak jauh berbeda denganku, Nona Mei," kata Zhang Fei sambil tersenyum kepadanya.


"Memangnya kenapa?" tanya gadis itu seraya menoleh.


"Dulu waktu pertama kali masuk ke sini, aku pun persis seperti dirimu," Zhang Fei kembali tersenyum. Melihat sikap Yao Mei, ia benar-benar teringat akan dirinya sendiri.


Memang, dulu pun ia seperti itu. Malah mungkin lebih daripada itu.


Tapi sekarang, tentunya sudah tidak lagi. Zhang Fei malah terlihat biasa saja. Karena kalau memang dia menginginkan lukisan-lukisan semacam itu, tinggal bicara dan memberi perintah, dia pasti akan mendapatkannya.


"Memang benar, semua yang ada di Istana Kekaisaran ini akan membuat siapa pun kagum. Jadi tidak heran kalau Nona Mei bersikap seperti itu,"


Yao Mei tiba-tiba tertawa. Setelah merasa puas, dia berkata lagi, "Ternyata seorang Ketua Dunia Persilatan pun suka bertingkah konyol,"


"Hahaha ... Ketua Dunia Persilatan juga manusia. Ada kalanya, aku memang terlihat seperti orang bodoh,"


Ruang pertemuan segera dipenuhi oleh suara tawa. Dalam pada itu, mereka pun kembali menyantap hidangan dan bersulang arak.


"Bersiaplah! Sebentar lagi Kaisar akan datang," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan ditengah-tengah candaan mereka.


Zhang Fei dan Yao Mei seketika langsung berhenti bercanda. Keduanya segera bersikap serius.


Tepat setelah hal itu, tiba-tiba pintu pun terbuka. Disusul kemudian dengan munculnya satu sosok pria berjubah mewah. Jubah itu tampak istimewa, sebab di sana ada pula sulaman benang emas.


Pria berubah yang dimaksud tersebut bukan lain adalah Kaisar Song Kwi Bun! Orang nomor satu di Kekaisaran Song ini!


Di belakang Kaisar, ada lagi dua orang pria yang usianya kira-kira sudah mencapai tujuh puluhan tahun. Kedua pria tua itu mengenakan jubah putih. Mereka pun terlihat berwibawa.


Selain ketiganya, ada lagi dua orang pria tinggi tegap yang mengenakan pakaian serba merah. Dua orang itu memasang wajah dingin. Tatapan matanya setajam pedang, dan dari tubuhnya keluar hawa pembunuh yang begitu pekat.


"Selamat berjumpa kembali, Kaisar. Semoga Kaisar panjang umur," Zhang Fei segera membungkukkan badan dan memberikan hormat. Dua orang di sisinya langsung melakukan hal yang sama.


Zhang Fei mengangguk. Mereka pun segera duduk di kursinya masing-masing.


Sebelum memulai obrolan yang lebih serius, seperti biasa, mereka bersulang arak untuk beberapa saat. Hal ini bertujuan supaya keadaan di sana menjadi tidak canggung.


Selain itu, bersulang arak pun seolah-olah telah menjadi tradisi yang sudah turun-temurun. Sehingga sangat sulit untuk dihilangkan.


"Kaisar, maaf kalau kami tidak menuruti perintah yang tertulis di dalam surat itu," ucap Zhang Fei tiba-tiba berbicara.


"Eh, kenapa, Ketua Fei?" Kaisar terlihat bingung. Dia bertanya sambil memandang Zhang Fei dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Begini, dalam surat itu, Kaisar meminta supaya kami datang berdua," Zhang Fei melanjutkan ceritanya, dia melirik sekilas ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Namun pada kenyataannya, kami kalah datang bertiga. Atas hal ini, aku benar-benar minta maaf,"


Selesai berkata seperti itu, Zhang Fei langsung bangkit berdiri dan membungkukkan badan. Ia benar-benar merasa bersalah.


Kalau memang dirinya harus dihukum, maka dia sudah sangat siap.


Namun ternyata, tanggapan yang diberikan oleh Kaisar malah diluar dugaan Zhang Fei. Kaisar Song Kwi Bun tidak marah. Ia bahkan segera tersenyum lembut.


"Ketua Fei, sudahlah. Kau tidak perlu berlebihan seperti ini. Lagi pula, ini bukan persoalan besar," ujar Kaisar seraya menyuruh supaya Zhang Fei kembali duduk di kursinya.


Setelah Ketua Dunia Persilatan kembali ke posisi semula, Kaisar segera melanjutkan lagi. "Kalau boleh tahu, siapa Nona ini?"


"Nona ini bernama Yao Mei. Ia adalah putri tunggal dari Tuan Yao Shi," jawab Zhang Fei sambil memperkenalkan Yao Mei.


Gadis cantik itu tersenyum ke arah Kaisar. Dia mengangguk sebagai isyarat membenarkan perkataan Zhang Fei.


"Oh, jadi dia adalah putri dari si Cakar Maut?"


"Benar, Kaisar,"


Kaisar Song Kwi Bun menganggukkan kepala beberapa kali. Diam-diam dirinya juga memperhatikan Yao Mei mulai dari atas sampai bawah.


Walaupun ada beberapa hal yang membuatnya penasaran, tapi Kaisar memilih untuk tidak mengutarakannya.


Dia lebih percaya kepada Zhang Fei. Ia yakin, Ketua Dunia Persilatan tidak akan sembarangan membawa orang kalau belum dikenal betul olehnya.


"Oh, baiklah. Selamat datang di Istana Kekaisaran, Nona Mei. Maaf atas kejadian ini," kata Kaisar kepadanya.


Yao Mei langsung gelagapan. Dia bingung harus menjawab apa.


Sungguh, dirinya tidak menyangka bahwa Kaisar Song Kwi Bun ternyata mempunyai budi pekerti sebaik ini. Padahal biasanya, dia yang menduduki jabatan tinggi itu suka bersikap angkuh dan sering memandang rendah orang lain.


Tapi ternyata, Kaisar Song Kwi Bun tidak seperti itu. Dia benar-benar berbeda daripada yang lain.


"Ah, terimakasih, Kaisar. Maaf juga kalau kehadiranku ini mengganggu. Aku rasa ... lebih baik aku keluar saja," jawab Yao Mei sebelah dia berhasil menguasai diri.


"Tidak perlu, Nona Mei. Kau tetaplah di sini. Lagi pula, masalah yang akan dibicarakan juga masih menyangkut kita semua,"


"Oh, baiklah, Kaisar. Terimakasih,"


Kaisar menjawabnya dengan senyuman. Untuk mencairkan suasana di dalam ruangan, mereka pun kembali bersulang arak.