Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Berkumpulnya Para Kaisar I


Kaisar Song Kwi Bun tidak langsung menggelar acara utama. Dia sengaja membiarkan para tamu istimewa tersebut untuk beristirahat selama tiga hari.


Maklum, perjalanan ke Kekaisaran Song itu bukan waktu yang sebentar. Setidaknya, masing-masing dari mereka harus membutuhkan waktu paling sedikit tujuh hari agar bisa tiba di sana.


Maka dari itulah Kaisar menyuruhnya untuk istirahat.


Selama para Kaisar berkumpul di sana, maka selama itu pula penjagaan diperketat dari segala lini. Setiap saat, selalu ada saja prajurit yang bertugas untuk menjaga keamanan.


Walaupun kemungkinan terjadinya kekacauan sangat kecil, namun pihak Kekaisaran Song tetap melakukan penjagaan.


Dalam situasi seperti saat ini, yang kecil pun bisa menjadi besar.


Tepat pada hari keempat, Kaisar Song Kwi Bun segera melangsungkan acara pertemuannya dengan tiga Kaisar.


Saat itu hari masih pagi. Mentari pun baru muncul sebagian, tetapi keadaan di dalam Istana Kekaisaran sudah sangat ramai.


Semua orang yang ada di sana telah bangun dari tidur dan segera melaksanakan tugasnya masing-masing.


Di sebuah ruang pertemuan yang besar dan megah, saat ini di sana telah berkumpul empat orang paling berkuasa di negerinya tersendiri.


Masing-masing dari para Kaisar tersebut dijaga ketat oleh pengawal pribadinya. Orang yang bertugas menjadi pengawal itu pun bukan manusia biasa.


Mereka adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang telah mempunyai kemampuan sangat tinggi. Masing-masing juga telah melewati gemblengan keras. Baik dalam hal ilmu silat, maupun dalam hal lainnya.


Maka dari itu, tidak heran kalau suasana di dalam ruangan terasa begitu pengap. Tetapi bukan pengap karena tidak ada ruang udara. Melainkan pengap karena benturan hawa murni dan tenaga sakti yang berasal dari para pengawal tersebut.


Setelah melakukan perjamuan beberapa waktu, akhirnya acara itu pun dibuka secara resmi.


Seorang pria tua tiba-tiba muncul dari sudut ruangan. Ia berhenti dan berdiri di hadapan empat Kaisar. Tidak lupa juga, pria tua itu memberikan hormatnya dengan tulus.


"Selamat datang di negeri kami, para Kaisar. Semoga Kaisar semua diberi panjang umur dan selalu dilindungi oleh para Dewa," kata seorang penasihat Istana Kekaisaran mengawali pembicaraan.


Tiga orang Kaisar itu mengangguk sambil tersenyum. Mereka masih menutup mulut dan menunggu penasihat itu berbicara lebih lanjut.


"Pertama-tama, hamba mewakili Kekaisaran Song ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karena para Kaisar telah sudi jauh-jauh datang kemari. Sebelumnya, kami benar-benar meminta maaf kalau telah membuat Kaisar repot,"


Penasihat yang usianya sudah tua itu kembali membungkukkan badan. Satu tarikan nafas berikutnya, dia kembali berbicara.


"Supaya tidak membuang waktu dengan percuma, maka marilah kita mulai saja acara pertemuan ini. Untuk selanjutnya, aku persilahkan Kaisar membuka pembahasan," ucapnya sambil menoleh ke arah Kaisar Song Kwi Bun.


Selesai berkata demikian, penasihat tua tersebut segera kembali ke tempatnya semula.


Ia menarik nafas panjang. Setelah itu baru melanjutkan, "Seperti yang telah aku katakan di dalam surat sebelumnya, aku sengaja mengundang kalian kemari karena ingin melakukan pembicaraan lebih lanjut. Khususnya tentang dunia politik dan dunia persilatan di masing-masing negeri yang kita perintah,"


"Menurutku, peperangan ini tidak akan pernah selesai. Sampai kapan pun, perang akan terus berlangsung. Semakin lama perang itu berlangsung, maka akan semakin banyak pula korban jiwa yang tercipta,"


Kaisar Song Kwi Bun berhenti sebentar. Dia menatap tiga Kaisar di depannya secara bergantian.


"Memangnya kenapa kalau peperangan terus berlangsung? Apakah ada yang salah? Menurutku, perang itu adalah sesuatu yang wajar. Lagi pula, apa yang dilakukan tersebut adalah demi kepentingan negeri kita sendiri," Kaisar Zhou Li Ming menjawab dengan nada hambar.


Dari penyataan itu, siapa pun pasti tahu bahwa ia tidak setuju atau kurang suka dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Kaisar Song Kwi Bun.


"Benar apa kata Kaisar Zhou," sambung Kaisar Jin dengan cepat. Sembari berkata, dia pun sempat menoleh ke arahnya. "Aku setuju dengan ucapannya. Sejak dahulu kala, yang namanya perang itu sudah menjadi hal biasa. Negara mana pun, pasti pernah berperang. Entah itu perang melawan musuh-musuh dari negeri lain, ataupun perang melawan orang sendiri,"


"Jadi, apa yang menjadi masalahnya? Kalau memang tidak ingin berperang, tinggal memberi pernyataan menyerah secara terbuka saja. Selesai, apa susahnya?" Kaisar Jin berkata dengan nada sinis. Sementara Kaisar Zhou segera menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


Baru saja acara itu dimulai, suasana di dalam ruang pertemuan tersebut sudah terasa menegangkan sekali. Masing-masing pengawal dari empat Kaisar, secara diam-diam telah menyalurkan hawa murni dan tenaga sakti lebih besar dari sebelumnya.


Mungkin mereka sengaja melakukan hal tersebut dengan tujuan menekan mental lawannya. Sayang sekali, kemampuan dari para pengawal itu ternyata hampir seimbang. Sehingga sangat sulit mencari tahu siapakah yang telah 'kalah'.


Semua yang ada di dalam ruang pertemuan sama-sama diam. Mereka menutup mulutnya masing-masing.


Keadaan seperti itu berlangsung cukup lama. Hingga pada akhirnya terdengar Kaisar Qin menghembuskan nafas panjang.


"Mungkin maksud Kaisar Song bukan seperti itu," ucapnya dengan tenang dan santai. Ia memandangi Kaisar Zhou dan Kaisar Jin, setelah dipastikan bahwa dua orang itu mendengarkan, Kaisar Qin kembali melanjutkan bicaranya.


"Coba kalian pikir, peperangan besar yang berlangsung saat ini, itu semua tak lebih merupakan ambisi yang keluar dari dalam diri kita sendiri. Selaku pemangku kekuasaan, siapa pun pasti ingin mendapat wilayah kekuasaan yang sangat luas. Bahkan kalau bisa, kita mungkin ingin menjadi penguasa di seluruh muka bumi,"


"Bagiku hal ini tidak salah. Karena salah satu sifat dasar manusia adalah selalu berambisi. Tapi coba pikirkan di lain sisi, dibalik ambisi kita ini, dibalik peperangan yang tak kunjung selesai ini, ada berapa banyak prajurit yang tewas di medan perang? Ada berapa banyak keluarga yang hidupnya terlantar setelah kehilangan kepala keluarganya? Ada berapa banyak pula rakyat yang harus menderita karena ambisi kita?"


Kaisar Qin kembali memandangi para Kaisar di sisinya. Saat itu, dia melihat ekspresi dari Kaisar Zhou dan Kaisar Jin seperti tidak menghiraukannya.


Namun dia tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah menarik nafas, Kaisar Qin segera bicara lagi.


"Kita hidup di atas. Selaku penguasa, mungkin kita tidak akan pernah merasakan penderitaan atau kepedihan-kepedihan itu. Tapi bagaimana dengan mereka yang hidupnya di bawah? Bukankah hidup mereka akan sangat menderita?"


Kaisar Qin langsung menutup mulut. Saat itu, sebenarnya dia masih ingin bicara panjang lebar. Tetapi dirinya memutuskan untuk diam.


Ia takut nantinya akan dikendalikan oleh hawa nafsu sehingga menciptakan hal-hal yang tidak diinginkan.


Sementara itu, beberapa waktu berikutnya, terdengar Kaisar Jin kembali bicara. "Yang kita lakukan ini, semuanya demi tanah air dan demi orang-orang itu sendiri. Aku rasa, mereka pun akan setuju," katanya penuh keyakinan tinggi.