Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tidak Berani Bicara


Pada saat seperti itu, terselip nada sendu dalam ucapannya. Sorot matanya kembali sayu, begitu juga wajahnya yang mendadak layu. Ibarat setangkai bunga yang kekeringan air.


Zhang Fei dapat melihat hal tersebut. Karena itulah dia segera berkata lebih lanjut.


"Kakek tenang saja, sekarang sudah ada aku. Aku siap menggantikan peranmu, maupun peran Ayah. Aku siap membasmi kejahatan di dunia persilatan kita," ujarnya penuh semangat.


Zhang Liong tersenyum. Ia kemudian bicara. "Memang harus seperti itu, anak Fei. Sejak dulu, apabila ada seorang pendekar hebat yang mati, pasti di masa depan nanti, akan lahir kembali pendekar-pendekar yang bahkan lebih hebat dari pendahulunya,"


"Ehmm, aku mengerti, Kek,"


Kakek dan cucunya itu terus bercerita. Hingga tanpa terasa, waktu sudah semakin larut malam. Monyet putih dan harimau telah tertidur dengan lelap di dekat api unggun.


"Sudah saatnya bagimu untuk tidur. Besok kau harus bangun pagi dan melaksanakan latihan awal," ujar Zhang Liong.


"Baik, Kek. Kalau begitu, aku akan tidur lebih dulu,"


Zhang Fei bangkit berdiri. Ia kemudian beranjak pergi dari sana. Dia masuk ke dalam gubuk, dan segera tidur di pembaringan yang sudah disediakan sebelumnya.


"Anak hebat. Langit pasti akan melindungimu," Zhang Liong bergumam sendiri sambil tersenyum.


Tidak lama setelah itu, dia pun langsung tertidur kembali.


###


Fajar telah menyingsing. Udara di tengah-tengah gunung, setiap paginya selalu sama. Selalu dingin. Dingin yang menusuk tulang.


Tapi, Zhang Liong sudah terbiasa menghadapi keadaan semacam ini. Apalagi dia sudah tinggal puluhan tahun di tempat itu.


Baginya, rasa dingin bukan suatu hal aneh. Malah rasa dingin itu ia jadikan sahabat yang selalu menemaninya di pagi hari.


Saat ini, ia sedang duduk di atas batu besar. Di sampingnya ada seguci arak yang baru saja dibuka.


Persis di tengah-tengah halaman, ada Zhang Fei yang sedang melakukan latihan pagi. Dia sedang memperagakan silat tangan kosong yang sudah dikuasainya.


"Coba mainkan pedangmu," ujar Zhang Liong berseru.


Zhang Fei yang mendengar ucapan itu, segera mengubah gerakannya. Dia langsung mencabut Pedang Raja Dewa yang tersimpan di punggungnya.


Sesaat kemudian, anak muda tersebut segera berlatih ilmu pedang yang selama ini dipelajari.


Gerakannya masih lincah gemulai. Tebasan maupun tusukan pedangnya sudah cukup tepat. Gerakan tubuh dan kakinya bisa dibilang bagus. Tapi sayangnya, Zhang Liong masih melihat ada banyak kekurangan di dalam setiap gerakannya.


Namun walaupun demikian, dia tidak berusaha menghentikan gerakan Zhang Fei. Orang tua itu terus memperhatikan cucunya bermain pedang.


Ia baru menghentikan latihan Zhang Fei setelah mentari sudah berada di posisi cukup tinggi.


"Cukup, anak Fei," katanya sambil memberikan isyarat dengan tangan. "Kemarilah,"


Mendengar seruan kakeknya, Zhang Fei segera menghentikan gerakannya. Dia langsung berjalan menghampiri.


"Semua gerakan yang kau lakukan tadi, masih jauh dari kata sempurna. Bagi orang lain, mungkin memang sudah cukup sempurna. Tapi bagiku belum,"


Dia berhenti sejenak, mengawasi Zhang Fei yang saat ini sedang menundukkan kepala.


"Jurus tangan kosogmu sudah lumayan baik. Tinggal menambah tenaga dalam dan tenaga sakti dalam setiap pukulannya, maka hasil yang didapat akan memuaskan. Tapi untuk ilmu pedangmu itu ..."


"Kenapa dengan ilmu pedangku, Kek?" tanyanya tidak sabar.


"Ilmu pedangmu masih tidak karuan,"


"Tapi selama ini, aku telah mengalahkan cukup banyak musuh," katanya seolah-olah tidak terima dengan kritik yang diberikan oleh Zhang Liong.


"Aku tahu," orang tua tersebut menganggukkan kepalanya. "Tapi, apakah kau juga tahu bahwa dunia ini sangatlah luas?"


"Ya, aku tahu,"


Zhang Fei langsung menundukkan kepalanya rendah-rendah. Dia sama sekali tidak berani mengangkat muka. Apalagi memandang wajah kakeknya tersebut.


Apa yang diucapkan kakeknya barusan, sangat telak menusuk ulu hatinya. Sehingga dia tidak bisa lagi berkata apa-apa.


"Kalau kemampuanmu hanya seperti ini, mungkinkah kau akan menjelma menjadi seorang Dewa Pedang?"


"Tidak mungkin, Kek," katanya mengakui.


"Kalau begitu, bagaimana caranya supaya menjadi seorang Dewa Pedang?"


"Dengan berlatih setiap hari,"


Tiba-tiba Zhang Liong tertawa lantang. Lantang sekali. Setelah dia puas tertawa, ia baru berkata lagi.


"Berlatih itu hanya salah satu cara, bukan satu-satunya cara untuk menjadi Dewa Pedang,"


Anak muda itu tidak berani bicara kembali. Apalagi sekarang, dia mulai tidak mengerti dengan ucapan kakeknya.


"Kau tahu, bahwa semua orang juga bisa berlatih. Berlatih apapun, semua orang pasti bisa melakukannya. Tapi kau juga harus ingat, bahwa tidak semua dari orang-orang yang rajin berlatih itu, akan mencapai hasil yang memuaskan. Tidak semua dari mereka akan meraih keberhasilan dari latihannya tersebut. Kau tahu itu?"


"Aku tahu, Kek,"


"Bagus. Aku tahu kau adalah anak yang cerdas. Kalau begitu, sekali lagi aku tanya, bagaimana caranya supaya menjadi Dewa Pedang?" tanyanya mengulang kembali.


"Aku tidak tahu,"


"Tidak tahu?" orang tua itu sedikit membentaknya.


Bahkan secara tiba-tiba, dia melepaskan hawa pembunuh yang cukup pekat. Sehingga Zhang Fei merasa tertekan karenanya.


"Kalau aku beritahu, apakah kau siap?"


"Aku sangat siap, Kek,"


"Bahkan walaupun harus mengorbankan nyawamu sendiri?"


"Ya, aku siap untuk mengorbankan segalanya,"


"Bagus. Mulai sekarang, aku akan melatihmu,"


Zhang Liong kemudian bangkit berdiri. Dia langsung menyuruh Zhang Fei untuk melakukan latihan dasar kembali. Seperti bersemedi, mengatur nafas dan lain sebagainya.


Selama proses latihan itu, Zhang Fei tidak pernah melawan ataupun membantah setiap perintah kakeknya.


Ia bersikap sama seperti dahulu ketika berguru kepada Lima Malaikat Putih.


Apapun yang dikatakan oleh gurunya, dia pasti akan menurutinya. Bahkan kalau disuruh melompat dari tebing tertinggi pun, tak mungkin ia bakal menolaknya.


Hari demi hari telah berlalu. Bulan kembali berganti. Tanpa terasa, satu tahun sudah terlewati.


Selama itu, dia terus ditempa tanpa kenal lelah oleh kakeknya. Siang dan malam, tiada waktu baginya untuk istirahat banyak.


Kadang kala, Zhang Fei mengeluh dengan kondisinya saat ini. Sebab latihan yang diberikan oleh kakeknya, ternyata jauh lebih berat dari apa yang diberikan Lima Malaikat Putih dahulu kala.


Tetapi, demi mewujudkan impiannya menjadi seorang Dewa Pedang, dia tidak pernah patah semangat. Apapun yang diberikan oleh kakeknya, ia yakin bahwa semua itu, adalah demi kebaikannya sendiri.


Zhang Fei percaya penuh, perjuangan kerasnya ini pasti akan membuahkan hasil. Hasil yang memuaskan, sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Buktinya saja, sekarang dia sudah bisa memperagakan semua gerakan yang tertera dalam Kitab Pedang Dewa, mulai dari jurus pertama, bahkan sampai jurus terakhir.


Selain daripada itu, dia pun dapat merasakan bahwa kemampuannya telah meningkat pesat. Sangat berbeda jauh dari tahun sebelumnya.