
Malah yang membelalakkan mata bukan cuma sekelompok orang yang satu meja dengan Zhang Fei saja. Sekelompok orang yang ada di sisinya juga memperlihatkan ekspresi yang serupa.
Sontak saja suasana di restoran itu menjadi gempar. Terutama sekali mereka yang mengerti tentang benda pusaka.
"Adik kecil, dari mana kau mendapatkan pedang ini?" tanya salah seorang kepada Zhang Fei sambil memandang ke arahnya.
"Pedang ini pemberian guruku, Kakak,"
"Wah, kau benar-benar beruntung,"
Orang-orang itu seolah senang karena melihat Zhang Fei seakan tidak mengerti dengan maksud dan tujuan yang sebenarnya.
"Adik kecil, bagaiamana kalau aku pinjam saja pedangmu ini? Tidak lama, paling cuma satu hari saja. Sebagai gantinya, aku akan memberikan satu kantung keping emas kepadamu,"
Orang yang diduga pemimpin dari mereka langsung berkata ke intinya. Ia menatap wajah Zhang Fei tanpa berkedip. Seakan-akan sedang menakuti anak muda tersebut.
"Adik kecil, percayalah, kami bukan orang-orang jahat. Kami tahu ini barangmu, sudah tentu kami pun akan mengembalikannya lagi ketika sudah selesai," lanjut si pemimpin membujuk Zhang Fei.
"Ah, kalau begitu, tidak mengapa, Kakak. Aku percaya kepadamu, lagi pula aku memang sedang butuh uang," ujarnya dengan wajah polos.
"Wah, kalau begitu kebetulan sekali. Baiklah, ambil saja uang ini, ambil,"
Pemimpin itu segera memberikan satu kantung keping emas kepada Zhang Fei. Setelahnya dia pun segera mengambil Pedang Raja Dewa.
Bersamaan dengan hal tersebut, orang-orang persilatan yang ada di meja sebelahnya juga terus memandang ke arah mereka.
Tidak perlu ditanyakan lagi, Zhang Fei pun sudah mengetahui bahwa mereka juga mempunyai hasrat yang sama.
Mereka pun ingin merebut Pedang Raja Dewa!
Sebenarnya Zhang Fei memang sengaja mengambil langkah ini. Dia ingin melayani sandiwara yang dibuat oleh mereka. Walaupun belum tahu latar belakangnya secara pasti, tapi pemuda itu tahu bahwa orang-orang tersebut tentunya bukan manusia baik-baik.
Kalau bukan pendekar jahat, minimal mereka adalah perampok yang suka merampas hak orang lain secara paksa!
Sementara itu, dari depan sana tampak si pelayan tadi sedang berjalan ke arahnya. Dia juga membawa arak dan menu makanan yang sebelumnya dipesan.
Begitu makanan sudah ada di atas meja, tanpa berlama-lama lagi, Zhan Fei langsung menyantapnya dengan lahap.
Setelah ia selesai makan, ia segera membayar biayanya. Kemudian, sekelompok orang tadi juga bangkit berdiri dan segera pergi dari sana.
"Adik kecil, besok sore kita bertemu lagi di sini. Aku pasti akan mengembalikan pedangmu ini," kata si pemimpin lagi.
"Baik, Kakak. Aku mengerti,"
"Bagus. Kalau begitu sampai jumpa besok hari,"
Mereka pun akhirnya berjalan keluar. Setelah orang-orang itu berada di halaman depan, sekelompok orang persilatan lainnya juga segera pergi.
Tidak perlu ditanyakan lagi, sudah tentu mereka pun akan menyusulnya.
Zhang Fei hanya tersenyum melihat tingkah orang-orang tersebut. Dengan tenang dan santai, ia mulai meneguk araknya.
Setelah dua guci arak itu habis, dirinya segera berjalan keluar. Ketika berada di tempat sepi, dengan cepat ia langsung menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Walaupun sudah kehilangan jejak, tapi ia yakin mampu menemukan orang-orang tadi. Bagi manusia lain, mungkin hal itu terbilang sulit. Tapi bagi dirinya justru tidak sulit sama sekali.
Apalagi dia mempunyai keyakinan bahwa mereka belum jauh dari restoran tadi.
Wushh!!!
Tubuhnya berubah menjadi jejak bayangan. Hanya sesaat saja ia telah berada jauh dari tempat semula.
"Itu pasti mereka," gumamnya sambil melesat ke sumber suara.
Ternyata, apa yang ia duga memang terbukti. Orang-orang yang terlibat dalam pertempuran itu bukan lain adalah mereka yang berada di restoran tadi.
Pada saat dirinya tiba di sekitar sana, orang-orang itu sedang menghentikan pertarungan. Terdengar si pemimpin yang tadi satu meja dengannya sedang berbicara.
"Jangan harap kalian bisa merebut pedang ini dariku,"
"Kita ini orang-orang dunia persilatan. Siapa yang kuat, maka dia yang berhak menentukan segalanya,"
"Hemm, kalian pikir, kalian ini siapa?"
"Tutup mulutmu. Serahkan saja pedang itu kepada kami!" kata lawan bicaranya sambil menunjuk.
"Kalau kalian sudah bosan hidup, silahkan ambil,"
Mendengar tantangan tersebut, tentu saja lawannya tidak bisa menahan diri lagi. Secara serempak, delapan orang itu langsung menyerang dengan ganas.
Mereka mencabut golok yang tergantung di pinggangnya.
Hanya dalam waktu singkat, pertarungan yang sempat berhenti, sekarang telah dilanjutkan lagi. Suara beradunya benda keras langsung terdengar.
Pada saat itulah, tiba-tiba satu sosok bayangan melesat dengan cepat dari balik pepohonan. Bayangan itu langsung menuju ke tengah arena dan dengan cepat merampas pedang yang digenggam si pemimpin tadi.
Menyadari pedangnya diambil orang, dia langsung menghentikan serangan dan segera berbalik arah.
"Heh, siapa kau? Serahkan pedang itu kalau memang masih ingin hidup!" kata si pemimpin memberikan ancaman.
"Kakak, kau galak sekali," jawab Zhang Fei sambil membalikkan tubuh.
"Kau ..."
Pemimpin tersebut kaget setengah mati. Ia tidak menyangka bahwa orang yang merebut pedang itu, bukan lain adalah pemuda yang ia bohongi tadi.
"Kenapa? Kalian terkejut, bukan?" Zhang Fei tersenyum dingin. Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Jangan harap ada yang bisa merebut pedangku ini,"
"Adik kecil, kau ... kenapa kau melakukan ini? Bukankah tadi kita sudah mengambil persetujuan?"
"Tidak ada adil kecil. Aku sudah besar. Jangan panggil aku adik kecil lagi, Paman," ujarnya dengan nada dingin.
"Hemm, ternyata kau memang cari mati!"
Pemimpin itu marah. Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung menyuruh rekannya untuk menyerang Zhang Fei secara bersamaan. Bukan hanya mereka saja, bahkan lawannya tadi juga melakukan hal yang sama.
Sekarang, tidak kurang dari tiga belas orang sudah menyerang ke arah Zhang Fei. Masing-masing dari mereka sudah menggunakan golok tajam yang bisa menebas leher manusia dengan sekejap mata.
Menghadapi serangan ini, Zhang Fei tidak merasa panik sama sekali. Ia belum bergerak, hanya matanya saja yang memandang orang-orang itu secara bergantian.
Begitu jarak antara lawan dan dirinya tersisa satu langkah, tiba-tiba pemuda itu mengambil tindakan. Dia bergerak dengan sangat cepat. Suara dentingan nyaring terdengar. Hanya sesaat, lalu keadaan menjadi hening seketika.
Belasan golok tajam itu, kini sudah kutung menjadi dua bagian. Kutungan golok jatuh berserakan di atas tanah.
Ekspresi wajah belasan orang itu seketika berubah menjadi pucat pasi. Sungguh, mereka tidak mengira bahwa anak muda tersebut ternyata mempunyai kemampuan tinggi.
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran. Dan ingat, ubahlah jalan hidup kalian. Kalau tidak, apabila kita bertemu lagi, aku pasti akan memotong kedua kaki kalian," kata Zhang Fei dengan nada dingin.
Tanpa harus diucapkan dua kali, secara serempak pula orang-orang itu langsung pergi.
Setelah perginya orang-orang itu, Zhang Fei juga melanjutkan kembali perjalanannya. Dia mulai melangkah mencari keberadaan Partai Gunung Pedang!