Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dewa Pedang Dari Selatan


"Tuan Zi, sepertinya pertemuan kita hanya bisa sampai di sini saja. Aku harus pergi sekarang, sebab masih ada banyak hal-hal yang mesti diselesaikan segera," kata Zhang Fei pamit undur diri.


"Aih, apakah Ketua Fei tidak ingin singgah dulu ke Perguruan Kera Sakti?"


"Lain waktu saja. Terimakasih karena kau sudah mempercayaiku," kata Zhang Fei sambil tersenyum hangat.


"Aih, yang harusnya berterimakasih itu adalah aku, Ketua Fei. Terimakasih karena kau sudah membantu menyelesaikan masalah di Perguruan Kera Sakti. Kalau tidak ada dirimu, aku tidak tahu bagaimana jadinya," ujar Yan Zi sambil menghembuskan nafas panjang.


Dia sudah membayangkan, kalau saja tidak ada Zhang Fei yang datang memberikan bantuan, sudah pasti keadaan dunia persilatan akan lebih parah dari sekarang.


Untung saja, langit menurunkan tangan kepada perguruan kecil tersebut. Sehingga masalah yang ditakutkan tidak sampai terjadi.


"Tuan Zi jangan terlalu berlebihan, semua ini sudah takdir,"


Ia langsung bangkit berdiri. Setelah berpamitan, Zhang Fei pun segera pergi dari mejanya. Sebelum keluar Ketua Dunia Persilatan sempat membayar dulu biaya minumnya. Tidak lupa juga, dia membeli dua guci arak untuk di perjalanan nanti.


Begitu semua urusan rampung, dia langsung pergi dari warung arak tersebut.


Sementara Yan Zi, orang tua itu tidak ikut pergi. Dia masih ada di warung arak dan menikmati sisa arak yang tersedia.


Terdengar beberapa kali dia bergumam memuji sosok Ketua Dunia Persilatan yang masih muda itu.


"Aku rasa, dia akan membawa perdamaian bagi negeri ini. Khususnya dalam dunia persilatan," gumam Yan Zi begitu bayangan tubuh Zhang Fei sudah tidak terlihat.


###


Tanpa terasa tujuh hari sudah berlalu kembali. Selama itu, Zhang Fei terus melakukan perjalanan ke berbagai pelosok negeri yang ia lewati. Setiap ada masalah yang terjadi di sana, dia pasti akan membantunya dengan segera.


Kemampuan ilmu pedangnya yang sudah mencapai tahap sangat tinggi itu, sekarang telah diketahui oleh banyak kalangan dunia usaha.


Sehingga, beberapa orang pendekar ataupun pihak yang pernah dibantunya, memberikan julukan Dewa Pedang Dari Selatan.


Diberi julukan demikian adalah karena setiap ditanyakan berasal dari mana, Zhang Fei pasti akan menjawab dari Selatan.


Maka dari itulah, kini orang-orang rimba hijau menyebutnya Dewa Pedang Dari Selatan.


Walaupun beberapa tokoh besar tahu bahwa Zhang Fei belum mencapai tahap tanpa tanding, tetapi hampir semua dari mereka sepakat bahwa dalam waktu singkat, dia pasti akan mencapai tahap tertinggi itu.


Apalagi, sekarang saja ia telah mencapai tahap pilih tanding.


###


Saat itu hari sudah masuk sore. Matahari memberikan sinar kuning kemerahan yang indah dan mempesona. Zhang Fei baru saja keluar dari warung arak.


Sekarang dia sedang berjalan di sebuah jalan raya yang ramai dan dipenuhi oleh banyak kalangan.


Menurut informasi yang didapat, saat ini Zhang Fei sedang berada di pinggiran sebuah kota besar. Kota itu bernama Kota Shangguan.


Kota Shangguan sekali dipadati oleh wisatawan yang datang dari berbagai daerah. Apalagi, kota itu menyuguhkan panorama alam yang indah dan memukau. Jadi, tidak heran kalau di setiap tempat, selalu terdapat manusianya.


Karena itu adalah kota yang besar, maka Zhang Fei berinisiatif untuk pergi ke pusat kota. Setelah bertanya-tanya ke beberapa orang, katanya jarak untuk ke sana membutuhkan waktu sekitar setengah hari.


Tanpa menunda waktu lagi, sore itu pun Zhang Fei langsung pergi menuju ke pusat Kota Shangguan.


Ia pergi dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya. Waktu setengah hari yang dibutuhkan itu, dilipat menjadi beberapa jam saja. Saat hampir tiba tengah malam, Zhang Fei sudah berhasil tiba di tengah-tengah pusat kota.


Tadinya, Zhang Fei berniat untuk berkeliling dan menikmati malam ini. Namun karena tubuhnya sudah merasa lelah, pada akhirnya dia pun memilih menginap di sebuah penginapan yang cukup besar.


###


Mentari pagi sudah muncul di sebelah timur. Zhang Fei baru saja bangun dari tidurnya. Ia kemudian mencuci muka dan membersihkan diri. Setelah selesai, Ketua Dunia Persilatan itu pun langsung keluar dari penginapan untuk mencari sarapan pagi.


Baru saja Zhang Fei menginjakan kakinya di jalan raya, tiba-tiba ia melihat ada seorang pria berusia empat puluhan yang sedang berjalan ke arahnya.


Pria itu mengenakan pakaian warna merah darah. Di punggungnya ada sebatang pedang dengan warna yang sama.


Begitu tiba di hadapannya, pria tersebut langsung berhenti. Ia membungkukkan badan memberikan hormatnya kepada Zhang Fei.


"Selamat pagi, namaku adalah Zhu Yun. Aku ditugaskan oleh Ketua untuk mengundang Tuan Muda datang ke markas Organ Pedang Cahaya," kata pria yang mengaku bernama Zhu Yun tersebut.


Zhang Fei mengerutkan kening sambil memandangnya. Dia terlihat kebingungan.


Pagi-pagi seperti ini, sudah ada orang asing yang datang dan mengantarkan surat undangan, siapa yang tidak akan bingung dengan kejadian ini?


"Tuan, maaf, apa maksudmu? Mungkin kau telah salah mengenal orang," kata Zhang Fei setelah beberapa saat kemudian.


"Tidak mungkin, aku pasti tidak salah orang. Tuan Muda pasti adalah orang yang sedang aku cari," jawab pria itu sambil tetap membungkukkan badan. Dia tidak berani bangkit berdiri tegak sebelum ada perintah dari Zhang Fei.


Ketua Dunia Persilatan sendiri tahu akan hal tersebut. Hanya saja, dia sengaja membiarkannya untuk sementara waktu.


"Hemm ... coba sebutkan siapa aku ini?"


"Tuan Muda dijuluki Dewa Pedang Dari Selatan. Dan saat ini, Tuan Muda juga menjabat sebagai ..."


"Sudah cukup," kata Zhang Fei memberikan tanda supaya Zhu Yun berhenti bicara. "Di mana markas Organisasi Pedang Cahaya itu?" tanyanya lebih lanjut.


"Persis di tengah-tengah kota ini, Tuan Muda. Lebih tepatnya berada di antara dua kuil yang berdiri berdampingan,"


"Baiklah. Siang hari nanti, aku aka pergi ke sana,"


"Baik, Tuan Muda," Zhu Yun menjawab penuh hormat.


Namun dia belum juga pergi dari sana. Walaupun pembicaraan sudah selesai, tapi ia tetap berdiri di posisinya.


Zhang Fei sedikit heran. Kemudian dia bertanya lagi, "Kenapa kau tidak pergi? Bukankah sudah tidak ada lagi sesuatu yang ingin kau sampaikan?"


"Aku tidak akan pergi sebelum Tuan Muda menyuruhku pergi," katanya menjawab cepat.


Ketua Dunia Persilatan menghela nafas sambil menggelengkan kepala. "Baiklah. Sekarang kau boleh pergi,"


Zhu Yun mengangguk. Setelah memberikan hormatnya lagi, dia langsung berlalu dari sana. Dalam waktu singkat, ia telah lenyap ditelan kerumunan orang.


Zhang Fei memandangi kepergiannya dengan berbagai macam pertanyaan. Ia heran, mengapa pria itu bisa mengetahui juga siapa dirinya?


Walaupun ucapannya tadi tidak diselesaikan, tapi Zhang Fei sudah mempunyai firasat bahwa orang itu memang benar-benar mengetahui siapa dirinya.


Yang menjadi pertanyaan sekarang, kira-kira siapa pemimpin dari Organisasi Pedang Cahaya tersebut?