
Keesokan harinya, keadaan di Gedung Ketua Dunia Persilatan masih sama seperti biasa. Para pendekar sudah menjalankan tugasnya masing-masing. Begitu juga dengan para tokoh yang lain.
Pada saat itu, tokoh yang masih ada di Gedung Ketua Dunia Persilatan hanya Zhang Fei dan Yao Mei saja. Mereka berdua sengaja tidak pergi ke medan perang karena ingin melakukan istirahat barang beberapa hari.
Tetapi karena lama-kelamaan merasa bosan, pada akhirnya Yao Mei memutuskan untuk pergi dari gedung megah tersebut.
"Zhang Fei, aku izin keluar sebentar," kata Yao Mei meminta izin ketika Ketua Dunia Persilatan berada di ruangan kerjanya.
"Kau akan pergi ke mana, Nona Mei?" tanyanya sambil memandang wajah gadis cantik itu.
"Aku ingin jalan-jalan saja. Rasanya terlalu bosan kalau terus ada di dalam gedung ini," Yao Mei menjawab sambil tertawa.
"Hahaha ... begitulah, Nona Mei. Aku sendiri kadang merasa seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin memang inilah nasibku,"
"Ah, sudahlah. Nikmati saja kenyataannya,"
Yao Mei berkata sambil menggoda Zhang Fei. Bersamaan dengan itu, dia pun segera keluar dari dalam ruangan tersebut.
###
Suasana di jalan raya sudah cukup ramai. Para warga telah melakukan aktivitas seperti biasanya. Walaupun mentari pagi sudah bersinar cerah, namun ternyata udara pada saat itu masih terasa dingin.
"Dalam keadaan begini, rasanya minum teh sambil menikmati keindahan alam adalah suatu hal yang sangat nikmat," gumam Yao Mei sambil terus melangkahkan kakinya.
Berpikir begitu, seketika Yao Mei langsung memutuskan untuk melakukannya.
Ia segera berbelok mengambil jalan yang lebih kecil. Jalan itu nantinya akan menghubungkan dia ke sebuah pedesaan kecil di dekat pegunungan.
Yao Mei berjalan dengan tenang dan santai. Tidak lupa juga, dia pun menikmati segala keasrian yang terdapat di pedesaan tersebut.
Setelah beberapa waktu melakukan perjalanan, akhirnya ia bisa juga menemukan warung kecil yang letaknya persis di sekitar lembah.
Warung kecil itu masih berdiri di pinggir jalan. Dilihat sekilas, rasanya keadaan di sana masih sepi sunyi.
"Hemm ... warung itu rasanya cocok," ucap Yao Mei berkata kepada dirinya sendiri.
Tanpa berlama-lama lagi, dia langsung berjalan menuju ke sana.
"Aku pesan satu poci teh hangat dan lima buah bakpao," katanya ketika sudah berada di dalam.
"Baik, Nona. Tunggu sebentar," jawab pemilik warung yang merupakan seorang kakek tua.
Yao Mei mengangguk. Dia kemudian berjalan ke belakang warung dan duduk di kursi yang kebetulan sudah disediakan.
Gadis cantik itu kemudian memandang jauh ke depan. Dia bisa melihat bahwa nun jauh di sana, terbentang bukit-bukit hijau yang saling berhubungan satu sama lain.
Di bawahnya ada hamparan sawah ladang yang mirip permadani hijau. Di sisi lain, ada lagi sungai panjang yang berkelok-kelok dan membentuk seperti ular raksasa.
Suasana yang menenangkan itu bertambah sempurna ketika Yao Mei bisa mendengar kicau burung penunggu hutan yang merdu di telinga.
Tanpa sadar, bibirnya tersenyum. Senyuman yang menandakan kebahagiaan.
"Silahkan, Nona," kata pria tua tadi sambil membawakan pesanan Yao Mei.
"Terimakasih, Paman,"
Pria tua itu mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian berjalan kembali ke belakang.
Sedangkan Yao Mei, dengan segera dia menuangkan teh dari dalam poci. Ia meminum teh hijau itu secara perlahan.
Ia benar-benar menikmati keadaan pada saat itu. Sesekali, gadis cantik tersebut tampak memejamkan matanya sambil menghirup nafas dalam-dalam.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, tanpa terasa teh dalam poci sudah hampir habis. Bakpao yang dia pesan pun tinggal tersisa dua buah saja.
Sebenarnya pada saat itu, Yao Mei masih betah menikmati keindahan alam tersebut. Hanya saja, ketenangan dan kenyamanannya segera terganggu setelah kehadiran lima orang pria berusia sekitar tiga puluhan tahun.
Kelima orang pria itu datang sambil tertawa-tawa. Setelah memesan makanan, mereka langsung pergi ke belakang dan duduk tepat di dekat Yao Mei.
"Lihatlah, ternyata pagi ini kita sangat beruntung," kata salah satu pria.
"Benar, aku tidak menyangka, di pagi hari begini akan bertemu seorang bidadari," sambung rekannya.
Tiga orang pria lain ikut tertawa. Keadaan di sana langsung gaduh. Mereka terus berbincang-bincang dan tidak pernah berhenti melirik ke arah Yao Mei.
Gadis itu sendiri mulai merasa risih. Setelah kehadiran lima orang pria itu, Yao Mei menjadi tidak tenang lagi. Dia bahkan sudah merasa tidak betah.
Yao Mei kemudian bangkit berdiri. Ia berniat untuk segera pergi dari sana.
"Eh, tunggu dulu, gadis manis," seorang pria tiba-tiba bangkit berdiri. Ia lalu menghadang langkah Yao Mei. "Kau mau ke mana? Diamlah di sini. Mari kita berbincang-bincang bersama. Atau kalau kau mau ... aku bisa membawamu berwisata ke tempat yang sangat indah sekali," katanya terus menggoda.
"Benar, Nona cantik. Aku jamin kau pasti akan merasa senang jika ikut bersama kami berlima," rekannya yang satu lagi ikut berdiri. Dia juga menggoda Yao Mei.
Bahkan untuk pria yang satu ini, dengan beraninya dia mencolek pipi Yao Mei.
"Apa yang akan kalian lakukan? Jangan pernah kurang ajar kepadaku. Kalau tidak ..."
"Kalau tidak apa, Nona cantik?" pria itu terus menggoda. Bahkan malah terkesan semakin berani.
Raut wajah Yao Mei sendiri sudah berubah. Ia terlihat marah. Tapi ternyata, di mata kelima pria itu, kemarahan tersebut malah dianggap hal yang sepele.
"Aih, rasanya kecantikanmu semakin bertambah ketika sedang marah," satu pria lain ikut bicara. Ia bahkan langsung memegang tangan Yao Mei. Namun dengan cepat gadis itu menarik kembali tangannya.
"Cukup! Jangan bertindak lebih jauh lagi," kata Yao Mei sambil membentak keras.
"Eh, jangan kasar-kasar, Nona cantik,"
"Kalian ini benar-benar kurang ajar!"
"Hahaha ... kalau kami kurang ajar, memangnya kau mau apa?" pria itu malah menantang. Dia belum tahu bahwa gadis yang sedang digodanya tersebut bukanlah gadis biasa.
Padahal pada saat itu, lima pria tersebut bisa melihat dengan jelas sepasang pedang kembar yang terdapat di punggung Yao Mei.
Sayang sekali, mereka tidak terlalu menghiraukannya karena mungkin merasa percaya akan kemampuan sendiri.
Sementara itu, Yao Mei seketika menatap mereka secara bergantian. Tatapannya sangat tajam. Kemarahannya juga semakin terlihat jelas.
Wushh!!!
Ia mendorong tangan kanannya. Satu orang pria seketika terjengkang sejauh tiga langkah. Dia jatuh menimpa meja yang terdapat di sana.
Melihat kejadian barusan, mereka langsung kaget setengah mati. Rasa ingin menggodanya seketika berubah menjadi rasa marah yang tidak tertahankan.
"Gadis ******! Berani sekali kau melakukan hal itu!" kata rekannya yang lain.
Bersamaan dengan ucapan tersebut, ia pun segera melancarkan pukulan. Sayangnya Yao Mei sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
Tangan kanannya dikibaskan ke depan. Segulung tenaga sakti datang menerjang dan membuat mereka terlempar ke belakang.