Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertempuran Berdarah IV


Wungg!!! Wungg!!!


Deru angin kencang dan suara mengaum seperti harimau terdengar keras. Si Dewa Tiga Senjata sedikit terkejut melihat kemampuan orang tua itu.


Dia tidak menyangka, ternyata Ketua Partai Pengemis tersebut masih mempunyai ilmu simpanan yang luar biasa.


Walaupun sudah banyak melangsungkan pertarungan, tapi rasanya, dia baru melihat jurus yang sekarang sedang digunakan oleh Pengemis Tongkat Sakti.


Akibatnya Dewa Tiga Senjata merasa pusing sendiri. Beberapa kali tongkat bambu hijau itu mengenai tubuhnya. Sapuan dan sodokan tongkat yang telak menghantam, memberikan rasa nyeri yang tidak ringan.


Beberapa kali dia meringis menahan sakit. Tapi dengan cepat dirinya menyalurkan hawa murni, sehingga rasa nyeri itu bisa berkurang walau hanya sedikit.


Belasan jurus sudah berlalu kembali. Selama ini Dewa Tiga Senjata tidak bisa menarik keuntungan. Dia terus dipaksa oleh Pengemis Tongkat Sakti supaya berada di posisi bertahan.


Jurus pedang dan golok yang ia lancarkan bersama, ternyata kini mampu ditangkis atau dihindari lawan dengan mudah.


'Ternyata tua bangka ini bisa membaca serangan lawan dengan cepat. Kalau keadaanku terus begini, mungkin sebentar lagi aku akan mampus,' batinnya berkata sambil terus menahan serangan lawan.


Berpikir sampai di situ, tiba-tiba timbul sedikit ketakutan dalam hatinya. Bagaimanapun juga dia tidak boleh mampus di tangan Pengemis Tongkat Sakti.


Namun mau bagaimana lagi, ia benar-benar merasa bingung menghadapi jurus Tongkat Hijau Mengusir Puluhan Anjing tersebut.


Betapa tidak? Gerakan jurus itu sangat kacau. Tidak menentu arah serangannya. Setiap gerakan yang dilakukan oleh Pengemis Tongkat Sakti, seolah-olah itu adalah serangan ngawur.


Tapi sebenarnya, dibalik semua itu terkandung satu kekuatan yang tidak bisa dibendung oleh apapun juga.


Setiap satu serangan yang ngawur itu, justru selalu mengincar titik penting yang berbahaya. Kalau saja dirinya tidak mempunyai kemampuan tinggi, mungkin sudah sejak tadi ia tewas.


Keringat dingin telah mengucur deras membasahi seluruh pakaiannya. Dewa Tiga Senjata semakin terdesak hebat.


Sementara Pengemis Tongkat Sakti, melihat lawan mulai kewalahan menghadapi serangannya, tentu saja ia menjadi lebih bersemangat.


Orang tua itu mulai meningkatkan kecepatan dan tenaga, dalam setiap usahanya. Suara mendengung dan angin ribut yang dihasilkan makin hebat lagi.


Dewa Tiga Senjata menggertak gigi. Sembari terus menahan serangan lawan, dia juga sedang mencari cara supaya dirinya bisa terbebas.


Ia hanya memerlukan kebebasan sebentar. Walaupun kebebasan itu hanya muncul tiga helaan nafas sekalipun, baginya itu saja sudah lebih daripada cukup.


Pada akhirnya, kebebasan yang ditunggu pun muncul juga. Usahanya dalam menangkis setiap serangan ternyata tidak sia-sia.


Saat itu, Pengemis Tongkat Sakti memang terlihat menghentikan serangan. Mungkin hal tersebut sengaja dilakukan supaya ia bisa menghemat nafas panjang. Wajar saja, dirinya sudah tua. Sehingga tenaga pun tidak sebesar ketika masih muda dulu.


Tapi sayangnya, yang sebentar itu justru sudah cukup untuk mengubah segalanya.


Bersamaan dengan hal tersebut, tiba-tiba Dewa Tiga Senjata melepaskan dua jurus kelas atas yang berbeda sekaligus. Pedang dan golok berkelebat secara bersamaan.


Tidak berhenti sampai di situ saja, ia kembali melancarkan serangan yang ketiga.


Serangan yang paling berbahaya sekaligus paling mematikan.


Sebab serangan yang ketiga ini, sangat jarang ia gunakan kecuali sedang menghadapi tokoh-tokoh kelas atas.


Dan sekarang adalah saat yang tepat untuk mengeluarkannya!


Wutt!!!


Ia menyembur keras dengan mulutnya. Puluhan titik hitam tiba-tiba meluncur dengan deras sekali. Dengan jarak sedekat itu, tentu saja tidak ada waktu lagi bagi Pengemis Tongkat Sakti untuk mengambil tindakan.


Kalau dipaksakan, mungkin orang tua itu masih bisa menahan jurus pedang dan golok lawan, tapi naasnya, tidak dengan jurus yang ketiga itu.


Sekarang, dirinya sedang berusaha sebisa mungkin. Ia menangkis pedang dan golok secara bersamaan.


Tapi di satu sisi, puluhan titik hitam yang merupakan jarum tipis itu sudah semakin dekat dengan dirinya.


'Aku pasti mati,' batinnya sedikit tergetar.


Pada saat-saat yang genting tersebut, tiba-tiba segulung angin besar datang menerjang dari sisi. Angin itu menghempaskan puluhan jarum tipis hingga berterbangan di tengah udara tidak tentu arahnya.


"Anak Fei, bantu Pengemis Tongkat Sakti!" Orang Tua Aneh Tionggoan berteriak dengan keras memanggil Zhang Fei.


Rupanya angin besar tadi berasal dari kibasan tangannya. Seperti yang diceritakan sebelumnya, orang tua itu adalah tokoh yang ahli dalam ilmu tangan kosong.


Sehingga tidak heran apabila kibasan tadi mengandung tenaga besar.


"Baik, Tuan. Aku mengerti,"


Zhang Fei yang pada saat itu baru saja menyelesaikan pertarungannya melawan dua orang anggota Partai Tujuh Warna, tiba-tiba langsung melompat dan meluncur dengan sangat cepat sekali.


Wushh!!!


Ia bergerak, seolah-olah dirinya telah berubah menjadi gumpalan awan. Sehingga hanya sekejap saja sudah ada di sisi Pengemis Tongkat Sakti.


"Pedang Penakluk Jagad!"


Wutt!!!


Pendekar muda itu berteriak keras. Jurus keenam dari Kitab Pedang Dewa langsung digelar olehnya. Begitu jurus keluar, Zhang Fei segera menangkis serangan pedang dan golok milik Dewa Tiga Senjata.


Tanpa bicara apa-apa kepada Pengemis Tongkat Sakti, ia langsung menggantikan posisinya.


Sekarang yang berada di tengah pertarungan tersebut adalah anak muda itu!


Sementara bersamaan dengan kejadian singkat itu, tampak raut wajah Dewa Tiga Senjata berubah hebat. Dia tidak pernah menyangka, ternyata Pengemis Tongkat Sakti bisa selamat dari juru Tiga Bayangan Kematian miliknya.


Lebih daripada hal tersebut, ia tidak menduga pula bahwa orang tua asing itu ternyata merupakan tokoh berilmu tinggi. Sehingga satu kibasan tangannya saja sudah cukup untuk menghempaskan puluhan jarum hitam miliknya.


Karena beberapa kejadian itu, ia merasa sangat marah sekali. Ditambah lagi, sekarang dirinya sedang digempur oleh seorang bocah ingusan.


"Bocah keparat! Berani sekali kau mencampuri pertarunganku," katanya dengan nada tinggi.


"Jangan banyak bicara. Tahan saja jurusku ini," jawab Zhang Fei tanpa menghentikan serangannya.


Wutt!!! Wutt!!!


Pedang Raja Dewa terus menggempur lawan. Serangan Zhang Fei semakin ganas dan cepat. Dua jurus berbeda yang dikeluarkan oleh lawannya mulai bisa diatasi.


Setelah situasi berubah, ia semakin gagah berani menyerang Ketua Partai Tujuh Warna itu.


Kelebatan cahaya putih keperakan telah menggulung seluruh tubuh Dewa Tiga Senjata. Hawa pembunuh yang keluar dari pusaka itu membuatnya sedikit kesulitan bernafas.


Namun bukan berarti ia bisa kalah dengan mudah. Sebagai Ketua dari salah satu partai terbesar, tentu saja ia memiliki kemampuan yang jauh berada di atas rata-rata.


"Bagus. Rupanya kau cukup berisi juga," ujarnya mengakui kehebatan Zhang Fei.


Selesai berkata seperti itu, ia segera membentak nyaring. Pedang dan golok bergetar keras, Dewa Tiga Senjata mulai memberikan perlawanan sehingga pertarungan yang hampir selesai itu, kini mulai berjalan sengit kembali.