
Duel tersebut semakin lama, malah semakin seru lagi. Zhang Fei terus menjadi pihak yang menyerang. Serangan telapak tangan dan pukulannya selalu membawa ancaman tersendiri.
Tidak hanya itu saja, bahkan dalam waktu yang bersamaan, sesekali Zhang Fei juga melancarkan serangan dengan kakinya. Ia memberikan tendangan-tendangan dahsyat yang berasal dari jurus-jurus kitab pusaka.
Duel itu terlihat seimbang. Raja Telapak Hitam benar-benar tidak menyangka dengan hal ini. Sungguh, ia tidak pernah membayangkan bahwa dalam hidupnya, dia akan bertemu dengan seorang pendekar muda yang mampu mengimbanginya.
Di satu sisi dia merasa kagum, tapi di sisi lainnya, dia justru merasa geram.
"Kau mungkin hebat, tapi kemampuan yang kau miliki saat ini masih belum cukup untuk membunuhku!" teriak Raja Telapak Hitam sambil melakukan gerakan secara tiba-tiba.
Wutt!!!
Kedua telapak tangannya didorong ke depan. Hal itu membuat Zhang Fei terlempar ke belakang. Meskipun tidak terluka, namun dorongan tangan lawan telah menggagalkan jurus sekaligus rencana yang telah dia susun sebelumnya.
'Gila, bahkan walaupun sudah terdesak, dia masih mampu membalikkan keadaan,' batin Zhang Fei merasa terkejut karenanya.
Dalam pada itu, dari depan sana tampak sekelebat bayangan hitam yang meluncur dengan sangat cepat. Belum lagi Zhang Fei menarik nafas, bayangan hitam tersebut sudah tiba di depan wajahnya.
Blamm!!!
Sebuah telapak tangan memukul Zhang Fei dengan telak. Untuk yang kesekian kali, tubuh Ketua Dunia Persilatan terlempar sampai terbang ke belakang. Luncuran tubuhnya melesat seperti batu yang dilemparkan.
Untunglah pada saat itu, Pendekar Pedang Perpisahan telah melompat dan menahannya. Kalau tidak, entah sampai mana Zhang Fei terlempar.
Hoekk!!!
Zhang Fei muntah darah. Segumpal darah segar kehitaman keluar dari mulutnya. Tidak bisa dipungkiri lagi, ia terluka dalam akibat serangan barusan.
Mengetahui hal tersebut, buru-buru dia menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya. Zhang Fei mulai berusaha pula mengendalikan racun yang telah bersarang di dalam tubuhnya.
Proses pengangkatan racun tersebut setidaknya memakan waktu beberapa menit. Selama proses itu, Pendekar Pedang Perpisahan selalu ada di sampingnya untuk menjaga keselamatannya Zhang Fei.
Hoekk!!!
Zhang Fei muntah darah kembali. Kali ini, dia muntah sampai tiga kali banyaknya. Yang pertama lebih hiham dari sebelumnya. Yang kedua mulai memerah, dan yang ketiga semakin merah segar.
Setelah memuntahkan darah merah yang segar itu, Zhang Fei menghela nafas panjang dan lega. Akhirnya dia berhasil juga mengangkat racun yang sempat mengeram itu.
"Hebat, Ketua Fei. Rupanya kau juga mempunyai ilmu pengobatan yang tidak rendah. Aku benar-benar kagum kepadamu," kata Pendekar Pedang Perpisahan setelah tahu apa yang dilakukan oleh Zhang Fei.
"Ah, ini hanya hal biasa. Aku yakin, kau juga mampu melakukannya, Tuan Wu," jawabnya sambil tersenyum simpul.
Pendekar Pedang Perpisahan tidak menjawab, dia hanya tertawa ringan.
Sementara di sana, terlihat Raja Telapak Hitam sejak tadi terus memandangi Zhang Fei. Sebenarnya dia ingin menyerang anak muda itu ketika dirinya sedang mengobati luka dalam.
Tapi sayang sekali, tokoh sesat itu tidak mampu melakukan hal tersebut karena adanya Pendekar Pedang Perpisahan yang selalu mendampingi.
"Andai saja tidak ada setan tua itu, sejak tadi pasti aku telah membuatnya pergi ke neraka," gumam Raja Telapak Hitam sambil mengepalkan tangannya.
Ia memberikan sorot mata yang lebih tajam dan sinis. Selapis hawa pembunuhan yang keluar dari tubuhnya bertambah pekat lagi.
'Dia benar-benar pendekar muda yang istimewa. Bahkan racun yang terdapat dalam jurusku tadi bisa dikeluarkan cukup mudah olehnya,'
Entah sudah berapa kali dia mengagumi sosok Zhang Fei. Selama belakangan ini, semakin lama bertarung dengannya, semakin besar pula rasa kagumnya.
Namun di lain sisi, tiba-tiba saja dia menjadi khawatir. Raja Telapak Hitam menganggap kalau anak muda itu dibiarkan hidup lebih jauh, rasanya dia bisa membawa bencana bagi pihaknya.
Maka dari itu, ia telah memutuskan untuk membunuh secepatnya.
Wushh!!!
Ia mendadak melesat sebelum lawannya bersiap. Jurus tangan kosong yang dia lancarkan itu benar-benar hebat. Apalagi, itu adalah salah satu jurus yang selama ini dia andalkan.
Angin kencang yang membawa bau busuk tercium menusuk kulit. Hawa panas juga ikut hadir di dalamnya.
Pendekar Pedang Perpisahan cukup terkejut. Tapi dengan cepat pula dia menyambut serangan tersebut.
"Pukulan Raja Akhirat!"
Wushh!!! Blamm!!!
Dua buah jurus tangan kosong bertemu. Ledakan besar tercipta akibat benturan itu.
Debu mengepul tinggi ke angkasa. Hawa panas tiba-tiba menyebar luas ke area sekitar. Setelah terjadinya benturan itu, rupanya kedua tokoh sesat tersebut tidak tinggal diam.
Mereka segera melanjutkan pertarungannya dengan mengandalkan jurus-jurus kelas atas.
Dalam pada itu, Zhang Fei melihat ada sedikit kesempatan. Dia berencana untuk memanfaatkan kesempatan tersebut.
"Murka Pedang Dewa!"
Ia berteriak kencang. Hawa pedang yang teramat pekat tiba-tiba keluar dari seluruh batang pedang pusaka tersebut.
Zhang Fei telah melesat ke depan. Serangkaian jurus pedang segera diberikan kepada lawan.
Melihat hal itu, Pendekar Pedang Perpisahan tidak menghalangi. Dia justru memberikan ruang untuk jurus milik Zhang Fei. Sesaat kemudian, ia pun melakukan hal yang sama.
"Pedang Kesengsaraan!"
Wutt!!!
Dua buah jurus pedang maha dahsyat langsung menggempur Raja Telapak Hitam. Kedua jurus pedang itu bagaikan Malaikat Maut yang siap mencabut nyawa setiap saat.
Wakil Ketua Partai Panji Hitam itu menggertak gigi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi di hadapan kedua jurus tersebut.
Tanpa terasa tiga puluh jurus sudah berlalu kembali. Selama itu, Raja Telapak Hitam terus berada di posisi bertahan. Dia tidak pernah memberikan serangan yang berarti karena sulitnya membalikkan keadaan.
Yang dapat dilakukan olehnya selama ini hanya menghindar maupun menangkis jurus-jurus kedua lawannya.
Sekitar sepuluh jurus kemudian, posisi Raja Telapak Hitam makin berada di bawah angin. Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan berhasil mendesaknya lebih jauh.
"Ketua Fei, aku serahkan kepadamu," kata Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu berteriak.
Bersamaan dengan itu, dia telah berhasil mementalkan Raja Telapak Hitam sampai terpundur beberapa langkah ke belakang. Posisinya saat itu tidak stabil. Konsentrasinya telah buyar.
Pada waktu itulah secara tiba-tiba Zhang Fei melompat tinggi dan langsung meluncur dengan deras ke arah lawan.
Slebb!!!
Suara berat terdengar begitu jelas. Raja Telapak Hitam melotot besar. Untuk beberapa saat dia terus memandangi Zhang Fei dengan tatapan tidak percaya. Setelah itu, ia merasakan tenggorokannya begitu dingin. Dingin seperti ada es di dalamnya.
Begitu dilihat, ternyata di sana sudah ada sebatang pedang yang menusuknya sampai tembus ke belakang.
Zhang Fei tidak berkata apa-apa. Dia hanya melemparkan senyuman sedingin es. Ia menekan lebih dalam Pedang Raja Dewa.
Raja Telapak Hitam mengeluarkan suara seperti hewan disembelih. Ketika pedang itu dicabut, tubuhnya langsung ambruk ke atas tanah.