Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kakek Ular


Memang, di dalam pertarungan tersebut, yang paling banyak menyerang dan berusaha memojokkan dirinya adalah orang tua itu.


Tongkat kayu berkepala ular kobra yang menjadi senjata andalannya sangat-sangat berbahaya. Dewa Arak Tanpa Bayangan tahu bahwa mulut ular yang sedang terbuka itu bisa mengeluarkan racun yang sangat berbahaya.


Meskipun sampai sekarang hal itu belum benar-benar terbukti, tetapi dia juga sangat percaya bahwa dugaannya tidak akan meleset.


Dalam kesempatan yang sama, seluruh gerakan tubuhnya masih saja dibayang-bayangi oleh dua batang belati kembar. Kalau saja ia tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf sempurna, mungkin rasanya sudah sejak tadi ia harus terkapar menjadi mayat.


Untung saja Dewa Arak Tanpa Bayangan adalah salah satu tokoh dunia persilatan yang ahli dalam ilmu meringankan tubuh. Sehingga ia tidak perlu khawatir soal kecepatan gerakannya.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Benturan nyaring yang mengeluarkan suara mendengung terdengar secara tiba-tiba. Dua orang musuhnya tiba-tiba melompat mundur sejauh lima langkah setelah terjadinya benturan barusan.


"Guru, tenaga sakti orang ini sangat tinggi sekali. Kedua tanganku terasa sakit dan panas seperti dibakar," kata pendekar yang menggunakan belati kembar tersebut.


"Tenanglah Ji Tong. Jangan bertindak gegabah. Aku juga tahu orang tua ini bukanlah lawan yang mudah untuk kita hadapi," sahut orang tua berjubah abu-abu. "Sekarang, salurkan saja hawa murnimu ke seluruh tubuh supaya rasa sakitnya hilang,"


"Baik, guru. Aku mengerti,"


Orang yang dipanggil Ji Tong itu langsung mengeluarkan hawa murni dan menyalurkannya ke seluruh tubuh. Rasa hangat tiba-tiba ia rasakan mengalir secara merata. Beberapa tarikan nafas kemudian, keadaannya mulai pulih.


Rasa sakit yang sempat dia rasakan, sekarang telah berkurang cukup banyak.


"Hehehe ..." tiba-tiba orang tua berjubah abu-abu tersenyum mengejek. "Rupanya kau bukan tokoh sembarangan, setan tua. Aku rasa, hari ini aku bisa mendapatkan hiburan dari dirimu,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan tersenyum dingin sebelum menjawab ucapan tersebut. Dia memperhatikan lagi wujud orang tua berjubah abu-abu yang berdiri di depannya.


Mulai dari atas sampai bawah, semuanya ia perhatikan.


Setelah beberapa saat kemudian, dia cukup terkejut. Rupanya tokoh tua itu mempunyai penampilan yang sangat mirip dengan ular kobra. Kulitnya yang hitam itu seperti dipenuhi oleh sisik halus. Lidahnya juga panjang dan sedikit bercabang dua.


Lebih daripada itu, bola matanya berwarna hijau kekuningan. Tajam dan beringas. Sangat mirip seperti ular kobra!


"Sebutkan dulu siapa dirimu," ujarnya sambil menarik muka.


"Oh, kau ingin tahu namaku? Baiklah, sebut saja aku si Kakek Ular. Aku adalah guru dari anak yang bernama Ji Tong ini," katanya sambil menepuk pundak di murid.


"Pantas saja kau sangat mirip dengan seekor ular. Pergilah, seumur hidup, aku tidak pernah bertarung dengan binatang," Dewa Arak Tanpa Bayangan berkata sambil mengibaskan tangan kirinya.


Ia bersikap seolah-olah dirinya sangat jijik kepada orang yang mengaku berjuluk si Kakek Ular tersebut.


"Bangsat kau setan tua! Rasakan ini!"


Wutt!!!


Si Kakek Ular langsung meluncur ke depan. Tongkat berkepala ular kobra miliknya tiba lebih dulu. Senjata itu datang dari atas dan berniat menghantam batok kepala.


Pada saat yang bersamaan, setelah tadi berkata, Dewa Arak Tanpa Bayangan malah langsung menenggak guci arak miliknya.


Terhadap serangan yang datang, ia tidak terlalu ambil peduli.


Ketika tongkat lawan benar-benar hampir tiba, mendadak dirinya menyemburkan arak yang sudah berada di dalam mulut.


Brushh!!!


Semburan arak tersebut dengan telak mengenai seluruh wajah si Kakek Ular. Rasa panas langsung dia rasakan pada saat itu juga.


Dia benar-benar marah. Seumur hidup, rasanya baru sekarang saja si Kakek Ular mengalami hal seperti ini.


"Keparat! Kubunuh kau!"


Tongkat sakti itu diputarkan beberapa kali. Deru angin kencang langsung datang dan menyambar Dewa Arak Tanpa Bayangan. Untung pada saat itu dirinya telah melompat mundur lebih dulu.


Coba kalau tidak, mungkin sekarang ia telah mampus dihajar oleh putaran tongkat tersebut.


"Selaksa Ular Menyerang Ganas!"


Wutt!!!


Si Kakek Ular kembali menerjang maju. Tongkatnya semakin menyerang dengan ganas. Serangan tersebut benar-benar mirip seperti nama jurusnya.


Menghadapi hal itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan juga tidak mau kalah. Ia langsung mengeluarkan salah satu jurus andalannya selama ini.


"Dewa Arak Menolak Bencana!"


Wutt!!!


Guci arak bergerak. Cahaya kuning keemasan berkelebat melemparkan cahaya hitam yang ingin menggulung tubuhnya.


Dua tokoh kelas atas dengan jurus tingkat tingginya masing-masing sudah beradu. Keadaan di sekitar sana seketika berubah menjadi lebih menegangkan.


Di awal terjadinya adu jurus, si Kakek Ular tampak sangat yakin dengan kemampuan sendiri. Tapi delapan jurus kemudian, dia mulai sadar bahwa kemampuannya masih berada di bawah lawan saat ini.


Gempuran serangan Dewa Arak Tanpa Bayangan mulai membuahkan hasil. Beberapa bagian tubuhnya telah terkena hantaman Guci Emas Murni.


Bagian tubuh yang terkena serangan langsung terasa sangat sakit dan pegal. Padahal pada saat itu, Kakek Ular sudah menyalurkan hawa murninya dengan jumlah besar.


Dia tidak bisa membayangkan, betapa sakitnya efek serangan tersebut kalau tidak dibantu oleh hawa murni itu.


'Bedebah! Guci arak macam apa yang dia gunakan? Mengapa bisa memberikan rasa sakit seperti ini?'


Kakek Ular bertanya-tanya dalam hatinya. Dia sungguh penasaran dengan senjata lawan.


Namun rasa penasaran itu tidak bisa berlanjut lebih jauh. Sebab kada saat yang bersamaan, Dewa Arak Tanpa Bayangan telah datang lagi bersama dengan jurusnya yang luar biasa.


Kali ini ia sudah menggunakan segenap kemampuannya. Maka dari itu dalam waktu sebentar saja, lawannya sudah berhasil ia pojokkan.


Melihat sang guru mulai terdesak hebat oleh serangan lawan, Ji Tong yang sejak tadi belum bergerak, secara tiba-tiba langsung melompat dan menerjang ke arahnya.


"Dua Belati Mengambil Nyawa!"


Wutt!!!


Ia berteriak keras di tengah udara. Tenaga dalam dan tenaga sakti dengan jumlah besar langsung keluar dan disalurkan kepada dua senjata pusaka miliknya.


Pada saat itu, sebenarnya Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah mendapatkan posisi yang sangat baik. Ia telah berhasil memojokkan lawan sebelum dia mengeluarkan lagi tenaganya yang lebih tinggi.


Tetapi naasnya, Ji Tong malah datang dan secara otomatis telah menghilangkan kesempatan emas tersebut.


"Menggangu saja!" bentak Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Bersamaan dengan itu, tangan kanannya diayunkan ke depan. Guci Emas Murni seketika berbenturan dengan dua belati yang berniat ingin bersarang di tubuhnya terasa.


Trangg!!! Trangg!!!


Suara nyaring langsung tercipta. Saking kerasnya benturan yang terjadi, sampai-sampai dua belati itu hampir terlepas dari genggaman tangan Ji Tong.


Ia berseru tertahan sambil berusaha menahan rasa sakit.


Memanfaatkan kesempatan tersebut, Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali mengayunkan tangannya. Kali ini tidak hanya satu kali, melainkan berkali-kali sampai membuat posisi Ji Tong langsung berada di bawah tekanan serangannya!