Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dugaan Pendekar Pedang Perpisahan l


"Baiklah. Kalau begitu, hari ini juga, kita akan mulai bergerak," kata Zhang Fei mengambil keputusan.


Walaupun baru mendengar penjelasannya secara singkat, tetapi dia sudah bisa menduga se-serius apakah masalah tersebut.


"Kapan waktu tepatnya, Ketua Fei?" tanya Tio Goan.


"Siang hari nanti. Tepat setelah matahari lewat dari atas kepala, kita akan bergerak,"


"Kalau begitu, setelah selesai kegiatan di sini, aku dan Zhu Yu akan segera kembali ke lapangan,"


"Baik, Tuan Goan," kata Zhang Fei menyetujuinya.


Mereka kemudian segera melanjutkan kegiatan lainnya. Pembicaraan di rumah makan tersebut selesai setelah matahari berada di titik yang cukup tinggi.


Tio Goan dan Zhu Yu sudah kembali ke lapangan sejak beberapa saat yang lalu. Sedangkan Zhang Fei dan Lima Datuk Dunia Persilatan masih ada di sana.


Di atas dan di bawah meja, terlihat ada cukup banyak guci arak yang sudah kosong.


Jika orang lain selalu bersikap serius ketika menghadapi masalah rumit, maka orang-orang itu justru malah sebaliknya.


Mereka lebih suka bersikap tenang dan santai. Walaupun masalah tersebut benar-benar rumit.


Lagi pula, apa lagi yang harus dipersoalkan? Toh semuanya sudah disiapkan.


Strategi sudah dibicarakan, berbagai macam langkah juga sudah ditentukan. Selanjutnya, mereka hanya bergantung kepada nasib dan keberuntungan saja.


Jadi, buat apa harus pusing-pusing memikirkan masalah?


Tanpa terasa, akhirnya siang hari tiba juga. Matahari baru saja lewat di atas kepala. Seperti yang telah ditetapkan oleh Zhang Fei sebelumnya. Saat ini adalah waktu yang telah ditentukan untuk bergerak.


Mereka segera bangkit dari tempat duduknya masing-masing dan menuruni ruangan lantai dua.


Zhang Fei berjalan menghampiri kasir. Dia membayar semua biaya makannya. Setelah selesai, ia baru keluar dari rumah makan dan menyusul yang lain.


Beberapa saat berikutnya, para tokoh itu sudah duduk di atas punggung kudanya masing-masing. Mereka siap untuk menjalankan tugasnya tersendiri.


"Tuan Kai, Nyonya Ling, kalian pergi ke sebelah timur. Tuan Cao dan Tuan Kiang, pergi ke sebelah selatan. Sedangkan aku dan Tuan Wu, akan pergi ke sebelah barat. Kita harus berpencar supaya bisa secepatnya menemukan benang merah dari masalah ini," kata Zhang Fei berbicara dengan ekspresi wajah serius.


Walaupun di dalam hati, Zhang Fei merasa tidak enak karena telah 'mengatur" para tokoh utama tersebut, tetapi apa boleh buat. Mau tidak mau, dia harus tetap melakukannya.


Sebagai seorang Ketua Dunia Persilatan, ia harus tegas!


Walaupun secara tidak langsung, mereka adalah 'gurunya' sendiri, namun ada saatnya pula mereka menjadi 'para pembantunya'.


"Baik, Ketua Fei. Kami mengerti," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat. "Namun kalau menemukan sesuatu, bagaimana cara kita berkomunikasi?" tanyanya lebih lanjut.


"Hemm ... benar juga," Zhang Fei baru ingat akan hal tersebut. Dia berpikir cukup lama. "Ah, di Kota Sichuan ini ada banyak orang-orang sendiri. Kalau di antara kita menemukan sesuatu, aku rasa kita bisa meminta bantuan mereka,"


Orang-orang sendiri yang dimaksud oleh Zhang Fei, tentunya adalah para prajurit Kekaisaran, para pendekar aliansi, dan juga para anak murid dari partai-partai aliran putih.


"Baiklah, setuju," seru orang tua itu.


"Kita berpisah sekarang juga," katanya tegas. "Tuan Wu, mari kita pergi,"


Kedua tokoh itu langsung menggeprak tali kekang kuda. Detik itu juga mereka segera berlalu dari sana.


Empat Datuk Dunia Persilatan yang lain juga segera menyusul. Mereka pergi ke titik yang telah ditentukan sebelumnya.


Zhang Fei sengaja memilih berjalan bersama Pendekar Pedang Perpisahan, alasannya karena dia sangat membutuhkan kehadirannya.


Jangan lupa, Pendekar Pedang Perpisahan adalah datuk sesat dunia persilatan. Setidaknya, dia banyak mengetahui informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan aliran hitam.


Berbicara terkait hal seperti itu, pengetahuan Zhang Fei masih minim. Berbeda dengan Empat Datuk Dunia Persilatan yang sudah mengetahui segalanya.


Maka dari itulah, dia memilih Pendekar Pedang Perpisahan sebagai teman seperjalanan.


Dua ekor kuda jempolan berlari kencang bagaikan angin berhembus. Dalam waktu singkat saja mereka telah berada cukup jauh dari tempat semula.


Di sepanjang perjalanan, kedua tokoh itu terus mengawasi tempat-tempat yang telah mereka lewati. Namun sampai sejauh ini, rasanya belum ada satu pun sesuatu yang mencurigakan.


Tanpa terasa, keduanya sudah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu jam. Tetapi hingga sejauh ini, mereka belum menemukan petunjuk ataupun tanda-tanda yang berhubungan dengan peristiwa misterius tersebut.


Pada akhirnya Zhang Fei memutuskan untuk berhenti di sebuah persimpangan jalan di tengah hutan. Mereka berdua turun dari punggung kuda, lalu duduk di bawah pohon rindang sambil menikmati arak yang sempat dibawanya.


Suasana di hutan itu sangat sepi. Yang terdengar hanya suara binatang penunggu hutan saja.


Angin berhembus cukup kencang. Ranting-ranting pohon meliuk-liuk seperti seorang gadis yang sedang menari.


Dua tokoh tersebut bersulang arak. Sesekali, mereka juga menikmati keadaan di sekitarnya. Seperti melihat ranting yang bergoyang, atau juga mendengarkan lantunan suara binatang dengan serius.


"Tuan Wu, menurutmu, siapa dalang dibalik kejadian yang terjadi di Kota Sichuan ini?" tanya Zhang Fei memecahkan keheningan di antara mereka berdua.


Pendekar Pedang Perpisahan tidak langsung menjawab. Dia sempat merenung sesaat untuk menduga-duga. Walaupun benar bahwa itu hanya dugaan semata. Namun ia tetap tidak boleh sembarangan bicara.


Ia termasuk ke dalam orang yang sangat teliti. Jadi setiap apa yang dilakukannya, harus terlebih dahulu melewati pertimbangan yang matang.


"Kalau menurutku, pelakunya adalah Partai Iblis Sesat. Jika bukan mereka, pasti adalah Partai Panji Hitam," kata Pendekar Pedang Perpisahan setelah beberapa saat lamanya.


"Partai Iblis Sesat dan Partai Panji Hitam?" Zhang Fei mengerutkan kening sambil menatapnya.


"Benar, Ketua. Apakah ada yang salah dengan dugaanku?" tanya balik datuk sesat tersebut.


"Tidak ada yang salah, Tua Wu," ucap Zhang Fei sambil menggelengkan kepala. "Tapi, mengapa kau menyebut dua partai sesat itu? Mengapa kau tidak menyebutkan Kekaisaran Zhou, Kekaisaran Jin, atau bahkan Kekaisaran Qin?"


Musuh-musuh Kekaisaran Song itu cukup banyak. Semua orang rasanya sudah mengetahui akan hal tersebut.


Tetapi dalam kasus ini, mengapa Pendekar Pedang Perpisahan malah menyebutkan kedua partai sesat itu? Mengapa dia tidak menyebut Kekaisaran lain?


Zhang Fei benar-benar merasa penasaran. Tetapi dia juga yakin bahwa dibalik jawaban tersebut, pasti ada alasan yang kuat.


Pendekar Pedang Perpisahan tersenyum kaku. Ia menenggak arak sebanyak tiga kali. Setalah itu baru menjawab, "Ketua Fei, jangan lupa, setiap jawaban yang aku lontarkan, pasti mempunyai suatu alasan tertentu,"


"Ya, aku tahu itu. Coba jelaskan, mengapa Tuan Wu menyebut dua partai sesat tersebut?"


"Pertama, karena sedikit banyaknya aku tahu mereka itu manusia macam apa. Kedua, kasus seperti ini sebenarnya sudah sering terjadi di kota-kota lain. Hanya saja, semua kasus itu masih terhitung dalam skala kecil. Berbeda dengan sekarang yang sudah masuk ke dalam skala besar,"