
"Benar, dengan hubungan dua Kekaisaran yang selama ini terjalin baik, aku yakin Kaisar mampu mengambil tindakan yang tepat," kata Zhang Fei juga menyetujui.
Kekaisaran Song dan Kekaisaran Qin memang terbilang mempunyai hubungan yang cukup baik. Meskipun beberapa waktu lalu, Kekaisaran Qin juga pernah menyerang, tetapi hal itu tidak berlanjut lebih jauh.
Buktinya saja, yang selama ini gencar melakukan serangan adalah dua Kekaisaran yang lain.
Dalam hati, baik Zhang Fei ataupun yang lainnya, mereka yakin bahwa Kaisar Song Kwi Bun mampu mengadakan kerjasama dengan Kekaisaran Qin.
Dan kalau benar hal itu terjadi, niscaya kekuatan yang ada pun akan bertambah beberapa kali lipat dari yang seharusnya.
"Tetapi anak Fei, meskipun begitu, kita haus tetap mengambil tindakan tegas untuk mengatasi kejadian ini. Karena kalau terus dibiarkan, situasinya akan bertambah bahaya," kata Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Ya, kau benar, Tuan Kiang. Maka dari itu, aku sudah mempunyai rencana untuk mengatasinya," kata Zhang Fei dengan cepat.
"Rencana apa itu?"
"Pertama, kita harus mau membagi tugas. Kedua, kita juga harus bisa menyatukan para pendekar yang masih terpecah belah dengan membentuk sebuah aliansi. Kalau dua rencana ini bisa berjalan mulus, aku yakin, semuanya bisa diurus dengan mudah,"
"Hemm ... ternyata kau pun mempunyai pemikir yang sama dengan kami," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Bagus. Itu artinya, pemahaman dan ketenangan jiwamu dalam menghadapi masalah besar, sudah mulai terbentuk. Itu artinya, kau semakin pantas untuk menjabat sebagai Ketua Dunia Persilatan,"
Orang tua itu memuji Zhang Fei. Sebelumnya, Empat Datuk Dunia Persilatan sudah mempunyai rencana seperti itu. Hanya saja mereka belum memberitahukannya kepada Zhang Fei dengan tujuan ingin tahu lebih dulu apa yang akan ia lakukan untuk menghadapi situasi sekarang.
Siapa sangka, ternyata pemikirannya sama persis dengan mereka.
"Aku rasa, rencana itu sangat bagus sekali. Lebih bagus lagi kalau semua pendekar, entah itu dari aliran putih ataupun aliran hitam, bisa bersatu dalam aliansi yang nanti terbentuk," tukas Pendekar Pedang Perpisahan berbicara dengan nada serius.
Empat Datuk Dunia Persilatan segera memandangnya. Pendekar Tombak Angin pun langsung menyahut, "Benar sekali. Kalau hal ini bisa terwujud, aku yakin, kekuatan kita bisa bertambah beberapa kali lipat lagi,"
"Tapi, benarkah para pendekar dari semua aliran bisa bersatu?" tanya Dewi Rambut Putih seolah-olah merasa ragu.
"Tenang saja. Kita serahkan para pendekar aliran hitam kepadanya. Aku yakin, dia bisa menjalankan tugas ini dengan baik," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menatap Pendekar Pedang Perpisahan.
"Benar. Masalah pendekar aliran hitam, serahkan saja kepadaku. Asalkan perintah sudah diturunkan, maka aku siap melaksanakannya dengan segera,"
Tokoh-tokoh besar dunia persilatan yang ada di sana mengangguk beberapa kali.
Zhang Fei segera berbicara lagi, "Baiklah. Rencana ini kita bahas di akhir saja. Sekarang, aku ingin mendengar dulu hasil penyelidikan dari kalian semua,"
"Baik, anak Fei. Aku akan memberikan laporan lebih dulu," sahut Orang Tua Aneh Tionggoan.
Ia kemudian segera melaporkan hasil penyelidikannya belakangan ini terkait keadaan dalam dunia persilatan di bagian sebelah timur.
Setelah Orang Tua Aneh Tionggoan selesai, Pendekar Tombak Angin segera menyambungnya. Dia pun turut memberi laporannya.
Dan yang terakhir adalah laporan dari Dewa Arak Tanpa Bayangan. Orang tua itu menceritakan semua hasil penyelidikannya dengan detil.
Tidak hanya mereka saja, bahkan Pendekar Pedang Perpisahan pun juga turut memberi laporan kepada Zhang Fei.
Para tokoh dunia persilatan itu melaporkan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Zhang Fei mendengar dengan seksama. Selama itu, dia tidak pernah bicara sepatah kata pun.
Keadaan di dalam ruangan menjadi hening. Para Datuk Dunia Persilatan tidak ada yang berbicara. Mereka tidak ingin mengganggu konsentrasi Zhang Fei.
Sekitar lima belas menit kemudian, tiba-tiba Zhang Fei mengangkat wajah dan menghembuskan nafas panjang. Ia minum arak beberapa kali.
"Dari hasil laporan yang aku terima ini, rasanya keadaan di dunia persilatan kita sudah sangat genting. Bahkan lebih genting dari yang sebelumnya. Karena sudah tidak mungkin untuk dikendalikan lagi, maka aku memutuskan supaya kita bergerak dua hari ke depan," kata Zhang Fei bicara dengan suara yang cukup lantang.
"Aku percayakan tugas-tugas ini kepada kalian. Dan aku harap, dalam waktu satu minggu, kalian sudah bisa mengumpulkan para pendekar yang bersedia untuk menggabungkan diri dalam aliansi yang nanti aku bentuk,"
"Baik, Ketua Fei. Kami mengerti," lima orang Datuk Dunia Persilatan menjawab secara bersamaan.
Di antara mereka tidak ada yang berani membantah terkait ucapannya barusan.
"Bagus. Jadi, singkatnya kita hanya punya waktu selama satu minggu. Kalian mengurus dunia persilatan, sedangkan aku akan pergi ke Istana Kekaisaran," kata Zhang Fei bicara lagi.
"Anak Fei, untuk apa kau pergi ke sana?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Aku akan menyampaikan semua ini secara langsung kepada Kaisar, Tuan Kiang. Di satu sisi, aku juga akan membicarakan terkait rencana negosiasi bersama Kekaisaran Qin,"
"Lalu, kapan kau akan berangkat ke sana?"
"Dua hari lagi, aku akan segera pergi ke sana," jawabnya dengan tegas.
Pertemuan tersebut terus berlanjut sampai siang hari. Setelah pertemuan selesai, mereka segera beristirahat ke kamarnya masing-masing.
###
Dua hari berikutnya, tepat setelah mentari pagi muncul di ufuk sebelah timur, para tokoh besar itu segera melakukan tugasnya masing-masing. Lima orang Datuk Dunia Persilatan pergi ke arah yang berbeda.
Sedangkan Zhang Fei, ia sudah pergi lebih dulu. Pergi untuk menuju ke Istana Kekaisaran.
Jarak untuk ke sana rasanya sedikit lebih jauh. Jadi, tidak heran kalau dia pergi mendahului yang lain.
Ketua Dunia Persilatan itu pergi dengan menunggangi kuda jempolan yang selalu tersedia. Kudanya berwarna putih bersih. Kuda itu kekar dan dipenuhi oleh otot-otot yang menonjol.
Zhang Fei melarikan kuda dengan sangat cepat. Setiap tapak kakinya meninggalkan kepulan debu yang mengepul tinggi ke angkasa.
Ia tidak lewat jalur utama. Zhang Fei lebih memilih untuk memotong jalan. Tujuannya adalah supaya ia bisa menghemat waktu.
Jalan yang dilewatinya lebih banyak jalan-jalan setapak yang menghubungkan ke hutan dan desa-desa kecil. Selain untuk menghemat waktu, tujuan lainnya adalah supaya dia bisa mengetahui bagaimana keadaan di pelosok-pelosok negerinya.
Hari pertama dan kedua perjalanan itu berjalan dengan mulus. Namun tepat pada hari ketiganya, perjalanan Zhang Fei sedikit terganggu.
Saat itu, hari sudah masuk sore. Ia baru saja tiba di sebuah desa yang cukup besar. Dilihat sepintas, desa itu tampak makmur. Rumah-rumah warga bisa dibilang cukup layak. Namun anehnya, justru keadaan di sana terlihat sepi.
Zhang Fei berhenti sebentar. Yang membuatnya semakin curiga adalah ketika tanpa sengaja dirinya menemukan ada banyak tetesan darah yang mulai mengering.