
"Persoalan rumit mana yang kau maksud itu?" tanya Pengemis Tongkat Sakti sambil mengerutkan kening.
Sepertinya dia masih belum mengetahui ucapan Orang Tua Aneh Tionggoan. Karenanya dia mengajukan pertanyaan itu.
"Hemm, kau ini pura-pura lupa? Atau memang sudah pikun?" tanya Kai Luo seraya memandang tajam.
"Aku benar-benar tidak tahu maksud bicaramu, orang aneh. Coba sebutkan lebih jelas lagi," pintanya.
"Hemm ... bukankah kau sedang mempunyai masalah dengan Partai Tujuh Warna?"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Pengemis Tongkat Sakti Chen Mu Bai bertanya dengan cepat. Dia merasa heran, dari mana sahabat lamanya mengetahui akan hal tersebut? Padahal seingatnya, dia belum memberitahukan masalah ini kepada siapa pun.
"Tentu saja aku tahu. Sebab beberapa hari lalu, aku dan anak muda ini telah membantu partai cabangmu yang terletak di Kota Changsha dari serangan Partai Tujuh Warna,"
"Apa? Jadi mereka masih terus menyerang markas cabang dari Partai Pengemis?"
Orang tua itu tiba-tiba bangkit berdiri. Dia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan dengan wajah bingung bercampur kesal.
"Pengemis tua, coba katakan apa yang sebenarnya telah terjadi," kata Orang Tua Aneh Tionggoan bicara lagi.
"Ini ..."
"Oh, jadi sekarang kau ingin berlagak hebat dan menghadapi persoalan besar sendirian? Baiklah, baiklah. Anak Fei, mari kita pulang sekarang juga,"
Orang Tua Aneh Tionggoan langsung bangkit berdiri sambil memegangi lengan Zhang Fei. Dia bersikap seolah dirinya akan benar-benar pergi dari sana.
"Eh, tunggu dulu, tunggu dulu," tukas Pengemis Tongkat Sakti sambil menahan kepergian keduanya.
"Jangan dulu menuduh yang bukan-bukan. Aku tidak punya pikiran seperti itu,"
"Lalu kenapa kau tidak mau memberitahuku?" si Orang Tua Aneh Tionggoan mulai kesal. Nada bicaranya juga sedikit meninggi.
Melihat hal itu, Ketua Partai Pengemis tersebut hanya bisa menghela nafas. Untunglah dia sudah memahami bagaimana sifat dan karakter sahabat yang satunya ini.
Coba kalau tidak, mungkin sudah sejak tadi mereka berselisih dan bisa jadi bertarung.
"Aku hanya tidak mau kau atau orang lain menanggung akibat dari masalahku ini," katanya mengeluh perlahan.
"Kalau kau masih menganggap aku sahabat, coba ceritakan masalah yang sebenarnya," desak orang tua itu.
"Hahh ... baiklah," Pengemis Tongkat Sakti menghela nafas berat. Sesaat kemudian, dia mulai bercerita kembali. "Sebenarnya masalah ini belum lama terjadi. Mungkin baru sekitar dua minggu yang lalu. Saat itu tepat tengah malam. Tiba-tiba ada seseorang yang muncul di depan ruangan pribadiku ini,"
"Bagaimana orang itu bisa masuk, Tuan?" tanya Zhang Fei dengan cepat.
Dia sangat penasaran, dengan penjagaan Partai Pengemis yang ketat ini, bagaiamana mungkin ada seseorang yang bisa masuk tanpa diketahui oleh para anggotanya?
"Aku sendiri tidak tahu. Malah pada saat itu, aku merasa sedang bermimpi. Tapi sayangnya itu bukan mimpi," jawabnya sambil melirik Zhang Fei.
Chen Mu Bai meneguk arak dalam cawan. Setelah habis dan mengisinya kembali, dia melanjutkan lagi ceritanya.
"Orang itu mengaku sebagai salah satu petinggi dari Partai Tujuh Warna, ia memintaku untuk menggabungkan diri bersama partai mereka,"
"Untuk apa mereka memintamu bergabung?"
"Aku sendiri belum tahu. Tapi menurutku, mereka mempunyai rencana untuk melakukan pemberontakan, mengingat keadaan negara kita yang sedang kacau ini,"
"Hemm, masuk akal juga," ujar Orang Tua Aneh Tionggoan sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Lanjutkan ceritamu,"
"Baik," katanya menurut. "Setelah orang tersebut memberitahukan niatnya, tentu saja dengan tegas aku menolak. Tapi setelah penolakan itu, dia berkata akan menghancurkan Partai Pengemis ini mulai dari markas cabang yang tersedia di setiap penjuru,"
"Jujur saja, awalnya aku berada di antara percaya dan tidak percaya. Tapi siapa nyana, berselang tiga hari kemudian, salah satu markas cabang Partai Pengemis tenyata benar-benar dihancurkan oleh Partai Pengemis. Kejadian itu terus terjadi, sampai hancurnya markas di Kota Changsha yang tadi kau katakan,"
"Hemm, apakah hal ini sudah diketahui oleh sahabat dunia persilatan yang lain?"
"Sebagian dari mereka sudah tahu,"
"Apakah dari mereka, ada yang mengambil tindakan?"
"Hanya sebagian kecil. Sebagian besarnya tidak memberikan reaksi apa-apa. Seperti yang kau ketahui, kepedulian para pendekar dewasa ini, sudah tidak ada lagi. Mereka hanya mementingkan diri sendiri saja,"
Pengemis Tongkat Sakti tiba-tiba berhenti berbicara. Ia menekan emosi yang mendadak muncul di dalam benaknya.
Yang merasakan hal seperti itu bukan hanya dia saja, malah Zhang Fei dan Kai Luo juga sama. Ketiganya benar-benar merasa prihatin dengan keadaan dunia persilatan sekarang.
Kalau kekompakan dan kepedulian di antara para pendekar sudah tidak ada, bukankah itu artinya, kehancuran dunia persilatan sudah semakin dekat?
"Benar-benar kelewatan. Kalau begini caranya, kita harus mengambil tindakan. Kita harus bisa menyatukan kembali kekompakan dan kepedulian yang sudah hilang ini," kata Zhang Fei penuh emosi.
Ia sungguh marah. Karenanya tanpa sadar, ia berbicara seperti barusan.
Hawa di dalam ruangan berubah sesak. Selapis hawa pembunuh langsung menyelimuti ruangan itu.
'Hebat. Ternyata kemampuan anak ini tidak main-main,' batin Pengemis Tongkat Sakti sambil melirik ke arah Zhang Fei.
"Sudahlah. Sekarang aku tanya, apakah kau telah mendapatkan informasi tentang partai sesat itu?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan setelah diam beberapa saat.
"Sudah," jawabnya mengangguk.
"Apa yang kau dapatkan?"
"Partai Tujuh Warna itu mempunyai anggota sekitar tiga ratus orang. Partai tersebut dipimpin oleh satu Ketua dan satu Wakil Ketua. Petinggi lainnya ada sekitar tujuh orang,"
Terkait mencari informasi, Partai Pengemis merupakan yang paling hebat. Maka dari itu, tidak heran apabila mereka bisa mengetahui informasi yang bahkan belum diketahui oleh orang lain.
"Hemm, apakah mereka akan menyerang kemari?"
"Sepertinya begitu. Menurut dugaanku, dalam waktu dua hari ke depan mereka akan kemari. Beberapa anggotaku memberikan laporan bahwa di beberapa penjuru kota, sudah terlihat ada banyak orang yang merupakan anggota Partai Tujuh Warna,"
"Lalu, apakah kau sudah siap apabila mereka benar-benar menyerang kemari?"
"Aku rasa sudah. Lagi pula, mereka tidak membawa semua anggotanya. Paling-paling hanya sekitar lima puluh orang saja, termasuk dengan para petingginya sendiri,"
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu," tegas Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Kau ... kau serius?" tanya Ketua Partai Pengemis itu seperti tidak percaya.
"Kau pikir kedatanganku kemari hanya untuk meminta arak? Hemm ... walaupun aku suka bertingkah aneh, tapi kepedulianku terhadap sesama tidak hilang. Apalagi terhadap sahabat sendiri," tegasnya.
"Orang aneh, kau ..."
Pengemis Tongkat Sakti tidak bisa melanjutkan bicaranya. Dia langsung menubruk maju dan memeluk Orang Tua Aneh Tionggoan dengan erat.
Dia merasa terharu karena ucapan sahabatnya ini.
Sebenarnya, dia masih belum yakin benar dengan kesiapan partainya. Tapi karena sekarang Orang Tua Aneh Tionggoan menyatakan akan membantunya, keyakinan itu berubah menjadi seratus persen.
Dia cukup tahu bagaimana kelihaiannya. Karena itu, uluran tangan Orang Tua Aneh Tionggoan sama dengan bantuan yang diturunkan langsung oleh langit kepadanya.