Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertarungan Empat Kekaisaran ll: Aku Menyerah


Sementara itu, semua orang yang hadir mulai fokus terhadap pertarungan tersebut. Suasana di halaman utama itu langsung sepi hening. Seolah-olah di sana tidak ada seorang manusia pun.


Suara yang terdengar hanya benturan tangan atau kaki dan juga ledakan-ledakan yang ditimbulkan oleh setiap jurus para pendekar.


Selain suara-suara tersebut, rasanya tidak terdengar suara apapun lagi.


Dalam waktu yang bersamaan, di tengah arena, terlihat Pendekar Tangan Bayangan mulai memberikan perlawanan. Kedua tangannya bergerak dengan cepat bagaikan kilat menyambar bumi.


Sepertinya ia mulai mengeluarkan jurus-jurus tangan kosong yang cepat dan dahsyat.


Setelah dicecar oleh beberapa macam jurus, Tang San mulai sedikit kewalahan. Sudah beberapa kali dirinya hampir terkena serangan balasan lawannya.


Masih untung dia juga mempunyai kecepatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, sehingga tubuhnya masih dapat selamat dari pukulan ataupun telapak tangan tokoh angkatan tua itu.


"Hebat juga tua bangka ini. Jurus tangan kosongnya benar-benar berbahaya. Aku harus lebih waspada lagi," gumam Tang San pada saat pertarungan di antara mereka berhenti.


Dalam waktu yang terhitung singkat, keringat di tubuh dua tokoh dunia persilatan itu sudah keluar dengan deras. Pakaian mereka telah basah. Nafas keduanya juga sedikit tidak teratur.


"Tua bangka, keluarkan senjatamu!" ucap Tang San kepada Pendekar Tangan Bayangan.


"Aku tidak punya senjata apapun, Ketua San. Senjataku hanya kedua tangan ini saja," jawabnya sambil memperlihatkan telapak tangan.


"Jangan bercanda, tua bangka. Cepatlah! Aku sudah tidak sabar ingin mengeluarkan golok kembar milikku,"


"Aku tidak bercanda. Kalau Ketua San ingin mengeluarkan golok kembar, keluarkan saja. Aku akan melayaninya dengan kedua tangan ini,"


"Hemm ... baiklah. Kau yang meminta hal ini, tua bangka!"


Sringg!!!


Ketua Dunia Persilatan Kekaisaran Zhou itu langsung mencabut dua batang golok kembar yang dia simpan di pinggang kanan dan kiri.


Kilatan batang golok yang sangat tajam segera menyilaukan mata bagi orang yang memandangnya.


'Golok itu benar-benar golok pusaka. Aku harus berhati-hati,' batin Pendekar Tangan Bayangan setelah dia mengetahui golok yang dipegang oleh Tang San.


Menurut anggapannya, golok kembar itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi sebagai Datuk Dunia Persilatan nomor satu di Kekaisaran Qin, tentu saja dia telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang sangat luas.


Maka dari itu, hanya sekali lihat saja, Pendekar Tangan Bayangan sudah bisa memberi penilaian tepat.


"Tahan golokku!"


Tang San berteriak keras. Bersamaan dengan itu, dia pun telah memulai kembali serangannya.


Dua batang golok datang dari sisi kanan dan kiri. Begitu turun tangan, ia langsung mengeluarkan jurus golok kelas atas yang selama ini telah mengangkat namanya di Kekaisaran Zhou.


Jurus itu benar-benar dahsyat. Gerakan goloknya tidak bisa dilihat dengan jelas. Orang biasa rasanya mustahil bisa menyaksikan gerakan tersebut.


Pendekar Tangan Bayangan tersentak kaget ketika dia merasakan hawa golok yang sangat pekat. Deru angin yang dihasilkan dari setiap gerakannya terasa tajam. Seolah-olah deru angin itu mampu merobek kulitnya.


Karena sadar bahwa lawan sudah lebih serius, maka orang tua itu pun berniat untuk melakukan hal yang sama.


Pendekar Tangan Bayangan membentak keras. Keduanya tangannya dijulurkan ke depan sambil membalas serangan yang datang.


Pertarungan sengit di antara dua tokoh tersebut langsung terjadi. Kilatan golok dan bayangan tangan mulai memenuhi udara hampa.


Puluhan jurus sudah berlalu kembali. Pertarungan pun bertambah sengit. Pada saat memasuki jurus lima puluh, di tubuh keduanya sudah terlihat ada luka-luka yang cukup serius.


Kalau membahas dua hal tersebut, Tang San jelas pemenangnya. Bagaimanapun juga, usianya jauh lebih muda dari Pendekar Tangan Bayangan. Sehingga meskipun sudah mengeluarkan banyak tenaga, namun ia masih bisa menguasai diri. Nafasnya juga mulai teratur kembali.


Berbeda dengan Pendekar Tangan Bayangan sendiri. Usianya saat ini sudah sangat lanjut. Walaupun ilmu-ilmu tangan kosong simpanannya masih cukup banyak, tapi tenaganya telah berkurang drastis. Nafasnya pun sudah tidak teratur.


Dia merasa tidak sanggup lagi untuk mengeluarkan ilmu yang jauh lebih hebat.


"Hahh ..." orang tua itu hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan berat pada saat menyadari kondisinya saat ini.


Memang, meskipun dia seorang pendekar, namun dirinya juga tetap merupakan manusia. Manusia yang sama seperti pada umumnya.


Jadi, usia tetap bisa menggerogotinya.


Wushh!!!


Pada saat itu, tiba-tiba Tang San sudah bergerak lagi. Kali ini dia telah bertekad untuk mengakhiri pertarungan. Rangkaian jurus golok yang ditakuti lawan dan disegani kawan sudah dia keluarkan.


Golok kembar itu menebas dan menusuk hampir dalam waktu bersamaan. Tidak hanya itu saja, bahkan dia pun turut melancarkan tendangan menggunakan kedua kakinya. Setiap serangan tersebut selalu mengincar titik penting di tubuh manusia.


Pendekar Tangan Bayangan berusaha bertahan. Dia pun memberikan serangan balasan semampunya.


Sayang sekali, ia sudah tidak sanggup melanjutkan pertarungan itu lebih lama lagi.


Karenanya, tepat pada saat jurus ketujuh puluh lima, tubuhnya langsung terpental cukup jauh ketika tendangan lawan mengenai ulu hatinya.


Orang tua itu bergulingan beberapa kali. Baru saja dia berniat bangkit berdiri, tahu-tahu di depan matanya sudah ada dua batang golok yang siap menusuk.


"Aku menyerah!" katanya tepat sebelum dua batang golok itu bergerak.


"Bagus. Seharusnya kau menyerah sejak awal," ucap Tang San sambil tersenyum mengejek.


Ia segera menarik golok kembarnya. Tapi pada waktu yang bersamaan, tiba-tiba Tang San mempunyai pikiran lain. Satu batang goloknya bergerak dan menebas pangkal lengan sebelah kanan.


Pendekar Tangan Bayangan mengeluh tertahan, darah segar juga langsung keluar cukup banyak.


Kejadian ini diluar dugaan siapa pun. Tang San mengira perbuatannya itu tidak akan diketahui orang lain. Namun naasnya dia telah salah perhitungan.


"Tuan San, Pendekar Tangan Bayangan telah menyerah, mengapa kau masih menyerangnya?" tanya Penasihat Mu yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


Tang San tidak bisa menjawab. Dia membungkam seribu bahasa.


"Kalau Tuan San melakukan hal seperti ini lagi, maka Tuan San akan langsung didiskualifikasi," ujar orang tua itu memberi peringatan.


Dia masih tidak menjawab. Bahkan setelah Penasihat Mu selesai bicara, Tang San langsung berjalan dan keluar dari arena.


"Tuan, kau tidak papa?" tanya Penasihat Mu yang langsung menghampiri Pendekar Tangan Bayangan.


"Aku baik-baik saja, Tuan Mu. Terimakasih karena kau sudah membantuku," jawabnya.


Dia langsung berdiri dan tersenyum kepadanya. Tanpa banyak bicara lagi, orang tua itu langsung segera pergi dari sana.


Pada saat yang bersamaan, di salah satu tenda, kebetulan Zhang Fei dan orang-orang di sisinya juga melihat kejadian barusan.


Mereka pun merasa kesal atas apa yang telah dilakukan oleh Ketua Dunia Persilatan Kekaisaran Zhou tersebut.


"Lihat saja, kalau dipertemukan, aku pasti akan menghabisinya!" gumam Zhang Fei sambil mengepalkan tangannya.